Posts by Ananta Bangun

Social communication activist from the Archdiocese of Medan. Love writing and believe in stories to change life. Hope God always bless us!

“Voice of Peace” Lewat Katekese Udara

HIDUPKATOLIK.com – Radio bukan media untuk mencari keuntungan semata tetapi sebagai media pewarta Kabar Gembira dan memberi pesan damai lewat program yang ditawarkan kepada para pendengar.

“Dari lantai lima Gedung Catholic Center Medan, kami mengudara menyapa Anda. Inilah Radio Maria Medan, 104.2 MHz FM. Halo sahabat Maria, ketemu lagi dengan saya Sr Richarda Bangun SFD di program “Songs and Short Stories”. Pada hari Sabtu, hari yang sangat ditunggu kawula muda. Info pagi ini harus sahabat Maria tahu. Kalau belum sempat mengikuti bisa live streaming siaran di http://www.radiomaria.co.id.”

Begitu suara samar Sr Richarda yang terdengar dari Studio Radio Maria Medan. Dari ruangan ini, sejuta pesan Bunda Maria disampaikan kepada seluruh umat Katolik khususnya di Keuskupan Agung Medan.

Sr Richarda membacakan beberapa berita sekaligus menghadirkan lagu-lagu rohani bagi para pendengar. Program “Songs and Short Stories” menjadi salah satu program yang digemari kawula muda dan sahabat Maria.

Misi Evangelisasi
Direktur Radio Maria Pastor Redemptus Simamora OFMCap menceritakan awal berdirinya Radio Maria. Jaringan radio ini berawal dari sebuah paroki di Italia. Usaha ini kemudian berkembang menjadi asosiasi awam dan imam di tahun 1987. Asosiasi ini mengelola sebuah jaringan Radio Maria di Italia. Sejak awal, radio ini dimaksudkan sebagai sarana evangelisasi untuk menyebarkan ajaran dan berita terkait Gereja Katolik. Hingga pada saat itu di Italia, Radio Maria berkembang sebagai jejaring Radio Katolik Nasional.

Radio Maria ini, kata Pastor Redemptus terinspirasi dari pesan Penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal. Radio ini mendesak diwujudkan sebagai sarana evangelisasi. Anjuran Apostolik Cathecesi Tradendae yang dikeluarkan Paus Yohanes Paulus II tahun 1987 pun menyerukan pesan yang sama. Tak hanya itu, seruan tentang evangelisasi juga ada dalam Nasihat Apostolik Evangelii Nuntiandi dari Paus Paulus VI tahun 1975.

Pastor Redemptus menambahkan, tahun 1990, World Family of Radio Mary dibentuk sebagai buah perkembangan Radio Maria Italia. Terinspirasi dari pesan ini, Emmanuele Ferrario, sang pendiri, membentuk perkumpulan Radio Maria di 58 negara termasuk Indonesia, yang diprakarsai Pastor Benyamin Purba OFMCap.

Radio Maria adalah gerakan awam untuk mewartakan Kabar Gembira. Menurut Pastor Redemptus, Radio Maria mengedepankan semangat God’s Providence. Keseluruhan gerak Radio maria mengandalkan penyelenggaraan Ilahi. “Radio Maria tidak tergantung dari pemasukan iklan namun dari dukungan moril dan materiil umat,” ungkap alumnus Animazione Liturgica-Musicale Roma, Italia.

Peran radio sebagai misi evangelisasi juga dijalankan Radio Suara Wajar 96,8 FM Bandar Lampung. Cucu Lukman Ali mengatakan, kehadiran Suara Wajar yang berdiri sejak 1973 pertama-tama sebagai media evangelisasi. Sejak berdiri, beberapa pastor yang terlibat dalam radio ini antusias menyelamatkan jiwa-jiwa lewat siaran-siaran mereka. Orang-orang Katolik pun terbantu karena media ini menjadi salah satu tempat umat Katolik mengekspresikan iman mereka. “Saat itu untuk butuh waktu berbulan-bulan bagi umat untuk mengetahui sebuah berita. Atas keprihatinan ini maka didirikanlah Suara Wajar,” ungkap Direktur Radio Suara Wajar ini.

Saat ini, siaran Suara Wajar menjangkau seluruh Provinsi Lampung. Beberapa program pengembangan iman Katolik tetap menjadi prioritas. Cucu menambahkan, di Suara Wajar dikumandangkan program renungan dan lagu rohani. Setiap pukul 12.00 WIB ada Doa Angelus, sedangkan pada pukul 18.00 WIB ada Doa Ratu Surga. Program rohani lain misalnya Kisah Orang Kudus, talk show rohani, serta dialog pastoral keluarga. “Kami sangat yakin saat media konvensional ditinggalkan, radio akan terus mengudara. Radio memiliki beberapa keunikan yang tidak dimiliki media lainnya.”

Mengungkit soal keunikan radio, Yustina Anik Purwanti, pengelola Radio Boos 104,2 FM Padang Sumatera Barat mengatakan, radio masih tetap relevan dan tidak akan tergantikan di hati umat Keuskupan Padang. Letak geografis Keuskupan Padang menjadi salah satu faktor.

Anik menjelaskan saat internet menjadi media sulung bagi kaum muda, radio justru menjadi kebutuhan primer umat Padang. Di Radio Boos, ada program interaksi dengan pendengar, katekese iman Katolik, dan pesan-pesan keutamaan hidup yang dibawakan dengan bahasa Mentawai. “Ketika radio berhenti karena gangguan, banyak pendengar melayangkan protes kepada kami. Di daerah-daerah sekitar Padang, Radio Boos masih digemari dan tidak akan mati,” tegas Anik.

Belajar Mandiri
Sesuai kodratnya, radio harus sampai ke mana-mana, mencakup pendengar di tempat yang jauh dan tak pernah terbayangkan. Radio harus menjadi sarana yang tidak hanya menyuburkan dan mendukung iman umat tetapi juga menjangkau umat yang jauh dari Gereja. Meski begitu, para pengelola radio terus berjuang agar media audio ini tak
berhenti bernafas. Dalam pengertian ini, radio harus benar-benar independen menghidupi diri sendiri tanpa tergantung pada keuskupan atau lembaga provit lainnya.

Spiritualitas mandiri dialami berbagai radio milik beberapa keuskupan di Indonesia. Radio Modulasi Nada Tintian Inspirasi Jaya (Montini) 106 FM milik Keuskupan Manado misalnya berusaha membangun kerjasama dengan berbagai pihak. Direktur Radio Montini, Pastor Antonius Steven Lalu mengatakan setiap media memiliki commercial price begitu juga dengan Radio Montini. Untuk terus eksis, Montini menawarkan iklan atau promosi yang dihitung per durasi detik dengan harga bervariasi.

Radio dengan misi “Cinta Sesama, Cinta Semesta” ini memasarkan iklan loose spot mulai dari harga 60-75 ribu. Sedangkan iklan sponsor program berkisar antara 550 ribu hingga 750 ribu. “Iklan tetap diperhitungkan tetapi paling penting adalah pelayanan,” ungkap Pastor Steven.

Pastor Steven menjelaskan, para Sobat Montini memahami situasi ini. Radio yang berdiri di Jalan St Yosef 17A Kleak, Manado, Sulawesi Utara ini menjangkau wilayah Manado, sebagian Minahasa Induk, Minahasa Utara, Tomohon, Kakaskasen, dan Bitung. Program berita di Radio Montini bekerjasama dengan Radio KBR-Jakarta. Untuk siaran musik, Radio Montini menyiarkan 50 persen lagu Indonesia dan selebihnya asing. “Target audience kami adalah kelompok usia dari 12-50 tahun atau untuk semua kalangan sosial masyarakat,” ungkap Pastor Steven.

Mirip dengan Montini, Radio Suara Mandala 96.4 FM Banyuwangi, Jawa Timur juga mengedepankan target tertentu untuk terus bertahan. Radio yang berdiri di Jalan A. Suprapto no 35 Banyuwangi ini mulai siaran dari pukul 05.00 pagi hingga pukul 24.00 WIB. Staf Radio Mandala Arnoldus Jansen mengatakan, format Radio Mandala tidak saja melulu program-program tentang kekatolikan.

Untuk saat ini, kata Jansen, target pendengar dari anak-anak Sekolah Dasar berkisar 10 persen. Sementara dari anak usia Sekolah Menengah Pertama berkisar 30 persen dan anak Sekolah Menengah Atas sebesar 40 persen. Untuk pendengar dari kalangan mahasiswa Radio Suara Mandala berharap dapat memperoleh sekitar 20 persen dari keseluruhan pendengar.

Jansen mengakui, Radio Suara Mandala bertahan karena pemasukan dari iklan. Di sini harga iklan ditawarkan dengan harga antara 60 ribu-110 ribu. Sedangkan untuk prime time berkisar antara 70 ribu hingga 135 ribu. Selain itu ada juga paket sponsor program acara per-kategori dengan rate perbulannya berikisar sembilan juta sampai 15 juta untuk durasi 45 menit. “Pada dasarnya semua radio harusnya bertahan karena iklan. Lagi-lagi bukan ini tujuan sebuah radio berdiri. Paling penting adalah sejauh mana suara kenabian bisa sampai ke telinga pendengar.”

Voice of Peace
Meski iklan menjadi “nyawa” sebuah media, tetapi pesan kenabian dan pesan kedamaian menjadi misi utama sebuah radio. Hal ini terus dipegang oleh pengelola Radio Suara Paksi Buana 103.6 FM, Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Pastor Lexi Sarkol MSC. Ia mengatakan, ada program siaran yang sangat digemari di Radio paksi Buana yaitu Youth for Peace. Program ini dirancang untuk menyadarkan orang muda akan perannya membangun perdamaian. “Bahasa kaum muda diangkat sebagai media komunikasi. Kendati begitu, program ruang budaya untuk mengangkat budaya lokal Halmahera tak ditinggalkan,” ungkap Pastor Lexi.

Pastor Lexi bercerita, Radio Suara Paksi Buana didirikan tahun 1999 oleh Pastor Titus Rahail MSC (Jr). Pastor Titus prihatin akan perkembangan kaum muda Tobelo. Sebagai misionaris, ia tergerak dengan kondisi masyarakat yang berada dalam konflik, perpecahan dan masyarakat yang terpisah karena Perang Saudara antar umat beragama di Maluku periode 1999 lalu. Pastor Titus ingin menghadirkan lagi semboyan “Pela Gandong” dalam balutan pesan “Ale rasa Beta rasa”. Dirinya berinisiatif untuk mencari sarana yang bisa menyatukan semua pihak. Setidaknya mereka bisa duduk bersama sebagai saudara untuk bercerita tentang iman masing-masing.

Sebagai suara kedamaian, Radio Suara Paksi Buana menawarkan program penghiburan, pesan damai khususnya kepada para pengungsi, janda, anak yatim piatu, dan mereka yang kehilangan harapan. Banyak kalangan meyakini bahwa Radio Suara Paksi Buana mampu mencairkan suasana saat itu. Beberapa program baru lalu menyusul seperti “Save the Children”. Program pelatihan dan kursus broadcasting juga dihadirkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan umat. “Program-program baru ini bertujuan menghadirkan the voice of peace bagi seluruh umat,” pungkas Pastor Lexi.

Sementara itu di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Direktur Radio Tirilolok FM 101.10 MHz, Pastor Balthazar Erminold Manehat SVD mengatakan pada dasarnya radio itu bersifat right here, right now karena radio tidak mengenal batas dan waktu. Radio bisa didengar di mana saja tanpa dibatas ruang. Melalui siaran radio, komunikasi dapat diterima oleh pendengar dengan cepat dan mudah. Melalui radio, masyarakat bisa mendapatkan hiburan, informasi, dan berita kapanpun.

Wilayah geografis NTT yang berpulau-pulau membuat Radio Tirilolok sangat dibutuhkan. Tirilolok pada dasarnya adalah media yang mudah dijangkau masyarakat terpencil, buta huruf, orang cacat, kaum miskin bahkan kelompok menengah ke atas. Radio bagi Pastor Balthazar dapat menjadi media yang mempengaruhi masyarakat. Siaran radio tidak sekadar pewartaan tetapi Kabar Gembira. “Radio tidak terbatas pada pesan Kitab Suci tetapi ada nilai-nilai Injil dalam berita radio, yang jauh lebih besar dari sekadar evangelisasi,” pungkas Pastor Balthazar.

Di Kupang, lewat Radio Tirilolok pemerintah dan gereja menjadi partner. Pastor Balthazar melanjutkan, hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan kota, sarana prasarana, program pemerintah disampaikan lewat Radio Tirilolok agar menjadi kabar gembira bersama seluruh masyarakat. Sebagai sebuah radio milik Keuskupan Agung Kupang, namun Radio Tirilolok memberi ruang juga untuk Mimbar Agama Protestan dan bahkan Dakwah Islam. “Setidaknya pesan Kabar Gembira bisa sampai kepada semua orang tanpa terkecuali agar dunia damai yang diharapkan tercapai.”

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan : Ananta Bangun (Medan)

SEKOLAH KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MEDAN DI TENGAH PUSARAN PANDEMI COVID-19

Gereja tidak menganggap pendidikan sebagai suatu proses yang berdiri sendiri terpisah dari perjalanan iman seseorang agar mencapai tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga. Dalam terang inilah, Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada Surga.

Bagi Gereja Katolik, tujuan pendidikan terarah kepada pembentukan anak-anak agar mereka dapat  memenuhi panggilan hidup mereka untuk menjadi orang-orang yang kudus, yaitu untuk menjadi seperti Kristus. Visi Kristiani ini harus dimiliki oleh seluruh komunitas sekolah, agar nilai-nilai Injil dapat diterapkan sebagai norma-norma pendidikan di sekolah. Sebagaimana sering diajarkan oleh para Paus (Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan sekarang, Paus Fransiskus), adalah penting agar manusia di masa sekarang ini, diajarkan untuk menghargai martabat manusia, secara khusus dimensi rohaninya.

Namun teranyar, dunia pendidikan mengalami tantangan baru sejak pandemi Covid. Belajar, bekerja dan berdoa dari rumah (WFH) menjadi jargon sekaligus gaya hidup di kenormalan baru. Dalam lingkup pendidikan, kini lebih dari satu tahun dunia institut edukasi seolah mati suri, meski belajar mengajar masih berlangsung dengan bantuan teknologi atau sekolah daring.

Meskipun demikian teknologi, tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Sr. Zita (paling kiri) bersama staf pengajar SMP Assisi Tomok

Pendapat senada dilontarkan Kepala Sekolah SMP Swasta Asisi Tomok, Suster Zita Simarmata dalam wawancara bersama Menjemaat. “Peserta didik kurang jujur dan disiplin dalam menyelesaikan tugas karena kebanyakan orang tua yang lebih berperan dalam penyelesaian tugas siswa,” tutur biarawati kongregasi FCJM. “Selain itu, siswa kurang peduli dengan sesama dan lingkungannya karena menggunakan gawai untuk bermain game daripada menonton video pembelajaran.”

Suster Zita mengakui, SMP Swasta Assisi Tomok shock atas tantangan besar yang diemban Suster, bapak dan ibu guru di masa awal pandemi. Seiring waktu mereka mulai terbiasa dengan situasi walaupun mereka masih was-was kemungkinan terjangkit virus Covid-19.

“Dengan penuh keyakinan kami bergerak dan berusaha mengepakkan sayap agar kami tetap bisa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa dan masyarakat seperti motto sekolah yakni ‘Melayani dengan Kasih’. Puji Tuhan hingga saat ini kami masih dalam perlindungan-Nya,” tutur Suster melalui surel.

Teknologi dalam pembelajaran itu sendiri tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar. Ini karena ranah edukasi bukan sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Darius Simamora (kiri) bersama rekan pengajar SMK Bina Media

Kepala Sekolah SMK Grafika Bina Media Medan, Darius Dorento Simamora mengatakan, banyak orang tua siswa protes akan pembelajaran daring tidak maksimal. “Sejak Juni tahun lalu, sesuai arahan dari Dinas Pendidikan kota Medan, proses pembalajaran telah dilangsungkan secara daring. Kami dari pihak sekolah selalu meyakinkan para orang tua bahwa metode dan model pembelajaran di sekolah kita adalah baik dan berkualitas,” ujarnya kepada Menjemaat.

Darius mengatakan, pemangku kepentingan SMK Bina Media, sejak Maret hingga Juni 2021, telah mengevaluasi kekurangan pembelajaran daring di sekolah mereka. “Ada juga staf pengajar yang tak mampu lagi beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Oleh sebab itu, satu bulan sebelum pembelajaran semester ganjil dimulai, kami sudah membekali diri dengan perangkat lunak penunjang pembelajaran daring.”

Kiat serupa juga dilaksanakan oleh SMP Swasta Assisi Tomok. Tepatnya, sejak memulai ajaran baru  pada 13 Juli 2020, ketika pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran agar pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran online atau daring. “Akibat situasi tersebut suster, bapak, ibu guru harus mengubah strategi untuk pengenalan lingkungan sekolah (PLS) dan untuk pembelajaran,” kata Suster Zita. “Beruntung kami bisa meyakinkan dan menerima tanggapan positif dari orang tua siswa ketika sekolah melaksanakan PLS dan pembelajaran secara online baik melalui zoom maupun melalui video pembelajaran.”

Selain itu, imbuh Suster Zita, pihaknya juga melaksanakan pembelajaran secara luring (kunjungan belajar) di lima lokasi atau wilayah. “Untuk setiap wilayah kami batasi maksimal 10 siswa. Dan jika pembelajaran tatap muka sudah di izinkan, pembelajaran online hanya akan diberikan bagi siswa yang sakit atau tidak bisa hadir ke sekolah.”

Memetik Rahmat di Balik Pandemi

Meskipun kenormalan baru berimbas besar dalam dunia pendidikan, Ketua Yayasan Seri Amal (YSA), Sr. Gerarda Sinaga KSSY melihat sisi ‘peluang’ dari pandemi covid-19 yang bermula sejak Maret 2020. Biarawati dari Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) mengatakan, pihak YSA telah membuat perencanaan agar semua guru-guru beradaptasi dengan metode pembelajaran digital. “Ternyata pandemi ini seperti blessing in disguise. Jadi kami melihat pandemi tidak melulu tantangan, namun ada juga sisi peluangnya,” ujarnya kepada Menjemaat.

Sr. Gerarda Sinaga KSSY

“Sebelum pandemi, kami sudah merancang sistem pembelajaran berbasis digital, kelas virtual sebanyak dua kali dalam seminggu. Rancangan ini memadukan sistem pembelajaran khas Indonesia dan Amerika Serikat,” katanya. “Itu sudah disampaikan dalam pertemuan dengan para kepala sekolah yayasan ini pada Januari dan Februari 2020 lalu.”

Dalam perspektif YSA, imbuh Suster Gerarda, anak didik saat ini sudah termasuk generasi alpha. “Yakni, kalangan generasi yang sudah terbiasa dengan multi tasking. Mereka bisa mengerjakan chat, tugas sekolah, dan sambil makan kerupuk.”

Walau telah membuat strategi perencanan untuk budaya pembelajaran digital dengan cermat, Suster Gerarda tak menutupi ada beberapa personil pengajar ada yang enggan untuk sistem baru ini. Tapi ternyata kondisi pandemi memaksa semua staf pengajar untuk membiasakan diri. “Sistem ini memindahkan konsep hard copy ke format digital. Sebagai simulasi awal, kami coba di SD St. Antonius pada waktu itu, dengan menggunakan tablet.

“Semangatnya adalah pro ekologi, untuk mengurangi penggunaan kertas. Dalam tablet ini sendiri juga dilengkapi berbagai fitur untuk kreativitas anak. Seperti menggambar, dan yang lainnya,” terangnya seraya mengungkapkan harapan kelak setiap sekolah di bawah naungan YSA akan difasilitasi pembuatan buku digital dengan server milik yayasan tersebut untuk pengumpulan file digital kelas virtual.

Bruder Rismario, BM

Praktisi pendidikan di KAM, Bruder Rismario, BM turut menimpali, bahwa Sekolah Katolik sejatinya mendidik murid-murid untuk mencapai nilai-nilai Katolik. Yakni, tolong menolong, kedisiplinan, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, menghormati, dan mempunyai semangat kerasulan.

“Guru dengan semangat kerja luar biasa akan mengubah kelemahan murid menjadi kekuatan murid yang maha dahsyat. Dengan demikian murid akan mampu berkembang di tengah zamannya,” tutur Bruder Budi Mulia dalam satu tulisan refleksi kepada Komsoskam.com.

Suster Zita sendiri mengakui, pembelajaran tatap muka di sekolah lebih efektif dari pada pembelajaran secara online atau pun luring. “Namun.  Iya memang situasi  pandemi Covid-19 telah mendorong Suster, bapak, dan ibu guru dalam mempercepat proses  pembelajaran. Dengan kata lain, para guru berusaha membuat video pembelajaran lebih kreatif lagi agar pencapaian pembelajaran berhasil seperti target yang diinginkan.”

Menurutnya, para guru di SMP Swasta Asisis Tomok juga semakin berkembang saat mengunakan teknologi yang tadinya hanya tahu seadanya saja kini menjadi banyak mengetahui. “Saya yakin, banyak pengajar lainnya juga bakal termotivasi untuk berinovasi dalam pembuatan video pembelajaran kreatif dan menarik.”

Reportase: Sr. Dionisia Marbun SCMM | Jansudin Saragih | Ananta Bangun

Penyunting: Ananta Bangun

//// dimuat di Menjemaat edisi Juli 2021

Komlit KAM Gelar Sosialisasi TPE 2020 Bagi Kalangan Imam, Biarawan/ Biarawati & Awam

Pematangsiantar – Menjemaat,

Komisi Liturgi Keuskupan Agung Medan (KAM), Sabtu (3 Juli), mengadakan sosialisasi Tata Perayaan Ekaristi 2020 bagi kalangan Imam, biarawan/ biarawati dan sejumlah awam. Puluhan hadirin turut dalam acara yang berlangsung di Pusat Spiritualitas Karmel MBK Tanjung Pinggir, Pematang Siantar.

Panitia mengawali sosialisasi dengan informasi bahwa Tata Perayaan Ekaristi edisi 2021 telah dipromulgasikan oleh Konferensi Waligereja Indonesia pada 27 Desember 2020 dan diluncurkan pada 7 Mei 2021. “Sebelum buku baru ini digunakan di Keuskupan Agung Medan, Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap melalui Komisi Liturgi menghendaki sosialisasi dilaksanakan lebih dahulu,” tutur Ketua Komisi Liturgi KAM, Pastor Emmanuel Sembiring OFM Cap.

Pastor Emmanuel mengatakan, Mgr. Kornelius meminta Komlit KAM untuk memandu sosialisasi di setiap vikariat se-KAM.

Sebelumnya, Komlit KAM telah menghelat kegiatan serupa bagi beberapa Vikariat. Diantaranya Vikariat Doloksanggul, Vikariat Kabanjahe, Vikariat Sidikalang, Vikariat Pangururan, Vikariat Pematangsiantar, dan Vikariat Aekkanopan.

Dia menambahkan, sasaran utama peserta sosialisasi ini adalah para Pastor, Diakon, dan Seksi Liturgi Paroki. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dalam pertemuan langsung atau tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan pada masa pandemi.

Dalam sosialisasi di Tanjung Pinggir, Pastor Emmanuel memaparkan empat tujuan kegiatan tersebut. “Pertama, peserta mengartikan buku TPE 2020 sebagai edition typica (acuan) bagi pelaksanaan Perayaan Ekaristi di seluruh Indonesia juga berbahasa daerah; sarana pemersatu baik Gereja Partikular maupun Universal.”

“Untuk tujuan kedua, peserta mengetahui informasi perkembangan yang menimbulkan kerelaan baru untuk merayakan Ekaristi sesuai dengan TPE 2020: diseminasi. Dan ketiga, Peserta semakin memahami Imam bertindak sebagai in persona Christi dalam Perayaan Ekaristi.”

Sementara dalam tujuan keempat, kata Pastor Emmanuel, setiap peserta sosialisasi menentukan pelaksanaan sosialisasi TPE 2020 kepada umat di Paroki masing-masing.

(Ananta Bangun)

Asah Bakat OMK Pangkalan Brandan dalam Pastoral Komunikasi Sosial

Menjemaat, Pangkalan Brandan

Pada Minggu (4 Juli 2021), puluhan kader Orang Muda Katolik dari stasi-stasi lingkup Paroki St. Paulus Pangkalan Brandan mengikuti Sosialisasi Komsos dan Jurnalistik. Kegiatan ini merupakan program perdana dari Seksi Komsos Paroki Pangkalan Brandan di bawah arahan Candro Pasaribu. “Seingat saya, ajang serupa pernah digelar pada tahun 2013 lalu di Paroki Pangkalan Brandan. Bahkan, dengan melibatkan Komsos KWI,” tutur Candro dalam kata sambutan.

Narasumber dari Komisi Komunikasi Sosial, Ananta Bangun memaparkan presentasi dengan tema “Menabur Spirit Aktivis Komsos”. Dalam sesi perkenalan, pria yang telah menikah ini mengaku masih seorang OMK. “Saya juga OMK, maksudnya Orang Muda Kadaluwarsa,” ucap Ananta disambut gelak tawa peserta.

Ananta mengawali materi dengan pengenalan dekrit Inter Mirifica, sebagai awal mula lahirnya pastoral Komunikasi Sosial di Gereja Katolik. “Para Bapa Suci yang terlibat dalam Konsili Vatikan II, melihat teknologi komunikasi dan informasi juga adalah rahmat Allah yang patut mendapat perhatian Gereja. Sehingga seluruh pemangku kepentingan Gereja Katolik sudah seharusnya terlibat mengisi Kabar Sukacita Injil melalui teknologi ini.”

Narasumber mendorong kader OMK Paroki Pangkalan Brandan, agar mengasah bakat melalui media-media asuhan Komisi Komsos KAM. “Kalian semua tentu memiliki talenta masing-masing. Apakah di bidang menulis, membuat video ataupun tarik suara. Semua itu bisa dikembangkan melalui kanal Komsos KAM,” katanya.

Ananta memberi apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, ajang ini meningkatkan semangat OMK di Keuskupan Agung Medan agar terlibat pastoral komunikasi sosial kepada umat.

Dalam sesi penutup, Vikaris Parokial, Romo Yustinus Agus Purwadi mengajak OMK Pangkalan Brandan agar terlibat dalam kegiatan komsos ini untuk gereja dan masyarakat. “Paroki Pangkalan Brandan memiliki stasi-stasi yang tersebar di berbagai wilayah, maka mari ajak dan kumpulkan lebih banyak lagi orang muda agar terbuka dalam hidup bergereja lebih luas lagi dan mengambil bagian dalam pewartaan iman melalui media yang disediakan oleh Komsos KAM,” terang Imam Diosesan dari Keuskupan Agung Semarang tersebut.

Reporter: Putri Krisdayanti Situmorang
Editor: Ananta Bangun

GPS KAM Gelar Baksos dan Penyuluhan Kesehatan di Paroki Tiganderket

Gerakan Peduli Sesama (GPS) Keuskupan Agung Medan, Selasa (1 Juni), mengadakan seminar dan bakti sosial di Paroki Sta. Monika Tiganderket. Puluhan umat hadir dalam kegiatan ini dengan mematuhi protokol kesehatan.

Parochus Tiganderket, Pastor Evangelis Pardede OFM Cap memberi kata sambutan dan pengantar dalam kegiatan seminar dan baksos. “Semoga setiap informasi yang dijelaskan oleh pemateri, dokter Meldawati bermanfaat bagi umat Paroki Tiganderket. Agar bisa tetap hidup sehat selama menghadapi masa pandemi ini,” tutur Imam Kapusin.

dr. Meldawati, dalam sesi penyuluhan, menyampaikan agar umat Paroki Tiganderket tidak takut akan covid-19 selama mematuhi protokol kesehatan dan menjaga kebersihan. “Harus diakui bahwa covid-19 sangat berbahaya, namun kita bisa mencegah asal tetap patuhi prokes, agar kita bisa bertahan selama masa pandemi ini,” katanya.

Moderator GPS KAM, Pastor John Rufinus Saragih OFM Cap, kepada Menjemaat, mengatakan aksi sosial ini merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-lima komunitas yang mayoritas dari kalangan tenaga kesehatan se-KAM tersebut. “Selain seminar hari ini, kita juga mengadakan pembagian sembako dan menjual pakaian layak dengan harga murah bagi umat Paroki Tiganderket. Besar harapan kami, aksi sosial ini menggugah para umat untuk tetap semangat dan selalu peduli akan kesehatan,” imbuh Imam yang juga Parochus di Paroki Hayam Wuruk Medan.

Panduan (Cara) Menulis Artikel Berita

Menulis artikel berita berbeda dengan menulis artikel lain, termasuk artikel informatif atau eksposisi.

Dalam penulisan berita, sangat penting menyampaikan semua informasi yang relevan dalam jumlah kata terbatas. Artinya, penulis berita hendaknya memberikan fakta secara ringkas kepada audiens.

Berikut ini tiga bagian untuk panduan atau tutorial menulis berita.

Bagian Pertama: Merencanakan Artikel Berita

1. Teliti topik Anda

Untuk mulai menulis artikel berita, Anda perlu meneliti topik yang akan Anda tulis. Sebelum memiliki artikel yang layak terbit, Anda harus memahami topiknya dengan baik. Walaupun itu adalah sekedar liputan seremoni atapun rilis pers.

Langkah awal menulis berita, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri tentang “5 W + 1 H” (terkadang “6 W + 1 H”).

Who/ Siapa – siapa yang terlibat?
What/Apa – apa yang terjadi?
Where/ Di mana – di mana itu terjadi?
Why/ Mengapa – mengapa itu terjadi?
When/ Kapan – kapan itu terjadi?
How/ Bagaimana – bagaimana itu terjadi?

2. Kumpulkan semua fakta Anda.

Setelah Anda rampung menjawab “5 W”, tuliskan daftar semua fakta dan informasi terkait yang perlu disertakan dalam artikel. Atur fakta Anda menjadi tiga kelompok:

  • hal-hal yang perlu dimasukkan dalam artikel
  • hal-hal yang menarik tetapi tidak vital
  • hal-hal yang terkait tetapi tidak penting dengan tujuan artikel

Anda cukup hanya mengambil informasi yang relevan tentang topik atau cerita. Sehingga Anda bakal terbantu menulis artikel yang bersih dan ringkas.

Jika Anda tidak memiliki fakta yang relevan, tuliskan pertanyaan untuk tambahan informasi sehingga Anda tidak akan lupa untuk menemukannya.

Continue reading →

Akun dan Gajah

Akun dan Gajah

Sejak pandemi melanda, aku mulai gemar melirik gempita dunia video. Terutama di media YouTube, TikTok, Snack dan sebangsanya. Memang asyik, karena lockdown, kerinduan melihat sesama bisa dituangkan di situ.

Gereja juga telah masuk dalam arus ini. Ibadah digelar secara streaming, menjadi hal lazim. Khotbah dan Katekese pun menjamur. Tentu umat yang dulu haus akan hal-hal ini terpuasakan lah dahaganya.

Tidak ada kata terlambat, untuk masuk dalam sukacita Internet. Demikian juga bagi Gereja. Maka, sungguh menarik saat mendapati banyak akun bertema “Katolik” juga berseliweran dalam dunia maya. Mulai dari yang ditangani kalangan awam, biarawan/ biarawati hingga klerus.

Tujuan lahirnya akun-akun ini, bila ditanya secara spontan, bisa beragam. Ada yang memang meliriknya sebagai media yang mudah dan murah meriah. Ada pula (sembari malu-malu) melirik peluang cuan atawa duit dari iklan.

Yap! Tantangan masa pandemi yang paling menindih adalah sulitnya menemukan alternatif nafkah. Cuan dari iklan media internet seperti rumus baru yang mencerahkan, terutama ketika di sekeliling lebih bergema isu PHK, bangkrut hingga melambungnya harga barang dagangan.

Buktinya ada nama-nama yang bisa meraup hingga miliaran rupiah dari usaha yang mulanya adalah semacam hobi ini. Sepertinya, kegiatan yang dilakukan pun cukup mudah: “buat rekaman nan sensasional, kemudian lepaskan ke rimba maya. Setelahnya berdoa khusyuk, semoga banyak yang menonton hingga komentar”.

Mantra ‘sensasional’ cukup sulit diramu ke dalam konten video a la Gereja Katolik. Mungkin menunggu momentum, semisal ada Imam atau hirarki terpapar Covid-19. Ada pengalaman lucu juga dalam ihwal itu, tatkala seorang biarawan sampai (katakanlah) mencuri cuplikan rilis info uskup terpapar covid. Tentu saja, tujuannya demi mengejar rating tontonan di kanalnya.

Gajah yang Obesitas

Tak perlu penelitian atau diskusi berat guna menggelitik pikiran, bahwa kerumunan akun-akun Gereja Katolik jika disatukan bakal punya daya besar.

Ide utamanya: umat punya satu rujukan + aliran cuan iklan sangat mungkin lebih deras. Satu rujukan adalah sifat dalam Gereja Katolik. Yakni, hanya satu petuah yang dipegang dari Bapa Suci Paus.

Cuan iklan dari satu kanal utama juga bukan hal muskil. Banyak contoh bisa ditiru. Stasiun televisi melakukannya, demikian juga dari kalangan industri hingga tokoh terkenal.

Lalu mengapa ide itu sepertinya sulit terwujud? Kiranya titik lemah ada pada penyatuan seluruh akun-akun itu. Sebab akan menggembung seperti gajah, dengan sifatnya yang lambat. Sementara dunia Internet seperti ‘pesta sensasi tanpa henti’. Setiap detik selalu menyeruak kabar-kabar viral.

Karakter industri media Internet juga sangat condong individualis. Tak ada syarat menyertakan persetujuan Kepala Lurah, Pastor Paroki hingga Surat Sakramen buat pendaftaran. Sehingga ‘kuantitas adalah segalanya’ sangat tampak di sini.

Individu atawa perorangan tersebut kebanyakan melebur ke dalam ‘pesta’ internet, memang karena suka. Mudah dan murah meriah, yang disebut sebelumnya, adalah bumbu micin agar menggaet lebih banyak insan untuk membagikan info apa saja. Mulai dari hal-hal religius, prestius hingga lekuk tubuh sembari berjoget.

Padahal, jika saja ada niat memberi hati secuil, akun-akun yang berhasil meraup cuan besar, menanam investasi serius. Berupa uang untuk promosi, menyewa jasa analis, hingga membuat perencanaan matang untuk konten edisi berikutnya.

Akun-akun itu ada yang berupa gajah (namun berhasil karena punya satu saujana nan jernih), dan ada juga berupa kelinci ramping nan lincah. Akun gajah yang obesitas, umumnya dimiliki kalangan birokrat. Insan di dalamnya juga seperti kuda delman yang perlu dilecut agar bisa bergerak.

Dari peristiwa ini juga kita bisa memilah ‘cinta’ dan ‘suka’. Adjektiva ‘suka’ kerap berumur pendek dan goyah seturut selera zaman. Tiada komitmen dan pengorbanan sungguh untuk itu.

Mencinta, adalah terus menabur kasih bahkan hingga terluka. Sebagaimana Bunda Maria yang ‘jantungnya dihujam sebilah pedang’, saat menyaksikan Tuhan Yesus wafat di kayu salib. Seperti dinubuatkan oleh si orang saleh, Simeon.

Turut dalam dunia Internet sepertinya masuk arus zaman. Seolah tak ada ruang, sesempit apa pun, untuk karya cinta Allah. Benarkah? Ihwal yang pasti adalah mengikuti jalan Tuhan adalah selalu melawan arus zaman dunia ini.

Momen Pesta Emas Bina Samadi Menyimpan Sejuta Rahmat

Pematangsiantar, Menjemaat

Rumah pembinaan rohani Bina Samadi, pada Jumat (28 Mei 2021), merayakan ulang tahun ke-50. Perayaan momen pesta emas tersebut, digelar dalam misa syukur di kapel rumah pembinaan yang ditangani komisi IX (yakni: Kongregasi Suster SCMM, Suster KSFL, Suster FCJM, Suster KSSY, Suster FSE, Suster KYM, Suster SFD, Suster OSF, dan Kongregasi Frater CMM).

Vikaris Jenderal KAM, Pastor Mikael Manurung OFM Cap memimpin perayaan ekaristi. Selain beberapa Imam, sejumlah biarawan/ biarawati dan awam turut dalam perayaan bertema: “Menjadi Religius yang Terbuka & Bersaudara di Era Digitalisasi”

Dalam sesi homili, Pastor Mikael mengucapkan selamat kepada Jubilaris pesta emas Bina Samadi. “Dalam momen ini, hendaknya kita semakin bersemangat untuk menghidupi kembali panggilan kita. Salah satunya dengan menaruh perhatian penuh kepada liturgi dan hidup doa,” tutur Pastor Vikjen KAM.

Sejatinya, perayaan Bina Samadi — yang memulai karya sejak 18 Mei 1970 — dilangsungkan pada tahun 2020 lalu. Namun, pandemi covid-19 kemudian menunda perayaan tersebut pada tahun 2021 ini.

Ketua Panitia perayaan, Sr. Theodosia FCJM, dikutip dari buku kenangan, mengucap syukur atas terlaksananya perayaan ulang tahun Bina Samadi. “Peringatan 50 tahun ini menjadi momen istimewa bagi kita semua, terutama bagi anggota Komisi IX. Tahun-tahun ini berisi perjuangan, kesulitan, tantangan, namun menyimpan sejuta rahmat sehingga setiap tahun Pusat Pembinaan ini mengalami perkembangan.”

Dia berharap, seluruh pemangku kepentingan perlu memikirkan pengembangan selanjutnya. “Menapaki usia emas ini, kita tidak boleh berhenti pada kata syukur. Tugas kita masih berjejer panjang, maka kita dituntut bekerja ekstra.”

(Ananta Bangun)

Perjumpaan Langsung dengan Sesama adalah Komunikasi Paling Otentik

Gerakan Peduli Sesama (GPS) Keuskupan Agung Medan, pada Minggu (16 Mei 2021), menghelat perayaan ulang tahun ke-lima di SLB C Karya Tulus – Paroki Tuntungan. Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap memimpin misa syukur panca tahun kelompok kategorial yang mayoritas beranggotakan Tenaga Kesehatan di KAM. Moderator GPS KAM, Pastor John Rufinus Saragih OFM Cap dan Pastor Andreas Gurusinga OFM Conv. turut dalam misa sebagai Imam konselebran.


Bapa Uskup mengutip pesan Paus Fransiskus, yang bertepatan dengan Hari Komunikasi Sedunia, “Datang dan lihatlah!” sebagai tema homilinya. Mgr. Kornelius menekankan, Bapa Suci Suci mengajak kita semua untuk membangun komunikasi melalui perjumpaan langsung dengan sesama apa adanya. “Kutipan dari Injil Yohanes 1:47 itu adalah metode komunikasi yang paling otentik.”

Kepada Menjemaat, Pastor John mengenang, mula inspirasi GPS KAM terbentuk adalah ketika membuat baksos dan pengobatan gratis ke paroki Martubung pada Mei 2016.

“Apostolat Kerahiman Ilahi KAM turut membantu pelaksanan baksos tersebut. Waktu itu cukup banyak yang hadir, sekira 200-an orang. Tentu saja, kegiatan baksos ini bisa terlaksana berkat dukungan Pastor Paroki Martubung, Pastor Martin Nule SVD.”

Imam Kapusin tersebut mengatakan, para aktivis GPS St. Felix Cantalice memiliki semangat berbagi kasih terhadap sesama yang membutuhkan, khususnya dalam hal kesehatan dan pendidikan. Oleh sebab itu, mayoritas aktivis dalam kelompok ini terdiri dari kalangan dokter dan ahli medis lainnya.

“Gerakan ini dimulai karena dirasakan minimnya pengetahuan masyarakat tentang pendidikan dan kesehatan,” tuturnya dalam keterangan tertulis. Oleh sebab itu, GPS St. Felix Cantalice mengambil motto “Sehat adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara”.

Selama tahun, menurut Pastor John, GPS KAM telah menjalankan aksi kasih ke sekitar 12 paroki di KAM. “Gerakan karya GPS KAM adalah memberi pelayanan kepada orang-orang yang miskin. Juga kita punya anak asuh kini hampir 30-an orang di daerah Paroki Parsoburan, kita bantu untuk uang sekolah mereka.”

“Dalam masa pandemi, sejak Maret 2020, tidak banyak yang bisa kita lakukan. Pernah kita buat membagikan makanan kepada orang-orang di sekitar kota Medan. Juga memberikan makanan dan minuman sehat kepada Nakes yang di rumah sakit,” imbuh Pastor John. “Ada juga berkat dalam masa pandemi ini, karena bisa menemukan ide untuk membuat hand sanitizer, membuat disinfektan, membuat alat untuk pel lantai. dan itu dijual ke paroki-paroki dengan harga yang murah.”

(Ananta Bangun)

Menampakkan Wajah Allah yang Berbelas Kasih kepada Sesama

Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap, pada Kamis (20 Mei 2021), mengukuhkan Pengurus baru Komunitas Kasih Tuhan (KKT) Keuskupan Agung Medan. Pelantikan pengurus periode 2021-2026 ini berlangsung di Gereja Paroki St. Antonius Padua – Hayam Wuruk.

Acara pengukuhan, yang juga disiarkan secara live streaming di channel Youtube Komisi Komsos KAM, berlangsung khidmat. Mgr. Kornelius memimpin misa syukur, bersama beberapa Imam sebagai konselebran, dan seluruh pengurus KKT KAM.

Dalam sapaan pembuka, Mgr. Kornelius mengajak seluruh pihak di KAM untuk medoakan dan memotivasi komunitas ini dalam karya menampakkan wajah Allah yang berbelas kasih setia kepada orang-orang. “Terutama mereka yang berada di dalam tahanan atau lembaga pemasyarakatan,” kata Bapa Uskup. “Kepada para domba, Tuhan pernah berkata: “Ketika aku dipenjara, engkau melawat aku” ini lah yang menjadi inspirasi kepada mereka yang kurang mendapat belas kasih. KKT KAM diharapkan mengisi kekosongan kasih kepada orang-orang.

Uskup Agung Medan memberkati pengurus baru yang dalam kepemimpinan Moderator KKT KAM, RP. Selestinus Manalu, OFMCap, serta Koordinator KKT KAM, Maria Sunarta Halim.

“Syukur kepada Allah, bahwa di KAM ada kelompok yang mempunyai keprihatinan dan kepedulian menunjukkan kasih Tuhan. Tentu untuk itu kita harus mengalami kasih Allah dalam diri kita, dan kemudian kita bagikan kepada mereka yang dipenjara. Supaya mereka juga merasakan kasih Allah dalam diri mereka. Kendati mereka dalam penjara,” ucap Mgr. Kornelius dalam homili.

Dalam kesempatan tersebut moderator KKT KAM, Pastor Seles menyampaikan,”Semoga kita bersama-sama sebagai pengurus dalam hubungan dengan Gereja KAM, dalam hubungan dengan umat, hubungan dengan pihak-pihak lain dan kalangan kita. Semoga dengan hubungan baik, kasih Tuhan semakin dialami banyak orang. Terutama bagi mereka yang kurang kasih karena pengalaman hidup yang mereka lewati.”

Pembina KKT Pusat, Vincentius Amin Sutanto, juga turut menyampaikan inti karya KKT adalah seperti Tuhan, yang tak pernah membedakan cinta dan perhatian-Nya kepada setiap makhluk, demikian pula manusia, jangan sampai membeda-bedakan perhatian kepada sesamanya.

Koordinator KKT KAM, Maria menyampaikan terima kasih kepada Bapa Uskup, para Iamam dan seluruh pihak yang terlibat dalam acara pengukuhan ini. “Semoga pelayanan KKT KAM melalui dukungan doa, kita semua dapat menimba kekuatan dari Allah. Semoga semakin solider, semakin beriman, semakin teribat. Salam lapas, salam KKT KAM.”

Kelompok Kasih Tuhan atau yang dikenal dengan KKT yang berada di Keuskupan Agung Medan mengadakan pelayanan kasih bagi penghuni Lapas atau lembaga pemasyarakatan.

KKT yang memasuki usia empat tahun di Keuskupan Agung Medan ini terinspirasi dari St. Giuseppe Cafasso yang memiliki perhatian yang besar kepada warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Turin, Italy.

Setiap bulan, pada Sabtu, Minggu keempat, KKT mengadakan pelayanan di Lapas. Sebelum memulai perayaan Ekaristi, team KKT mengawali dengan doa Koronka. Bagi warga binaan yang ingin konseling, KKT menyediakan seorang tenaga konselor dan bagi yang ingin menerima sakramen pertobatan, Pastor siap sedia melayani.

(Ananta Bangun)