SEKOLAH KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MEDAN DI TENGAH PUSARAN PANDEMI COVID-19

Gereja tidak menganggap pendidikan sebagai suatu proses yang berdiri sendiri terpisah dari perjalanan iman seseorang agar mencapai tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga. Dalam terang inilah, Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada Surga.

Bagi Gereja Katolik, tujuan pendidikan terarah kepada pembentukan anak-anak agar mereka dapat  memenuhi panggilan hidup mereka untuk menjadi orang-orang yang kudus, yaitu untuk menjadi seperti Kristus. Visi Kristiani ini harus dimiliki oleh seluruh komunitas sekolah, agar nilai-nilai Injil dapat diterapkan sebagai norma-norma pendidikan di sekolah. Sebagaimana sering diajarkan oleh para Paus (Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan sekarang, Paus Fransiskus), adalah penting agar manusia di masa sekarang ini, diajarkan untuk menghargai martabat manusia, secara khusus dimensi rohaninya.

Namun teranyar, dunia pendidikan mengalami tantangan baru sejak pandemi Covid. Belajar, bekerja dan berdoa dari rumah (WFH) menjadi jargon sekaligus gaya hidup di kenormalan baru. Dalam lingkup pendidikan, kini lebih dari satu tahun dunia institut edukasi seolah mati suri, meski belajar mengajar masih berlangsung dengan bantuan teknologi atau sekolah daring.

Meskipun demikian teknologi, tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Sr. Zita (paling kiri) bersama staf pengajar SMP Assisi Tomok

Pendapat senada dilontarkan Kepala Sekolah SMP Swasta Asisi Tomok, Suster Zita Simarmata dalam wawancara bersama Menjemaat. “Peserta didik kurang jujur dan disiplin dalam menyelesaikan tugas karena kebanyakan orang tua yang lebih berperan dalam penyelesaian tugas siswa,” tutur biarawati kongregasi FCJM. “Selain itu, siswa kurang peduli dengan sesama dan lingkungannya karena menggunakan gawai untuk bermain game daripada menonton video pembelajaran.”

Suster Zita mengakui, SMP Swasta Assisi Tomok shock atas tantangan besar yang diemban Suster, bapak dan ibu guru di masa awal pandemi. Seiring waktu mereka mulai terbiasa dengan situasi walaupun mereka masih was-was kemungkinan terjangkit virus Covid-19.

“Dengan penuh keyakinan kami bergerak dan berusaha mengepakkan sayap agar kami tetap bisa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa dan masyarakat seperti motto sekolah yakni ‘Melayani dengan Kasih’. Puji Tuhan hingga saat ini kami masih dalam perlindungan-Nya,” tutur Suster melalui surel.

Teknologi dalam pembelajaran itu sendiri tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar. Ini karena ranah edukasi bukan sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Darius Simamora (kiri) bersama rekan pengajar SMK Bina Media

Kepala Sekolah SMK Grafika Bina Media Medan, Darius Dorento Simamora mengatakan, banyak orang tua siswa protes akan pembelajaran daring tidak maksimal. “Sejak Juni tahun lalu, sesuai arahan dari Dinas Pendidikan kota Medan, proses pembalajaran telah dilangsungkan secara daring. Kami dari pihak sekolah selalu meyakinkan para orang tua bahwa metode dan model pembelajaran di sekolah kita adalah baik dan berkualitas,” ujarnya kepada Menjemaat.

Darius mengatakan, pemangku kepentingan SMK Bina Media, sejak Maret hingga Juni 2021, telah mengevaluasi kekurangan pembelajaran daring di sekolah mereka. “Ada juga staf pengajar yang tak mampu lagi beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Oleh sebab itu, satu bulan sebelum pembelajaran semester ganjil dimulai, kami sudah membekali diri dengan perangkat lunak penunjang pembelajaran daring.”

Kiat serupa juga dilaksanakan oleh SMP Swasta Assisi Tomok. Tepatnya, sejak memulai ajaran baru  pada 13 Juli 2020, ketika pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran agar pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran online atau daring. “Akibat situasi tersebut suster, bapak, ibu guru harus mengubah strategi untuk pengenalan lingkungan sekolah (PLS) dan untuk pembelajaran,” kata Suster Zita. “Beruntung kami bisa meyakinkan dan menerima tanggapan positif dari orang tua siswa ketika sekolah melaksanakan PLS dan pembelajaran secara online baik melalui zoom maupun melalui video pembelajaran.”

Selain itu, imbuh Suster Zita, pihaknya juga melaksanakan pembelajaran secara luring (kunjungan belajar) di lima lokasi atau wilayah. “Untuk setiap wilayah kami batasi maksimal 10 siswa. Dan jika pembelajaran tatap muka sudah di izinkan, pembelajaran online hanya akan diberikan bagi siswa yang sakit atau tidak bisa hadir ke sekolah.”

Memetik Rahmat di Balik Pandemi

Meskipun kenormalan baru berimbas besar dalam dunia pendidikan, Ketua Yayasan Seri Amal (YSA), Sr. Gerarda Sinaga KSSY melihat sisi ‘peluang’ dari pandemi covid-19 yang bermula sejak Maret 2020. Biarawati dari Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) mengatakan, pihak YSA telah membuat perencanaan agar semua guru-guru beradaptasi dengan metode pembelajaran digital. “Ternyata pandemi ini seperti blessing in disguise. Jadi kami melihat pandemi tidak melulu tantangan, namun ada juga sisi peluangnya,” ujarnya kepada Menjemaat.

Sr. Gerarda Sinaga KSSY

“Sebelum pandemi, kami sudah merancang sistem pembelajaran berbasis digital, kelas virtual sebanyak dua kali dalam seminggu. Rancangan ini memadukan sistem pembelajaran khas Indonesia dan Amerika Serikat,” katanya. “Itu sudah disampaikan dalam pertemuan dengan para kepala sekolah yayasan ini pada Januari dan Februari 2020 lalu.”

Dalam perspektif YSA, imbuh Suster Gerarda, anak didik saat ini sudah termasuk generasi alpha. “Yakni, kalangan generasi yang sudah terbiasa dengan multi tasking. Mereka bisa mengerjakan chat, tugas sekolah, dan sambil makan kerupuk.”

Walau telah membuat strategi perencanan untuk budaya pembelajaran digital dengan cermat, Suster Gerarda tak menutupi ada beberapa personil pengajar ada yang enggan untuk sistem baru ini. Tapi ternyata kondisi pandemi memaksa semua staf pengajar untuk membiasakan diri. “Sistem ini memindahkan konsep hard copy ke format digital. Sebagai simulasi awal, kami coba di SD St. Antonius pada waktu itu, dengan menggunakan tablet.

“Semangatnya adalah pro ekologi, untuk mengurangi penggunaan kertas. Dalam tablet ini sendiri juga dilengkapi berbagai fitur untuk kreativitas anak. Seperti menggambar, dan yang lainnya,” terangnya seraya mengungkapkan harapan kelak setiap sekolah di bawah naungan YSA akan difasilitasi pembuatan buku digital dengan server milik yayasan tersebut untuk pengumpulan file digital kelas virtual.

Bruder Rismario, BM

Praktisi pendidikan di KAM, Bruder Rismario, BM turut menimpali, bahwa Sekolah Katolik sejatinya mendidik murid-murid untuk mencapai nilai-nilai Katolik. Yakni, tolong menolong, kedisiplinan, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, menghormati, dan mempunyai semangat kerasulan.

“Guru dengan semangat kerja luar biasa akan mengubah kelemahan murid menjadi kekuatan murid yang maha dahsyat. Dengan demikian murid akan mampu berkembang di tengah zamannya,” tutur Bruder Budi Mulia dalam satu tulisan refleksi kepada Komsoskam.com.

Suster Zita sendiri mengakui, pembelajaran tatap muka di sekolah lebih efektif dari pada pembelajaran secara online atau pun luring. “Namun.  Iya memang situasi  pandemi Covid-19 telah mendorong Suster, bapak, dan ibu guru dalam mempercepat proses  pembelajaran. Dengan kata lain, para guru berusaha membuat video pembelajaran lebih kreatif lagi agar pencapaian pembelajaran berhasil seperti target yang diinginkan.”

Menurutnya, para guru di SMP Swasta Asisis Tomok juga semakin berkembang saat mengunakan teknologi yang tadinya hanya tahu seadanya saja kini menjadi banyak mengetahui. “Saya yakin, banyak pengajar lainnya juga bakal termotivasi untuk berinovasi dalam pembuatan video pembelajaran kreatif dan menarik.”

Reportase: Sr. Dionisia Marbun SCMM | Jansudin Saragih | Ananta Bangun

Penyunting: Ananta Bangun

//// dimuat di Menjemaat edisi Juli 2021

SEKOLAH ANNAI PAADASAALAI “MIMPI YANG MASIH BERSEMAYAM DI LUBUK ANAK PENGUNGSI”

Pastor James SJ diabadikan bersama siswa-siswa sekolah Annai Paadasaalai

Mulanya Jeffry Siallagan, voluntir di Graha Maria Annai Velangkanni, mengisahkan sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak pengungsi dari Sri Lanka. Dia lalu mengajak untuk mebuatkan sebuah liputan tentang semangat belajar di sekolah ini. Aku menyambut ajakan tersebut.
Pendidikan adalah hak setiap orang. Demikian kami menemukan inti dari liputan ini, dan memang mantra itu bagai memantul-mantul di setiap sesi wawancara dan rekaman video ini. Oleh karena itu, aku dan Jeff sepakat fokus pada nilai ini. Beberapa info yang kami pandang sensitif sengaja kami hilangkan, agar tidak memancing reaksi negatif yang berdampak pada keberlangsungan sekolah ini.
Aku dan Jeff juga sepakat menerbitkan artikel ini pada tanggal 2 Mei. Hari sakral dalam peringatan Hari Pendidikan. Semoga ilham dalam tulisan ini turut merasuki setiap pembaca. Amin.

***

Aku bersua kedua anak gadis tersebut, Sadurjana (13) dan Jasmita (15), di kantin Kanna – Graha Maria Annai Velangkanni. Aku memuji mereka cantik, dibalas dengan derai tawa dan senyuman manis. Sepintas lalu, mereka terlihat bagai remaja umumnya.

Aku berniat mewawancara mereka sebagai siswi di Sekolah Annai Paadasaalai. Yakni, lembaga pendidikan (sementara ini) dari tingkat playgroup hingga sekolah dasar bagi anak-anak pengungsi Sri Lanka yang mengungsi di Sumatera Utara, Indonesia.

Seumpama pengalaman hidup mereka ditulis pada satu buku harian. Tentu lah hampir setiap halamannya akan tercabik-cabik oleh amarah, luka, dendam dan luapan emosi lainnya. Tapi, kini di hadapanku keduanya mengaku bahagia dan punya mimpi yang hendak dikejar. Dan sama dengan teman sejawatnya di tempat penampungan pengungsi, mereka tengah berjalan, berlari dan akhirnya akan terbang bersama iman. Keyakinan. Continue reading →