Gallery

ORANG MUDA KATOLIK (OMK) BIJAK MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

Artikel untuk Materi Presentasi 
dalam Literasi Komunikasi Sosial di Paroki St. Yoseph – Tebing Tinggi
Tebing Tinggi, 23 Juni 2019

 

keluarga candu internet

Pendahuluan

Perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya, Ananta Bangun. Seorang penulis dan pegawai di Komisi Komunikasi Sosial (KomSos) – Keuskupan Agung Medan. Saya beroleh kesempatan untuk menyampaikan materi ini melalui pihak Paroki Tebing Tinggi dan panitia, yakni Romo Evo OSC.

Suatu kehormatan bisa terlibat sebagai pemateri dalam kegiatan literasi di Paroki Tebing Tinggi ini. Sebab, perihal komunikasi menjadi bagian karya kami. 

Melalui perbincangan via Whatsapp dengan Romo Evo, saya mendapati bahwa topik yang hendak dikaji ialah mengenai pemanfaatan media sosial bagi kalangan Orang Muda Katolik di Paroki Tebing Tinggi. Saya coba berbagi seturut pengetahuan dan pengalaman karya di Komsos KAM.

Continue reading

Gallery

CATATAN SEORANG KARMELIT AUSTRALIA TENTANG GEREJA PAROKI BEATUS DIONYSIUS – SUMBUL

Copyright: RP. Scerri, O.Carm
RP. Anthony Scerri. O. Carm adalah Imam Misionaris dari Ordo Karmelit. Dia menjadi gembala di Paroki Beatus Dionysius – Sumbul pada Maret 1973 hingga Oktober 1982. Dalam kolom Balai Budaya di majalah resmi Keuskupan Agung Medan – MENJEMAAT, Imam kelahiran Minia – Mesir tersebut, menuliskan pengalamannya kala membangun Gereja Paroki Sumbul, yang sarat dengan nilai-nilai budaya Pakpak.
Menurutku, tulisan pengalaman Pater Scerri ini sungguh menggugah. Tidak hanya dari perjalanannya saat menggali budaya Pakpak, namun juga semangatnya untuk mengangkat martabat budaya tersebut. Dalam majalah MENJEMAAT, tulisan ini dimuat dalam dua edisi. berikut penuturannya.

***

Waktu saya masuk paroki Sumbul, pada bulan April 1973, belum ada gereja paroki.  Pada hari Minggu, umat kumpul untuk Misa dalam ruang kecil, yang merupakan bagian dari pastoran. Jelas bahwa umat memerlukan gereja baru yang pantas.

Kebanyakan gereja dalam Keuskupan Agung Medan, dibangun dalam gaya Eropah/Belanda, dan jelas itu baik juga menurut pendapat saya. Tetapi, bagi saya sendiri nampaknya lebih tepat jika membangun gereja yang mencerminkan kebudayaan setempat. Lalu, saya bertanya: Kebudayaan setempat yang mana?

Sumbul terletak di daerah Pakpak, dan tanah gereja juga terletak di tanah Pakpak. Tetapi, kebanyakan umat di paroki Sumbul adalah orang Batak Toba. Hal itu menimbulkan dilema dalam diri saya. Continue reading

Gallery

Paroki St. Mikael – Tanjungbalai “Akar Bertumbuhnya Gereja-gereja Paroki di Kevikepan Aek Kanopan”

Gereja Paroki Tanjungbalai (kiri) – Sekretariat Paroki Tanjung Balai (kanan bawah)

Tim Menjemaat sempat kewalahan mencari Gereja Paroki St. Mikael – Tanjungbalai. Kami bahkan harus menggunakan aplikasi Google Maps untuk menemukan alamat gereja tersebut. Untunglah, Administrator Paroki Tanjungbalai, RP Yosef Riang Hepat SS.CC menghubungi ponsel kami dan memberi panduan jernih. Jika tidak, kami mungkin kesasar hingga tepi pantai.

“Saya belum menjadi Parokus di sini. Masih Administrator Paroki. Sebab masih belajar mengenali bahasa dan budaya, selagi menunggu Parokus selanjutnya. Saya sendiri sudah dua tahun melayani di Paroki Tanjungbalai,” tutur Pater Yose (sapannya) dengan logat khas Flores.

“Saya tidak bisa lama menemani Menjemaat ya. Sebab sore ini, saya harus menghadiri Syukuran Tahun Baru dengan komunitas umat Katolik suku Karo,” terang Pater Yose saat menyambut kami di Pastoran. Dari penuturan Imam yang pernah melayani di Chile tersebut, kami mengetahui bahwa mayoritas umat Katolik di paroki ini berasal dari lintas suku Batak Toba, Karo, Tionghoa dan lainnya.

Pater Yose mengatakan telah meminta seorang umat sepuh untuk membantu Menjemaat perihal sejarah gereja paroki tersebut.

 

Bermula Pendatang dari Negeri Jiran

Manan Andreas Saragih berpewarakan kekar, meski telah berusia lanjut. Kepada kami, dia mengaku berusia 70-an tahun. “Saya pensiunan guru di SMP Tritunggal Tanjungbalai. Sempat menjadi porhanger stasi selama empat tahun, menjadi anggota dewan paroki selama empat tahun juga,” ungkap suami dari Tiomena br Hutapea.

Andreas mengaku tidak sepenuhnya tahu jejak sejarah Paroki Tanjungbalai, sebab dia sendiri merupakan perantau ke daerah tersebut pada tahun 1967. Namun satu kebanggaan umat setempat adalah, Paroki Tanjungbalai menjadi ‘akar’ tumbuhnya paroki-paroki di kevikepan Aek Kanopan. Continue reading

Gallery

‘Quo Vadis’ Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan Seusai Yubileum 50 Tahun?

Seremoni HUT 50 Tahun Paroki dan 42 Tahun Tahbisan Episkopal Mgr A. G. Pius Datubara OFM Cap | Credit photo: Paroki Pasar Merah, Medan

Menjadi Paroki Komunitas Ekaristis: Dengan Setia Mewartakan Injil Kristus”

Misa Ekaristi dan rangkaian lomba hingga hiburan menghiasi perayaan Yubileum 50 tahun, Renovasi dan Pembangunan Gereja Katolik Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan, pada Minggu (2/7/2017). “50 Tahun bukan waktu yang singkat,” tanggap Parokus RP. Frans Borta Rumapea, O. Carm, sebagaimana dikutip dalam buku kenangan momen istimewa ini.

Lebih jauh, Pastor Borta berharap Pesta Emas tersebut menjadi titik tolak sebuah gerakan besar Paroki – yang bertempat di daerah bekas pabrik batu bata pemerintah Belanda di zaman penjajahan, yang hingga kini dikenal dengan sebutan Pasar Merah – ini. “Quo Vadis (hendak kemana) Paroki ini akan melangkah? Demikianlah inti yang saya ingin diresapi Imam, Klerus, Dewan Pastoral hingga Umat di Paroki ini ke depannya,” kata Pastor Borta, dalam diskusi bersama Menjemaat guna penulisan Sajian Khusus ini. Continue reading

Gallery

Stasi St. Paulus Hariantimur: “Rahmat Tuhan Yang Membangun Gereja dan Umat”

(Copyright: Komsos KAM) Gereja Stasi St. Paulus Hariantimur

Gereja Katolik St. Paulus Stasi Hariantimur merupakan bagian dari Paroki St. Pius X Aek Kanopan. Paroki ini juga menjadi sekretariat Vikariat Episkopal St. Mateus Rasul Aek Kanopan dengan lingkup wilayah menyentuh empat kabupaten. Yakni: Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan hingga Toba Samosir.

Parokus St. Pius X, RP. Hiasintus Sinaga, OFMCap merekomendasikan liputan Pesona Gereja di edisi ini mengingat Stasi Hariantimur baru saja meresmikan pemberkatan gedung gerejanya yang baru. Uskup Emeritus Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap memimpin misa dedicatio gedung gereja yang terletak di Kecamatan Kualuh Hilir, Labuhanbatu Utara, pada Minggu, 03 Agustus 2014 lalu.

“Saat mencari stasi ini mungkin tak banyak penduduk yang tahu nama Hariantimur. Sebab, sebelumnya dinamai Stasi Kandang Horbo (kerbau),” Pastor Hiasintus mengingatkan tim Menjemaat dengan senyum jenaka. Belakangan, tatkala bersua Ketua Dewan Pastoral Stasi (KDPS) Hariantimur, bapak M. Sialagan menjelaskan mengapa dulu disebut Kandang Horbo. “Sebelumnya, kampung kita ini dinamai Kandang Harimau. Karena dulunya di sini pernah juga dilewati harimau. Nah! Agar tidak menimbulkan rasa takut, para tetua kami menamainya Kandang Horbo,” kata bapak Sialagan seraya menambahkan penamaan baru menjadi Hariantimur diambil karena kebanyakan dari mereka adalah pendatang dari Harian Boho, Samosir. Continue reading

Gallery

M. Siallagan: Dalam Doa dan Teguh Tindakan, Tuhan Memberi Rahmat-Nya

dok. Pribadi (bapak M. Siallagan dan ibu T. br Simbolon)

Menjadi pengurus gereja merupakan bagian dalam hidup saya. Walaupun tak ditopang kemampuan ekonomi yang mumpuni. Namun, pernah juga saya memilih meninggalkan gereja-Nya. Hingga saya mengalami ‘cambuk’ kecil dari-Nya. Pengalaman yang justru melecut saya untuk semakin bersemangat melayani Tuhan dalam gereja-Nya. Berikut petikan kisah saya.

Saya lahir dalam keluarga Katolik yang taat. Keteguhan iman tersebut kami serap dari orangtua kami. Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ayah saya juga melayani gereja sebagai salah seorang pengurus di Paroki Pematangsiantar III. Kini, namanya telah berganti nama menjadi Paroki Tiga Dolok.

Sebagaimana laiknya orang Batak. Selepas usia remaja, saya memutuskan merantau. Meninggalkan keluarga bukanlah hal yang mudah. Namun, saya bulatkan tekad untuk memperoleh rezeki di luar kampung sendiri. Pada tahun 1976, saya pergi merantau ke daerah perkebunan di kampung Kandang Horbo (kini disebut Hariantimur). Satu tempat yang kini masuk wilayah kabupaten Labuhanbatu Utara. Stasi ini sendiri merupakan bagian dari Paroki Aek Kanopan di Kevikepan St. Mateus Rasul. Continue reading

Gallery

Stasi St. Paulus – Juhar (Paroki St. Fransiskus Assisi – Tiga Binanga)

“BERIBADAH DARI RUMAH UMAT, HINGGA MAMPU MEMBANGUN RUMAH TUHAN”

Copyright: Komsos KAM | Gereja Stasi St Paulus – Juhar

Bermula dari Paroki Tiga Binanga

Saat misi sedang digalakkan di Tanah Karo, Pastor Maximus Brans OFMCap bersama dengan Pastor Elpidius van Duynhoven OFMCap berkunjung ke kampung-kampung Tanah Karo. Sesudah perang dunia kedua, misi yang telah dimulai tahun 1939, diteruskan kembali hingga ke kampung-kampung yang lain. Tahun 1948 misionaris juga tiba di Tiga Binanga dan segera mempersiapkan calon pengurus gereja dan katekis yang akan membantu mereka dalam pewartaan injil kepada umat yang baru saja bergabung dengan Gereja Katolik.

Baptisan pertama di Tiga Binanga berlangsung pada 18 Desember 1955 bagi tiga keluarga, yang terdiri dari 15 jiwa. Baptisan ini dilayani Pastor Elpidius. Mereka dibimbing seorang katekis yaitu Mitar Kasianus Saragih. Tahun 1959 Pastor Maximus Brans mendirikan stasi Juhar. Berikutnya katekis Naik Dameanus Tarigan dan Syukur Sitepu berperan dalam pembinaan umat. Pengurus stasi Juhar untuk pertama kalinya ialah Tarzan Tarigan dan Tertib Pinem. Tahun-tahun berikutnya selalu ada baptisan baru dan pertumbuhan stasi baru seperti Perbesi, Bunga Baru, Mbetong dan Pernantin. Dua stasi yang telah dibuka dari Tiga Lingga, bergabung juga ke Tanah Karo sekitar tahun 1968 yaitu Kempawa dan Kuta Buluh yang telah berdiri tahun 1945.

Sesudahnya dalam bimbingan para katekis, Gereja semakin tumbuh. Juga kehadiran Pastor Kleopas van Laarhoven berpengaruh dalam pembinaan umat di bidang Kitab Suci.

Melihat perkembangan umat yang kian pesat, tahun 1975 Mgr Pius Datubara OFM Cap menugaskan RP Michaelangelus Hutabarat OFM Cap dari Kabanjahe untuk menjajaki pendirian Paroki Tiga Binanga. Dalam kerjasama dengan katekis Bohor Bangun, pencarian lokasi bangunan gereja didiskusikan bersama di rumah keluarga Daud Tarigan (Bapa Pagit). Continue reading

Gallery

Gereja Stasi St. Bonifasius Barus Julu

Copyright: Komsos KAM | (ki-ka): Bastanta Ginting & Pendra Tarigan

Sisa embun masih membasahi halaman Gereja Stasi St. Bonifasius Barus Julu, yang dipenuhi rerumputan, kala Menjemaat menyambangi untuk liputan kolom Pesona Gereja ini. Padahal waktu nyaris menuju tengah hari. Sapaan khas ‘Mejuah-juah’ terlontar dari Ketua Dewan Stasi Barus Julu, Bastanta Ginting dan Sekretaris Stasi Barus Julu, Pendra Jaya Tarigan. Aura gembira terpancar dari wajah mereka.

“Sebenarnya gereja kami masih belum berani benar untuk dimuat di Menjemaat karena masih seperti ini,” ujar Bastanta seraya menghantar masuk ke gereja stasi yang ditopang dinding bambu, atap seng dan lantai semen. “Namun, kami juga senang karena bisa masuk majalah.”

Gereja stasi yang masuk dalam wilayah Paroki St. Fransiskus Assisi Berastagi ini, adalah pemekaran dari Gereja Stasi St. Benediktus Tanjung Barus. “Inisiasi pemekaran Stasi Barus Julu diajukan pada tahun 2009, yang berbarengan dengan periodesasi pengurus di Stasi Tanjung Barus. Pemekaran ini di bawah arahan RP Ignatius Simbolon OFM Cap. Sementara Ketua Panitia Pemekaran adalah seorang vorhanger (masa itu), bapak Samson Barus. Saya sendiri, saat itu, dipercaya menjadi Sekretaris Panitia Pemekaran,” Bastanta menjelaskan.

Dia melanjutkan, pembangunan Gereja Stasi Barus Julu baru dimulai pada tahun 2010. “Proses pembangunan gereja ini sepenuhnya bersumber dari swadaya umat. Sebab pada saat itu, tidak sempat menanti donasi dari luar melalui proposal pembangunan,” ujar bapak berusia 48 tahun yang mengaku bekerja sebagai petani tersebut. Continue reading

Catatan kecil dari Semiloka “Aksi Umat Menulis”

 

Artikel ini ditulis sebagai skenario untuk presentasi di Semiloka Jurnalistik Dasar bagi Umat di Paroki St. Fransiskus Assisi – Padang Bulan, Medan. Di samping itu, tulisan ini juga hendak dipublikasikan di blog pribadi (anantabangun.wordpress.com/blog) sebagai laporan tertulis, serta dokumentasi.

headline presentasi "Alksi Umat Menulis"
headline presentasi “Alksi Umat Menulis”

Saya patut bersyukur kepada Allah karena diberi anugerah kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman menulis. Secara khusus menulis untuk media Gereja. Sehingga cukup layak disebut khasanah semiloka ini adalah terampil sebagai pewarta laiknya murid-murid Tuhan Yesus.

Untuk menghasilkan semiloka yang berdampak, saya coba merancang pendekatan yang mudah dicerna dan mengena bagi para peserta. Dalam bincang dengan bang Feri Tarigan, selaku juru bicara (saat menyampaikan undangan) dari Paroki Padang Bulan perihal undangan kepada saya menjadi narasumber di semiloka ini, saya mendapati bahwa peserta yang bakal hadir ialah dari kalangan Bina Iman Remaja (BIR), Orang Muda Katolik (OMK) dan Dewan Pastoral Stasi (DPS) dari paroki ini.

Dari ketiga (kelompok kategorial dan pengurus pastoral) itu, saya tarik rentang usia sekira 15 hingga 50 tahun. Ini bukan perkara mudah, sebab gaya komunikasi berbeda dan generasi usia terpaut cukup jauh. Maka, saya memilih pendekatan sederhana dari Simon Sinek, motivator dan konsultan marketing Inggris/ Amerika, yaitu: Golden Circle (lingkaran emas).

Penjelasan mengenai Golden Circle tidak saya kupas mendalam, sebaliknya akan digunakan langsung dalam semiloka ini. Jangan kuatir, ini bukan konsep yang mengerikan. Belum ada yang meninggal dunia karena memakai konsep si Sinek itu.

Golden Circle adalah tiga lingkaran berlapis masing-masing berisi satu pertanyaan. Mulai dari paling dalam ‘Why/ Mengapa’, lapisan kedua ‘How/ Bagaimana’, dan terakhir ‘What/ Apa’. Sepintas sungguh sederhana saja. Namun, perusahaan teknologi komunikasi Apple meraih keberhasilan besar dengan menerapkan konsep ini dalam budaya kerjanya.

***

 presentasi-untuk-semiloka-aksi-umat-menulis4

Saya hendak mulai dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik: “Apa yang akan terjadi jika para penulis Alkitab tidak mau atau malas menulis Firman Allah dan kejadian-kejadian sebagaimana kita dapati dalam Kitab Suci?” Continue reading

Saya Bersyukur Pernah Mengalami Peristiwa Erupsi Sinabung

bapak-panjang-bangun-umat-paroki-tiganderket-eks-ketua-dps-selandi-2
Panjang Bangun difoto di pelataran Gereja Paroki Tiganderket (Foto: Ananta Bangun)

“Nama saya Panjang,” ujar pria paruh baya beperawakan langsing tersebut. “(dan) Marga saya Bangun.” Mulanya Menjemaat coba mereka-reka seberapa panjang nama si bapak. Ternyata bukan adjektiva yang dimaksud, melainkan benar sebuah nama saja. Kala diberitahukan kepadanya, kami berdua terpingkal-pingkal. Humor yang mencairkan wawancara bersama umat Paroki St. Monika Tiganderket itu. Hasil perbincangan dengan ayah dari tiga anak tersebut, dimaksud untuk liputan ‘Kisah’ iman, yang tertuang di majalah Menjemaat edisi bulan ini. Berikut petikannya.

***

Mengenang kembali pengalaman iman selama bencana erupsi Sinabung tentu berlabuh pada masa pertama gunung tersebut meletus. Tepatnya pada tahun 2010 silam. Kami sekeluarga, bersama penduduk desa Selandi (kecamatan Tiganderket, kabupaten Karo) sekitarnya, mengungsi ke Posko penampungan di Tiga Binanga. Kami bertempat di posko tersebut selama tiga minggu lamanya. Continue reading