Apa Untungnya Jadi Penulis, bang Ananta?

Frizt Sembiring memberi materi presentasi pada Kaderisasi OMK Diski

Aku mengenal Frizt Sembiring sejak Komisi Komunikasi Sosial – KAM berpindah markas ke gedung Catholic Center KAM, pada tahun 2015 lalu. Sejak mula bertemu, aku terkesan pada sifatnya yang ceria dan gerak-gerik nan sigap. Namun, aku mulai mengetahui jati dirinya sebagai aktivis Orang Muda Katolik, justru ketika dia menanggalkan karir di gedung berkubah coklat itu. Dia mengajak aku untuk mengisi sesi motivasi dalam kegiatan Kaderisasi Aktivis OMK Stasi St. Fidelis – Diski di Sibolangit. Aku menyanggupi, dan setelahnya, perbincangan kami di dunia maya hampir selalu dijejali perihal pengembangan minat dan organisasi OMK.

Dalam bincang di grup Whatsapp OMK Diski, pada Selasa (17 Oktober 2017) kemarin, misalnya, dia meluncurkan tanya sebagai berikut: “Oy Bg.. . Apa yg menjadi keuntungan seorang penulis yg real abg Alami?? Bagi kisahnya bg. Siapa tau ada adik adik ini yg pnya bakat, tapi gak tau arahnyaa..

Aku terkesiap dengan pertanyaan tersebut. Sebab tidak mudah untuk menuliskan jawabannya. Akan lebih mudah, bila saja dia bertanya kiat atau panduan mula belajar menulis. Ataupun hal-hal praktis tentang menulis.

Sempat aku tergelitik untuk langsung memberi tanggapan, namun lekas kuurungkan. Aku ragu jawaban langsung hanya akan segera terbenam dengan banyak komentar dari anggota lainnya di grup WA tersebut. Continue reading

Advertisements

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (III)

Ilustrasi dari Pexels.com

MENGENAL ‘FEATURE’

Feature merupakan gaya liputan yang sudah lama dianut, nyaris setua riwayat jurnalistik itu sendiri (demikian dituturkan Fahri Salam dalam bab ‘Pembuka’ di buku “Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme” | Pindai: 2016).

Goenawan Mohammad, dalam buku “Sendainya Saya Wartawan TEMPO” (Tempo Publishing: Mei 2015), menuliskan pengertian feature sebagai: “adalah artikel kreatif, kadang-kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan.”

Goen juga menambahkan, ada juga pernyataan bahwa feature… :”cenderung lebih untuk menghibur ketimbang untuk menginformasikan.”

Tidak seperti menulis berita biasa, menulis feature memungkinkan reporter “menciptakan” sebuah cerita. Memang, ia masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat, dan seterusnya, sebab feature, dengan segala “kebebasan”-nya, tetaplah ragam tulisan jurnalistik – bukan fiksi.

Luwi Ishwara dalam buku “Jurnalisme Dasar” (Penerbit Buku Kompas: 2011) menuliskan, dari segi sifatnya, feature dapat dibagi dua: feature berita dan feature human interest. Feature berita adalah sebuah berita yang ditulis dalam bentuk feature, dan pemuatannya terikat dengan waktu. Sedangkan, feature human interest tidak mengandung unsur berita dengan segala dimensinya (basi/ tidak basi) sehingga dapat dimuat kapan pun dan mengandung human interest.

Artikel dari majalah Menjemaat (majalah resmi Keuskupan Agung Medan), berjudul: “RP Antonius Siregar OFM Cap: “Saya Bersyukur atas Rahmat-Nya” “, ini merupakan satu contoh feature human interest. [artikel utuh dapat dilayari via tautan ini: https://anantabangun.wordpress.com/2017/03/29/rp-antonius-siregar-ofm-cap-saya-bersyukur-atas-rahmat-nya/ ]

Continue reading

Forum Dialog dan Literasi Media 2017 di KAM: “Memahami dan Berkarya Positif di Ranah Media Sosial”

Sejak mula ditunjuk sebagai Ketua Panitia Persiapan “Forum Dialog dan Literasi Media 2017 di KAM” aku merasa amat girang. Setidaknya, dipercaya dalam kegiatan seperti ini sungguh berarti. Di samping itu, aku pun belajar banyak mengenai ‘persiapan’ untuk perhelatan sebesar ini.

Beberapa hari pasca forum, Pater Alexander Silaen OFM Cap meminta aku untuk membuat sebuah tulisan kegiatan ini. Aku mulanya menolak, sebab telah ada tulisan berita dari Mirifica.net dan Geosiar.com. “Tapi, dari Komkep KWI mau tulisan liputan yang lain lagi,” jelas Pater Alex.

Aku pun lalu mengusulkan tulisan feature. “Wah. Aku sudah sering menulis. Tapi belum tahu beberapa jenis tulisan feature,” ungkap Pater Alex. Kupikir sejenak untuk mencari contoh. “Nah, tulisan tentang meme oleh Katekis Generasi Mudah KAM kemarin di blog saya, Pater. Itu termasuk feature,” kataku.

Seusai kegiatan forum tersebut, aku telah mencari-cari ‘apa’ atau ‘siapa’ hendaknya kubuat menjadi pemula tulisan ini kelak. Setelah pilah-pilih, kuputuskan memulainya dari pengalaman bertemu mbak Dite. Sudah laik sepertinya dimulai dari story (kisah) yang berkaitan dengan persiapan kegiatan ini. Kukira ini lah tulisan feature paling panjang yang pernah kutulis (lebih dari 2400 karakter). Dan, akhirnya, ini lah tulisan feature tersebut.

***

Menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, pembukaan acara Forum Dialog dan Literasi Media 2017 di KAM

Ruang kerja Komisi Komunikasi Sosial – Keuskupan Agung Medan, pada Sabtu (7/10/2017) pagi, yang hening dan dingin berkat mesin pengatur hawa, diusik oleh ketukan nan pelan. Satu suara halus: “Shalom!” menyusul kemudian.

Aku beranjak dari meja rapat Redaksi Menjemaat, melongok si empunya suara. “Astaga! Inikah orangnya?” Begitu lah rasa gusar dan gemas berkelindan di otakku.

“Mmm…. mbak Dite ya?”

“Iya, mas. Kok mukanya kaget gitu?” cetus si mahluk mungil ini. Ya, amat kontras dari foto parasnya saat memperkenalkan diri dalam grup aplikasi bincang daring, Whatsapp, dengan pipi yang tambun dan leher kokoh. Faktanya, di hadapanku dia seperti warga liliput dalam kisah negeri dongeng. Aku berani bertaruh, dia bahkan bisa menyelinap masuk ke dalam tas ransel kerjaku.

Sejak ditambahkan sebagai salah satu penghuni panitia persiapan ‘Forum Dialog dan Literasi Media 2017 untuk Keuskupan Agung Medan’, Dite memperkenalkan diri sebagai fasilitator terlaksananya kegiatan yang digalang dari kerjasama Kementerian Kominfo RI dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Dalam pengakuannya, dia juga menambahkan jati diri berasal dari Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Jakarta.

“Nah, kebetulan ini. Saya mau tanya kenapa dari FMKI Sumut ndak ada mengirim utusan dalam kegiatan ini, mbak Dite?” tanyaku sembari melirik jam dinding. Mewakili rasa gemas atas salah satu persoalan yang belum jua tuntas sebelum acara mulai — yakni mengenai ‘peserta’. Sementara waktu menuju pelaksanaan acara hanya tersisa tiga jam saja.

“Iya. Dalam chat dengan Romo Alex, katanya usia yang di Medan sudah di atas 40 tahun. Melewati batas syarat dari penyelenggara, mas. Padahal di Jakarta, banyak yang culun-culun seperti saya,” katanya sembari cekikikan.

“Wah. Di Medan, (suhu nya) panas ya. Pantesan orang-orangnya suka marah-marah,” Dite kembali berucap dengan enteng.

Aku melirik dia dengan senewen. Kewarasan panitia pelaksana di Medan telah diuji selama persiapan acara ini, tetapi gadis alumnus Universitas Brawijaya ini terlihat sangat tenang. Aku menduga, dia lebih banyak belajar ilmu meditasi daripada politik yang menjadi jurusan kuliahnya. Continue reading

“Karena Kita Bangkit, Gereja pun Turut Bangkit”

Tampak Muka – Gedung Gereja Stasi Tiga Sabah (Copyright: KomsosKAM)

“Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, sebagaimana dikatakan-Nya: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Jadi Gereja/ ekklesia maksudnya adalah kumpulan umat Allah, yaitu bangsa pilihan Allah yang baru, yang merupakan penggenapan dari bangsa pilihan Allah di jaman Perjanjian Lama, karena jasa Kristus yang menjadi Sang Anak Domba Perjanjian Baru. Gereja Katolik lahir, tumbuh dan dihidupkan oleh Sabda Allah, dan Tubuh dan Darah Kristus.

Dengan demikian, makna Gereja dalam Perjanjian Baru memang tidak terlepas dengan makna ‘jemaah’ dalam Perjanjian Lama karena PL dan PB memang berhubungan satu dengan yang lainnya; dengan PB sebagai penggenapan PL. Dengan demikian, Gereja mempunyai makna yang jauh lebih mendalam daripada hanya sekedar kumpulan orang- orang yang memuji Tuhan. Sebab Gereja telah dirintis oleh Allah sejak masa PL, namun kemudian disempurnakan dalam PB; dengan dijiwai dan diberi hidup oleh Kristus sendiri, agar dapat sampai kepada kehidupan yang kekal (Yoh 6: 54).”

***

Tim Menjemaat mulanya cukup kewalahan mencari alamat Ketua Dewan Stasi St. Yoseph Tiga Sabah, Hotmaruli Marbun. Setelah kontak ponsel – sejak tiba di kota Binjai – dan juga bertanya pada penjaja buah di pinggir jalan, kami menemukan rumah bapak tiga anak ini. “Mungkin karena baru pertama kali kemari, namun setelah ini pasti akan mudah menemukan jalan pulang ke Medan,” ujar Hotmaruli sembari tersenyum menyambut kami, pada Minggu (8/9/2017).

“Kita tidak harus buru-buru ke Gereja Stasi Tiga Sabah. Sebab Ibadat Minggu biasanya dilaksanakan pada pukul 09.00 wib,” imbuh Hotmaruli. Seraya mengajak tim Menjemaat menikmati penganan, dia menceritakan beberapa pengalaman pelayanan dalam gereja stasi di lingkup Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi – Binjai. “Saya mulai kemari (pindah ke stasi ini) pada akhir tahun 2003. Sebelumnya, saya sempat bolak-balik bergereja di Paroki Binjai dan juga di kampung halaman, Sorkam.”

Putra dari (alm.) Lamsana Marbun dan (alm.) Rustia br Sihombing ini tak menutupi kesannya saat kali pertama beri di Stasi Tiga Sabah. “Saya lihat gereja nya nggak layak pakai,” katanya mengenai kondisi fisik gereja stasi yang masih semi permanen. Menurutnya, keadaan tersebut juga mempengaruhi gairah umat untuk beribadah. “Sepertinya semangat iman para pengurus serta umat sudah lama lesu. Saya memaklumi karena tantangan perekonomian umat setempat cukup berat. Tentu tidak mudah untuk membagi waktu dan tenaga dengan kondisi demikian.” Continue reading

Menetapkan Tujuan

Ilustrasi Peta (Copyright: pexels.com)

Sudah berapa kali kita mendapati pengalaman bernama ‘salah arah’?

Begini kira-kira mula ceritanya:

Belasan insan duduk di kursi yang ditata berupa setengah lingkaran. Kemudian seorang, yang menyebut diri sebagai trainer atau pemateri, memberi pertanyaan menghujam benak mereka: “Apa tujuan Anda semua turut dalam pelatihan ini?”

Wajah-wajah peserta training itu kaku lalu jatuh tertunduk, ketika pandangan si trainer menyapu paras mereka satu per satu. Beberapa mungkin menggerutu: “Tak mungkin lah dibilang karena disuruh atasan.” Lainnya lagi: “Entah lah. Yang penting bisa lepas dari kerjaan kantor yang itu-itu saja. Lagipula, beberapa minggu setelah kegiatan ini pasti lupa lagi.”

Demikianlah suasana seperti pada hari ke-6 terciptanya bumi dan segala isinya. Hening. Namun tak berlangsung lama, karena sesi coffee break atau makan jedah pun tiba. Continue reading

Kongregasi Klaris Kapusines Rayakan Pesta Perak Biara St. Klara Sikeben

Mgr Anicetus Sinaga berfoto bersama para Imam dan Suster Klaris usai misa syukur pesta perak Biara St Klara Sikeben – 1

Kongregasi Suster Ordo Sanctae Clarae Capuccinarum (OSC Cap), Sabtu (26/8/2017), menghelat perayaan syukur “25 Tahun Biara St. Klara Sikeben” di Sikeben, Paroki Sang Penebus – Bandar Baru. Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap memimpin misa pesta perak ini – yang diikuti puluhan Imam, Biarawan/ Biarawati dan umat dari lintas daerah.

Mgr. Anicetus mengucapkan selamat dan syukur atas 25 tahun peziarahan warta Injil oleh Kongregasi Suster Klaris Kapusines di Sikeben. “Biara St. Klara Sikeben kini sudah berziarah selama dua puluh lima tahun dengan menjaga dan melestarikan warisan St. Klara ini. Suster Klaris menghadirkan kekayaan Gereja di dunia nyata kita ini. Biara dan seluruh perjalanan hidup harian yang ditekuni di tempat ini adalah warta Injil yang kaya makna dan mendalam,” ujarnya.

Uskup juga menyatakan syukur atas panggilan dan ketekunan para Suster Klaris mendoakan Keuskupan Agung Medan. “Doa-doa dari para biarawati di Biara Sikeben turut menguatkan para Imam dan Pemuka Gereja dalam pelayanan. Panggilan ini merupakan ‘jantung Gereja’. Tersembunyi, tetapi merupakan organ yang sangat penting,” katanya. Continue reading

“Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa bagi Segala Bangsa”

Gedung Gereja Katolik Stasi St. Laurensius Simpang Selayang | Photo Credit: Feri Tarigan

Ini bukan lah karya tulisan feature yang baik. Demikian menurutku. Musababnya, aku hanya mengandalkan data dari satu narasumber, dan mengutip pernyataan satu narasumber yang lain di saat misa. Namun, sepertinya tantangan seperti ini bakalan sering kutemui bila hendak menuliskan riwayat Gereja. Dalam satu bincang dengan mas Kristinus Munte, aku sudah diingatkan perihal ini saat menulis pesta emas Paroki Pasar Merah – Medan. Sungguh berbeda dengan di Jawa, di Keuskupan Agung Medan cukup banyak yang belum rapih menyimpan data-data riwayat Gereja. “Lebih condong ke gereja (bangunan), daripada Gereja (di lingkup manusia/ umat),” katanya, sembari dengan keras mendorongku agar turut mengubah kebiasaan tersebut.

Meski demikian, aku senang juga dengan tulisan ini. Setidaknya, bila kelak ada upaya untuk menggali lebih dalam lagi riwayat Gereja Stasi Simpang Selayang (dan semoga bisa menginspirasi Gereja Katolik lainnya di KAM), kiranya tulisan ini dapat menjadi “batu penjuru.” Sebenarnya, aku ingin sekali bersua dan menuliskan juga pandangan dan kesan dari dua narasumber lainnya: Mgr. Pius Datubara OFM Cap dan RP. Antonio Razoli OFM Conv. Namun, kesempatan belum jua tergapai. Tetapi, aku sangat berterima kasih juga untuk informasi dan dorongan dari bang Ridho Tarigan. Sebab banyak juga masukan yang kuperoleh dari Ayah seorang putri ini. Kuharap, aku bisa membuat kelanjutan tulisan ini lagi. Semoga.

***

Barisan lilin di atas kue ultah menunjukkan umur insan yang merayakannya. Peringatan senada juga disematkan pada Gereja. Namun tidak sekedar hitungan angka usia, wadah umat beriman ini juga mewariskan ilham bagi para penerusnya. Jejak sejarah tersebut lah yang menginspirasi pemuka Stasi St. Laurensius – Simpang Selayang kala memperingati Pesta Emas gereja Katolik di satu sudut kota Medan ini. “Agar generasi penerus kami tak lupa semangat dan spiritualitas para pendahulunya, yang menjaga gereja kita ini berdiri dan berkembang hingga kini,” tutur tokoh umat Stasi Simpang Selayang, Rata Antonius kepada Menjemaat, Minggu (20/8/2017), di kediamannya di kelurahan Kemenangan Tani – Medan.

Ayah tiga anak ini mengenang,”Stasi St. Laurensius Simpang Selayang mulai berdiri pada tahun 1966. Di masa itu, umat belum memiliki gedung gereja untuk beribadah. Sehingga, kami masih menumpang di gedung Sekolah Dasar Negeri 060971 Medan. Kami dipersilakan memberdayakan gedung sekolah tersebut, karena ada umat yang mengajar di situ. Salah satunya adalah bapak Mesin Sembiring Depari.” Continue reading

Kaderisasi OMK Diski ‘Gembleng’ Aktivis dengan “Jiwa Muda, Penuh Aksi & Kreativitas”

OMK Diski diabadikan bersama Pastor Mikael usai Misa Penutupan Kaderisasi

Orang Muda Katolik (OMK) St. Paskalis Diski (Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi – Binjai) menggelar Kaderisasi aktivis baru periode 2017. Acara penggemblengan tersebut dimulai pada Jumat (1/9/2017) di Tibrena Mekar Sibolangit – Deli Serdang.

Ketua Panitia acara, Kristianta Barus menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan momen penting. “Melalui kaderisasi aktivis baru, kita tentu berharap semakin banyak kawula muda Katolik turut berperan dalam Gereja. Sebagaimana sering disampaikan bahwa OMK adalah pilar Gereja,” tuturnya kepada Menjemaat, seraya menyampaikan sekira 50-an pemuda/i turut serta dalam di even tersebut.

Frizt Sembiring, salah satu aktivis senior OMK Diski, menyatakan terkesan dengan kekompakan Panitia dan Peserta untuk kegiatan ini. “Seluruh kebutuhan dan perlengkapan untuk acara ini disediakan secara swadaya. Sehingga sejak awal telah tumbuh nilai kebersamaan di tengah OMK ini,” ujarnya. Frizt sendiri turut memberi materi dalam Seminar Badan Pengurus Harian (BPH), pada Sabtu (2/9/2017). Dalam presentasinya, dia menekankan OMK untuk teguh menjaga iman serta semangat untuk mengenal tradisi Gereja Katolik.

Staf di Komisi Komsos Keuskupan Agung Medan, Ananta Bangun, juga memberikan sesi seminar seturut tema kaderisasi ini: “Jiwa Muda, Penuh Aksi & Kreativitas”. Dia mendorong para peserta untuk menemukan ilham ‘tujuan utama’ menjadi aktivis OMK. “Ada tiga pertanyaan inti bagi kita guna menjadi aktivis OMK: ‘Mengapa kita ingin menjadi Aktivis OMK (Tujuan)?’ ; ‘Bagaimana kita mewujudkan tujuan utama tersebut?’ ; dan ‘Apa yang akan kita lakukan untuk mewujudkannya?’,” terangnya. Di akhir sesi, Ananta mengajak kader baru OMK Diski berani dan bergembira bercerita tentang Yesus dalam hidupnya. Continue reading

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (II)

MENULIS FEATURE DI RANAH GEREJA

 

Sebagai bagian dari aktivis Komunikasi Sosial (Komsos),meliput peristiwa di Paroki maupun Stasi adalah ihwal biasa bagi Anda. Terutama perayaan rutin, semisal Natal, Paskah hingga Tahbisan Imam. Semua itu disajikan dengan gaya menulis berita keras atau hard news.

Suatu kali, Anda ditugaskan untuk meliput Perayaan Kaul Perdana. Karena bosan dengan gaya pemberitaan hard news, Anda memutuskan untuk coba membuat liputan feature. Dari panduan di buku-buku serta masukan dari pewarta senior, Anda mulai menggarap persiapan liputan beberapa hari sebelum ‘hari H’.

Mulai dari wawacara dengan para biarawan (atau biarawati) yang akan mengikrarkan kaul. Kemudian, dengan perangkat ponsel cerdas, Anda pun merekam homili Uskup. Setelah beberapa jepret foto dan catatan kecil pendukung, Anda pun mulai merajut semua hasil liputan tersebut untuk menjadi sebuah feature yang menggugah.

Sebuah feature dari Komsos Keuskupan Agung Palembang, berjudul: “Silentium Bukan Cuek Bebek”, dapat menjadi contoh liputan feature tentang Perayaan Kaul Perdana [sila dilirik satu sumbernya di tautan Facebook milik Komsos Keuskupan Agung Palembang: https://www.facebook.com/komsoskapal/posts/1801049376792820 ].

 

Copyright: Komsos Keuskupan Agung Palembang

Continue reading

“Dengan doa, saya selalu gembira melayani di rumah-Nya”

Sr Renata Barasa SCMM – Toko Rohani Kuria KAM

Bagi Pastor ataupun pengurus gereja yang diutus membeli anggur serta hosti untuk kebutuhan paroki tentu tak asing dengan sosok Sr. Renata Barasa, SCMM. Suster kelahiran Laeardan – Paroki St. Lusia Parlilitan mengaku bahagia bisa melayani di Toko Rohani Kuria Keuskupan Agung Medan.

“Keuskupan biasanya membeli anggur per tiga tahun sekali. Jumlahnya bisa puluhan drum,” terang Sr. Renata, seraya turut menambahkan bahwa anggur tersebut berasal dari Australia.

Ketika ditanyakan prosedur pembelian anggur, Suster Renata menjelaskan hanya Pastor atau utusan gereja yang diperbolehkan membeli anggur dari toko Rohani Kuria KAM. “Para utusan tentunya harus membawa surat keterangan dari Pastor Paroki-nya. Anggur di sini diperuntukkan khusus untuk misa. Jadi awam tidak diperkenankan membeli untuk kepentingan pribadi.”

Dia mengatakan, Paroki Hayam Wuruk – Medan, Paroki Katedral – Medan dan Paroki Kristus Raja – Medan merupakan paroki yang paling banyak membeli anggur di KAM. Continue reading