SEMANGAT EVANGELISASI DARI PEZIARAHAN DI GRAHA MARIA ANNAI VELANGKANNI

RP James Bharataputra SJ bersama Suster dan Staf Pegawai yang melayani di Graha Maria Annai Velangkanni (Copyright: Komsos KAM)

Sebuah bangunan hanyalah benda mati yang tak pernah bertutur kata. Dengan demikian ia kerap disebut ‘saksi bisu’ akan peristiwa atau gagasan di sekitarnya. Namun tak dipungkiri, bangunan bisa menyampaikan pesan sarat ilham dibandingkan tutur lisan belaka. Di Graha Maria Annai Velangkanni, hal tersebut bukan sekedar pesan biasa, namun mewakili pewartaan Injil. Atau kerap juga disebut Evangelisasi.

***

Sebelum masuk ke Graha Maria Annai Velangkanni, kamu harus ganti kacamatamu. Demikian Pater James SJ mengawali bincang dengan Menjemaat. Penulis sempat tersentak, karena memang mengenakan lensa. Namun, Rektor graha bercorak multi etnis tersebut bukan hendak berjualan alat bantu penglihatan. “Pakailah kacamata (perspektif) iman. Nanti kamu akan melihat sabda-sabda Allah di dalam ini (Velangkanni). DIA akan memperlihatkan diri bagi siapa yang mau membuka hatinya.”

Imam Jesuit asal India tergerak hati agar Menjemaat mengulas Velangkanni sebagai tempat menumbuhkan semangat Evangalisasi, berkenaan topik senada yang telah dimuat di edisi November 2017 lalu. “Graha Maria Annai Velangkanni dibangun untuk sarana evangelisasi. Graha Maria ada untuk pewartaan evangelisasi,” ujarnya.

“Hampir 6 tahun belakangan ini, saya sudah mengevangelisasi ratusan orang yang datang kemari,” ujar Pater James. “Baik dengan berbincang bersama ataupun dengan membagi-bagikan brosur mengenai Velangkanni. Seperti (brosur) ini menjelaskan tentang makna warna-warni di graha ini.”

“Saya sendiri, setelah tujuh tahun, baru memahami arti warna-warna dalam graha ini. Mula-mula saya tidak peduli dengan warna ini. Saya suruh tukang untuk mengecat saja. Tapi, pada akhirnya saya ternyata sungguh dalam makna setiap warnanya,” dia menuturkan.

“Tuhan sudah menyediakan sarana katakese untuk memperdalam iman via Graha Maria Annai Velangkanni. (Maka) datang lah ke tempat ini (Velangkanni).  Secara pribadi bisa datang, dengan keluarga juga bisa datang. Di sini adalah tempat untuk perjalanan dan pendalaman iman,” kata Pater James, seraya menegaskan bahwa tempat peziarahan iman tersebut adalah karya Allah. Bukan dirinya. “Beberapa arsitek pun heran, bagaimana saya desain ini. Saya sampaikan bukan karena saya, tapi karena Tuhan.”

Menurut Pater James, kita bisa saja terkagum-kagum dengan fisik Velangkanni. Namun, ada pesan lebih mendalam terkandung di dalamnya. Yakni sebagai Alkitab yang hidup. “Ini lah Graha Maria. Bangunannya menjelaskan misteri keselamatan yang datang dari Tuhan Yesus. Kalau suatu kali Alkitab hilang, kita bisa menuliskannnya kembali dari Graha Maria,” ujarnya. “Karenanya janganlah mengunjungi Velangkanni, hanya untuk foto-foto saja.”

Sejak mula Pater James merancang agar Velangkanni menjadi rumah doa inklusif, sehingga insan non-Kristen juga senang berkunjung. “Saya membuat ini bukan sebagai gereja tetapi Rumah atau Graha Maria. Tidak ada orang yang tahu bahwa ini adalah Gereja. Hanya, kita umat Katolik yang mengatakan bahwa ini adalah Gereja,” katanya. “Di luar graha ini, sengaja saya tidak kasih nama gereja. Jika tidak, orang pasti risih untuk masuk, karena mendapati nama gereja. Karena itu, hingga kini baik pengunjung beragama Muslim, Hindu, Buddha juga senang datang. Selain, tentu saja, para umat Kristen.”

Tetapi, menurut catatan pengunjung yang dikumpulkan pihak Velangkanni, peziarah beragama Protestan lebih banyak daripada Katolik sendiri. “Bahkan, ada peristiwa unik. Ketika seorang umat Katolik mengaku baru mengetahui Velangkanni dari pengunjung beragama Muslim,” kata Pater James. “Menurut saya, demikianlah terjadinya evangelisasi di Velangkanni. Setiap peziarah yang membuka hati akan menemukan pengalaman baru, dan berkenan berbagi inspirasinya dengan sesama.”

“Saya sendiri, setiap hari mendapat pengalaman iman yang baru. Saya tidak memandang Velangkanni sebagai benda mati,” katanya. “Secara khusus peziarah Kristen, hendaknya menumbuhkan semangat iman, dengan bertanya: ‘Siapakah Yesus itu?’, Dia adalah Putra Bunda Maria. ‘Siapakah Bunda Maria?’, dia yang mengandung Yesus; dia yang mengikuti Yesus dalam suka dan duka, dan bahkan menemani Dia hingga mati. Siapa yang lebih mengenal Yesus selain Maria di kalangan manusia? Maka, kita bisa berkata “Kenalkanlah pada kami, Putramu, Yesus Kristus.””

RP James Bharataputra diabadikan di dalam Graha Maria Annai Velangkanni (Copyright: Komsos KAM)

Tuhan, kini Engkaulah yang memegang tangan-ku

Bagi Pater James, Velangkanni adalah satu misteri iman dari Tuhan. Tidak dapat dimengerti oleh akal budi manusia. Hal ini dia tuturkan ketika mengenang kembali keputusannya untuk meninggalkan misi di Indonesia. Itu bisa terjadi bila dirinya urung mengikuti retret yang dibimbing almarhum Anthony de Mello SJ. Dia adalah seorang Imam Yesuit yang dikenal sebagai guru spiritual, penulis dan pembicara publik dari India.

“Saya pernah turut retret dengan Anthony de Melo, SJ. Sebab saya tengah mengalami krisis iman. Setelah pengalaman dengan orang-orang di Kampung Kristen. Saya mau buang, tinggalkan misi saya di sini (Keuskupan Agung Medan, Indonesia),” katanya. “Tapi, sebelumnya saya mau retret untuk memohon anugerah Tuhan. Pada waktu itu saya mendapat kabar tentang retret. Pendaftaran sudah tutup. Tapi saya tetap mendaftarkan diri. Dan dia bilang datang saja.”

“Pada saat itu saya mendapat pencerahan. Dia bertanya, seolah Tuhan yang berkata, “Kenapa kamu mau keluar?” Dan saya menjawab dengan jujur permasalahan saya,” imbuh Pater James. “Dia bilang, barangkali saya yang pegang tangan Tuhan. Saya mengajak Tuhan kemana saya mau. Di situ saya mulai sadar dan berkata: Tuhan, mulai saat ini. Tuhan lah yang pegang tangan saya. Bawalah kemana-mana Kamu mau pergi. Suruh saya apa yang harus saya buat.”

Pertemuan tersebut melahirkan pemahaman baru bagi Pater James. “Ini adalah mysterious guiding, atau tuntunan Tuhan. Banyak orang tidak melihat itu, tetapi saya pun belajar mengerti, kenapa Tuhan menciptakan saya ke dunia ini.”

Ketika Uskup Agung Medan, (pada masa itu) Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFM Cap memberi tugas bagi Pater James untuk membangun pusat peziarahan iman. Dia mengaku, tidak ada menyinggung kebutuhan dana dan lainnya. “Malah Uskup yang tanya. Saya bilang, tidak Tuhan mungkin tak mencukupkan kebutuhan untuk membangun Velangkanni ini. Maka saya tidak akan gagal. Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya bisa dapat  wujudkan ini. Sebab, saya tidak pandai merayu orang untuk memberi bantuan materiil.”

Pater James berkata, dirinya kini hendak meresapi kepuasan panggilan. Tidak sekedar kepuasan hidup. ““Saya tidak begitu peduli, apakah saya sukses atau saya gagal. Saya bilang jika memang saya gagal, ya memang itu itulah kehendak Tuhan.

“Maka, saya siap berbahagia. Menunggu waktu-Nya. Untuk menerima anugerah seperti St. Paulus bilang: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2 Timotius 4:7),” ucap Pater James dengan seulas senyuman.

 

penjelasan warna di gedung graha maria annai velangkanni (Copyirght: Graha Maria Annai Velangkanni)

Penjelasan warna-warni di Graha Maria Annai Velangkanni

Terdapat tujuh warna menyemat Graha Maria Annai Velangkanni. Sungguh unik, bahwa Pater James juga mengetahui makna pelangi warna tersebut setelah tujuh tahun melayani di graha tersebut. Berikut penjelasan makna masing-masing warna tersebut:

* HITAM. Terdapat di jalan beraspal hitam dari pintu masuk graha. Hitam melambangkan dosa manusia. Jalan ini sendiri dirancang seperti gambar manusia rebah menyembah Allah (yang disimbolkan dengan menara tujuh lantai Graha Maria Annai Velangkanni).

* ABU-ABU. Warna ini mendominasi hampir seluruh bagian di Graha Annai Maria Velangkanni. Warna abu-abu (debu) merupakan lambang pertobatan. Graha Maria, oleh makna warna tersebut, menyatakan pertobatan bagi semua insan yang hendak datang pada-nya.

* PUTIH. Warna ini memaknai manusia yang memohon belas kasih Allah, agar dirinya disucikan seperti Allah sendiri.

* MERAH. Merah menandakan pengorbanan sepanjang hidup bagi insan agar pertobatan dalam hidupnya dapat menjadi suci.

* HIJAU. Pater James menjelaskan, ketika manusia melepas hidup duniawi melalui pengorbanan kepada Allah dan sesama. Maka, dia akan beroleh hidup baru dari Allah. Hijau adalah lambang kehidupan.

* BIRU. Ketika manusia telah menerima hidup baru dari Allah, maka dia berhak memasuki surga.

* EMAS. Warna emas terdapat pada kubah ata Graha Maria Annai Velangkanni. Arti dari warna ini ialah saat manusia memasuki surga, Allah akan memberikan kehidupan kekal nan mulia.

 

(Penulis & Layout: Ananta Bangun | Editor: RP James Bharataputra SJ, Rm. Santo OSC)

//// ditulis dan didesain untuk majalah Keuskupan Agung Medan, Menjemaat

Advertisements

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (VI)

Ilustrasi dari Pexels.com

MENYUSUN TERM OF REFERENCE (TOR)

Term of Reference (TOR) adalah kerangka kerja yang umumnya dilakukan jurnalis profesional. Namun, tidak salah menerapkan kiat ini dalam rencana liputan menulis feature. Dalam TOR, kita dapat menyusun tema dan sudut pandang untuk meliput satu peristiwa/ pernyataan.

Frank Barrows, Redaktur Pelaksana di Charlotte Observer (Melvin Mencher di “News Reporting and Writing” (Mc Graw Hill: 2003), mengatakan perencanaan yang terinci dalam menulis feature adalah hal yang penting. “Meskipun feature bukanlah tulisan yang diringkas — laiknya berita lempeng — tak berarti bahan untuk tulisan ini bisa disusun secara acak.”

Dalam ranah pers, Rapat Redaksi bermanfaat untuk menghindari pemberitaan yang mengutip pernyataan kosong/ tidak berarti. Berita seperti ini sering disindir sebagai talking news (berita cuap-cuap).

Hasil dari Rapat Redaksi yang baik ialah sebuah TOR (Term of Reference). TOR merupakan panduan umum peliputan alias lembar penugasan.

Untuk kasus berita yang sifatnya straight news (terjadi tiba-tiba/ di luar perkiraan) seperti bencana alam, kecelakaan, kudeta dan lainnya, tentu tidak bisa didiskusikan terlebih dahulu dalam rapat redaksi.  

Dalam kasus tersebut, pewarta dapat melaporkan fakta-fakta di lapangan terlebih dahulu (jika dia merupakan wartawan media online atau elektronik). Dari data yang diperoleh kemudian dijadikan bahan diskusi dalam Rapat Redaksi untuk liputan berita berikutnya.

***

TOR yang baik adalah yang jelas dan rinci. Semakin baik TOR niscaya mempermudah pengerjaan liputan.

Namun, perlu diingat bahwa TOR adalah panduan umum. Menurut P. Hasudungan Sirait — seorang jurnalis senior — TOR  sebagai panduan umum merujuk dari sejumlah pengandaian. Yang namanya pengandaian harus diuji di lapangan. Ia bisa benar bisa salah. Kalau ternyata pengandaiannya keliru maka TOR-nya yang harus diubah. Continue reading

majalah Ignasius ed. Desember 2017

Majalah Ignasius ed Desember 2017

Majalah Ignasius edisi Desember 2017 telah rampung kudesain. Kemarin (Selasa, 5 Desember 2017), bapa Paulus Sarumaha – pendamping Klub Jurnalistik & Fotografi – meyampaikan bahwa majalah internal di SMP St. Ignasius Medan, akan segera dicetak dalam minggu ini.

Aku senang bahwa majalah ini mengasah keahlian menulis dan (bahkan) dasar desain majalah bagi para siswa-nya. Belajar dengan “tercebur” langsung ke dunia redaksi dan layout. Walau tidak banyak yang dapat mereka serap, setidaknya ada bekal pengalaman yang kelak bisa mereka kembangkan lebih baik lagi.

Bagi siswa/i SMP St. Ignasius, selamat membaca!

Memetik ‘Buah’ Tahun Keluarga Berdoa

narasumber (searah jarum jam): Damianus Haloho, keluarga M. Purba, keluarga H. Pardosi dan keluarga Baron Pandiangan (dok. Pribadi)

Saat menapak akhir 2017, Keuskupan Agung Medan juga rindu untuk memetik buah dari “Keluarga Berdoa” sepanjang tahun ini. Satu dari sejumlah gerakan yang lahir dari Sinode KAM ke-VI. Beberapa keluarga dari ragam paroki, berkenan berbagi pendapat, kesan hingga harapan pada gerakan “Keluarga Saleh” di 2018 mendatang.

Mangatur Purba dari Paroki St. Maria Ratu Rosari – Tanjung Selamat, kepada Menjemaat, mengaku telah mengetahui gerakan “Keluarga Berdoa” selama 2017 di KAM. “Di mana setiap keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak memiliki tanggung jawab bersama  untuk menjamin terlaksananya doa bersama di dalam keluarga. Berdoa dalam keluarga ini akan memupuk anak-anak menjadi umat Katolik pendoa di masa depan. Bisa kita bayangkan jika anak-anak kita sekarang ini tidak tahu, tidak mau dan tidak gemar berdoa, apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun mendatang? Gereja kita akan kosong melompong. Tentu hal ini tidak kita kehendaki terjadi pada generasi penerus kita,” ujar suami dari Erniwati br Peranginangin, dan ayah dari Fernando Erianta Purba.

“Kesan saya tentang “Tahun Keluarga Berdoa”, ini adalah momen tepat walaupun terkesan terlambat. Saya katakan tepat karena  ini merupakan satu usaha yang bisa kita lakukan untuk membentuk karakter anggota keluarga teristimewa anak-anak kita menjadi anak-anak yang tahu, taat dan gemar berdoa, dengan demikian mereka akan menjadi anak-anak yang tangguh, militan yang selalu memiliki pengharapan dan mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya,” dia menjelaskan. “Saya katakan terkesan agak terlambat, pada saat kita memulai keluarga berdoa di tahun 2017, maka saudara kita umat lain telah lama dan relatif  konsisten melakukan Keluarga Berdoa seperti sholat berjamaah bagi keluarga Muslim dan “saat teduh” bagi keluarga saudara-saudara kita di Protestan dan Kharismatik.”

Mangatur mengatakan, pengurus lingkungan St. Agustinus di stasi induk paroki (tempatnya berada), menanggapai dengan baik pelaksanaan doa dalam keluarga agar lebih semarak dan berkualitas. “Jika selama ini  kecenderungan bahwa berdoa dalam keluarga merupakan rutinitas, atau kewajiban belaka, maka pada tahun ini muncul kesadaran bahwa berdoa merupakan sapaan kepada Allah yaitu merupakan suatu rasa syukur atas berkat dan karunia yang telah kita terima di setiap detik nafas kehidupan kita,” kata Ketua Lingkungan St. Agustinus tersebut. Continue reading

MENULIS FEATURE BAGI AKTIVIS KOMSOS (VII)

cuplikan foto kolom feature Kolonel Inf Gabriel Lema di majalah HIDUP

SISI TERSEMBUNYI YANG TERBAGI

Aku telah beberapa kali menuturkan perihal niat membukukan tulisan serial “Menulis Feature bagi Aktivis Komsos” dengan Fr. Nicolaus Heru Andrianto. Calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang menyatakan dukungan dan juga berkenan turut menyumbang tulisan ‘pengalaman-nya saat meliput feature untuk majalah mingguan HIDUP.

Aku sungguh bersyukur atas perkenan Fr. Heru membagikan kisah pengalamannya dalam melakukan liputan feature. Serta, petikan ilham yang dia peroleh dalam dunia ‘jurnalistik.’ Kiranya inspirasi tersebut juga tumbuh dan berbuah bagi setiap insan aktivis Komsos lainnya. Matur nuwun, Frater!

***

A: “ Pak apakah saya bisa berjumpa dengan Pak Gabriel?”

B: “Wah itu komandan saya”

A: “ Iya Pak…apakah saya boleh berjumpa dengan beliau?”

B: “ Dalam rangka apa? Apakah Anda sudah buat janji?”

A: “ Sudah Pak, ini sms-nya”

B: “ Baik…siap saya antar ke ruang pribadinya”

Itulah cuplikan singkat percakapan saya dengan seorang ajudan di RINDAM Bukit Barisan, Pematangsiantar Sumatera Utara medio Juni 2016 silam ketika hendak wawancara langsung dengan orang nomor satu di kantor dinas tersebut. Bagi saya ini menjadi salah satu pengalaman unik yang saya alami ketika saya meliput untuk majalah mingguan Katolik HIDUP.

Pengalaman ini membuat saya bangga dan kadang juga membuat tersenyum. Betapa tidak, jika saya datang tanpa maksud untuk meliput, kira-kira apakah saya akan diterima di kompleks militer tersebut? Tampaknya keyakinan saya mengatakan tidak.

Tidak lama setelah percakapan tersebut, dengan disiplin dan etika mereka (antara anak buah dan komandannya) saya dihantar masuk. Tak lama kemudian, ajudan pribadi dari komandan itu menyajikan dua cangkir teh manis di meja. “Silahkan diminum tehnya”. Saya pun tersenyum dan semakin antusias untuk bertanya-tanya a la jurnalis. Amunisi pertanyaan sudah saya siapkan di sebuah kertas catatan kecil dan siap untuk ditanyakan. Continue reading

Muller & Secangkir Mantra

Source: https://rolfpotts.com/karin-muller/
Source: https://rolfpotts.com/karin-muller/

Karin Muller, seorang produser film dan penulis, pada 1987 hingga 1989, menggali sumur dan membangun sekolah di sebuah desa di Filipina. Suatu malam, tujuh belas Anggota New People’s Army (NPA) atau pasukan bersenjata Partai Komunis Filipina, datang ke gubuk-nya untuk interogasi.

Sebelum hari itu, orang-orang desa sudah memperingatkannya bahwa hal itu akan terjadi. Bukannya panik, Muller malah mencari dua benda ajaib: gula dan kopi. Dan mendapatkannya. Ketika NPA datang, ia berseru,”Syukurlah kalian datang juga. Aku sudah seharian menunggu. Silakan minum kopi. Tinggalkan senjata kalian di pintu.”

Pasukan bersenjata tersebut bisa saja membalas undangan Muller dengan rentetetan tembakan atau penyiksaan. Namun sebaliknya, reaksi Muller membuat bingung kelompok itu. Orang-orang itu meletakkan senjata-nya dan duduk minum kopi. Apa yang sebenarnya terjadi?

Karen berhasil menghindari interogasi atau hal yang lebih buruk, karena menurutnya,”Anda tidak bisa menginterogasi teman Anda minum kopi.”

Petuah itu bukan sembarang mantra. Muller paham betul bahwa kekerasan tak dapat dihentikan dengan kekerasan. Sebaliknya, sang wanita petualang membuat senang pemimpin itu dengan keramahannya yang tak terduga dan mengubah hatinya, pikirannya, juga tindakannya.

Sisanya, mantra Muller pun menjadi legenda.

Terilhami dari buku “Enchantment” karya Guy Kawasaki

SEPERTI YESUS BERKATA KEPADA PETRUS: “DI ATAS BATU KARANG INI KUDIRIKAN GEREJA-KU.”

Pengurus Dewan Pastoral Stasi (DPS) Stasi St. Petrus Batukarang diabadikan bersama Suster SOSFX dan Pastor Evan (Copyright: Komsos KAM)

Semestinya aku telah berada di desa Batukarang, pada Jumat (10/11/2017), namun Sr. Elpiana Barus SOSFX mengabari keberangkatan ditunda hingga esok harinya (11/11/2017). Tak mengapa, toh aku bisa juga menapakkan kaki di satu tempat yang disebut ‘akar’ marga Bangun. Dan setiba di sini, banyak insan setempat bersikukuh aku memang tengah kembali ke ‘akar’ ku (yang membuatku teringat tulisan bapa Ahmad Kusaeni, Pemred emeritus LKBN Antara), di majalah Lentera.

Sebagaimana di desa dekat pegunungan pada umumnya, waktu di sini berjalan lambat. Bercengkerama dengan tenang hingga menghabiskan setengah bungkus sigaret. Atau sembari mengunyah sirih (bagi kaum hawa). Wawancara bagai silaturahmi keluarga yang lama tak bersua. Dan memang hidangan khas Karo (BPK hingga ayam gulai) benar-benar menjadi pemikat yang membuatku enggan pulang ke Medan. Huehehehe.

Sebenarnya, dua buku pustaka dalam tulisan ini sudah lebih dari cukup untuk menceritakan riwayat gereja Stasi Batukarang. Namun, beberapa hasil wawancara ternyata laik dan penting juga untuk menopang liputan untuk majalah Menjemaat.

***

Beberapa menit sebelum turut misa Minggu (12/11/2017) di Stasi St. Petrus – Batukarang, Menjemaat terkesiap saat seorang umat meminta, “Coba ambil foto Sinabung itu. Baru saja erupsi,” katanya seraya menunjuk Gunung Sinabung, yang tampak jelas dari beranda gereja seperti sisa tumpukan arang perapian.

Mungkin karena telah terbiasa, para umat Stasi tidak panik. Sebagian besar malah asyik bersenda gurau dengan bahasa daerah. Misa yang dipimpin oleh Parokus Tiganderket, RP. Evangelis Pardede OFM Cap, menjadi titik mula penulisan riwayat Gereja Stasi Batukarang untuk kolom ‘Pesona Gereja’ di Menjemaat edisi ini. Berikut napaktilas pewartaan dan pelayanan, yang telah berjalan hingga setengah abad, salah satu gereja dengan jumlah umat terbesar di Tanah Karo.

Gunung Sinabung diabadikan saat erupsi, Minggu (12/11/2017), dari beranda gereja Stasi Batukarang (Copyright: Komsos KAM)

Sejarah Awal Pewartaan

Buku karya RP. Leo Joosten OFM Cap “Mbuah Page Nisuan: Perkembangan Gereja Katolik di Tanah Karo Khususnya Paroki Kabanjahe 1939 – 2006” menuturkan, peristiwa Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) turut andil dalam pewartaan agama Katolik di desa Batukarang. Meskipun sebelumnya agama Protestan (GBKP) dan Islam telah lebih dahulu dianut sejumlah penduduk.

“GBKP bahkan telah 50 tahun lebih awal melaksanakan misi pewartaan di Batukarang, sebelum Katolik. Ketika Gereja Stasi Batukarang merayakan Jubileum 50 Tahun pada 2016 lalu, GBKP juga telah merayakan Jubileum 100 tahun di desa ini,” demikian diterangkan Ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS) St. Petrus – Batukarang, Antoni Bangun kepada Menjemaat seusai Misa Minggu (12/11/2017).

Dalam buku disebut sebelumnya, Pastor Leo Joosten menuliskan: “Agama Katolik masuk secara resmi dan mulai dikenal pada tahun 1966, bersamaan dengan situasi Negara dan Politik yang menetapkan supaya tiap-tiap orang harus menganut satu agama. Maka pada tahun tersebut ditunjuk beberapa orang bapak-bapak untuk menjumpai pimpinan Gereja Katolik di Kabanjahe, yaitu RP. Licinius Fasol Ginting OFM Cap.” Continue reading

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (V)

Lukisan “Return of Prodigal Son” karya Rembrandt

PERSIAPAN UNTUK MENULIS FEATURE

Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menulis sebuah feature? Hal pertama untuk diketahui dimulai dari sifat feature itu sendiri. R. Masri Sareb (Memulai dan Mengelola Media Gereja dalam Terang Inter Mirifica.Penerbit Obor), meneladani kekhasan Yesus menuturkan cerita. Bahkan, Masreb mengatakan sebenarnya Yesus termasuk penulis yang ulung. Di mana para Rasul hanya menulis apa yang diucapkan oleh-Nya, ini berarti Dia juga seorang penulis.

Satu kisah yang dicuplik dalam buku tersebut adalah perumpamaan “Anak yang Hilang” (Luk 15:11-32). Dalam kisah tersebut kita bisa menemukan kekhasan sebuah feature, yakni menonjolkan karakter antagonis (si anak bungsu), sehingga pendengar/ pembaca merasa jengkel hingga marah terhadap sikapnya. Sementara, sikap mengampuni si Ayah (menggambarkan rahmat dari Allah) melahirkan perasaan takjub dan simpati.

***

Melvin Mencher dalam buku “News Reporting and Writing” (Mc Graw Hill: 2003) memaparkan beberapa panduan dalam menulis feature, sebagai berikut: Continue reading

Kursus Evangelisasi Pribadi “Menghidupi Jawaban Perutusan Injil dalam Keseharian”

(dari kiri – searah jarum jam): keluarga Israel Sitepu, Roni Sitanggang & Istri, Jenny Zein, keluarga Denri Tambunsaribu)

Fenomena “Kekristenan/ Kekatolikan hanya berlaku untuk satu generasi” masih membayangi banyak umat Katolik. Maksudnya, orang tua Katolik merasa selesai tugasnya bila sudah membaptis & menyekolahkan anak di sekolah Katolik. Sangat kecil kemungkinan orang tua mempersiapkan bagaimana anak tersebut mengalami penginjilan dalam dirinya. Itulah sebabnya banyak sekali (tentu tidak semua) orang katolik yang belum mengalami diri pribadinya diinjili, apalagi menginjili orang lain.

Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) bertujuan untuk menyentuh dimensi lama yang bernama Penginjilan dan memperbaharuinya, supaya umat mengalami diri pribadinya Diinjili (oleh Yesus sendiri) sehingga pada gilirannya mau Menginjili (menjawab panggilan Yesus), seperti pesan yang disampaikan para Imam pada saat Ekaristi usai: Pergilah kita di utus.”

Roni Antonius Sitanggang, umat Paroki St. Antonius dari Padua – Hayam Wuruk, menekankan pentingnya semangat evangelisasi – melalui KEP – bagi umat Katolik. “Evangelisasi adalah semangat gereja dalam pewartaan iman. Setiap anggota Gereja berkewajiban berevangelisasi dalam kehidupannya. Inilah yang kita sebut dengan evangelisasi hidup. Dalam mewujudkan evangelisasi hidup ini.”

Bagi Anggota Seksi KEP di Paroki Hayam Wuruk, dirinya tertantang untuk menampilkan corak hidup yang sesungguhnya sebagai pengikut Kristus. “Dengan harapan ketika orang lain melihat corak hidup saya, mereka semakin mengenal corak hidup pengikut Kristus Juru Selamat kita. Dengan demikian nama Tuhan pun semakin dimuliakan. Ad maiorem Dei Gloriam,” tutur suami Maristella Situmorang.

Pengalaman iman senada juga dilontarkan umat Paroki Kristus Raja – Medan, Jenny Zein. “Berbeda dengan kegiatan kharismatik lainnya, menurut saya KEP lebih anteng. Mengubah diri dari dalam secara perlahan, tetapi mantap. Ketika mengikuti KEP ini, saya dibawa kembali ke masa lampau. Yakni, mengingat dan melihat hal-hal yang telah terjadi dalam hidup saya,” kenang Jenny. Continue reading

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (IV)

Ilustrasi dari Pexels.com

JENIS-JENIS FEATURE

Luwi Ishawara, dalam buku “Jurnalisme Dasar” (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2011) memaparkan dalam lingkup luas, feature dapat dipilah menjadi beberapa kelompok. Berikut  jenis-jenis feature tersebut, dengan contoh dikutip dari beberapa sumber:

 

* BRIGHT

Bright juga sering disebut brite, yaitu sebuah tulisan kecil yang menyangkut kemanusiaan (human interest featurette), biasanya ditulis dengan gaya anekdot dengan klimaks pada akhir cerita.

Dua contoh  feature bright adalah sebagai berikut — dikutip dari ‘Kumpulan Anekdot Gus Dur (http://kabarinews.com/kumpulan-anekdot-kenang-kenangan-dari-gus-dur/34310)

DO YOU LIKE SALAD?

Ilustrasi dari Sunbasket.com

Rombongan istri pejabat Indonesia  pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan  berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.

“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan

Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.

Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”

Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”

(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).

 

Berikut satu tulisan bright karya mendiang Romo Heri Kartono OSC, dalam blog pribadinya. Artikel utuh bisa dilayari di tautan ini: (http://batursajalurb.blogspot.co.id/2012/07/pangkas-rambut.html)

KETAHUAN JUGA

Foto ibu Eri (Sumber: http://batursajalurb.blogspot.co.id)

Sesudah satu bulan tinggal di paroki St.Helena Lippo Karawaci (Maret 2010), rambut saya mulai panjang, perlu dipangkas. Saat makan siang, saya bertanya pada Pastor Surono, rekan se-komunitas: “Dimana tukang pangkas rambut terdekat dan bukan Katolik?”. (Tentang “bukan Katolik” ini penting bagi kami. Umumnya kami sungkan, khawatir dikira minta gratis kalau pergi ke tempat orang Katolik). Pastor Surono menjelaskan: “Dekat kok. Pastor keluar kompleks, melewati Pos Satpam lalu belok kiri. Di situ ada Salon dan bukan Katolik”, ujarnya.

 Selesai makan siang, sayapun langsung mencari Salon tersebut. Dan memang ada, persis yang dijelaskan Pastor Surono. Jarak dari pastoran hanya sekitar 350 meter saja. Ketika saya membuka pintu salon, seorang pria yang lemah gemulai menyongsong dan menyambut saya. “Mau potong mas?”, tanyanya dengan kenes. Sebenarnya saya tidak suka, namun sudah terlanjur masuk. Ketidak senangan saya makin bertambah saat pria kenes ini memotong rambut sambil nonton sinetron. Beberapa kali dia berhenti memotong karena terpukau pada sinetron yang ditontonnya. Continue reading