Stasi St. Paulus Huta Ginjang: “Menjaga Kerukunan untuk Pelayanan”

IMG_0669

gereja Stasi Huta Ginjang

Menjemaat berkesempatan menulis profil Stasi St. Paulus Huta Ginjang, pada Rabu (20 November 2019).

Ketua Dewan Pastoral Stasi, Bapak Luminta Simbolon menyampaikan bahwa salah satu dusun yang berada di kecamatan Sijama Polang, Kabupaten Humbang Hasundutan.

“Di Huta Ginjang ini, seluruh penduduk beragama Katolik. 100%,” ucapnya kepada Menjemaat.

Simbolon mengatakan gedung gereja Stasi Huta Ginjang sudah tiga kali direnovasi. “Untuk pembangunan gedung pertama sekali, dan rehab kedua, saya kurang ingat tahun berapa persisnya. Namun, gedung gereja yang sekarang adalah hasil rehab yang ke-tiga kali, yakni sekira tahun 2013,” kata bapak yang dipercaya menjadi pengurus stasi sejak tahun 1992.

“Sejarahnya, kurang paham kami. Namun, sejak mulai sebagai pengurus gereja, di situ lah kami berbagi pengalaman,” akunya.

Dia mengatakan, upaya renovasi teranyar berlangsung di bawah penggembalaan RP. Konrad Situmorang OFM Cap. “Biaya rehab gedung gereja ini kemarin menelan biaya setidaknya Rp700 juta.”

Wakil Ketua Dewan Stasi Huta Ginjang, bapak Manalu turut menimpali, stasi ini telah mempersembahkan mempersembahkan beberapa putra-putri nya sebagai Imam dan biarawan/ biarawati. “Di antaranya Pastor Bonifasius Simanullang OFM Cap, Pastor Adrianus Simatupang OFM Cap, Pastor Junius, Bruder Sumitro OFM Cap, Fr. Paulinus, dan sejumlah suster,” terang Manalu.

Menurut bapak Manalu, setiap kali pesta besar atau misa dipimpin Pastor, gedung gereja tidak akan cukup menampung umat yang hadir.

Keduanya sepakat bahwa keharmonisan antara pengurus dan umat amat dibutuhkan dalam karya pelayanan di Stasi Huta Ginjang.

“Saya pernah mendengar nasihat dari Pastor bahwa kami adalah dongan sada huria, sada huta, sada paradaton. Artinya, kami semua adalah masih satu dalam keluarga besar, baik di lingkup gereja, kampung dan adat,” katanya. “Semoga kerukunan dan kerjasama bisa lebih rukun lagi, agar tidak menghalangi karya pelayanan di stasi ini.”

(Ananta Bangun)

Gereja Paroki St. Fidelis Dolok Sanggul: “Semangat Persatuan Tertanam Baik di Tengah Umat”

20190915175628_IMG_0184

Gereja Paroki St. Fidel Dolok Sanggul (sumber: Komsos KAM)

Menjemaat disambut Pater Siprianus Wagung SVD, tatkala silaturahmi ke Paroki St. Fidelis Dolok Sanggul, pada Sabtu (14 September 2019). Selaku parochus, dia menyambut baik niat Redaksi memuat profil paroki tersebut di kolom Pesona Gereja. “Paroki St. Fidelis Doloksanggul berdiri pada tahun 1951. Paroki asalnya adalah Paroki Lintongnihuta. Imam yang melayani paroki ini sejak awal adalah saudara-saudara Fransiskan dari OFMCap. Baru pada tahun 1995 hingga sekarang karya penggembalaan umat di paroki ini dilanjutkan oleh para imam Serikat Sabda Allah (SVD),” Imam Soverdi tersebut memaparkan dengan lugas.

Dia menambahkan, batas wilayah paroki ini adalah: bagian Utara Desa Hutagalung Kecamatan Harian-Samosir; bagian Barat desa Pancuragatan dan Simataniari Kecamatan Parlilitan, bagian Timur desa Silaban dan Hutasoit Kecamatan Lintongnihuta, sedang bagian selatan: desa Sihopong dan Hutatua, Kecamatan Parmonangan-Taput. “Paroki Dolok Sanggul meliputi lima kecamatan, yang dibagi ke dalam 28 Stasi, 5 Rayon dan 95 lingkungan. Jumlah umatnya 2.793 kepala keluarga dan 12.405 jiwa. Selain para imam dan Frater SVD, terdapat juga satu komunitas lembaga hidup bakti, yakni Suster KSFL yang berkarya di bidang pendidikan dan kesehatan,” ujarnya. Continue reading →

Stasi St. Paulus – Bandar Hinalang “Semoga Stasi Ini Semakin Subur Menyumbang Biarawan/ Biarawati

Gereja Stasi St. Paulus Bandar Hinalang (Copyright: Komsos KAM)

Gereja Stasi St. Paulus – Bandar Hinalang mulai diwacanakan untuk berdiri pada 13 Oktober 1989. Salah seorang pengurus, Fransiskus Hotman Sipayung, mengatakan RP. Raymond Simanjorang OFMCap (salah seorang pastor di Paroki Saribudolok masa itu) menganjurkan kepada pengurus sektor Bandar Hinalang dan Bandar Raya untuk memulai berdirinya Stasi Bandar Hinalang.

“Pastor Raymond mengatakan, untuk memulai berdirinya Stasi Bandar Hinalang harus dimulai dari Asmika. Pada waktu itu, Asmika (Anak Sekolah Minggu Katolik), Mudika (Muda-mudi Katolik) dan Perkumpulan Bapa/ Ibu harus jalan kaki dari Bandar Hinalang ke Gereja Stasi Induk Saribudolok,” kata Hotman kepada Menjemaat.

Maka, atas kerjasama pengurus dengan beberapa Mudika (wanita) ditentukanlah beberapa rumah umat sebagai tempat anak sekolah Minggu mendapatkan katakese. Secara periodik ditunjuk 2-3 orang Mudika tadi sebagai Guru Sekolah Minggu. “Pada saat itu, rumah kita juga menjadi tempat beribadah Asmika,” ujar Hotman.

Pada awal pendirian, Gereja Stasi Bandar Hinalang memiliki 91 Kepala Keluarga (KK). “Terdiri dari 74 KK dari Sektor Bandar Hinalang, dan 17 KK dari Sektor Bandar Raya,” kata Hotman. “Dan sekarang jumlah umat di stasi ini telah mencapai 180 KK.” Continue reading →

PAROKI STA. MARIA DARI GUNUNG KARMEL TIGALINGGA “GEREJA INI BISA DIBANGUN KARENA KUASA DAN KASIH-NYA LEWAT BANYAK ORANG”

Gereja Paroki Santa Maria dari Gunung Karmel (Copyright: Komsos KAM)

Riwayat Awal

Dalam satu buku yang dikeluarkan oleh Paroki Santa Maria dari Gunung Karmel Tigalingga menuliskan bahwa Tigalingga menjadi paroki administratif (kuasi paroki) pada 14 November 1965 dan kemudian ditingkatkan menjadi paroki pada tahun 1967 dengan 24 stasi dan umat 3.452 jiwa. Sebelumnya, Tigalingga adalah Stasi Parongil, walaupun pelayanan banyak dilakukan dari Sidikalang karena alasan praktis, strategis dan jalan lebih bagus.

Usaha untuk peningkatan Tigalingga menjadi paroki ditekuni oleh Pastor Joseph Kachmadi, O.Carm. Kondisi paroki pada saat itu sangat sederhana, karena mayoritas stasi harus ditempuh dengan berjalan kaki, walaupun beberapa paroki sudah bisa ditempuh dengan sepeda motor melalui jalan yang berlumpur.

Latar belakang suku umat di paroki ini terdiri atas: Toba, Karo dan Pakpak yang menempati daerah masing-masing. Umumnya umat hidup dari pertanian dengan tanah yang sangat subur di lembah Lae (Sungai) Renun. Sungai ini adalah terbesar di Kabupaten Dairi. Penghasilan utama dari Tigalingga adalah durian, kopi, kelapa, kemiri, di samping hasil pertanian lainnya.

Gereja paroki telah mengalami tiga kali pendirian di lokasi yang berbeda, gereja pertama dibangun tahun 1965 (saat ini telah dibongkar, menjadi halaman gereja baru). Gereja kedua yang terletak di sebelah timur pastoran dimulai sejak tahun 1978 bersamaan dengan pastoran dan kemudian diberkati oleh Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara, OFM Cap pada 16 Juli 1982. Gereja ketiga mulai direncanakan pada tahun 2008 kemudian bentuk disederhanakan pada tahun 2010 yang disesuaikan dengan kebutuhan umat dan sampai pada saat ini (April 2015) sedang dalam penyelesaian akhir. Gereja ketiga ini dibangun di belakang gereja lama dan pastoran.

Continue reading →

JUBILEUM 25 TAHUN PAROKI ST. KONRAD MARTUBUNG: “BERTOLAK LEBIH DALAM MENGGAPAI HIDUP RUKUN DALAM KEBHINEKAAN”

Mgr. Anicetus bersama Mgr. Pius dan Parokus memotong kue perayaan Jubileum 25 Tahun Paroki Martubung (Dok. Pribadi)

“Jangan memandang sebelah mata Paroki St. Konrad Martubung,” tutur Parokus Martubung, RP. Martin Nule SVD kala memberi sambutan untuk perayaan Jubileum 25 Tahun paroki tersebut. Ucapan bangga tersebut dilontarkan sebab menurut Imam Soverdi, suasana pinggir kota Medan tidak menjadikan umat Paroki Martubung merasa minder. “Tetapi tetap semangat mengembangkan iman umatnya dengan pelatihan dan pemberdayaan dalam berbagai bidang.”

Paroki Martubung menghelat pesta perak pada Minggu (7 Oktober), dimulai dengan misa syukur yang dipersembahkan Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap bersama konselebran beberapa Imam. Para Jubilaris sepakat momen istimewa ini disematkan tema: “Bertolak Lebih dalam Menggapai Hidup Rukun dalam Kebhinekaan.

Mgr. Anicetus menyampaikan homili, agar seluruh umat khususnya di Paroki St. Kondrad Martubung menjadi pelopor di tengah keluarga maupun bangsa. “Umat Paroki St. Kondrad Martubung harus bisa menjadi pionir baik di dalam keluarga maupun bangsa, dapat menjadi imam, guru, sekaligus orang tua.

Di samping itu, dia mengimbuhkan, umat Katolik haris bisa menjadi Oase Ilahi. “Ciri khas umat Katolik adalah harus mampu menjadi Oase Ilahi. Oase artinya menjadi tempat yang disayang dan dirindukan. Membawa sukacita, membuat semua orang merasa ada di rumah, nyaman dan tenteram.” Continue reading →

Gereja Stasi St. Antonius dari Padua – Sumber Mulyo, Rantau Prapat “Bermula dari Delapan Keluarga Perantau Katolik”

Beberapa Kontingen KYD 2018 berbincang di beranda Gereja Stasi Sumber Mulyo seusai berlatih misa

Menjemaat bersua dengan Ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS) Sumber Mulyo, Alexander Sidabutar saat mendokumentasikan aneka kegiatan peserta KAM Youth Day yang live in di stasi tersebut. Gereja tersebut terletak di tengah perkebunan sawit dan pepohonan nan rimbun. Akses jalan dari kota Rantauprapat menuju desa Sumber Mulyo juga termasuk sukar ditempuh. “Kalau pertama kali datang ke mari, pasti susah. Tapi kalau sudah terbiasa, hanya sebentar untuk datang dan pergi dari Rantauprapat. Ya, pasti lewat jalan pintas,” terang Ayah dari dua anak tersebut sembari tersenyum.

Dalam catatan Alexander, Gereja Stasi St. Antonius dari Padua – Sumber Mulyo diresmikan dan diberkati pada tahun 2000, oleh Vikaris Jenderal (masa itu) RP. Paulinus Simbolon OFM Cap.

Sekira tahun 1977, para perantau beragama Katolik di desa Sumber Mulyo kerap berkumpul di kedai belanja untuk kebutuhan keluarga. Dari perjumpaan-perjumpaan tersebut lahir niat untuk secara khusus beribadah dalam gereja.

“Pada masa tersebut, jumlah umat awal hanya delapan KK (Kepala Keluarga). (alm.) bapak Simamora, bapak Rondang Siahaan dan bapak J. Limbong adalah tokoh umat setempat yang banyak berperan dalam pendirian Stasi Sumber Mulyo ini,” kata Alexander kepada Menjemaat.

Dalam upaya membangun dan pelayanan di Stasi Sumber Mulyo, Ketua DPS mengatakan, Pastor Arie van Diemen OFM Cap dari Paroki Aek Kanopan kerap mengemban kedua tugas tersebut. “Dimana saat itu, Stasi ini belum termasuk dalam pemekaran Paroki Aek Nabara hingga sekarang masuk wilayah Paroki Rantauprapat,” imbuhnya.

“Upaya pembangunan gereja stasi, dilaksanakan dalam rupa partisipasi umat dan program perdana paroki mengunjungi 14 stasi yang layak memberikan dana dan dilaporkan secara transparan ke paroki dan stasi. Saat stasi ini masuk wilayah Paroki Aek Nabara, Pastor Salvador SX turut membantu mencarikan dana dari luar paroki,” katanya. Continue reading →

GEREJA PAROKI STA. LUSIA – SALAK: “Harapan Agar Umat Semakin Percaya Diri Akan Identitas Sebagai Katolik di Pakpak Bharat”

Latar depan Gereja Paroki Santa Lusia – Salak (Copyright: Komsos KAM)

Menjemaat tertarik menuliskan profil Gereja Paroki Sta. Lusia – Salak kala meliput Bakti Budaya Pakpak Bharat 2018, pada Minggu (21 Juli). Acara yang dipadukan bersama Hari Jadi Kabupaten Pakpak Bharat ke-XV, dimulai dengan pemberkatan gedung Pastoran Paroki Salak, kemudian kirab ribuan umat Paroki Salak dari Pastoran menuju Lapangan Napasengkut. Momen tersebut semakin istimewa kala Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap membacakan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Status Kuasi Paroki Sta. Lusia Salak menjadi Paroki mandiri.

Buku “Berbuat Banyak Dengan yang Sedikit: Lima Puluh Tahun Ordo Karmel Berkarya di Sumatera 1965-2015” tulisan RP Edison Tinambunan O. Carm kembali menjadi rujukan untuk menuliskan riwayat awal gereja paroki ini. Di samping itu, Menjemaat juga mewawancara Pastor Rekan Paroki Salak, RP Kardiaman Simbolon O. Carm.

***

Dalam buku karya tulis RP Edison O. Carm dituturkan, Salak adalah ibu kota Kabupaten Pakpak Bharat yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Dairi pada 28 Juli 2003. Mayoritas penduduk adalah masih suku Batak Pakpak dengan bahasa Pakpak. Suku lain masih tergolong sedikit di daerah ini, hanya terdapat di daerah tertentu saja. Salak dijadikan kabupaten untuk memacu perkembangan karena daerah ini termasuk satu daerah yang belum berkembang di Sumatera Utara.

Jalan masuk ke Pakpak Bharat praktis hanya dari Sidikalang, walau ada usaha untuk membuka jalan dari Parlilitan, kabupatan Humbang Hasundutan. Mata pencaharian masyarakat adalah kemenyaan, nilam, kopi dan pertanian lainnya. Bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah ini sangat labil. Continue reading →

Gereja Stasi Sta. Monika Rembah Telko (Paroki St. Fransiskus Assisi – Tiga Binanga) “Bergotong-royong Membangun Rumah Tuhan”

gedung baru Gereja Stasi Rembah Telko

Gereja Katolik Stasi Santa Monika Rembah Telko (Paroki St. Fransiskus Assisi – Tiga Binanga) berdiri secara resmi pada 17 Oktober 1990. Adapun pelopor atau pembuka misi Katolik ke sana adalah pastor Antonio Razoli OFMConv, dibantu tenaga awam dari Stasi Juhar.  Sisi unik dari stasi ini adalah seluruhnya bersuku Nias, dan juga beragama Katolik. “Pada umumnya, penduduk mula-mula di stasi ini adalah para pekerja yang membantu usaha kayu di daerah tersebut. Mereka merantau dari tempat asalnya di pulau Nias,” terang Parokus Tiga Binanga, RP Cypriano Barasa OFM Cap kepada Menjemaat.

Menurut statistik di Paroki Tiga Binanga, hingga sekarang jumlah umat di stasi Rembah Telko ada sebanyak 180 jiwa (38 Kepala Keluarga). “Secara administratif pemerintahan dusun Rembah Telko masuk ke wilayah Sigedang, Kecamatan Tanah Pinem – Kabupaten Dairi,” tutur Pastor Cypriano. “Pada umumnya penghasilan masyarakat Rembah Telko adalah dari hasil pertanian seperti beras, jagung, cabe dan palawija lainnya. “

Imam Kapusin mengatakan, kondisi jalan yang rusak membuat biaya transport menjadi sangat mahal demikian sebaliknya harga kebutuhan untuk pertanian yang berasal dari luar seperti pupuk dan bahan pestisida menjadi sangat mahal. “Mereka menjual hasil ladang ke Sigedang dan Tiga Binanga. Hal ini membuat ekonomi masyarakat Rembah Telko  menjadi biasa saja,” katanya. “Listrik tenaga diesel atas swadaya masyarakat sudah ada. Secara umum ekonomi masyarakat Rembah Telko cukup baik dalam arti untuk makan, minum dan sandang dapat tercukupi secara normal.” Continue reading →

TAMAN ZIARAH ROHANI ‘YESUS GUNUNG KERAHIMAN ILAHI’ – PUNCAK 2000: “SARANA PEWARTAAN KEDAMAIAN, CINTA & PERSAHABATAN DUNIA”

Kapel Sta. Faustina — salah satu fasilitas ziarah rohani di Puncak 2000

‘Puncak 2000’ telah lama menjadi buah bibir di Keuskupan Agung Medan. Terutama sejak, Kongres Kerahiman Ilahi se-Asia di Medan, pada 2015 lalu. Seperti apa rupa dan bagaimana pelayanan yang hendak ditawarkan, kerap menjadi topik pembicaraan seru di tengah umat setempat. Kru Menjemaat tentu girang beroleh kesempatan ‘menggali’ jawaban tersebut kala meliput Pemberkatan Kapel Sta. Faustina di pusat peziarahan, bernama lengkap Taman Ziarah Rohani ‘Yesus Gunung Kerahiman Ilahi’ Puncak 2000 – di Desa Kacinambun, Karo, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (8/4/2018).

 

Setelah melewati Pasar Kabanjahe, rute masuk ke Puncak 2000 mudah untuk ditemukan karena terdapat sebuah plank bertuliskan tempat ziarah rohani tersebut. Tepatnya mulai dari jalan masuk ke Desa Singa. Setelah melewati beberapa desa, sebuah persimpangan dengan satu rambu navigasi besar bertuliskan arah ke Siosar. Perjalanan menuju Puncak 2000 semakin nyaman, karena aspal jalan yang lebih bagus pasca pembangunan relokasi pengungsi Sinabung.

“Ini merupakan anugerah Tuhan. Sebab akses transportasi ke Puncak 2000 semakin mudah. Sebab tempat ini terletak lima kilometer sebelum Siosar,” ujar Direktur Spiritual Apostolat Kerahiman Ilahi – KAM, RP John Rufinus Saragih OFM Cap kepada Menjemaat.

Pastor John menuturkan, ide pembangunan Puncak 2000 bermula dari terbentuknya AKI-KAM. “Kelompok kerasulan ini getol memperkenalkan Devosi Kerahiman Ilahi di bawah asuhan Pastor (alm.) Marselinus Manalu. Dan kini berkembang ke beberapa paroki-paroki di KAM, di antaranya: Paroki Kristus Raja, Paroki Katedral Medan, Paroki Hayam Wuruk, Paroki Mandala. Bahkan sampai juga ke Siantar dan Paroki Perdagangan.”

Imam Kapusin, yang juga Parokus di Paroki Hayam Wuruk, menjelaskan bahwa AKI-KAM tidak bisa disebut sebagai kelompok kategorial. “Karena kerasulan ini langsung diasuh di bawah Keuskupan. AKI-KAM sendiri resmi diakui oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFM Cap, melalui Surat Keputusan, pada Maret 2017. Perayaan usia setahun AK-KAM sempat juga digelar di Puncak 2000,” kata Pastor John.

Uskup Mgr. Anicetus kemudian menunjuk pengurus resmi kelompok kerasulan ini. “Ibu Cynthia Leowardy diangkat sebagai koordinator se-Indonesia dan Asia. Sementara saya sendiri, diangkat menjadi Direktur Spiritual di KAM dan Asia,” katanya.

Jericho Walk

Upaya merintis sebuah taman ziarah rohani telah lama mencuat dalam benak devosan di AKI-KAM. Impian tersebut sebenarnya berseberangan dengan kenyataan bahwa kerasulan ini tidak memiliki modal materiil, apalagi tanah. Namun, karena iman sungguh-sungguh, mereka kemudian menggelar doa khusus agar Tuhan menunjukkan anugerah-Nya untuk mewujudkan berdirinya sebuah tempat ziarah iman. Terutama, untuk devosi Kerahiman Ilahi.

“Gerakan tersebut dinamai Jericho Walk. Dimana sejumlah Imam dan umat dari AKI-KAM, menjalankan doa sembari berjalan di daerah Kacinambun,” kata Pastor John. “Mereka meyakini akan mendapat tanah untuk mendirikan Puncak 2000. Meskipun mereka tidak punya uang. Kemudian, karena satu dan lain hal, terjadi pertemuan dengan bapak Mujianto. Dia bertanya: “Uang kalian ada berapa?” Mereka bilang: “Kami tidak punya uang.” Pak Mujianto kaget, dan menimpali: “Bagaimana mungkin kalian bisa mendapatkan tanah.””

Buah-buah doa dan bercengkerama bersama, ternyata meluluhkan hati Mujianto. “Meskipun Mujianto seorang penganut agama Buddha, bahkan seorang Ketua Tzu Chi di Medan, dia berkenan menyumbangkan tanah miliknya di Desa Kacinambun tanpa pamrih,” terang Pastor John.

Pada 9 Agustus 2011, peletakan batu pertama kemudian dilaksanakan. Namun, Pastor John, mengatakan proses pembangunan kemudian terkendala. “Lokasi, yang semula dilakukan pelatakan batu pertama, dialihkan ke tempat Puncak 2000 kini. Alasannya, lokasi pertama tersebut, secara hukum, termasuk dalam wilayah hutan lindung,” kata Pastor John.

Namun, menurutnya, kendala tersebut justru menjadi anugerah semata. Lokasi yang baru menjadi lebih dekat dengan badan jalan. Di samping itu, kebijakan pembangunan relokasi pengungsi Sinabung ke Siosar oleh pemerintahan Jokowi, juga memberi kemudahan akses ke Puncak 2000. “Puncak 2000 terletak 5 kilometer sebelum Siosar.”

Sebelumnya, media online Karo.or.id juga mengutip semangat pembangunan Puncak 2000 dari (kala itu) Vikep Kabanjahe, RP Ignatius Simbolon OFM Cap: “Tempat ini diharapkan dapat memberikan pencerahan jiwa bagi setiap umat yang berkunjung. Segala sesuatu yang akan dilakukan manusia harus didasari iman kepada Yesus Kristus.”

Pastor John (paling kanan) berfoto bersama Uskup dan devosan Kerahiman Ilahi usai misa dedikasi

Menekankan Semangat Kerahiman Ilahi

Pastor John menyampaikan, proses pembangunan Puncak 2000 masih berlangsung secara bertahap. “Sejauh ini yang sudah mendekati tahap perampungan adalah Kapel Sta. Faustina dan Gua Maria. Sementara Gereja terbuka – yang diharapkan dapat menampung ribuan orang, Pastoran, Susteran, Tempat Penginapan dan Jalan Salib masih dalam tahap pembangunan,” katanya seraya mengimbuhkan, Puncak 2000 juga akan mendirikan patung Yesus setinggi 15 meter.

Pihak AKI-KAM, sejauh ini, masih terganjal untuk menemukan mata air. “Kesulitan sampai sekarang, adalah sumber mata air sulit untuk ditemukan. Karenanya, AKI-KAM terus mendoakan hal ini. Sungguh sulit jika pembangunan dan pelayanan di tempat ini harus terus membeli air dari luar.”

Pastor John menyampaikan, Ordo/ Kongregasi yang akan melayani di Puncak 2000 masih belum ditetapkan. “Sebelumnya, Uskup sudah sempat mengundang kongregasi suster H. Carm yang ada di Paroki Sumbul. Namun, kerjasama tersebut tidak jadi,” katanya. “Kemudian, kini tengah ada perbincangan dengan Kongregasi Suster dari Sta. Faustina di Polandia. Perbicangan lebih lanjut akan dilaksanakan saat AACOM di Pineng – Malaysia tahun depan.”

Kala memimpin dedicatio Kapel Sta. Faustina di Puncak 2000, Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFM Cap menekankan semangat pengampunan yang dibangun sejak Pesta Kerahiman Ilahi di misa dedikasi tersebut. “Mari jadikan Kapel Sta Faustina menjadi sarana mewartakan kedamaian, cinta dan persahabatan dunia. Kita dituntut mengampuni orang yang bersalah. Kita dituntut memberi kedamaian. Menentang tindakan-tindakan anarkis, begal-begalan. Inilah kerinduan dunia. Perdamaian dan sukacita serta kita adalah bersaudara.”

Dia mengatakan, mimpi KAM terhadap Puncak 2000 adalah menjadikannya seperti pusat peziarahan Bulacan di Manila, Filipina. “Di Bulacan, setiap minggunya, bisa berkumpul hingga 4500-an peziarah,” kenang Mgr. Anicetus kala menghadiri Tahun Kerahiman Ilahi di Manila pada 2016.

(Ananta Bangun) /// ditulis untuk majalah Keuskupan Agung Medan, MENJEMAAT

“Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa bagi Segala Bangsa”

Gedung Gereja Katolik Stasi St. Laurensius Simpang Selayang | Photo Credit: Feri Tarigan

Ini bukan lah karya tulisan feature yang baik. Demikian menurutku. Musababnya, aku hanya mengandalkan data dari satu narasumber, dan mengutip pernyataan satu narasumber yang lain di saat misa. Namun, sepertinya tantangan seperti ini bakalan sering kutemui bila hendak menuliskan riwayat Gereja. Dalam satu bincang dengan mas Kristinus Munte, aku sudah diingatkan perihal ini saat menulis pesta emas Paroki Pasar Merah – Medan. Sungguh berbeda dengan di Jawa, di Keuskupan Agung Medan cukup banyak yang belum rapih menyimpan data-data riwayat Gereja. “Lebih condong ke gereja (bangunan), daripada Gereja (di lingkup manusia/ umat),” katanya, sembari dengan keras mendorongku agar turut mengubah kebiasaan tersebut.

Meski demikian, aku senang juga dengan tulisan ini. Setidaknya, bila kelak ada upaya untuk menggali lebih dalam lagi riwayat Gereja Stasi Simpang Selayang (dan semoga bisa menginspirasi Gereja Katolik lainnya di KAM), kiranya tulisan ini dapat menjadi “batu penjuru.” Sebenarnya, aku ingin sekali bersua dan menuliskan juga pandangan dan kesan dari dua narasumber lainnya: Mgr. Pius Datubara OFM Cap dan RP. Antonio Razoli OFM Conv. Namun, kesempatan belum jua tergapai. Tetapi, aku sangat berterima kasih juga untuk informasi dan dorongan dari bang Ridho Sinuhaji. Sebab banyak juga masukan yang kuperoleh dari Ayah seorang putri ini. Kuharap, aku bisa membuat kelanjutan tulisan ini lagi. Semoga.

***

Barisan lilin di atas kue ultah menunjukkan umur insan yang merayakannya. Peringatan senada juga disematkan pada Gereja. Namun tidak sekedar hitungan angka usia, wadah umat beriman ini juga mewariskan ilham bagi para penerusnya. Jejak sejarah tersebut lah yang menginspirasi pemuka Stasi St. Laurensius – Simpang Selayang kala memperingati Pesta Emas gereja Katolik di satu sudut kota Medan ini. “Agar generasi penerus kami tak lupa semangat dan spiritualitas para pendahulunya, yang menjaga gereja kita ini berdiri dan berkembang hingga kini,” tutur tokoh umat Stasi Simpang Selayang, Rata Antonius kepada Menjemaat, Minggu (20/8/2017), di kediamannya di kelurahan Kemenangan Tani – Medan.

Ayah tiga anak ini mengenang,”Stasi St. Laurensius Simpang Selayang mulai berdiri pada tahun 1966. Di masa itu, umat belum memiliki gedung gereja untuk beribadah. Sehingga, kami masih menumpang di gedung Sekolah Dasar Negeri 060971 Medan. Kami dipersilakan memberdayakan gedung sekolah tersebut, karena ada umat yang mengajar di situ. Salah satunya adalah bapak Mesin Sembiring Depari.” Continue reading →