Akun dan Gajah

Akun dan Gajah

Sejak pandemi melanda, aku mulai gemar melirik gempita dunia video. Terutama di media YouTube, TikTok, Snack dan sebangsanya. Memang asyik, karena lockdown, kerinduan melihat sesama bisa dituangkan di situ.

Gereja juga telah masuk dalam arus ini. Ibadah digelar secara streaming, menjadi hal lazim. Khotbah dan Katekese pun menjamur. Tentu umat yang dulu haus akan hal-hal ini terpuasakan lah dahaganya.

Tidak ada kata terlambat, untuk masuk dalam sukacita Internet. Demikian juga bagi Gereja. Maka, sungguh menarik saat mendapati banyak akun bertema “Katolik” juga berseliweran dalam dunia maya. Mulai dari yang ditangani kalangan awam, biarawan/ biarawati hingga klerus.

Tujuan lahirnya akun-akun ini, bila ditanya secara spontan, bisa beragam. Ada yang memang meliriknya sebagai media yang mudah dan murah meriah. Ada pula (sembari malu-malu) melirik peluang cuan atawa duit dari iklan.

Yap! Tantangan masa pandemi yang paling menindih adalah sulitnya menemukan alternatif nafkah. Cuan dari iklan media internet seperti rumus baru yang mencerahkan, terutama ketika di sekeliling lebih bergema isu PHK, bangkrut hingga melambungnya harga barang dagangan.

Buktinya ada nama-nama yang bisa meraup hingga miliaran rupiah dari usaha yang mulanya adalah semacam hobi ini. Sepertinya, kegiatan yang dilakukan pun cukup mudah: “buat rekaman nan sensasional, kemudian lepaskan ke rimba maya. Setelahnya berdoa khusyuk, semoga banyak yang menonton hingga komentar”.

Mantra ‘sensasional’ cukup sulit diramu ke dalam konten video a la Gereja Katolik. Mungkin menunggu momentum, semisal ada Imam atau hirarki terpapar Covid-19. Ada pengalaman lucu juga dalam ihwal itu, tatkala seorang biarawan sampai (katakanlah) mencuri cuplikan rilis info uskup terpapar covid. Tentu saja, tujuannya demi mengejar rating tontonan di kanalnya.

Gajah yang Obesitas

Tak perlu penelitian atau diskusi berat guna menggelitik pikiran, bahwa kerumunan akun-akun Gereja Katolik jika disatukan bakal punya daya besar.

Ide utamanya: umat punya satu rujukan + aliran cuan iklan sangat mungkin lebih deras. Satu rujukan adalah sifat dalam Gereja Katolik. Yakni, hanya satu petuah yang dipegang dari Bapa Suci Paus.

Cuan iklan dari satu kanal utama juga bukan hal muskil. Banyak contoh bisa ditiru. Stasiun televisi melakukannya, demikian juga dari kalangan industri hingga tokoh terkenal.

Lalu mengapa ide itu sepertinya sulit terwujud? Kiranya titik lemah ada pada penyatuan seluruh akun-akun itu. Sebab akan menggembung seperti gajah, dengan sifatnya yang lambat. Sementara dunia Internet seperti ‘pesta sensasi tanpa henti’. Setiap detik selalu menyeruak kabar-kabar viral.

Karakter industri media Internet juga sangat condong individualis. Tak ada syarat menyertakan persetujuan Kepala Lurah, Pastor Paroki hingga Surat Sakramen buat pendaftaran. Sehingga ‘kuantitas adalah segalanya’ sangat tampak di sini.

Individu atawa perorangan tersebut kebanyakan melebur ke dalam ‘pesta’ internet, memang karena suka. Mudah dan murah meriah, yang disebut sebelumnya, adalah bumbu micin agar menggaet lebih banyak insan untuk membagikan info apa saja. Mulai dari hal-hal religius, prestius hingga lekuk tubuh sembari berjoget.

Padahal, jika saja ada niat memberi hati secuil, akun-akun yang berhasil meraup cuan besar, menanam investasi serius. Berupa uang untuk promosi, menyewa jasa analis, hingga membuat perencanaan matang untuk konten edisi berikutnya.

Akun-akun itu ada yang berupa gajah (namun berhasil karena punya satu saujana nan jernih), dan ada juga berupa kelinci ramping nan lincah. Akun gajah yang obesitas, umumnya dimiliki kalangan birokrat. Insan di dalamnya juga seperti kuda delman yang perlu dilecut agar bisa bergerak.

Dari peristiwa ini juga kita bisa memilah ‘cinta’ dan ‘suka’. Adjektiva ‘suka’ kerap berumur pendek dan goyah seturut selera zaman. Tiada komitmen dan pengorbanan sungguh untuk itu.

Mencinta, adalah terus menabur kasih bahkan hingga terluka. Sebagaimana Bunda Maria yang ‘jantungnya dihujam sebilah pedang’, saat menyaksikan Tuhan Yesus wafat di kayu salib. Seperti dinubuatkan oleh si orang saleh, Simeon.

Turut dalam dunia Internet sepertinya masuk arus zaman. Seolah tak ada ruang, sesempit apa pun, untuk karya cinta Allah. Benarkah? Ihwal yang pasti adalah mengikuti jalan Tuhan adalah selalu melawan arus zaman dunia ini.

Momen Pesta Emas Bina Samadi Menyimpan Sejuta Rahmat

Pematangsiantar, Menjemaat

Rumah pembinaan rohani Bina Samadi, pada Jumat (28 Mei 2021), merayakan ulang tahun ke-50. Perayaan momen pesta emas tersebut, digelar dalam misa syukur di kapel rumah pembinaan yang ditangani komisi IX (yakni: Kongregasi Suster SCMM, Suster KSFL, Suster FCJM, Suster KSSY, Suster FSE, Suster KYM, Suster SFD, Suster OSF, dan Kongregasi Frater CMM).

Vikaris Jenderal KAM, Pastor Mikael Manurung OFM Cap memimpin perayaan ekaristi. Selain beberapa Imam, sejumlah biarawan/ biarawati dan awam turut dalam perayaan bertema: “Menjadi Religius yang Terbuka & Bersaudara di Era Digitalisasi”

Dalam sesi homili, Pastor Mikael mengucapkan selamat kepada Jubilaris pesta emas Bina Samadi. “Dalam momen ini, hendaknya kita semakin bersemangat untuk menghidupi kembali panggilan kita. Salah satunya dengan menaruh perhatian penuh kepada liturgi dan hidup doa,” tutur Pastor Vikjen KAM.

Sejatinya, perayaan Bina Samadi — yang memulai karya sejak 18 Mei 1970 — dilangsungkan pada tahun 2020 lalu. Namun, pandemi covid-19 kemudian menunda perayaan tersebut pada tahun 2021 ini.

Ketua Panitia perayaan, Sr. Theodosia FCJM, dikutip dari buku kenangan, mengucap syukur atas terlaksananya perayaan ulang tahun Bina Samadi. “Peringatan 50 tahun ini menjadi momen istimewa bagi kita semua, terutama bagi anggota Komisi IX. Tahun-tahun ini berisi perjuangan, kesulitan, tantangan, namun menyimpan sejuta rahmat sehingga setiap tahun Pusat Pembinaan ini mengalami perkembangan.”

Dia berharap, seluruh pemangku kepentingan perlu memikirkan pengembangan selanjutnya. “Menapaki usia emas ini, kita tidak boleh berhenti pada kata syukur. Tugas kita masih berjejer panjang, maka kita dituntut bekerja ekstra.”

(Ananta Bangun)

Perjumpaan Langsung dengan Sesama adalah Komunikasi Paling Otentik

Gerakan Peduli Sesama (GPS) Keuskupan Agung Medan, pada Minggu (16 Mei 2021), menghelat perayaan ulang tahun ke-lima di SLB C Karya Tulus – Paroki Tuntungan. Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap memimpin misa syukur panca tahun kelompok kategorial yang mayoritas beranggotakan Tenaga Kesehatan di KAM. Moderator GPS KAM, Pastor John Rufinus Saragih OFM Cap dan Pastor Andreas Gurusinga OFM Conv. turut dalam misa sebagai Imam konselebran.


Bapa Uskup mengutip pesan Paus Fransiskus, yang bertepatan dengan Hari Komunikasi Sedunia, “Datang dan lihatlah!” sebagai tema homilinya. Mgr. Kornelius menekankan, Bapa Suci Suci mengajak kita semua untuk membangun komunikasi melalui perjumpaan langsung dengan sesama apa adanya. “Kutipan dari Injil Yohanes 1:47 itu adalah metode komunikasi yang paling otentik.”

Kepada Menjemaat, Pastor John mengenang, mula inspirasi GPS KAM terbentuk adalah ketika membuat baksos dan pengobatan gratis ke paroki Martubung pada Mei 2016.

“Apostolat Kerahiman Ilahi KAM turut membantu pelaksanan baksos tersebut. Waktu itu cukup banyak yang hadir, sekira 200-an orang. Tentu saja, kegiatan baksos ini bisa terlaksana berkat dukungan Pastor Paroki Martubung, Pastor Martin Nule SVD.”

Imam Kapusin tersebut mengatakan, para aktivis GPS St. Felix Cantalice memiliki semangat berbagi kasih terhadap sesama yang membutuhkan, khususnya dalam hal kesehatan dan pendidikan. Oleh sebab itu, mayoritas aktivis dalam kelompok ini terdiri dari kalangan dokter dan ahli medis lainnya.

“Gerakan ini dimulai karena dirasakan minimnya pengetahuan masyarakat tentang pendidikan dan kesehatan,” tuturnya dalam keterangan tertulis. Oleh sebab itu, GPS St. Felix Cantalice mengambil motto “Sehat adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara”.

Selama tahun, menurut Pastor John, GPS KAM telah menjalankan aksi kasih ke sekitar 12 paroki di KAM. “Gerakan karya GPS KAM adalah memberi pelayanan kepada orang-orang yang miskin. Juga kita punya anak asuh kini hampir 30-an orang di daerah Paroki Parsoburan, kita bantu untuk uang sekolah mereka.”

“Dalam masa pandemi, sejak Maret 2020, tidak banyak yang bisa kita lakukan. Pernah kita buat membagikan makanan kepada orang-orang di sekitar kota Medan. Juga memberikan makanan dan minuman sehat kepada Nakes yang di rumah sakit,” imbuh Pastor John. “Ada juga berkat dalam masa pandemi ini, karena bisa menemukan ide untuk membuat hand sanitizer, membuat disinfektan, membuat alat untuk pel lantai. dan itu dijual ke paroki-paroki dengan harga yang murah.”

(Ananta Bangun)

Menampakkan Wajah Allah yang Berbelas Kasih kepada Sesama

Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap, pada Kamis (20 Mei 2021), mengukuhkan Pengurus baru Komunitas Kasih Tuhan (KKT) Keuskupan Agung Medan. Pelantikan pengurus periode 2021-2026 ini berlangsung di Gereja Paroki St. Antonius Padua – Hayam Wuruk.

Acara pengukuhan, yang juga disiarkan secara live streaming di channel Youtube Komisi Komsos KAM, berlangsung khidmat. Mgr. Kornelius memimpin misa syukur, bersama beberapa Imam sebagai konselebran, dan seluruh pengurus KKT KAM.

Dalam sapaan pembuka, Mgr. Kornelius mengajak seluruh pihak di KAM untuk medoakan dan memotivasi komunitas ini dalam karya menampakkan wajah Allah yang berbelas kasih setia kepada orang-orang. “Terutama mereka yang berada di dalam tahanan atau lembaga pemasyarakatan,” kata Bapa Uskup. “Kepada para domba, Tuhan pernah berkata: “Ketika aku dipenjara, engkau melawat aku” ini lah yang menjadi inspirasi kepada mereka yang kurang mendapat belas kasih. KKT KAM diharapkan mengisi kekosongan kasih kepada orang-orang.

Uskup Agung Medan memberkati pengurus baru yang dalam kepemimpinan Moderator KKT KAM, RP. Selestinus Manalu, OFMCap, serta Koordinator KKT KAM, Maria Sunarta Halim.

“Syukur kepada Allah, bahwa di KAM ada kelompok yang mempunyai keprihatinan dan kepedulian menunjukkan kasih Tuhan. Tentu untuk itu kita harus mengalami kasih Allah dalam diri kita, dan kemudian kita bagikan kepada mereka yang dipenjara. Supaya mereka juga merasakan kasih Allah dalam diri mereka. Kendati mereka dalam penjara,” ucap Mgr. Kornelius dalam homili.

Dalam kesempatan tersebut moderator KKT KAM, Pastor Seles menyampaikan,”Semoga kita bersama-sama sebagai pengurus dalam hubungan dengan Gereja KAM, dalam hubungan dengan umat, hubungan dengan pihak-pihak lain dan kalangan kita. Semoga dengan hubungan baik, kasih Tuhan semakin dialami banyak orang. Terutama bagi mereka yang kurang kasih karena pengalaman hidup yang mereka lewati.”

Pembina KKT Pusat, Vincentius Amin Sutanto, juga turut menyampaikan inti karya KKT adalah seperti Tuhan, yang tak pernah membedakan cinta dan perhatian-Nya kepada setiap makhluk, demikian pula manusia, jangan sampai membeda-bedakan perhatian kepada sesamanya.

Koordinator KKT KAM, Maria menyampaikan terima kasih kepada Bapa Uskup, para Iamam dan seluruh pihak yang terlibat dalam acara pengukuhan ini. “Semoga pelayanan KKT KAM melalui dukungan doa, kita semua dapat menimba kekuatan dari Allah. Semoga semakin solider, semakin beriman, semakin teribat. Salam lapas, salam KKT KAM.”

Kelompok Kasih Tuhan atau yang dikenal dengan KKT yang berada di Keuskupan Agung Medan mengadakan pelayanan kasih bagi penghuni Lapas atau lembaga pemasyarakatan.

KKT yang memasuki usia empat tahun di Keuskupan Agung Medan ini terinspirasi dari St. Giuseppe Cafasso yang memiliki perhatian yang besar kepada warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Turin, Italy.

Setiap bulan, pada Sabtu, Minggu keempat, KKT mengadakan pelayanan di Lapas. Sebelum memulai perayaan Ekaristi, team KKT mengawali dengan doa Koronka. Bagi warga binaan yang ingin konseling, KKT menyediakan seorang tenaga konselor dan bagi yang ingin menerima sakramen pertobatan, Pastor siap sedia melayani.

(Ananta Bangun)

Kelas Jurnalistik PMKRI Medan Asah Kehandalan Kader

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)  Cabang Medan St. Bonaventura menghelat Kelas Jurnalistik, Jumat (7 Mei 2021), dengan tema: “Membentuk Generasi Muda Menjadi Jurnalistik Yang Bermutu”.  PMKRI Medan bekerjasama dengan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Medan sebagai fasilitator/ pengajar.

Dalam kata sambutannya, Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Medan, Ceperianus Gea menyorot kurangnya daya minat kaum muda dalam kehidupan jurnalistik. “Yang membuat mirisnya kaum muda dalam mencari dan mengabarkan pada seluruh rakyat Indonesia tentang apa yang sudah terjadi di Negara Indonesia ke depannya,” ucap Gea.

Gea menyampaikan, Kelas Jurnalistik berlangsung berkesinambungan. Dia berharap kader-kader Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia mampu menjadi kader yang memiliki militansi yang baik. “Kelas ini juga dibentuk agar kader PMKRI memiliki keterampilan jurnalistik yang handal, yang nantinya menjadikan bekal untuk menunjang kerja-kerja organisasi dan pasca di PMKRI.”

Pemateri, Ananta Bangun mengawali Kelas Jurnalistik dengan pemahaman unsur 5W + 1H dalam membuat karya tulis sesuai kaidah jurnalistik.

“Jurnalistik juga berarti dalam proses kegiatan mencari, mengolah, menulis, serta menyebarkan informasi melalui media massa,” terang staf Redaksi di majalah Menjemaat tersebut.

Dia menambahkan, dalam penulisan berita ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya fakta kejadian, aktualitas, keseimbangan, dan kemenarikan.

Donganta, seorang peserta dari Biro Germas PMKRI Medan, menilai Kelas Jurnalistik perlu diadakan agar menambah pengetahuan mengenai jurnalistik. “Terutama, mulai dari penulisan, penempatan kata, tanda baca, hingga pada bagaimana cara penyampaian informasi, sehingga berita yang dibuat dapat diterima dan mudah dipahami oleh masyarakat luas”, ungkapnya.

Kelas Jurnalistik gelombang pertama ditutup dengan pemberian tugas liputan. Para peserta dari PMKRI Medan menyanggupi untuk rajin menyelesaikan setiap tantangan menulis dari pemateri kelas ini.

(Leonardus Sihotang)

/// adik peserta Kelas Jurnalistik menulis artikel ini. Aku simpan di blog sebagai kenangan.

Mengapa umat Katolik ber-Evangelisasi?

Kerap muncul pertanyaan: “mengapa umat Katolik harus ber-Evangelisasi?” Tanya itu muncul, sebab umumnya umat lebih banyak memupuk sendiri imannya di Gereja.

Dalam bincang bersama Ketua Komisi Evangelisasi KAM, Pastor Karolus Sembiring OFM Cap, pertanyaan tersebut dijawab lugas. Sila disimak sebagai pencerahan ilham yang baru.

PROFIL PAROKI ST. MONIKA- TIGANDERKET

1. SEJARAH PAROKI TIGANDERKET

Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga, lewat Surat Keputusan No.: 200/PAR/TN/KA/V/2013 tertanggal 29 Mei 2013, menetapkan pendirian Kuasi Paroki Tiganderket, berkedudukan di Desa Tanjung Merawa, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, kode pos 22154. Pelindung Paroki Tiganderket adalah St. Monika.  Kuasi Paroki Tiganderket adalah pemekaran dari Paroki St. Petrus dan Paulus Kabanjahe, Kabupaten Karo. Sesuai dengan Ketentuan Pelaksanaan Reksa Pastoral Keuskupan Agung Medan KPRP KAM.

Menurut penyelidikan arsip-arsip di Keuskupan Agung Medan, pada masa jabatan Mgr. Pius Datubara, OFMCap. (1975-2009) sudah dipikirkan untuk mendirikan satu paroki lagi di kaki Gunung Sinabung dengan pusat paroki Batukarang. Karena itu, Saudara Dina Konventual diundang untuk observasi dan berpendapat bahwa pusat paroki cocok di Batukarang.

Pendirian baru terealisasi pada masa jabatan Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap. (2009-2019), yaitu berdirinya Kuasi Paroki Santa Monika Tiganderket pada 29 Mei 2013, yang dimekarkan dari Paroki Santo Petrus dan Paulus (SPP). Kuasi Paroki ini mendapat status hukum sebagai Paroki Santa Monika Tiganderket sejak 31 Juli 2018.

Alasan Pendirian di Tiganderket. Pertama, alasan sejarah. Tiganderket adalah salah satu dari stasi tertua (1953), sesudah Gurukinayan (1951) di wilayah kaki Gunung Sinabung. Baptis pertama di stasi Tiganderket, yang dicatat dalam Liber Baptisatorum tahun 1963. Data sejarah ini boleh menjadi alasan bahwa Tiganderket merupakan induk bagi stasi-stasi lain di sekitarnya. Kedua, Tiganderket merupakan pusat keramaian utama di kaki Gunung Sinabung. Sekali seminggu, pada Kamis ada pekan di Tiganderket. Ketiga, potensi perkembangan Tiganderket semakin nampak dengan dibangunnya fasilitas pemerintahan di wilayah ini, seperti Polsek, Koramil, Puskesmas, Bank, Sekolah SD-SMP-SMA. Ini semua menjadi pertanda bahwa masyarakat sekitar pun akan semakin sering datang ke Tiganderket, entah karena urusan kantor, urusan paroki atau urusan pekan (pasar). Hal ini tidak ditemukan di Batukarang. Meski harus diakui bahwa di Batukarang sumber daya manusia lebih memadai daripada di Tiganderket. Batukarang nampaknya lebih siap. Keempat, alasan-alasan ini juga didukung oleh Ketentuan Pelaksanaan Reksa Pastoral (KPRP) KAM, yang menyebutkan, “Hendaknya dalam menentukan batas-batas paroki teritorial sedapat mungkin diindahkan batas-batas wilayah pemerintahan dan hal-hal praktis lainnya, termasuk kemudahan transportasi. Penentuan batas ini dimaksudkan demi kepentingan pelayanan umat beriman, tanpa pengecualian kemungkinan pelayanan lintas paroki” (KPRP 2018:54).

Kuasi Paroki Santa Monika Tiganderket berkedudukan di Tanjung Merawa Kecamatan Tiganderket. Direncanakan augurasinya September 2013. Tetapi karena gangguan letusan Gunung Sinabung, pesta augurasi baru bisa terlaksana 25 Mei 2014.

2. Kapusin Melayani Paroki Tiganderket

Dari rencana awal tidak ada pemikiran bahwa Saudara Dina Kapusin (OFMCap.) akan melayani di Tiganderket. Karena itu Saudara Dina Konventual (OFMConv.) diundang untuk meninjau wilayah kaki Gunung Sinabung dengan calon pusat parokinya adalah Batukarang (Wawancara dengan RP Leo Joosten, OFMCap., 24 Februari 2020). Rencana ini kemudian berubah dengan dikeluarkannya surat Akselerasi Realisasi Kuasi Paroki Tiganderket, No:431/PAR/SPP.K/KA/2013, 26 Agustus 2013 oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga. Dalam poin 1.4. surat itu dikatakan, “… tenaga awal untuk Tiganderket adalah Kapusin dari Berastagi…” Dan lewat suratnya bulan Mei 2013 kepada Minister Provinsial Kapusin, Mgr. Anicetus Sinaga telah meminta kesediaan Kapusin untuk melayani Kuasi Paroki Tiganderket.

Lalu dalam rapat Kevikepan St. Jakobus Rasul Kabanjahe, di Kabanjahe, 10 September 2013, Minister Provinsial Kapusin, Sdr. Emmanuel Sembiring, OFMCap. mengatakan, “Bapak Uskup telah mengharapkan supaya Kapusin melayani paroki baru itu. Setelah surat Bapak Uskup bulan Mei 2013 kami terima, sejak saat itulah kami mulai bergerak membicarakannya dengan semua saudara Kapusin. Secara resmi surat Uskup itu belum kami jawab, karena masih dalam proses, maka Kapusin belum sungguh mengatakan “ya” atau “tidak”. Pekerjaan tetap berjalan demi memutuskannya. Dan proses untuk menjawab belum selesai. Karena kami anggap keputusan ini sedemikian penting, maka kami perlu seserius mungkin menanggapinya walaupun terasa menjadi lambat.”

Continue reading

Mgr. Kornelius: Terobosan Pupuk POS Ecosophyt sangat Dibutuhkan Umat KAM

Kelompok kategorial Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Paroki St. Yoseph Delitua, Senin (19 April 2021) merayakan ulang tahun perdana karya pupuk Pos Ecosophy. Perayaan ini berlangsung di lokasi produksi pupuk organik tersebut, tepatnya di wilayah Stasi Cinta Damai. Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap memimpin momen misa syukur ini.

Dalam sesi homili, Mgr. Kornelius mengatakan, mayoritas umat di KAM mencari nafkah di bidang pertanian. “Oleh sebab itu, terobosan pupuk organik Pos Ecosophy ini sangat dibutuhkan umat kita di keuskupan ini. Meskipun tampak sebagai kontribusi kecil, tapi sungguh menginspirasi yang kita yakini akan dibesarkan oleh Allah sendiri,” ucapnya. “Ketika rencana perayaan ini disampaikan, saya menyampaikan agar mengundang PSE Caritas KAM, Rektor Unika St. Thomas, dan tokoh Katolik yang bisa kita rangkul untuk bersinergi. Guna mengembangkan karya ini.”

Kepada Menjemaaat, Koordinator PSE Paroki Delitua, Pastor Riki Natun OFM Conv. menceritakan, sejak tahun 2018, Paroki St. Yoseph Delitua telah memperkenalkan pupuk organik kepada umat yang mayoritas bekerja di bidang pertanian. “PSE Paroki St. Yoseph Delitua didampingi oleh seorang ahli pertanian, lalu mengadakan penyuluhan, pendampingan dan pelatihan kepada para pengurus stasi di tingkat-tingkat rayon. Mereka juga terjun langsung ke lahan-lahan pertanian umat,” kata Imam Konventual tersebut.

Pastor Riki melanjutkan, untuk menggerakan umat menggunakan pupuk organik, PSE Paroki Delitua telah membentuk satu kelompok tani yang bernama Ula pertewas. Letaknya di Stasi St. Maria Penen, pada tanggal 26 Novenber 2019; di mana kelompok ini fokus menggunakan pupuk organik.

“PSE Paroki bersama dengan konsultan membuat pupuk organik khusus untuk kelompok tani Ula Pertewas. Sebab, kenyataan di lapangan, minat umat menggunakan pupuk organik semakin meningkat sejalan dengan hasil produksi pertanian mereka yang juga meningkat. Melihat keadaan seperti ini, DPP dan PSE Paroki Delitua mengadakan rapat bersama dengan membaca ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus, DPP dan PSE,” ujarnya.

Dia mengatakan, pupuk ini bertujuan memulihkan tanah yg telah tandus dan gersang, merestorasi tanah dan meningkatkan hasil produksi baik dari segi kuantitas dan kwalitas yang berkelanjutan.  Dan tentunya akan meningkatkan pendapatan umat demi kesejahteraan mereka.  “Pupuk ini mendorong umat untuk menjaga bumi sebagai tempat tinggal bersama. Pos  ecosophy adalah tanda bahwa Allah menyertai segala rencana dan perjuangan umat Delitua,” pungkasnya.

Selain persembahan Ekaristi, perayaan syukur ultah perdana ini juga dilengkapi pemberkatan patung St. Fransiskus Assisi dan penanaman pohon oleh Bapa Uskup serta beberapa tokoh Katolik KAM di lokasi produksi pupuk POS Ecosophy.

(Ananta Bangun)