MERGER KARSA MURNI & PIETA SHOP: “Perkuat Pelayanan Pastoral ­Literasi dan Barang Devosi”

Pegawai Karsa Murni dan Pieta dalam Rekoleksi di Tanjung Pinggir (Dok. Karsa Murni)

Dua unit usaha milik ­Keuskupan Agung Medan (KAM), PT. Citra Karsa Murni dan ­Pieta Shop ­sepakat untuk menapak dalam satu payung badan hukum. ­Direktur Karsa Murni, RP. Adytia Permana Peranginagin O. Carm menilai langkah merger adalah ­keputusan bijak. “Baik Karsa Murni dan ­Pieta ­merupakan milik KAM. Jadi, ­mengapa tidak kita satukan saja badan usaha ini? Agar ­semangat ­pelayanan pastoral bagi umat ­semakin kuat,” ujar Pater Ady ­kepada ­Menjemaat.

Secara terpisah, Direktur Pieta Shop, RD. Frietz R. Tambunan turut mendukung gerakan difusi tersebut. “Memang core business Karsa Murni dan Pieta berbeda, yakni masing-masing berkutat pada ­distribusi buku dan barang-barang devosi. Namun, menatap tantangan era disrupsi ke depan, penyatuan kekuatan termasuk kebijakan strategi bisnis,” kata Imam Diosesan, yang juga menjabat Rektor Universitas Katolik (Unika) St. Thomas Sumatera Utara.

Walaupun awal konsep bisnis ­condong dalam pengembangan sosial ekonomi via penjualan barang-barang kerajinan tangan, kini Pieta Shop lebih fokus sebagai distributor ­barang-barang rohani dalam skala besar. “­Bahkan, Pieta juga menyalurkan item-item ini ke toko Kuria KAM dan juga Karsa Murni,” kata Pater Frietz.

Model bisnis berbasis digital, diakui Pater Ady, telah menjadi perhatian pihak Karsa Murni. “Kanal situs web dan media sosial, yang sebelumnya telah dibangun, akan dihidupkan ­kembali. Di samping itu, kita akan membangun sebuah sistem yang ­menjaga kinerja badan usaha yang baru lebih baik lagi.” Continue reading

Advertisements

HENGKY PANKRATIUS: “APA GUNA KITA BERBAGI, KALAU UPAH KITA DI DUNIA INI”

Pater James menyapa umat yang mengunjungi Velangkanni dengan latar Taman Maranata

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Grha Maria Annai Velangkanni melengkapi tempat peziarahan umat dengan pemberkatan Taman Maranata, pada Sabtu (6/1/2018). Setelah budayawan, RP Leo Joosten OFM Cap secara simbolis meresmikan taman tersebut dengan pengguntingan pita, ratusan umat masih penasaran dengan wujud yang ada di balik tirai merah marun. Tepatnya di dalam sebuah rumah adat bercorak Melayu. Dengan senyum sumringah, pendiri serta Rektor Velangkanni, RP James Bharataputra perlahan menyingkap tirai. “Woww! Keren sekali,” seru seorang umat spontan, kala melihat sebuah miniatur Velangkanni. Nyaris persis seperti aslinya.

Dia mengatakan, seorang umat Katolik di Stasi Sta. Maria – Sabang telah hampir satu tahun menyumbang fikiran, tenaga dan dana secara sukarela untuk membuat miniatur Grha Maria Annai Velangkanni yang indah. “Namanya Hengky. Dia mengalami tantangan besar dalam membuat maket ini. Juga dalam hal iman. Bagaimana kalau kamu buat menjadi sebuah tulisan?” kata Pater James kepada Menjemaat. Redaksi menyanggupi, dan berikut petikan kisah iman tersebut. Continue reading

MEMBANGUN HABITUS BARU DALAM KELUARGA

Parokus Tiganderket, RP Evangelis Pardede OFM Cap (Copyright: Komsos KAM)

Keluarga merupakan tanda kehadiran Tuhan yang nyata, mewujudkan Sakramen Perkawinan di tengah-tengah masyarakat atau warga. Top Pastoral Priority (TPP) 2018 tentang “Keluarga Rukun” semakin memperteguh ‘rahmat’ ini, setelah TPP sebelumnya berfokus pada upaya “Keluarga Berdoa”. Menjemaat edisi ini, mengulas sejumlah harapan dan masukan dalam gerakan tersebut. Terutama perihal “Membangun Habitus Baru dalam Keluarga”. Yakni, dalam menghidupi kebiasaan menuturkan ‘maaf’, ‘permisi’, ‘tolong’ dan ‘terima kasih’.

Parokus St. Monika Tiganderket, RP. Evangelis Pardede OFM Cap menilai penghayatan habitus baru tersebut adalah tugas semua orang, secara khusus orang tua di dalam keluarganya. “Sebab dengan relasi yang baik aggota keluarga akan mampu menyatakan kasih kita kepada orang lain dengan cara yang baik pula. Dalam relasi keluarga belajar mengenal dan mengungkapkan kasih kepada anggota keluarga yang lain (ini menyangkut semua jenjang perkawinan). Perkawinan yang sudah bertahun-tahun pun belum tentu lulus dalam hal berelasi,” ujar Imam yang kerap disapa Pastor Evan kepada Menjemaat via surel.

“Menurut saya sosialisasi habitus baru ini amat baik. Ketika kita menyampaikan hal ini kepada umat berbagai tanggapan muncul, namun umumnya disadari bahwa kebiasaan ini jarang dilakukan atau bahkan tidak pernah di laksanakan. Ada rasa malu namun dari keluarga yang mencoba untuk komit melaksanakannya sungguh merasakan sesuatu yang berbeda. Karena itu, kami tetap menyampaikannya kepada umat baik dalam forum resmi maupun dalam pembicaraan biasa,” dia mengimbuhkan. Continue reading

MENGHITUNG BERKAT

Bersama Istriku terkasih. Saat tandem meliput bareng di Brastagi. (dok. Pribadi)

Mamak mengingat, di kala kecil, aku pernah mendadak ‘cerewet’ menceritakan teman-teman baru di sekolah. Ya, ketika itu aku baru masuk Sekolah Dasar. Karena sebelumnya, tak melalui pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK), bagi Mamak wajar saja aku heboh dengan suasana sekolah. Tidak hanya menghitung jumlah teman yang baru, namun juga buku pelajaran, seragam, tas dan lainnya.

Aku terkenang akan pengalaman indah itu, saat memasuki ulang tahun pernikahan ke-III. Istriku, Eva telah mengajarkan hal baru selama berkeluarga: ‘menghitung berkat’. Sebagaimana Mamak, dengan penuh sabar Istriku selalu mengingatkan pada berkat yang kami terima, setiap kali berkeluh kesah akan ‘beban’ yang tengah kupikul. Seringkali berkat yang dimaksud adalah kesehatan yang kami peroleh hingga kini, dan juga bagi orangtua dan adik-adik (kami berdua adalah anak sulung).

Jika bercerita tentang beban, maka hal serupa tentu pernah dialami juga oleh sosok seperti Raja Daud. Musababnya, dua untaian tentang ‘menghitung berkat’ yang dia tuliskan dalam Mazmur. Yakni,

“Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya.” (Mazmur 71:15)
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Dengan menghitung berkat, aku coba memegang suluh penerang dalam perjalanan di atas genangan sungut-sungut. Dengan menghitung berkat, aku juga mampu mendaki tangga bernama “syukur”.

Di ulang tahun pernikahan ke-III ini aku mengucap syukur atas pribadi yang ditunjukkan Allah sebagai teman hidupku. Seumur hidupku. Terima kasih, ya Allah. Amin. Continue reading

MERANGKUL SESAMA DALAM DOA

Elisabeth Sri Puji Astuti (vector by: Komsos KAM)

Dalam kesehariannya, Elisabeth Sri Puji Astuti memperkenalkan diri dengan sapaan ‘Puji Purba.’ Ini dikarenakan ia dipinang seorang pria suku Karo, Benny Ginting. “Karena ibunda suami (mertua) saya bermarga Karo-karo Purba. Saya pun mendapat kehormatan disemat marga tersebut,” aku umat Paroki Tanjung Selamat – Medan ini yang aslinya suku Jawa.

Di ranah kepengurusan Gereja, alumnus Institut Pertanian Bogor tersebut beberapa kali dilibatkan dalam Dewan Pengurus Paroki (DPP). Selain itu, Puji juga meluangkan waktunya untuk komunitas kategorial seperti: Lex Orientis (kelompok literasi umat) dan Legio Maria. “Keterlibatan saya di Legio Maria sungguh pas dengan peran di DPP. Yakni di Komisi Kerasulan Awam,” katanya seraya menambahkan pertemuan di LM rutin berlangsung setiap akhir pekan. Legio Maria (bahasa Latin: Legio Mariae) adalah sebuah kelompok kerasulan awam Katolik yang melayani Gereja Katolik secara sukarela.

Puji Purba mengatakan, masing-masing pelayanan dalam Gereja Katolik memiliki nilai pengalaman yang khas. “Saya tak hendak mengkerdilkan bahwa kegiatan di komunitas Gereja lain kurang menarik, namun konsep pelayanan di LM telah lama memancing minat saya,” aku alumnus Intitut Pertanian Bogor ini. Kala sedang mempersiapkan kelulusan magisternya, Puji sempat diperkenalkan komunitas LM di Bogor. “Saya tidak memiliki banyak kesempatan bertemu saat itu. Namun telah memahami sebagian konsep pelayanannya. Setelah mendapat pekerjaan dan menikah di Medan, saya nemu kembali komunitas LM di Paroki Tanjung Selamat. Jadi ya lekas-lekas gabung kembali.”

Menurut sejarahnya, pertama kali Legio Maria didirikan di Dublin, Irlandia, oleh orang awam Katolik, Frank Duff, pada 7 September 1921. Anggota pertamanya adalah Frank Duff, Pastor Micahel Toher dan 13 wanita. Pada awal perkembangannya, Legio Maria sempat tersendat-sendat. Namun kemudian Legio Maria dapat berkembang dengan baik. Pada tahun 1931, Paus Pius XI memuji karya kerasulan Legio Maria. Paus Paulus VI mengundang Frank Duff sebagai Pengamat Awam dalam Konsili Vatikan II.

Puji menuturkan, peran utama seorang legioner (anggota LM) ialah menghadiri Rapat Presidium selain doa, karya kerasulan seperti misalnya mengunjungi orang sakit, ‘merangkul’ umat untuk kembali aktif dan membantu tugas paroki. Continue reading

BUILD A HOME NOT JUST A HOUSE

Satu cuplikan dalam film “The Greatest Showman”

Tuhan telah menempatkan kita dalam setiap rencana-Nya. Kali pertama mendengar ini, aku menganggapnya tak lebih bualan untuk menghibur belaka, sebab sejumlah pengalaman tak baik di masa silam. Namun, perlahan aku mendapati kebenaran dalam kata mutiara tersebut. Baik dalam pengalaman yang membentuk pengetahuan yang kuperoleh kini, serta  pertemuan dengan sejumlah insan yang menguatkan semangat turut dalam pewartaan Kabar Sukacita. Satu di antaranya adalah pertemuan dengan mas Kristinus Munthe.

Mulanya, kami temu dalam Pelatihan Indonesia Menulis pada 2014, yang digagas Komisi Komunikasi Sosial KAM — tempatku bekerja kini. Dari training itu, perbincangan dan bertukar gagasan pun kerap terjadi. Aku juga meminta dia untuk menuliskan artikel, tentang apa saja yang menarik atau penting. Dan Jumat (26/1/2018) kemarin, aktivis sosial di Focolare ini mengirimkan sebuah e-mail. Tersemat di dalamnya:

Dear Ananta,

Here I send you my writing about the movie in bahasa.
Hope you enjoy it.
Made yourself free to share my writing in any media.
it is very good to fill the year of family in our archdiocese I think 
Best regards,
Kristinus Munthe

Takzim kubaca tulisannya, ternyata dia mengkaji sebuah film teranyar, “The Greatest Showman”. Masih segar dalam ingatanku, karena Sr. Angela Siallagan juga baru beberapa hari sebelumnya meminta artikel tentang film yang sama, untuk kusunting (dalam bahasa Inggris).

Aku sempat dilema memuat tulisan mas Kris. Namun, Istriku, Eva Barus, menganjurkan untuk menerbitkannya di blog pribadi ini. “Walaupun itu murni karya mas Kris, dan dimuat di blog kam, tentu lebih bernilai untuk menyebarkan ilham di dalam tulisan tersebut kepada lebih banyak orang,” katanya. Aku mengangguk.

Terima kasih, mas Kris. Dalam tulisan ini aku belajar, bagaimana menempatkan hati dan fikiran sepenuhnya, saat memetik inspirasi dari sebuah sinema layar lebar. Kita semua saling belajar dan berbagi ilham, sesuai dengan rencana-Nya.

***

Build a Home not just a House” 

Catatan kecil mengenai “Greatest Showman”

Sulit untuk menemukan kutipan dalam Bahasa Indonesia ketika ingin menuliskan catatan kecil setelah menyaksikan film “Greatest Showman”. Awal film sampai akhir film, kata “home” sangat menarik perhatian saya. Kata “home” selalu dihadapkan pada kata “house”.

Pada Cambridge Dictionary kata “house” merupakan kata benda yang mengacu pada rumah. Kata “home” merupakan kata benda yang mengacu lebih kepada hubungan personal dan cara emosional dimana beberapa orang tinggal. Konteks tulisan ini, saya menggunakan “home” sebagai keluarga dan “house”sebagai rumah. Continue reading

Pengalaman adalah ‘guru’ terbaik dalam hidup

Diabadikan bersama tim pelatihan TCDP (kala itu), tepat di depan plakat semboyan yang legendaris

“Pengalaman adalah ‘guru’ terbaik dalam hidup.” Kukira petuah ini sungguh tepat. Pengetahuan dan keahlian yang kuperoleh kini adalah ‘buah’ dari pengalaman di masa silam. Kukira setiap insan juga mendapati hal sama.

Salah satu pengalaman menarik dan lekat dalam ingatanku, ketika turut dalam Teacher’s Competency Development Program (TCDP) — satu program tanggung-jawab sosial yang digagas lembaga nirlaba Djalaluddin Pane Foundation, secara khusus di wilayah Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara dan Labuhan Batu Selatan.

TCDP tidak sekedar memberikan ilham di dunia “Training/ Pelatihan” dan kiat presentasi, namun juga keakraban dalam keragaman profesi, suku dan keyakinan. Pada intinya, kami sungguh ‘tenggelam’ untuk belajar hal baru secara terus-menerus. None knows everything, but someone knows something, adagium ini seolah mantra yang terus mengiang-ngiang di meja diskusi, ruang training, bahkan hingga di bus dalam perjalanan pulang tim training ke Medan. Aku pun tak pernah lupa semboyan Ustadz Fikry di Pondok Pesantren Modern (PPM) Ar-Rasyid (salah satu tempat penyelenggaraan pelatihan TCDP): “Pulang Malu, Kalau Nggak Bawa Ilmu.” Continue reading

Gereja Stasi Sta. Monika Serdang: “Kalau Ada Kegembiraan Dan Saling Mengerti Dan Saling Memahami, Pasti Ada Cinta Kasih”

Gereja Stasi Serdang

Matahari mulai terik di beranda Paroki St. Fransiskus Assisi – Brastagi, setelah tim Menjemaat mengikuti Misa Minggu (11/6/2017) di gereja tersebut. Di pelataran pastoran, telah menanti pengurus DPP (dan juga redaktur majalah Ralinggungi), Betlehem Ketaren dengan koleganya, Asli Purba. “Kita akan berangkat ke Stasi Sta. Monika Serdang naik mobil bapak Tangsi Barus. Dia adalah Ketua Panitia Pembangunan gereja tersebut,” ucap Betlehem berkenaaan agenda liputan profil Stasi Serdang untuk majalah Menjemaat.

Sekira beberapa menit menanti, kami pun menumpang mobil sang ketua panitia. Dia turut ditemani Istri dan menantunya. “Pengalaman bernilai dalam pembangunan gereja Stasi Serdang ini adalah semangat gotong-royong umat tersebut. Mereka sungguh kompak dan bahu-membahu agar kegiatan membangun gereja baru mereka lekas rampung,” ujar Tangsi, menjawab pertanyaan Menjemaat tentang sisi unik atau menarik dari gereja yang hendak kami tuju. Selama perjalanan, dia mengisahkan bagaimana seluruh umat saling bekerjasama mengumpulkan batu dan pasir dari sungai untuk bahan bangunan.

Tangsi mengaku bahagia atas keberhasilan pembangunan gereja, yang sepekan sebelumnya (4/6/2017), diberkati oleh Uskup Emeritus Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFM Cap. “Sebab sebelumnya sempat terkendala. Bahkan, hingga terjadi beberapa kali pergantian panitia,” ujarnya.

Beberapa media setempat, sebelumnya telah meliput pemberkatan gedung gereja stasi tersebut. Mgr. Pius dalam khotbahnya mengatakan, kalau ada kegembiraan dan saling mengerti dan saling memahami, pasti ada cinta kasih. “Kepercayaan yang tidak didasari kasih, tentu tidak memiliki arti. Kita diajarkan untuk saling mengasihi, saling mencintai tanpa membeda-bedakan. Bukankah kita semua ciptaan Sang Maha Kuasa?” katanya. Continue reading

Graha Maria Annai Velangkanni Gelar Pemberkatan Taman Maranata

Medan – Rektor Graha Maria Annai Velangkanni, RP. James Bharataputra SJ, dan RP. Leo Joosten OFM Cap, Sabtu (6/1/2018), memimpin pemberkatan Taman Maranata. Seratusan umat Katolik turut dalam pemberkatan taman tempat miniatur gereja multikultur GRAHA Maria Annai Velangkanni tersebut.

“Graha Maria Velangkanni bagai Alkitab terbuka. Seluruh bagian dalam grha ini hendak memperkenalkan Allah mulai dari  Buku Kejadian hingga Buku Wahyu. Dalam peziarahan di  Graha Maria Velangkanni, kita bisa menemukan Taman Miniatur Betlehem, yakni tempat kelahiran Yesus di dunia. Dan kini, kita juga bisa berziarah ke Taman Minatur Ecclesia Catholica, yakni tempat kehadiran-Nya (Kapel St. Yohannes Paulus II) dan kita biasa berkunjung ke Taman Miniatur Nazareth, yakni tempat berkenalan lebih mendalam dari Maria Ibunda Yesus ( Kapel Maria ) dan dari situ kita biasa melanjutkan peziarahan kita ke Minatur Jerusalam, yakni Gereja Graha Maria di lantai atas untuk menyaksikan Karya Keselamatan kita lewat pe nderitaan, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus dan mengalami kehadiranNya dalam Sakramen Mahakudus yang mengajak setiap orang yang mencari Dia: ”Datanglah padaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan member kelegaan hati bagimu” (Matius 11:28). Dari situ kita bisa menuju ke destinasi ziarah kita ke Taman Maranata sebagai tempat penantian kita menyambut kedatangan Tuhan Yesus ke dua kaliNya. Sebab Maranata berarti ” Datanglah Tuhan” maka Tempat Penantian kedatangan Tuhan secara simbolis disebut Taman Minatur Penantian Tuhan Yesus”, kata Pater James memberi kata pembukaan. Continue reading

Sr. M. Angela Siallagan FCJM: “Mimpiku Adalah Menulis Buku. Saya Niatkan dan Segera Mewujudkannya”

Bermula dari ilham (ketika membaca) buku “Mimpi Sejuta Dolar” tulisan Albertine Endah, Sr. M. Angela Siallagan FCJM bertekad untuk menghasilkan karya buku. “Selesai membaca buku tersebut, saya langsung mencatat Mimpi Sejuta Dolar saya. Mimpi itu adalah menulis buku. Mimpi itu saya niatkan, doakan dan segera saya wujudnyatakan,” tutur biarawati kelahiran Sipoldas (pada 26 Oktober 1985).

Hingga kini, Sr. Angel telah menghasilkan empat buku. “Buku-buku itu adalah “Manusia Mahluk Beratribut” (Terbitan PT. KANISIUS, Yogyakarta 2016), “Air Mata Berbunga” (Terbitan PT. KANISIUS, Yogyakarta 2016), “Jejak-jejak Kecil yang Tak Terganti” (Terbitan PT. POHON CAHAYA, Yogyakarta 2017), “Kisah Peziarahan Sang Terpanggil” (Terbitan PT. Bina Media Perintis, Medan 2017).” Namun, sebelum menerbitkan keempat buku tersebut, alumnus Akuntansi di Medan Business Polytechnic, telah lama membuat karya tulis yang dimuat di berbagai media. Yakni, di Koran Harian SIB, Majalah Menjemaat, Majalah Hidup, Majalah Educare (Majalah Pendidikan KWI) Jakarta, majalah online Lentera (www.majalahlentera.com) dan beberapa majalah lainnya.

Pengagum sosok Paulo Coelho, Albertiene Endah dan Tere Liye ini mengatakan, dengan menulis dirinya mampu mengekspresikan diri lebih baik. “Saat menulis, saya mengolah perasaan dan pengalaman. Mendesak otak saya untuk berfikir lebih jernih dan membuat perubahan,” aku suster yang tengah mengambil kursus bahasa inggris di People’s Resource Center (USA).

Bagi insan yang tertarik untuk ‘larut’ dalam dunia penulisan, Sr. Angel berbagi kata mutiara dalam pengalaman senada: “Menulis adalah Memahat Peradaban” (Helvy Tiana Rosa)”.

//// ditulis untuk majalah Keuskupan Agung Medan, Menjemaat