JIKA AKTIVIS GEREJA ‘BERMAIN’ MEME

PENDAHULUAN

Mulanya saya bernasib mujur dapat buku murah di gerai terbuka Toko Buku GRAMEDIA Jl. Gajah Mada – Medan, pada Januari 2017. Judulnya: “VIRUS AKALBUDI: Ilmu Pengetahuan Baru tentang Meme”.

Tak lama berselang, perhatian saya terpancing meme (dibaca: mim) yang di lini masa Facebook milik Komisi Kepemudaan KAM, yakni gambar yang menjadi pembuka artikel ini. Sebagai pegawai di Komisi Komunikasi Sosial KAM, saya mengenal baik beberapa rekan di komisi tetangga tersebut.

Sepertinya ‘gayung bersambut’, walau kami tidak perlu repot membawa gayung milik masing-masing. Maka saya bercengkerama sejenak dengan Novenita apakah Pastor Alex berkenan bila saya wawancara untuk satu tulisan panjang untuk blog pribadi. E-mail permohonan saya kemudian disambut Pastor Alex.

Sembari menerjemahkan kembali hasil wawancara dengan Pastor Alex, saya disambangi (tanpa sengaja) oleh Vinsensius Sitepu. Seingat saya, dia pernah menuliskan tentang meme dalam artikel analisis di majalah kajian media DICTUM. Saya diselamatkan arsip blog DICTUM di WordPress, sebab cetakan majalah itu mungkin saja sulit diperoleh saat ini. Saya semakin mujur, karena Vinsensius berkenan saya kutip pendapatnya. (Mungkin Vinsen akan bereaksi berbeda, jika saya kutip penghasilannya).

Komisi Kepemudaan KAM, Pastor Alex, Vinsensius dan buku Brodie setidaknya memberi saya pencerahan tentang meme di kalangan pengguna Internet. Juga apa sejatinya meme itu sendiri. Semoga tulisan yang tak sempurna ini juga ‘mencipratkan’ pencerahan yang sama bagi pembaca.

============

meme-kgm-kam-24-januari-2017  Continue reading →