Di Panti Asuhan Ini Rumah Saya, Keluarga Saya

bapa Heri Sinaga berbincang dengan anak-anak Panti Asuhan Betlehem – Bandar Baru

Pertemuan dengan Herianto Marselino Sinaga, S.Pd bermula ketika Komisi Komunikasi Sosial – Keuskupan Agung Medan menghelat Pelatihan Menulis Fakta & Feature bagi Seminari Ordo Konventual dan Siswa Katolik SMA Deli Murni, di Bandar Baru, pada tahun 2015 silam.

Selain menjabat Kepala Sekolah SMA Deli Murni, bapa Heri – sapaan akrabnya – juga telah lama menjadi pendamping anak-anak di Panti Asuhan Betlehem – Bandar Baru. Sebagai salah satu alumni, dia adalah gambaran binaan dalam panti asuhan karya Ordo Konventual ini. Dalam kolom feature ini, dia mengisahkan perjalanan hidup dan karakter diri yang tertanam selama menjadi bagian di PA. Betlehem.

“Saya merasa di sini (Panti Asuhan Betlehem) adalah rumah saya. Bukan sekedar persinggahan,” ucapnya.

Betlehem bukan sekedar ‘rumah’ bagi anak yatim piatu, namun juga untuk ‘meringankan’ beban para orangtua tunggal dari latar perekonomian bawah. Sebagaimana hal nya bapa Heri. Oleh karenanya, dalam tulisan ini terdapat beberapa lema ‘orangtua’ bukan hendak membuat bingung antara status anak di PA. Betlehem yang dikunjungi orangtua kandungnya. Continue reading

Menulis Hidup Seorang ‘Penulis & Aktivis’ di Gereja

Foto: Betlehem Ketaren saat wawancara bersama LENTERA (Copyright: Komsos KAM)

Saya mengetahui namanya bermula dari majalah Ralinggungi – media cetak berbahasa Karo. Nama (depan) si bapa, walaupun sering diucapkan setiap perayaan Natal, masih asing di telinga orang-orang kita: Betlehem Ketaren. Entah karena daya magnet sesama penulis, kesempatan itu pun tiba. Ketua unit Komisi Komunikasi Sosial – Keuskupan Agung Medan, RP Hubertus Agustus Lidy OSC, meminta saya untuk menulis profil beliau. Dan menyenangkan bahwa Istriku, Eva, sedia mendampingi sebagai tandem dalam liputan kali ini.

Menulis tentang penulis. Ini bukan sebuah tantangan ringan. Musababnya, saya bisa saja luput ‘menangkap’ sisi inspiratif tentang bapa Betlehem. Atau bahkan lebih buruk, tulisan sosoknya tidak lah ‘menggigit’ perhatian pembaca. ‘Siapa dia?’, ‘Sudahkah dia layak masuk dalam liputan utama ini?’, dan aneka tanya lainnya yang meluruhkan simpati. Namun, Lentera bukanlah ‘pengacara’ yang membeberkan tumpukan perkara. Di media ini kita memperoleh ruang dan meja untuk bercerita. Ya, teman bercerita. Dengan demikian, kita coba mengenalnya dari satu sudut pandang. Seorang penulis yang ‘menyayat’ urat nadi-nya dan membiarkan aksara keluar selaksa.

 

***

Jam digital di ponsel menunjukkan pukul delapan pagi. Dan, kami masih menggigil saat memasuki areal Pastoran dan Paroki St. Fransiskus Assisi – Brastagi. Maklum, selain diapit oleh dua gunung berapi aktif, Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung, kota ini sendiri berada di ketinggian lebih dari 1300 mdpl (meter di atas permukaan laut), sehingga menjadikan kota ini menjadi salah satu kota terdingin yang ada di Indonesia.

Di tempat tersebut, ada dua narasumber yang hendak kami wawancara guna dimuat di media yang berbeda. Pater Leo Joosten OFM Cap untuk liputan di majalah Menjemaat, dan Betlehem Ketaren untuk Lentera. Narasumber disebut pertama, tak sulit ditemui karena pastoran ini adalah ‘markas besar’-nya. Sementara bapa Betlehem, setelah dikontak via pesan seluler, mengaku otw (on the way) atawa sedang dalam perjalanan menuju Paroki Brastagi.

“Tenang saja. Pak Ketaren biasanya tiba agak tengah hari. Kalian saja yang datang lebih cepat lho,” seorang ibu pegawai Paroki, coba menyelingi penantian kami.

Benar saja. Dalam tempo sepeminum teh, samar-samar tampak wajah Betlehem. Sisa kabut pagi coba menutupi, tapi itu percuma saja karena senyum lebar terlihat jelas menghias wajahnya. Paras pecandu humor. Continue reading

‘Quo Vadis’ Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan Seusai Yubileum 50 Tahun?

Seremoni HUT 50 Tahun Paroki dan 42 Tahun Tahbisan Episkopal Mgr A. G. Pius Datubara OFM Cap | Credit photo: Paroki Pasar Merah, Medan

Menjadi Paroki Komunitas Ekaristis: Dengan Setia Mewartakan Injil Kristus”

Misa Ekaristi dan rangkaian lomba hingga hiburan menghiasi perayaan Yubileum 50 tahun, Renovasi dan Pembangunan Gereja Katolik Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan, pada Minggu (2/7/2017). “50 Tahun bukan waktu yang singkat,” tanggap Parokus RP. Frans Borta Rumapea, O. Carm, sebagaimana dikutip dalam buku kenangan momen istimewa ini.

Lebih jauh, Pastor Borta berharap Pesta Emas tersebut menjadi titik tolak sebuah gerakan besar Paroki – yang bertempat di daerah bekas pabrik batu bata pemerintah Belanda di zaman penjajahan, yang hingga kini dikenal dengan sebutan Pasar Merah – ini. “Quo Vadis (hendak kemana) Paroki ini akan melangkah? Demikianlah inti yang saya ingin diresapi Imam, Klerus, Dewan Pastoral hingga Umat di Paroki ini ke depannya,” kata Pastor Borta, dalam diskusi bersama Menjemaat guna penulisan Sajian Khusus ini. Continue reading

Deskripsi

Deskripsi adalah menggambar dengan kata-kata | Credit Photo: Pexels.com

Cantik itu relatif. Demikian sebuah ujaran kata bijak, bahwa tidak lah sederhana untuk menjelaskan sebuah gambaran. Setiap pribadi memiliki pandangan yang berbeda tentang ‘cantik’, bukan?

Bagaimana kita menyebut seorang gadis itu cantik? Atau sebuah tempat teramat jorok atau bau? Dalam dunia menulis, hal ini dijawab dengan kiat bernama ‘deskripsi.’

Deskripsi sangat membantu untuk menggambarkan ciri atau sifat atas subjek/ objek yang sedang diketengahkan. Semisal saja, deskripsi bahwa seorang gadis memiliki rupa jelita. Kita dapat membuat tulisan deskripsi sebagai berikut:

[Agnes Monica memiliki mata belo dengan alis seperti semut beriring di atasnya. Bila tersenyum, pipinya pun melekuk bagai buah mangga nan ranum. Serta merta bibir merahnya juga turut membentuk simpul. Entah mengapa fikiranku pun melesat pada bait-bait Kidung Agung di Kitab Perjanjian Lama, saat menatap pesona-pesona itu.] Continue reading

MASIHKAH MENCARI SATU ‘DOMBA’ YANG HILANG?

dari kiri-kanan: RP. Mardan Ginting OFM Conv, RP. Leo Joosten OFM Cap, RP. Damian O.Carm

“Akhirnya, putra – putraku, menjalankan tugas kalian dalam diri Kristus, Kepala dan Gembala, dalam persatuan dengan Uskup kalian dan tunduk kepadanya, upayakan untuk membawa umat beriman sebagai satu keluarga, supaya kalian dapat memimpin mereka kepada Allah Bapa melalui Kristus dan dalam Roh Kudus. Ingat selalu dalam pikiran kalian contoh dari si Gembala Baik yang datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani, dan datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

 

Penggalan kata mutiara di atas adalah bait terakhir dalam homili Paus Fransiskus pada Misa Tahbisan Imam di Vatikan pada tanggal 21 April 2013. Meskipun telah berlalu hingga empat tahun, inspirasi yang terkandung di dalamnya masih relevan dalam kehidupan Gereja. Majalah Menjemaat mendalami kembali semangat “Gembala mencari Domba yang Hilang”, melalui wawancara bersama narasumber: RP Mardan Fransiskus Ginting, OFMConv, RP. Damian Christanto Pangadi O.Carm, dan RP Leonardus Egidius Joosten OFMCap.

Pastor Mardan tak memungkiri keprihatinan apabila ada ‘domba yang hilang’. “Paroki, di mana saya pernah bertugas, pernah pihak DPP melapor bahwa ada umat yang sekian lama tidak gereja bahkan ragu-ragu mau pindah,” ujar Imam Konventual senior kepada Menjemaat, Jumat (9/6/2017), di Biara Konventual Sinaksak – Pematangsiantar. “Sebagai pembuka kembali jalan persahabatan dengan penuh kasih, saya meminta DPP berkunjung resmi.”

Bagi Parokus emeritus di Delitua dan Bandar Baru ini, inilah khasanah ‘penggembalaan’.  Yesus mengatakan, jika seorang gembala memiliki 100 domba dan satu yang hilang. Maka dia akan mencari dulu yang satu itu tanpa membiarkan tercerai berai 99 domba lainnya.

“Jujur. Kebanyakan memang kesalahan dari pihak kita, pihak gembala. Karena sering pihak gembala ini masih berpikir secara duniawi. Ah! Aku masih punya 99 kok!? Biarin aja yang satu itu kalau malas.  Aku sibuk sekarang menggembalakan 99 ini, mana mungkin kutinggalkan ini gara-gara 1. (Namun) itu kan prinsip duniawi,” aku Pastor Mardan dengan rendah hati. Continue reading

Jambore Sekami Dua Vikariat Medan – Keuskupan Agung Medan 2017

Pastor Martin Pastor Nur Widi dan Mgr Pius Pimpin Pelepasan Balon Rosario Lima Benua (Copyright: Komsos KAM)

Jambore Sekami Dua Vikariat Medan – Keuskupan Agung Medan 2017

“Sekami Remaja Mewujudkan Diri dalam DOA dan KESAKSIAN”

 

Derap hentak kaki, dentum musik dan bahana seruan membuncah di Taman Cadika Pramuka – Medan Johor. Selama dua hari (Sabtu/ 17 Juni 2017 – Minggu/18 Juni 2017), lapangan luas milik Pemerintah kota Medan tersebut menjadi arena Jambore Serikat Kepausan Anak Remaja Misioner (SEKAMI) Dua Vikariat Medan (Katedral dan Hayam Wuruk) – Keuskupan Agung Medan.

“Ini adalah peristiwa istimewa,” ujar Germano Manalu, staf Diosesan Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agung Medan. Lembaga penghelat acara megah tersebut. “Sebab Jambore ini merupakan yang pertama dilaksanakan di Keuskupan Agung Medan.”

Merujuk pada kamus bahasa Inggris, istilah ‘Jambore’ berasal dari kata ‘Jamboree’. Makna dari kata tersebut ialah perayaan atau pesta besar yang melibatkan massa dalam jumlah banyak dan riuh. Di samping itu, jambore juga identik dengan perkemahan.

Sekira 650 orang dari 19 Paroki, mayoritas anak cilik dan remaja, menjalani setiap prosesi  dengan antusias. “Tim animasi tidak letih mengajak peserta SEKAMI se-dua Vikariat Medan untuk belajar dan berkreasi dalam Jambore ini,” ujar Yolanda Harahap, ketua Seksi Acara, yang didukung para mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Deli Tua serta beberapa Pendamping Sekami dari Paroki di Vikariat Medan Katedral dan Hayam Wuruk.

“Benar. Ini adalah kegiatan yang diperuntukkan bagi anak-anak. Maka, susunan acara telah dirancang sesuai dunia anak-anak: bernyanyi, bermain, kuis hingga menari,” timpal Ketua Pelaksana Panitia, Filemon Falugosa Daeli, kepada Menjemaat. Staf pegawai di perusahaan distributor komputer tersebut mengaku pengalaman menjadi Pendamping Sekami di Paroki Simalingkar B banyak membantunya dalam merancang Jambore tersebut. “Padahal, sebelumnya saya lama jadi pengurus di lingkungan. Sehingga saat ditugaskan jadi pendamping saya sempat sangat kewalahan. Sekarang, justru sudah menikmati. Hehehe.”

Kirab Peserta Jambore Sekami disaksikan Mgr Pius Pastor Martin dan Pastor Nur Widi (Copyright: Komsos KAM)

Continue reading

Koor Bapak-bapak : Madah Doa Persembahan bagi Allah

RP Hubertus Lidi OSC | Repro Latar Belakang : http://www.sttheodoreschurch.com

Qui bene cantat, bis orat secara harfiah berarti “Ia yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali.” Kata-kata mutiara ini diucapkan oleh Santo Augustinus dari Hippo, seorang uskup dan pujangga Gereja. Kita meresap ungkapan tersebut bahwa kumandang lagu yang dipersembahkan bagi Allah, juga pendekatan lain untuk berkomunikasi dengan-Nya selain berdoa.

Berdasarkan aforisme di atas, kiranya Koor Bapak-bapak (KBB) di Lingkungan St. Petrus (Stasi Tanjung Selamat – Paroki St. Maria Ratu Rosari Tg. Selamat) sepadan dengan Punguan Ayah Katolik (PAK) yang tersebar di Keuskupan Agung Medan (KAM). RP Hubertus Lidi OSC, Pastor di Paroki Tanjung Selamat memberi apresiasi kepada kelompok ini.

“Sejak akhir tahun 2015, koor Bapak-bapak di Lingkungan St. Petrus mulai aktif berperan dalam misa mingguan di gereja Paroki Tanjung Selamat,” ucap Imam yang mengetuai Komisi Komunikasi Sosial KAM. “Di samping mereka, ada tiga kelompok koor lainnya yang aktif membantu misa mingguan di gereja paroki ini.” Continue reading

Verifikasi

Ilustrasi dari http://www.pexels.com

Nanta, nama saya dalam berita itu salah. Bukan Agus, tapi Agoez. Tolong diganti!.”

Demikian sebuah pesan melesat masuk via ponsel saya. Setiap orang lumrah buat kekeliruan. Sayangnya, hal tersebut tak berlaku dalam dunia jurnalistik. Sebab karya pewartaan dimaksudkan bagi khalayak ramai. Orang bisa salah menduga jika ada kekeliruan nama, tempat, peristiwa.

Bayangkan saja dampak pemberitaan salah satu televisi swasta ketika keliru mewartakan tentang erupsi gunung di Yogyakarta. Setelah kepanikan luar biasa, mereka secara massal menolak menonton berita dari stasius televisi itu. Mirip fatwa haram dari satu badan religius di negeri ini.

Aku cukup beruntung, berita yang kutulis dimuat di media online (sehingga mudah dalam mengoreksi). Namun, tetap saja mempengaruhi kepercayaan narasumber dan pembaca.

Fikiranku bergelayut: bagaimana seandainya kekeliruan itu terjadi di media cetak, televisi dan radio? Memang ada prosedur ‘ralat’ untuk menyampaikan koreksi. Lalu, bagaimana cara untuk menangkal kekeliruan tersebut terjadi lagi? Nah. Di tahap ini kita membutuhkan kiat bernama ‘verifikasi.’ Continue reading

Ora et Labora: Mantra Keberhasilan dalam Hidup, Berkeluarga dan Iman

Keluarga Aritonang (ki-ka) Jimmy Aritonang (anak) bapa Saut Aritonang ibu Rasmida Siregar dan keponakan — foto Dok Pribad

Keluarga dari pasutri (pasangan suami-istri) Drs. Saut Aritonang, M.Hum dan Dra. Rasmida Siregar adalah umat di Stasi St.Benedictus Srigunting, Paroki St. Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat Medan. Keduanya, pada bulan April 2017 lalu, baru merayakan misa syukur 25 Tahun Ulang Tahun Perak Pernikahan.

Berkenaan dengan semangat Sinode-VI KAM (Keuskupan Agung Medan) dan Top Pastoral Priority KAM 2017 bertema keluarga, Menjemaat tertarik mengupas pengalaman iman pasutri, secara khusus kepala keluarga (bapa Aritonang) mampu langgeng berumah tangga hingga seperempat abad. Berikut petikan kisahnya.

***

Sebelum mengetengahkan semangat iman dalam keluarga kami, ada baiknya saya memulai dari pengalaman iman pribadi menghayati rahmat Allah. Sebagian besar hal tersebut saya alami tatkala menuntaskan pendidikan, meraih karir serta membina rumah tangga yang langgeng hingga 25 tahun. Semua ini adalah karunia-Nya yang saya dan Istri, Dra. Rasmaida Siregar, dan putra, Jimmy Carter Aritonang, SH, selalu syukuri.

Saya meyakini bahwa setiap nama mewarisi berkat. Nama saya sendiri ‘Saut’, dalam bahasa Batak Toba berarti ‘jadi’, ‘sukses’ atau ‘tak pernah tertunda’. Dan sungguh benar saya alami sendiri dalam setiap memperjuangkan masa depan. Tekun berdoa serta kerja keras adalah kiat utama saya dalam merengkuh keberhasilan.

Meski saya lahir di Pematang Siantar (pada 15 Juni1967), namun saat mengenyam pendidikan di kelas 4 Sekolah Dasar (SD), Bapak membawa kami sekeluarga pindah ke Kisaran. Di satu kampung namanya kampung Rawang.

Semangat iman dalam diri saya mulai lahir sejak rajin bergelut dalam kegiatan kelompok kategorial di Gereja Stasi Rawang Pasar VII, Paroki Kisaran. Pada masa itu, saya aktif mulai dari Asmika atau Anak Sekolah Minggu Katolik hingga (saat itu disebut) Muda-Mudi Katolik atau Mudika, yang kini bernama Orang Muda Katolik (OMK). Setiap kegiatan baik koor, main drama pada perayaan Oikumene maupun pertandingan olahraga di kelompok kategorial ini sangat saya nikmati. Tentu tidak mengesampingkan penghayatan iman yang diselenggarakan melalui aneka kegiatan rohani dalam kelompok ini. Continue reading

Pada mulanya adalah Dapur Redaksi

Sejak April 2017, aku mulai mengirim artikel untuk majalah berbahasa Karo, Ralinggungi. Aku senang tulisanku diterima karena niat untuk berbagi pengetahuan bagi kampung halaman setidaknya terjawab dalam majalah asuhan Kevikepan Karo ini. Terlebih lagi, senang mendapati tulisan yang mulanya berbahasa Indonesia diterjemahkan dengan anggun oleh bapa Betlehem Ketaren. Seorang penulis, pewarta dan juga aktivis Gereja Katolik KAM.

Beberapa tulisan yang pernah kukirim coba kumuat juga di blog pribadi. Kiranya pengetahuan ini juga dapat menggugah sahabat-sahabat lainnya. Untuk naskah berbahasa Karo, aku persilakan untuk berlangganan ke redaksi Ralinggungi. Huehehehe.

Saat liputan ke desa korban erupsi Sinabung, desa Naman Teran (tahun 2014) – Dok, Komsos KAM

***

Orang bilang tidak semua keahlian bersumber dari bakat lahir. Mereka yang mengucapkan itu, umumnya terlibat dalam dua hal ini: ‘kerja keras’ dan ‘langsung nyemplung ke dunia keahlian tersebut’. Persis seperti orang belajar berenang, dalam waktu cepat maupun lambat, tentu saja musti tercebur ke dalam kolam.

Pernah ada yang bertanya padaku: “Bagaimana caranya agar cepat mahir berbahasa Inggris?” Mungkin karena dia tahu aku pernah beberapa kali mengajar kursus bahasa asing tersebut. Kujawab: “Cara paling cepat dan ampuh adalah mengajar yang lebih tidak tahu bahasa itu daripada dirimu. Misalnya mengajar bahasa Inggris bagi siswa Sekolah Dasar (SD).” Dia heran, bagaimana mungkin? Tentu saja mungkin. Pertama, si pengajar harus lebih tekun belajar daripada pelajarnya. Kedua, si pengajar akan dibebani tanggung jawab untuk belajar dan mengajar secara baik. Sebab dia diganjar honor lumayan. Continue reading