Umat Tak Punya Minat Baca (catatan #2)

Ketua STP Deli Tua Paulinus Tibo membaca majalah Menjemaat (Copyright: Komsos KAM)

Sepertinya sungguh lama jarak waktu untuk kelanjutan tulisan ini. Semoga bisa dilanjutkan dengan teratur.

Aku sengaja membuatnya seringkas mungkin per catatan, agar mudah menyerap dan memahaminya.

Aku kira membaca adalah bagian dari hidup manusia. Penemuan huruf lah yang mencipatakan masa ‘sejarah’. Sebelum mengenal huruf/ tanda baca lazim disebut ‘pra sejarah’.

Membaca tulisan sama dengan merawat sejarah itu sendiri. Mari perhatikan, sejarah mana yang terpelihara dengan cara ‘lisan’ atau ‘omongan’. Jika pun masih ada, besar kemungkinan sudah berubah-ubah.

Di ranah Gereja Kristen sendiri, tanpa adanya Alkitab, tentu sungguh sulit mewartakan sabda Allah. Bagaimana para misionaris dahulu mendorong umat agar takzim membaca Kitab Suci? Bagaimana jika menyerah dan berujar dengan sesamanya: “Umatu di sini tak punya minat baca”?

Leo Semba: Pengalaman Sangat Berharga Semasa Berkarya di Komisi Komsos KAM

headline-komsokam-com-leo-semba

Leo Semba (berdiri di belakang, paling kanan) bersama tim Redaksi Menjemaat semasa kepemimpinan Romo Heri Kartono OSC

Dominicus Suherman Semba, sehari-hari kerap disapa Leo. Dalam tulisan ini, Suami Albinaria Damanik mengisahkan pengalaman saat berkarya di Komisi Komsos KAM. Berikut petikan kisahnya sebagaimana disampaikan kepada Ananta Bangun.

***

Saya mulai bergabung di Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Medan (KAM), Pastor H.M. Doomen, OFM.Cap. (Alm.), pada September 1991. Saat itu Komisi Komsos KAM masih hanya melayani Program Radio Sanggar Sutera (Sumatera Utara Televisi & Radio). Renungan Harian, Kotbah Mingguan, Drama Rohani Keluarga, Drama Rohani Untuk Anak Sakit, Drama Natal, Drama Paskah, dan lainnya.

Pastor aktif dan berbakat yang membantu Program Radio ini adalah Pastor Leo Sipahutar, OFM Cap.

Awal saya bertugas adalah di bagian teknisi alat-alat elektronik yang digunakan di studio rekaman (sesuai dengan jurusan di sekolah). Rekan kerja saat itu adalah: kak Eva Pasaribu, kak Lina (Rosalina) Sipayung dan Maringan Manik. Saat itu Komisi Komsos KAM belum menangani majalah Menjemaat.

Kira-kira pada tahun 1992, karena Pastor Doomen sakit, Ketua Komsos KAM diserahkan kepada Pastor Johannes Simamora, OFM. Cap. Bersamaan dengan hadirnya kepemimpinan Pastor Johannes, majalah Menjemaat yang sebelumnya ditangani Komisi Komsos KAM yang juga ada di Medan, dipindahkan ke Pematangsiantar.

Karena majalah Menjemaat disatukan pengelolaannya dengan karya Komsos KAM di Pematangsiantar, maka untuk tenaga penulis/redaksi juga bertambah, antara lain; Titus Sihotang (Alm.) sebagai ketua Redaksi dan Agus Batu Tarigan di bagian Illustrasi. Sebagai Penulis Kotbah ditangani oleh P. Uli Raja Simarmata, Pr.

Pada tahun 1996, kepemimpinan Komisi Komsos KAM beralih ke Pastor Paulinus Simbolon. Pada saat itu, ada wacana perpindahan Komisi Komsos KAM ke PPU Karang Sari Pematangsiantar, menjadi satu lokasi dengan Komisi Liturgi, Komisi Kitab Suci dan Kateketik yang ada disana. Tetapi mungkin atas banyak pertimbangan, Komisi Komsos KAM akhirnya diputuskan pindah kembali ke Medan.

Alasannya mungkin karena pusat informasi ada di kota Medan, khususnya untuk Menjemaat. Sementara untuk pengisi suara Program Radio, kotbah, drama keluarga, dan lainnya, mengalami tantangan tersendiri. Kerena memang di Pematangsiantar, gudangnya pengisi suara, sumber-sumber kotbah maupun drama Rohani ada di seminari-seminari yang ada di Siantar, belum lagi para awam yang sudah terlatih sebagai pengisi suara.

Pada kepeminpinan Pastor Paulinus Simbolon, OFM.Cap. (Jika saya tidak keliru, beliau saat itu juga menjabat Vikjen Kam), Komisi Komsos KAM akhirnya berkantor di kompleks SMA St.Thomas 2 dan Unika St. Thomas di Jl. S. Parman 107 Lt.III. Studio rekaman kembali memakai studio Sanggar Sutera yang ada di Medan, yang waktu itu dikelola oleh Fr. Johan, CMM. Lokasi studio juga ada di kompleks sekolah itu.

Untuk membantu redaksi Menjemaat saat awal perpindahan itu, pak Wilopo Hutapea (Alm.). Bantuan juga diminta kepada Kongregasi KSSY, agar salah satu susternya menjadi bendahara. Yang pertama bertugas saat itu Sr. Kristin Pasaribu, KSSY. Seingat saya, saat kepemimpinan Pastor Paulinus itu, pembangunan Catholic Centre KAM juga sudah mulai diwacanakan. Continue reading →

JUBILEUM 25 TAHUN PAROKI ST. KONRAD MARTUBUNG: “BERTOLAK LEBIH DALAM MENGGAPAI HIDUP RUKUN DALAM KEBHINEKAAN”

Mgr. Anicetus bersama Mgr. Pius dan Parokus memotong kue perayaan Jubileum 25 Tahun Paroki Martubung (Dok. Pribadi)

“Jangan memandang sebelah mata Paroki St. Konrad Martubung,” tutur Parokus Martubung, RP. Martin Nule SVD kala memberi sambutan untuk perayaan Jubileum 25 Tahun paroki tersebut. Ucapan bangga tersebut dilontarkan sebab menurut Imam Soverdi, suasana pinggir kota Medan tidak menjadikan umat Paroki Martubung merasa minder. “Tetapi tetap semangat mengembangkan iman umatnya dengan pelatihan dan pemberdayaan dalam berbagai bidang.”

Paroki Martubung menghelat pesta perak pada Minggu (7 Oktober), dimulai dengan misa syukur yang dipersembahkan Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap bersama konselebran beberapa Imam. Para Jubilaris sepakat momen istimewa ini disematkan tema: “Bertolak Lebih dalam Menggapai Hidup Rukun dalam Kebhinekaan.

Mgr. Anicetus menyampaikan homili, agar seluruh umat khususnya di Paroki St. Kondrad Martubung menjadi pelopor di tengah keluarga maupun bangsa. “Umat Paroki St. Kondrad Martubung harus bisa menjadi pionir baik di dalam keluarga maupun bangsa, dapat menjadi imam, guru, sekaligus orang tua.

Di samping itu, dia mengimbuhkan, umat Katolik haris bisa menjadi Oase Ilahi. “Ciri khas umat Katolik adalah harus mampu menjadi Oase Ilahi. Oase artinya menjadi tempat yang disayang dan dirindukan. Membawa sukacita, membuat semua orang merasa ada di rumah, nyaman dan tenteram.” Continue reading →