Gallery

Panduan (Cara) Menulis Artikel Berita

Menulis artikel berita berbeda dengan menulis artikel lain, termasuk artikel informatif atau eksposisi.

Dalam penulisan berita, sangat penting menyampaikan semua informasi yang relevan dalam jumlah kata terbatas. Artinya, penulis berita hendaknya memberikan fakta secara ringkas kepada audiens.

Berikut ini tiga bagian untuk panduan atau tutorial menulis berita.

Bagian Pertama: Merencanakan Artikel Berita

1. Teliti topik Anda

Untuk mulai menulis artikel berita, Anda perlu meneliti topik yang akan Anda tulis. Sebelum memiliki artikel yang layak terbit, Anda harus memahami topiknya dengan baik. Walaupun itu adalah sekedar liputan seremoni atapun rilis pers.

Langkah awal menulis berita, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri tentang “5 W + 1 H” (terkadang “6 W + 1 H”).

Who/ Siapa – siapa yang terlibat?
What/Apa – apa yang terjadi?
Where/ Di mana – di mana itu terjadi?
Why/ Mengapa – mengapa itu terjadi?
When/ Kapan – kapan itu terjadi?
How/ Bagaimana – bagaimana itu terjadi?

2. Kumpulkan semua fakta Anda.

Setelah Anda rampung menjawab “5 W”, tuliskan daftar semua fakta dan informasi terkait yang perlu disertakan dalam artikel. Atur fakta Anda menjadi tiga kelompok:

  • hal-hal yang perlu dimasukkan dalam artikel
  • hal-hal yang menarik tetapi tidak vital
  • hal-hal yang terkait tetapi tidak penting dengan tujuan artikel

Anda cukup hanya mengambil informasi yang relevan tentang topik atau cerita. Sehingga Anda bakal terbantu menulis artikel yang bersih dan ringkas.

Jika Anda tidak memiliki fakta yang relevan, tuliskan pertanyaan untuk tambahan informasi sehingga Anda tidak akan lupa untuk menemukannya.

Continue reading
Gallery

[Bincang] Betlehem Ketaren: “Saya Bersyukur Terlibat Dalam Tim Penerjemahan YOUCAT Karo”

Betlehem Ketaren diabadikan bersama buku YouCat berbahasa Karo (dok. Pribadi)

Untuk edisi Desember 2018, Redaksi Menjemaat meliput profil bapa Betlehem Ketaren di rubrik “Apa & Siapa”. Idenya, keterlibatan Bapak dari empat anak tersebut dalam tim penerjemahan buku katekismus populer YOUCAT Indonesia ke bahasa Karo.

 Bagaimana pengalaman dan tantangan yang dihadapinya, adalah sebuah kisah yang menarik. Hanya saja, versi yang kutulis untuk Menjemaat tidak memiliki porsi halaman yang cukup. Maka, di blog ini aku terbitkan versi utuh. Sengaja tidak kurangkai menjadi sebuah artikel (tetapi format wawancara), sebab jawaban dari suami Helpina br. Tarigan sudah sangat mumpuni. Berikut petikan bincang kami.

***

Baru-baru ini bapa Betlehem baru saja terlibat dalam penerjemahan buku Youcat ke dalam bahasa Karo. Boleh ceritakan bagaimana awal mula terlibat dalam kegiatan ini? Pengalaman apa sajakah yang diperoleh selama menjadi penerjemah buku Youcat?

Berbicara tentang keterlibatan saya dalam penerjemahan Youcat ke dalam bahasa Karo, tidak terlepas dengan usaha gigih RP. Ignatius Simbolon, OFMCap., dalam menggembleng orang-orang yang dianggapnya berpotensi menyampaikan katakese di berbagai kesempatan. Hal itu bermula dengan penyambutan paroki yang dilayaninya terhadap alumni Sekolah Porhanger gelombang pertama, dan kemudian beliau juga mengadakan pertemuan rutin sekali sebulan guna pembekalan lanjutan para katekis itu, serta mengutusnya ber- Emaus berdua-dua ke stasi-stasi memberi pengajaran persiapan penerimaan sakramen-sakramen dan juga evaluasi-evaluasi sesudahnya.

Di lapangan (stasi), para katekis sering mengalami kesulitan karena umat bahkan pengurus sekalipun mendengar kata seperti koinonia, kerygma,liturgya, diakonia, martyria dan juga, lumen gentium, familiaris consortio dan seterusnya, seperti mendengar bahasa roh atau bahasa dari planet lain. Bahkan dari proses itu karena mengajarkan sesuatu yang sedikit “sensitif” seperti mengatakan bahwa yang tidak beres perkawinannya kiranya mengajukan permohonan pembatalan perkawinan ke Tribunal; perlu bersabar dulu tidak menyambut komuni, karena merasa kesepakatan bersama sebagai yang terpenting, ada kalanya umat dibawa pengurusnya “naik banding” ke pastor paroki bahkan vikep.

Mencermati tuntutan seperti itu, RP. Ignatius Simbolon mengajak mitra kerjanya untuk mempersiapkan buku pegangan umat, terlebih guna baptis dewasa maupun terima resmi, yakni Katekismus guna kalangan orang muda. Katekismus yang dimaksud kiranya dipersiapkan dalam bahasa Karo, sehingga walau dibacakan pengurus saja pun tanpa komentar dan tafsiran akan sangat berguna menambah pengetahuan umat maupun pengurus itu sendiri tentang ajaran kekatolikan. Continue reading

Gallery

PERTANYAAN TERBUKA

Ilustrasi dari Pexels.com

Bagi para penulis, bertanya merupakan cara dasar untuk mengumpulkan informasi. Namun, tentu saja dibutuhkan pemahaman mengenai kiat bertanya. Dalam ranah komunikasi, kiat bertanya terbagi dua: pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.

Apa perbedaa kedua kiat bertanya tersebut? Pertanyaan tertutup adalah mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab singkat. Biasanya, pertanyaan tertutup digunakan untuk mendapatkan hanya fakta dan potongan informasi tertentu.

Contoh pertanyaan tertutup adalah sebagai berikut:

“Siapa yang akan Anda pilih?”

“Apa merek mobil Anda?”

“Apakah kamu tahu dimana rumah bapak Barus?”

“Semua kuenya sudah dimakan habis?”

 

Sementara, pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban penuh yang menggunakan pengetahuan atau perasaan narasumber. Pertanyaan terbuka bersifat objektif dan menghasilkan jawaban yang terdiri dari banyak kata.

Contoh pertanyaan terbuka adalah sebagai berikut:

“Bagaimana pendapat orang-orang tentang kue tersebut?”

“Ceritakan tentang pekerjaan Anda hari ini.”

“Bagaimana pendapat Anda tentang tempat wisata baru tersebut?”

“Mengapa sistem masuk tempat ini menggunakan kartu khusus?”

Continue reading

Gallery

Kiat Wawancara

Ilustrasi Wawancara (Source: Pexels.com)

Aku teringat pada pelajaran pertama: menulis apa yang aku tahu. Namun, penulis punya keterbatasan pengetahuan jika dia tak berbagi, membaca dan bertanya. Tindakan terakhir umum dikenal sebagai wawancara.

Dengan wawancara, penulis bisa beroleh pengetahuan baru. Semisal, jalan pintas ke tempat rekreasi, hingga kiat menjinakkan tetangga yang galak. Bagi yang tahu kiat itu, tolong kabari saya via email ke: anantabangun@gmail.com

Jika dilacak dengan mesin pencari Google, amat banyak tips untuk wawancara. Tapi, aku kira untuk tulisan fakta, panduan berikut cukup membantu: Continue reading

Gallery

DANIEL HERMAWAN: “MANAJEMEN WAKTU, KUNCI PRESTASI DI SEKOLAH & PROFESI CATUR”

Daniel Hermawan

Seorang polisi tentu sudah biasa menenteng pistol. Demikian juga chef tak akan lupa membekali diri perangkat alat memasak. Maka, kala bertemu dengan Daniel Hermawan, atlit catur di turnamen nasional dan Internasional, tidak heran jika menemuinya kerap membawa satu set permainan dengan 32 buah catur beserta papannya. Namun, dia memiliki papan catur unik yang bisa dilipat hingga menyerupai tatakan minuman atau alas mouse.

“Ini bukan papan catur yang dapat dibeli di toko pada umumnya,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara, kepada majalah CAHAYA. “Hanya para atlit yang pernah mengikuti turnamen kemarin yang punya seperti ini. Hehehe.”

Turnamen catur umumnya memeras otak hingga kusut, sepertinya tidak banyak mempengaruhi wajah Daniel yang kalem dan cenderung baby face. “Saya sungguh menyukai catur. Papa yang mengajari saya saat usia 9 tahun. Dan, setahun kemudian saya sudah mulai ikut pertandingan catur. Satu di antaranya adalah di Jakarta,” ungkap putra dari pasutri, Theo ML Tobing dan Magdalena Herawati S.

Dari hasil ‘pertarungan’ di atas papan catur, Daniel sendiri telah menggondol gelar Master Percasi (MP). Hal luar biasa, bila memperhatikan usianya yang masih tergolong sangat muda. Bahkan alumni SMP kelas VII Putri Cahaya ini telah mengukir 11 gelar juara nasional dan internasional pada usia 12 tahun untuk Sumut dan Indonesia. Continue reading

Gallery

Jangan Pergi, Sebelum Kepala Berisi!

Copyright: https://www.pexels.com/

Jika prajurit pergi tanpa amunisi ke medan perang, maka sudah dapat dipastikan nasib apa yang menimpanya. Demikian juga penulis atau pewarta. Perlu selalu mengisi ‘amunisi’ berupa informasi awal sebelum terjun ke medan liputan. Aku teringat nasihat Pemred (Pemimpin Redaksi) semasa di media online: “Jangan Pergi, Sebelum Kepala Berisi.” Si Pemred tidak sekedar bicara. Setiap orang di ruang redaksi selalu diteror untuk memahami betul pesan keramat tersebut.

Ceritanya begini, satu siang selepas makan — yang juga namanya makan siang — si Pemred berkelebat dari ruang sakralnya ke meja tempatku biasa ‘melayari’ dunia Internet. “Telepon orang ini buat kritik lambannya pembangunan (bandara) Kualanamu!!” katanya sembari menyodorkan ponsel miliknya. Tertera di situ nama seorang narasumber yang tak kukenal. Karena kebiasaan memantau berita Internasional yang biasa kuterjemahkan untuk media tersebut, aku sengaja mengabaikan berita-berita lain. Termasuk (saat itu) pembangunan Kualanamu.

Aku beranikan diri menelpon narasumber yang dimaksud. Hasilnya? Kami berbicara dengan kebingungan dan namaku pun kena ‘black list’ oleh sang narasumber. Dia mengira aku sedang mempermainkannya. Musibah pun semakin membesar saat kusampaikan pada pimpinan. Dia memarahi aku dengan tatapan nan buas. Tapi, setidaknya aku diberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman tersebut. Continue reading