Gallery

MEMBACA TANDA ZAMAN

Seorang teman mengaku riang, sebab beberapa nomor pilihannya dalam judi togel (toto gelap) kena! Menurutnya, keberhasilan itu karena mujur mendapat kode alam. “Pernah dari plat nomor mobil yang mirip, hingga ada juga dari mimpi sama yang terjadi lebih dari sekali,” ujarnya. Untuk menebak nomor dari mimpi itu, si kolega membacanya dari buku erek-erek (buku tafsir mimpi khusus untuk permainan togel).

Obrolan kami jadi menarik, bukan karena keberuntungannya menebak angka togel. Namun, saat dia mengutarakan kegundahan perihal anaknya yang malas belajar. “Apalagi, kalau disuruh membaca buku. Tapi jika diberi hape (maksudnya: gawai), langsung cepat main game  atau nonton video Tiktok. Memang lah online ini membuat generasi muda berubah,” ucapnya, tanpa sadar dirinya juga mengikuti judi togel tadi secara online.

Aku pun teringat tatkala pandemi Flu Burung (H5N1) menerjang Indonesia pada tahun 2005 lalu. Seorang Bapak bermarga Ginting meramalkan, virus jahanam yang membunuh unggas ayam tersebut bakal mengubah tradisi Suku Karo. Kok bisa? “Dalam adat pernikahan Karo kan ada ritual ‘Nganting Manuk'(manuk, dalam bahasa Karo berarti ‘ayam’). Bayangkan jika ayam-ayam di Indonesia punah” Tentu harus diganti jadi ‘Nganting Bebek’ atau ‘Nganting Babi’,” katanya. Oalah!

Continue reading
Gallery

Nande Ryan: Umat dapat Membaca Firman Tuhan dan Kesaksian  dari majalah Ralinggungi & Menjemaat

Nama Nande Ryan sudah tak asing bagi Redaksi dan pelanggan majalah Menjemaat dan  majalah Ralinggungi (majalah Keuskupan Agung Medan dalam bahasa Karo). Khususnya bagi pelanggan dari wilayah Paroki St. Fransiskus Assisi – Berastagi. Musababnya, Istri dari Prabusisna Sembiring Kembaren ini termasuk salah satu penggawa dalam peredaran kedua media cetak milik KAM ini.

“Selain memang ini tugas di Sekretariat Paroki, saya menganggapnya bentuk pelayanan bagi Tuhan.  Karena dengan menjajakan majalah Ralinggungi dan Menjemaat, umat dapat membaca firman Tuhan serta pelaksanaannya dari kesaksian dan pemberitaan dalam kedua majalah tersebut,” tutur wanita bernama lengkap Adriana br Sitepu, kala diwawancara oleh kru Redaksi majalah Ralinggungi.

Ibunda dari Ryan Prabuadrianta Kembaren dan Oliva Evodia br Kembaren mengaku, telah dipercaya bekerja di Sekretariat Paroki Berastagi sejak 2008. “Saya merasa senang bisa bekerja di lingkup gereja, karena saya bisa memiliki banyak teman, termasuk dari kalangan Imam, biarawan dan biarawati. Selain itu, saya juga bisa menimba ilmu pengetahuan tentang agama Katolik. Sosok dan pengetahuan yang menjadi teladan dalam hidup saya,” katanya.

Penyuka kuliner miso kampung dan ikan teri sambal mengatakan, dirinya punya kiat tersendiri agar distribusi majalah Ralinggungi dan Menjemaat bisa berjalan baik di Paroki Berastagi.  “Caranya  dengan menelepon vorhanger setiap stasi agar mengambil kedua majalah ini ke kantor Sekretariat Paroki Berastagi,” ujar Nande Ryan. “Nah! Jika masih ada majalah berlebih, saya menjajakan kepada Guru Agama yang terdaftar di Paroki Berastagi. Selain itu, bila ada  beberapa umat datang ke Paroki untuk mengurus sesuatu, saya akan menawarkan majalah Ralinggungi dan Menjemaat.”

Nande Ryan mengatakan, pekerjaan yang dia geluti bukan tanpa tantangan. “Kadangkala ada juga pandangan yang salah paham. Termasuk yang berkaitan dengan ihwal keuangan.”

Namun, pengagum sosok (alm.) Pastor Leo Joosten Ginting tetap semangat dalam karya di Gereja Paroki Berastagi. “Saya banyak belajar dan kagum akan teladan yang diajarkan oleh Pastor Leo. Beliau sangat tulus dan tanpa mengeluh, disiplin masalah waktu. Pastor Leo juga selalu tersenyum, siap melayani umat ketika umat membutuhkan meskipun terkadang dadakan.”

(Ananta Bangun)

Gallery

SEKSI KOMSOS DI PAROKI-PAROKI SE-KAM

SEKSI KOMSOS DI PAROKI-PAROKI SE-KAM GARDA TERDEPAN MENYAJIKAN INFO AKURAT DAN MENDUKUNG KARYA GEREJA

Di antara penemuan yang mengagumkan. Demikian lah frase awal dari Dekrit Inter Mirifica (4 Desember 1963), salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yang dinamakan sesuai penggalan awal paragraf pembukanya.

Frase tersebut adalah ungkapan kagum atas kemampuan teknologi komunikasi dan informasi di zaman Konsili Vatikan II. Di antaranya: telepon, radio, media cetak (seperti koran dan majalah), hingga televisi hitam-putih. Bahkan pada masa itu, para bapa konsili telah membaca tanda zaman, secara khusus perihal teknologi tersebut.

Kekaguman tersebut atas kemampuan teknologi komunikasi dan informasi menembus batas waktu dan tempat, hingga daya-nya untuk menggerakkan massa (sejumlah besar insan). Sebab kemampuan itu, Gereja kemudian mencetuskan istilah ‘Komunikasi Sosial’. Dan, atas dasar itu juga, Inter Mirifica dibuat. Yakni, pada upaya-upaya komunikasi sosial yang pada hakikatnya mampu mencapai dan menggerakkan bukan hanya orang perorangan, melainkan juga massa.

Gereja menyadari bahwa media komunikasi sosial dapat bermanfaat untuk mewartakan kabar gembira, terutama bila digunakan secara tepat. Namun Gereja juga cemas apabila manusia cenderung menyalahgunakannya. Media berwajah ganda.

Continue reading
Gallery

Mengalahkan Diri Sendiri

Dor pistol meletup dan lomba dimulai. Hujan telah turun dari hari sebelumnya dan tanah masih basah. Cuaca sejuk. Itu adalah hari yang sempurna untuk berlari. Para pelari segera membentuk gerombolan. Seperti segerombolan ikan mereka menyatu. Mereka bergerak sebagai kesatuan. Gerombolan in menetapkan kecepatan untuk memaksimalkan tenaganya di seluruh lomba. Seperti pada setiap lomba, dalam waktu yang singkat, yang paling kuatlah yang mulai lebih maju dan yang lebih lemah mulai tertinggal. Tetapi tidak demikian dengan Ben Comen. Ben Comen tertinggal begitu pistol diletupkan. Ben bukanlah pelari tercepat di timnya. Malah sebenarnya, dia yang paling lambat. Dia tidak pernah memenangkan satu lomba pun  ketika berada di tim lari lintas alam Hanna High School. Ben menderita serebral palsi.

Serebral palsi, suatu kondisi yang sering kali disebabkan oleh komplikasi di saat lahir, memengaruhi gerakan dan keseimbangan seseorang. Masalah-masalah fisik akan terjadi sepanjang hidup. Bentuk tulang punggung yang berubah menciptakan postur tubuh yang seakan-akan memuntir. Otot-otot seringkali menciut dan reflex motorik sangat lambat. Kekakuan otot dan sendi juga memengaruhi keseimbangan. Penderitaanya sering kali mengalami cara berjalan yang tidak stabil, lutut-lutut mereka saling bersinggungan dan kaki mereka diseret. Bagi orang luar, mereka tampak canggung. Atau bahkan rusak.

Gerombolan pelari semakin jauh di depan sementara Ben semakin tertinggal. Dia terpeleset di rumput yang basah dan terjerembab ke tanah yang lunak. Perlahan-lahan dia bangun dan melanjutkan. Dia terjatuh lagi. Kali ini menyakitkan. Dia bangun lagi dan terus berlari. Ben tidak mau menyerah. Sekarang gerombolan pelari sudah tidak tampak lagi dan Ben lari seorang diri. Semuanya hening. Dia dapat mendengar napas beratnya sendiri. Dia merasa kesepian. Dia tersandung kakinya sendiri lagi, dan dia terjatuh  lagi. Terlepas dari kekuatan mentalnya, wajahnya tidak bisa menyembunyikan nyeri dan frustrasi. Dia meyeringai saat menggunakan seluruh tenaganya untuk bangun dan melanjutkan lari. Bagi Ben, ini adalah bagian dari rutinitas. Semua orang lain menyelesaikan lomba dalam sekitar 25 menit. Ben biasanya membutuhkan lebih dari 45 menit.

Ketika akhirnya melintasi garis akhir, Ben kesakitan dan keletihan. Diperlukan setiap jengkal kekuatnya untuk menyelesaikan lomba. Tubuhnya lebam dan berdarah. Dia dilumuri lumpur. Ben tentu menginspirasi kita. Tetapi ini bukan kisah tentang” ketika segalanya sulit, yang kuatlah yang terus maju”. Ini bukan kisah tentang ketika anda jatuh, bangunlah.” Keduanya memang pelajaran yang bagus untuk dipelajari, tetapi kita tidak membutuhkan Ben Comen untuk mengajarkan pelajaran itu kepada kita. Ada lusinan orang lain yang biasa kita lihat untuk mendapat pelajaran itu, misalnya seorang atlet olimpiade yang menderita cedera hanya beberapa bulan sebelum pertandingan, lalu kembali berlomba dan menang. Pelajaran dari Ben jauh lebih dalam.

Sesuatu yang menakjubkan terjadi setelah 25 menit. Ketika semua pelari menyelesaikan lomba, mereka kembali berlari bersama Ben. Ben adalah satu-satunya pelari yang ketika dia jatuh, seseorang akan membantunya bangkit. Ben adalah satu-satunya pelari yang ketika selesai, ada seratus orang yang berlari di belakangnya.

Continue reading
Gallery

“Laksanakan Tugas Mengajar Demi Kristus, Gurumu”

Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap menahbiskan tiga Imam Diosesan KAM di Gereja Paroki St. Joseph Jalan Bali – Pematangsiantar, pada Kamis (19 Agustus 2021).

Ketiga Imam Diosesan KAM tersebut ialah: RD. Rafael Henra Wibowo Sirait (Putra Paroki St. Fidelis Sigmaringen – Parapat), RD. Finsensius Purba (Putra Paroki St. Fransiskus Assisi – Saribudolok), dan RD. John Paul Tri Siboro (Putra Paroki Sakramen Maha Kudus – Kisaran).

Walau masih dalam kondisi pandemi covid-19, acara berjalan lancar dan penuh hikmat. Prosesi tahbisan yang berlangsung di Gereja Paroki Jalan Bali ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat.  Para umat yang hadir dibatasi hanya sebatas keluarga Imam baru dan tamu undangan, pengecekan suhu, cuci tangan serta penggunaan masker diwajibkan.

Mgr. Kornelius menyampaikan, “Tahbisan Imamat ini mengusung tema: “Tuhanlah Gembalaku, tak akan kekurangan aku.” Tuhan Allah mengangkat bagi kita gembala-gembala yang sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga mereka dapat menggembalakan umat dengan pengetahuan dan kepedulian.”

Continue reading
Gallery

Sr. Gerarda Sinaga KSSY, Tulis Buku dari Refleksi Perjuangan Karantina Covid-19

Pada 19 Juli 2021 lalu, Sr. Gerarda Sinaga KSSY menjejak 25 tahun sebagai biarawati Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY). Dalam momen pesta perak ini, Suster asal Parlimutan Pulau Samosir merilis buku karya pribadi berjudul: “Catatan Harian Sr. Gerarda Sinaga KSSY: Lihatlah dari Jendelaku.”

“Saya mulai rajin menulis catatan harian sejak masuk aspiran KSSY. Awalnya saya lebih sering menulis puisi. Sekarang masih rutin menulis, namun sering bolong-bolong,” ucap Sr. Gerarda dalam kesempatan bincang bersama Komsos KAM di Medan, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, buku setebal 216 halaman tersebut merupakan bunga rampai refleksi dari pengalaman hidupnya. “Dalam bagian pertengahan hingga akhir, saya tulis ketika menjalani isolasi mandiri agar pulih dari virus Covid-19,” tutur Sr. Gerarda yang menceritakan dirinya terpapar Covid-19 pada 30 Juli 2020. “Dan sisanya, saya menyatukan tulisan catatan harian yang tercabik-cabik atau tercecer.”

Menurut Sr. Gerarda, dirinya sempat berpikir untuk menerbitkan kumpulan catatan refleksi tersebut menjadi dua buku terpisah. “Satu buku mengulas pengalaman keseharian saya. Dan satu lagi, tulisan tentang pergulatan batin di masa pandemi Covid-19.” Namun, rencana itu urung terjadi karena masukan dari editor, Jenny Lee. 

Selain Jenny, terbitnya buku ini juga melibatkan Louise Sabrina Rubetta. “Ada tiga srikandi terlibat menggarap buku ini secara jarak jauh. Saya di Medan, sementara bu Jenny dan dik Louise berada di Jakarta,” katanya, seraya menambahkan dirinya mulai menggaet Jenny Lee dalam penyuntingan dan penerbitan buku tersebut pada Maret 2021 lalu.

“Saya mohon bantuan dari bu Jenny, karena sadar kemampuan menulisku belum mumpuni. Bu Jenny, memang sempat pesimis. Namun, akhirnya bisa menuntaskan penerbitan buku ini dengan baik,” ucap Sr. Gerarda.

Continue reading
Gallery

Di Balik Layar Misa Live Streaming KAM (Awal Mula, Tantangan dan Pembenahan)

Dari sekeping layar, mata kita menatap keajegan atau kesesuaian. Rupa dan tingkah laku sudah selayaknya pas bagi banyak mata yang menatapnya. Wanita molek dengan senyum mempesona. Atau anjing yang tampak lembut dan penurut. Dan boleh juga ritual ibadah yang khusuk nan menggetarkan jiwa.

Layar yang dulu hanya dominan di perangkat televisi, mulai menjalar ke gawai. Jika di televisi, pujian dan gerutuan sulit dialamatkan ke para pelaku di layar itu, maka kini Internet memudahkannya. Kadang bagai bakteri, ada cacian yang lolos melekat di kolom komentar itu.

Demikian lah ketika Anda menatap misa live streaming Keuskupan Agung Medan dari layar. Tak ada tampak kabel berseliweran laiknya ular tengah bercumbu. Tak diketahui juga kepanikan tim saat salah satu (kadang lebih) alat rusak.

Dan sulit diketahui para tim tersebut tengah mempertaruhkan nyawa dalam kegiatan ini. “Apakah dia tak sedang terjangkit Covid-19? Bagaimana jika iya, dan aku pun ikut membawa virus jahanam itu ke keluargaku?” Begitulah kira-kira monolog di relung hati masing-masing insan dalam tim ini.

Lebih setahun program ini telah berjalan, dan suasana, kelengkapan serta cara kerja program ini tak banyak berubah dibandingkan saat pertama kali digelar. Misi utama, ketika itu, adalah urgensi pelaksanaan misa serta meneguhkan hati setiap umat yang kalut akan cengkeraman pandemi. Singkat kata, agenda darurat!

Setiap insan di balik layar misa live streaming ini tentu punya cerita dan harapan. Mereka bergelut dengan dunia media, namun lucunya tak memiliki kesempatan untuk menyuarakan cerita dan harapan itu di medianya. Dan, bagaimana dengan umat KAM yang juga hendak memberi apresiasi hingga masukan untuk pelaku di balik layar program itu? Edisi ini menjadi wadahnya.

***

Tepatnya pada Sabtu (21 Maret 2020), Keuskupan Agung Medan (KAM) membuat kebijakan penayangan misa secara live streaming. Ini sesuai arahan dalam surat resmi Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap yang menyatakan Misa Mingguan dan Misa Harian disiarkan online. Mulanya kebijakan tersebut dibuat untuk jangka waktu satu pekan saja.

“Acara Misa dengan live streaming ini akan diselenggarakan di Catholic Center KAM yang dipimpin langsung oleh yang mulia Uskup Mgr Kornelius Sipayung. Penyiarannya ditangani oleh Radio Maria Indonesia dan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KAM,” kata Frans Simbolon, Audio Engineer dan Teknik Frekwensi Rendah di Radio Maria Indonesia (RMI) kepada media Tribun-medan.com.

Siaran misa live streaming KAM perdana dipimpin oleh Pastor Harold Harian OFM Cap. Staf pegawai Komsos KAM, Jansudin Saragih mengatakan, umat yang akan ikut misa live streaming KAM (dalam studio) tersebut diupayakan hanya biarawati atau suster dan sesedikit mungkin awam.

Continue reading
Gallery

“Voice of Peace” Lewat Katekese Udara

HIDUPKATOLIK.com – Radio bukan media untuk mencari keuntungan semata tetapi sebagai media pewarta Kabar Gembira dan memberi pesan damai lewat program yang ditawarkan kepada para pendengar.

“Dari lantai lima Gedung Catholic Center Medan, kami mengudara menyapa Anda. Inilah Radio Maria Medan, 104.2 MHz FM. Halo sahabat Maria, ketemu lagi dengan saya Sr Richarda Bangun SFD di program “Songs and Short Stories”. Pada hari Sabtu, hari yang sangat ditunggu kawula muda. Info pagi ini harus sahabat Maria tahu. Kalau belum sempat mengikuti bisa live streaming siaran di http://www.radiomaria.co.id.”

Begitu suara samar Sr Richarda yang terdengar dari Studio Radio Maria Medan. Dari ruangan ini, sejuta pesan Bunda Maria disampaikan kepada seluruh umat Katolik khususnya di Keuskupan Agung Medan.

Sr Richarda membacakan beberapa berita sekaligus menghadirkan lagu-lagu rohani bagi para pendengar. Program “Songs and Short Stories” menjadi salah satu program yang digemari kawula muda dan sahabat Maria.

Continue reading
Gallery

Sekolah Katolik KEUSKUPAN AGUNG MEDAN di Tengah Pusaran Pandemi COVID-19

Gereja tidak menganggap pendidikan sebagai suatu proses yang berdiri sendiri terpisah dari perjalanan iman seseorang agar mencapai tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga. Dalam terang inilah, Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada Surga.

Bagi Gereja Katolik, tujuan pendidikan terarah kepada pembentukan anak-anak agar mereka dapat  memenuhi panggilan hidup mereka untuk menjadi orang-orang yang kudus, yaitu untuk menjadi seperti Kristus. Visi Kristiani ini harus dimiliki oleh seluruh komunitas sekolah, agar nilai-nilai Injil dapat diterapkan sebagai norma-norma pendidikan di sekolah. Sebagaimana sering diajarkan oleh para Paus (Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan sekarang, Paus Fransiskus), adalah penting agar manusia di masa sekarang ini, diajarkan untuk menghargai martabat manusia, secara khusus dimensi rohaninya.

Namun teranyar, dunia pendidikan mengalami tantangan baru sejak pandemi Covid. Belajar, bekerja dan berdoa dari rumah (WFH) menjadi jargon sekaligus gaya hidup di kenormalan baru. Dalam lingkup pendidikan, kini lebih dari satu tahun dunia institut edukasi seolah mati suri, meski belajar mengajar masih berlangsung dengan bantuan teknologi atau sekolah daring.

Meskipun demikian teknologi, tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Continue reading
Gallery

Komlit KAM Gelar Sosialisasi TPE 2020 Bagi Kalangan Imam, Biarawan/ Biarawati & Awam

Pematangsiantar – Menjemaat,

Komisi Liturgi Keuskupan Agung Medan (KAM), Sabtu (3 Juli), mengadakan sosialisasi Tata Perayaan Ekaristi 2020 bagi kalangan Imam, biarawan/ biarawati dan sejumlah awam. Puluhan hadirin turut dalam acara yang berlangsung di Pusat Spiritualitas Karmel MBK Tanjung Pinggir, Pematang Siantar.

Panitia mengawali sosialisasi dengan informasi bahwa Tata Perayaan Ekaristi edisi 2021 telah dipromulgasikan oleh Konferensi Waligereja Indonesia pada 27 Desember 2020 dan diluncurkan pada 7 Mei 2021. “Sebelum buku baru ini digunakan di Keuskupan Agung Medan, Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap melalui Komisi Liturgi menghendaki sosialisasi dilaksanakan lebih dahulu,” tutur Ketua Komisi Liturgi KAM, Pastor Emmanuel Sembiring OFM Cap.

Pastor Emmanuel mengatakan, Mgr. Kornelius meminta Komlit KAM untuk memandu sosialisasi di setiap vikariat se-KAM.

Sebelumnya, Komlit KAM telah menghelat kegiatan serupa bagi beberapa Vikariat. Diantaranya Vikariat Doloksanggul, Vikariat Kabanjahe, Vikariat Sidikalang, Vikariat Pangururan, Vikariat Pematangsiantar, dan Vikariat Aekkanopan.

Dia menambahkan, sasaran utama peserta sosialisasi ini adalah para Pastor, Diakon, dan Seksi Liturgi Paroki. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dalam pertemuan langsung atau tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan pada masa pandemi.

Dalam sosialisasi di Tanjung Pinggir, Pastor Emmanuel memaparkan empat tujuan kegiatan tersebut. “Pertama, peserta mengartikan buku TPE 2020 sebagai edition typica (acuan) bagi pelaksanaan Perayaan Ekaristi di seluruh Indonesia juga berbahasa daerah; sarana pemersatu baik Gereja Partikular maupun Universal.”

“Untuk tujuan kedua, peserta mengetahui informasi perkembangan yang menimbulkan kerelaan baru untuk merayakan Ekaristi sesuai dengan TPE 2020: diseminasi. Dan ketiga, Peserta semakin memahami Imam bertindak sebagai in persona Christi dalam Perayaan Ekaristi.”

Sementara dalam tujuan keempat, kata Pastor Emmanuel, setiap peserta sosialisasi menentukan pelaksanaan sosialisasi TPE 2020 kepada umat di Paroki masing-masing.

(Ananta Bangun)