Gallery

ORANG MUDA KATOLIK (OMK) BIJAK MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

Artikel untuk Materi Presentasi 
dalam Literasi Komunikasi Sosial di Paroki St. Yoseph – Tebing Tinggi
Tebing Tinggi, 23 Juni 2019

 

keluarga candu internet

Pendahuluan

Perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya, Ananta Bangun. Seorang penulis dan pegawai di Komisi Komunikasi Sosial (KomSos) – Keuskupan Agung Medan. Saya beroleh kesempatan untuk menyampaikan materi ini melalui pihak Paroki Tebing Tinggi dan panitia, yakni Romo Evo OSC.

Suatu kehormatan bisa terlibat sebagai pemateri dalam kegiatan literasi di Paroki Tebing Tinggi ini. Sebab, perihal komunikasi menjadi bagian karya kami. 

Melalui perbincangan via Whatsapp dengan Romo Evo, saya mendapati bahwa topik yang hendak dikaji ialah mengenai pemanfaatan media sosial bagi kalangan Orang Muda Katolik di Paroki Tebing Tinggi. Saya coba berbagi seturut pengetahuan dan pengalaman karya di Komsos KAM.

Continue reading

Gallery

MEMBANGUN HABITUS BARU DALAM KELUARGA

Parokus Tiganderket, RP Evangelis Pardede OFM Cap (Copyright: Komsos KAM)

Keluarga merupakan tanda kehadiran Tuhan yang nyata, mewujudkan Sakramen Perkawinan di tengah-tengah masyarakat atau warga. Top Pastoral Priority (TPP) 2018 tentang “Keluarga Rukun” semakin memperteguh ‘rahmat’ ini, setelah TPP sebelumnya berfokus pada upaya “Keluarga Berdoa”. Menjemaat edisi ini, mengulas sejumlah harapan dan masukan dalam gerakan tersebut. Terutama perihal “Membangun Habitus Baru dalam Keluarga”. Yakni, dalam menghidupi kebiasaan menuturkan ‘maaf’, ‘permisi’, ‘tolong’ dan ‘terima kasih’.

Parokus St. Monika Tiganderket, RP. Evangelis Pardede OFM Cap menilai penghayatan habitus baru tersebut adalah tugas semua orang, secara khusus orang tua di dalam keluarganya. “Sebab dengan relasi yang baik aggota keluarga akan mampu menyatakan kasih kita kepada orang lain dengan cara yang baik pula. Dalam relasi keluarga belajar mengenal dan mengungkapkan kasih kepada anggota keluarga yang lain (ini menyangkut semua jenjang perkawinan). Perkawinan yang sudah bertahun-tahun pun belum tentu lulus dalam hal berelasi,” ujar Imam yang kerap disapa Pastor Evan kepada Menjemaat via surel.

“Menurut saya sosialisasi habitus baru ini amat baik. Ketika kita menyampaikan hal ini kepada umat berbagai tanggapan muncul, namun umumnya disadari bahwa kebiasaan ini jarang dilakukan atau bahkan tidak pernah di laksanakan. Ada rasa malu namun dari keluarga yang mencoba untuk komit melaksanakannya sungguh merasakan sesuatu yang berbeda. Karena itu, kami tetap menyampaikannya kepada umat baik dalam forum resmi maupun dalam pembicaraan biasa,” dia mengimbuhkan. Continue reading

Gallery

RP Antonius Siregar OFM Cap: “Saya Bersyukur atas Rahmat-Nya”

(dok. Pribadi) RP. Antonius Siregar, OFM Cap

Tahun 2017, RP Antonius Siregar OFM Cap tidak hanya menapak usia 80 tahun. Namun juga masa pengabdiannya sebagai Imam tepat 50 tahun. Pesta emas Imamat dirayakan pada 19 Februari 2017 di tempat pelayanannya kini, Paroki St. Fransiskus Assisi – Tiga Binanga, dan juga oleh Regio Kapusin di Gereja Katolik St. Petrus Paulus- Batu V (Paroki Pematang Siantar II – Jl. Asahan). Sosok yang dapat mencapai masa Imamat tersebut, di Keuskupan Agung Medan, masih dapat dihitung dengan jari. Menjemaat menyorot kembali pengalaman iman Pastor Anton yang akrab disapa Uskup van der Besbes ini.

***

Masyarakat kampung Lumbansoit (kec. Sipaholon, kab. Tapanuli Utara), tempat kelahiran Pastor Anton, dahulu bukanlah mayoritas penganut Katolik. Maka dia sungguh heran ketika Tulang (Paman, dalam bahasa Batak) mengimpikan sang keponakan – saat itu masih duduk di Volksschool atau Sekolah Rakyat – kelak menjadi seorang Imam. “Saya teringat kembali petuah Tulang saat saya hendak mendaftar masuk seminari. Wah, ternyata ini yang harapan beliau dan benar terjadi dalam jalan hidup saya,” ujar Pastor Anton yang mengaku tidak begitu mengenal para Imam Misionaris semasa kecil. “Pada masa itu, Imam Misionaris jarang sekali berkunjung ke kampung kami, karena jumlah umat Katolik yang sedikit.”

Ajaran kasih dan teladan dari orangtua menjadi ilham untuk menuntaskan pendidikan sebagai calon Pastor. Pada 18 Februari 1967, Antonius Siregar mendapat tahbisan Imam Ordo Kapusin di Paroki Parapat. Karena sudah berusia sepuh, kedua orangtuanya tidak dapat hadir dalam acara tahbisan tersebut. “Namun itu tak mengurangi kebahagiaan orangtua dan keluarga kami,” kata Pastor Anton yang masih mengingat jelas motto tahbisannya: ‘Aku percaya, karena itu aku berbicara.’

“Sebagai seorang Kristen harus percaya, apa artinya saya berbicara. Apa yang saya ucapkan tidak akan berarti, jika saya tidak percaya. Kita serahkan dan percayakan semua iman, harapan dan pekerjaan kita kepada Tuhan. Biarlah Dia yang membimbing kita. Dan karena kita, percaya akan penyelenggaraan-Nya, maka kita berani melakukan. Itulah yang saya hidupi dan imani,” dia menjelaskan. Continue reading