Gallery

Dummy: “Juru Damai” Redaksi

ilustrasi dipinjam dari Pexels.com

Pada suatu hari, terjadi cekcok di antara Redaksi majalah ‘Angin Ribut’ (ini hanya rekaan penulis belaka. Huehehehe). Pihak reporter protes karena artikel yang dia kirim tidak sepenuhnya dimuat di halaman majalah. Di sisi lain, pihak layouter juga dongkol karena si reporter memberi foto dengan resolusi rendah. “Hanya bisa dicetak ukuran pas photo saja!” dia mengumpat.

Syukur lah, sebelum jam makan siang tiba, hadir juru damai di tengah mereka. Dia bernama ‘dummy’.

Salah kaprah dalam menjalankan media majalah adalah pikiran untuk segera mengoperasikan komputer setelah mendapat hasil reportase. Padahal ada satu tahapan hendaknya dimulai, bahkan sebelum tim reporter turun ke lapangan. Yakni, merumuskan dummy halaman majalah oleh Redaksi.

Dummy adalah konsep (rancangan) halaman majalah yang akan diterbitkan. Umumnya, digambar/ dicoret-coret di halaman kertas kosong. Dalam tahapan ini, Redaksi memulainya dari berapa halaman yang akan dicetak/ dipublikasikan (jika termasuk majalah online). Continue reading

Gallery

Majalah: Pilih Cetak atau Online?

ilustrasi dipinjam dari Pexels.com

Redaksi majalah CAHAYA — melalui bapa Sinurat — mengabariku perihal perubahan format media mereka untuk edisi berikutnya. Yakni, mengemas majalah versi online. Aku menyampaikan tidak ada masalah perihal rencana meninggalkan media cetak ke bentuk digital. Jawabanku tersebut kemudian ditembuskan bapa Sinurat ke grup Whatsapp komunitas Redaksi Cahaya.

Perbincangan di grup menjadi menarik, kala seorang siswi SMA Cahaya, Intan, bertanya: “Apakah jumlah halaman majalah online akan sama seperti format cetak?”

Aku memaklumi rasa penasaran Intan, sebab khasanah media majalah online masih baru baginya. Tentu saja ada sejumlah perbedaan saat mendesain majalah untuk versi cetak dibandingkan versi online. Hal yang paling mencolok, media majalah cetak wajib jumlah halamannya kelipatan 4 (empat). Jumlah tersebut berkenaan dengan penggunaan kertas yang dicetak timbal-balik dan dilipat satu kali, sehingga menghasilkan empat halaman. Untuk memahami lebih dalam, tentu saja sangat baik bila langsung kunjungan ke kantor percetakan majalah.

Continue reading

Gallery

BACAKILAT

Master Trainer Bacakilat, Agus Setiawan | Copyright: Aquarius Learning

Mulanya saya mengetahui istilah Bacakilat dari buku “Bacakilat for Students” karya Agus Setiawan dan Juni Anton. Cukup lama saya memutuskan untuk membaca buku ini, meski beberapa kali meliriknya di rak toko buku Gramedia. Tepatnya pada tahun 2016, saya akhirnya membeli dan mulai menukil benda bersampul dominan biru langit tersebut. Berpuluh kali membaca buku ini (tanpa pernah menerapkan inti sistem Bacakilat), saya mulai memahami secuil. Satu yang paling mengesankan adalah ‘Menetapkan Tujuan’. Tentang betapa kelemahan umumnya orang Indonesia ialah tak kuat menancapkan komitmen untuk meraih tujuan.

Berangkat dari pemahaman sedikit tadi, saya menumpuk rasa penasaran untuk ‘mendengar’ langsung dari peracik sistem Bacakilat ini. Lewat tempo setahun, pada April 2017, saya menemukannya dalam lini masa Facebook: “Seminar Bacakilat 3.0 di kota Medan”. Wah. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Seantusias banteng liar, saya mulai menggandeng beberapa rekan sejawat serta Istri saya, Eva Susanti Barus untuk turut dalam acara tersebut.

Satu ide kemudian terbersit dalam benak saya, bagaimana jika penelusuran untuk belajar sistem Bacakilat ini dituangkan menjadi sebuah tulisan. Meski tak sama hebat, setidaknya saya juga bisa belajar gairah dan gaya meliput Malcolm Gladwell maupun mas Andreas Harsono. Saya bersyukur karena pionir Bacakilat, Agus Setiawan menyambut baik permohonan saya (padahal disampaikan secara lisan). Malah, Master Trainer dan juga Pimpinan Aquarius Learning itu bermurah hati memberi saya ‘kursi’ ikut dalam Workshop Bacakilat 3.0, angkatan ke-158 di Medan, pada 20 Mei 2017.

Setelah bimbang memilih sudut pandang, saya putuskan menulis dalam pengalaman saya sendiri. Sungguh beresiko mengambil perspektif secara umum, sebab belum tentu ‘apa yang saya pandang berhasil pada diri saya, berlaku juga bagi orang lain’. Meski demikian, inspirasi positif layak mendapat ruang di hati setiap insan. Sebab buku yang baik sudah pasti ‘positif’ AIDS atawa Aku Ingin Dibaca Sekarang. Tabik.

***

Agus Setiawan seorang murah senyum dan senang humor. Walau berbadan agak tambun, dengan lincah dan penuh energi dia memberi materi dalam Seminar Bacakilat 3.0, pada (Sabtu) 6 Mei 2017 di Hotel Grand Mercure Maha Cipta Angkasa – Medan. Gerak lincah itu mungkin disebabkan gaya hidup vegetarian yang dianutnya selama puluhan tahun. “Memang benar kok. Jangan percaya lagi dengan slogan ‘4 Sehat, 5 Sempurna’, karena itu dicetuskan oleh Dinas Peternakan. Bukan Dinas Kesehatan,” tutur bapak dua anak ini, disambut gelak tawa hadirin.

Namun, para hadirin datang bukan untuk mendengar gaya hidup sehat Agus. Mereka hendak menagih janji-janji yang ditawarkan oleh Bacakilat.   Diantaranya: “Menguasai Buku Apapun yang Anda Inginkan”, “Membaca 1 detik/ halaman”, serta “Mencapai 100% Tujuan Membaca”. Semua itu diladeni dengan sebuah terobosan belajar yang disebut Agus sebagai Brain Based Learning.

Continue reading

Gallery

Sepucuk Surat Istimewa

Copyright: static.pexels.com

Artikel ini merupakan naskah yang kupersiapkan untuk membuat sebuah buku digital, bersama sejumlah teman-teman. Menepati janji dari artikel blog sehari sebelumnya. Kiranya teman-teman yang juga tengah mempersiapkan naskahnya beroleh inspirasi. Amin.

***

Hari bahagia dalam hidupku sering kualami. Bisa dikatakan, hidup ini sendiri adalah kebahagiaan. Seperti kali pertama orangtua memeluk dan menimangku penuh kasih sayang. Atau saat aku berhasil memenangkan pertandingan di sekolah. Hingga karunia Tuhan dalam keluarga baru yang kubina bersama Istriku, Eva Susanti Barus.

Tentu saja dari banyak hari bahagia tersebut, ada beberapa kenangan yang selalu terpatri dalam ingatan. Di antaranya adalah pengalaman pada pertengahan tahun 2001 silam. Mengenang ini rasa bahagia pun sering bercampur haru. Karena peristiwa ini mengingatkan pada almarhum bapakku. Ya, ketika itu bapak tengah menderita sakit yang membuat tubuhnya ringkih. Dari mamak dan sanak saudara lain bilang, bapak terkena stroke. Akan tetapi dari literatur dan pengakuan penderita stroke lainnya tak memiliki tanda atau ciri sakit sama dengan yang dialami almarhum bapak. Penjelasan mamak yang lebih jernih. Konflik di tempatnya bekerja lah yang mempengaruhi kesehatannya. Singkatnya, fikiran dan hati yang tak ‘lurus’ membuat pria yang kukagumi ini kehilangan motivasi dan fisiknya terus melemah.

Dalam kondisi seperti itu, rumah seperti hanya ruang bermuram durja. “Kapan bapak akan sehat?”, “Apakah kita masih bertahan hidup dengan keadaan seperti ini”, hingga “Jika susah, tak ada lagi saudara dan teman yang mau peduli” adalah fikiran-fikiran buruk yang selalu terucap. Kami, anak-anak, cuma mampu terdiam dengan hati yang selalu dipenuhi rasa takut dan sedih.

Nah, bagaimana saya bisa mengalami hari bahagia di masa itu? Continue reading

Gallery

BAGAIMANA CARANYA BELAJAR MENULIS?

Copyright: https://www.pexels.com

“Bagaimana caranya belajar menulis?” Sepotong pertanyaan ini bukan sekali dua kali disuguhkan dalam perbincangan dengan beberapa temanku. Kadang mereka langsung lebih tajam, “Bagaimana caranya menulis buku?” Jawaban atas pertanyaan ini, ditujukan pada penulis senior mana pun, adalah: “Menulis lah!”

Aku pun pernah tertegun dengan ‘sabda’ seperti itu. Seolah dengan mendengarnya saja sudah cukup membuat pendengarnya lihay menulis. Tidak! Inti ucapan tersebut ialah bertindak lah. Ya, langsung menulis. Apa saja. Mulai dari tetangga yang menyebalkan, motivasi hebat dari seseorang atau buku, serta kisah perjalanan seru saat belanja di Pajak Melati.

Kegiatan seperti itu kemungkinan memberi hasil tak ubahnya mengupas bawang merah dengan jari. Perih dan berurai mata (di bagian ini aku agak hiperbolis), dan mendapati: “Wah, aku ngapain saja ini? Sudah banyak menulis, kok sepertinya nggak ada hasilnya.” Hal itu wajar. Dan mengingatkan aku pada masa awal belajar menulis di blog. Kala pertama rasanya tak berbeda dengan suasana kuburan. Sepi kunjungan dan komentar dari orang lain. Namun aku coba terus saja menulis. Di sembarang tempat: mulai dari blog, Facebook, media online serta minta tolong pada kawan-kawan wartawan agar dimuat di media mereka (huehehehe). Benarkah seluruh ‘pengabdian’ untuk menulis seperti sia-sia belaka?

Aku teringat ketika sahabatku, Vinsensius Sitepu, mendorong agar sejumlah tulisanku di majalah online Lentera dibuatin jadi buku digital (e-book). Dengan ogah-ogahan aku menerima dan mengirimkan soft copy tulisan tersebut. Dan, voila! Buku tersebut kini tersemat di rak toko online Google Books. Astaga, aku baru menyadari zaman telah mengubah segalanya lebih instan dan gegas. Remah-remah tulisan yang lama bisa dirajut kembali menjadi sebuah buku utuh. Jadi mengapa tak semua orang memanfaatkan kesempatan ini? Aku pun masuk lagi pada momen kebingungan. Continue reading

Gallery

Agoez Perdana: Bagi Saya, Berbagi Inspirasi adalah Investasi Akhirat

Dok. Pribadi | Repro untuk halaman Lentera News

Artikel ini adalah bagian liputan untuk majalah online Lentera News. Hal yang unik adalah saya mewawancara sobat saya sendiri, Agoez Perdana. Namun saya dimudahkan karena telah beberapa kali turut dalam training yang dia bawakan.

Melirik kembali artikel ini, saya berfikir perlu belajar menulis lebih giat lagi. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Namun sebagaimana sejatinya sebuah otokritik. Setiap penilaian dan koreksi adalah untuk membangun diri sendiri. Kiranya gagasan utama dalam tulisan ini juga menggugah saudara/i pembaca.

***

Agoez Perdana mengawali  karir sebagai Jurnalis di Radio. Dari media elektronik ini, ia merintis pemahaman  jurnalistik, khususnya broadcasting. Sebagai jurnalis, ia  melabuhkan pemahaman jurnalistiknya di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Dia (pada saat diliput untuk tulisan ini) menjalankan amanah sebagai Koordinator Divisi Advokasi AJI Medan. Tidak hanya untuk menanamkan etika jurnalistik yang benar. Ia juga sering diundang menghadiri sejumlah pelatihan. Baik di ranah jurnalistik, hingga melebar ke masalah hukum jurnalistik dan sosial. Pengalaman tersebut menyalakan ‘lampu’ gagasannya. “Mengapa tak saya coba berbagi pengetahuan ini dengan orang lain? Dimulai dari sahabat-sahabat terdekat,” ujarnya.

Berbekal pengalaman  meliput dan sejumlah pelatihan, Agoez Perdana memberanikan diri berbagi pengetahuannya dengan sesama.  “Kala pertama, saya  ditawari salah satu yayasan milik  perusahaan kelapa sawit  Labuhanbatu.  Tanpa linglung, saya terima. Sebab toh saya telah mengetahui materi pelatihannya terlebih dahulu. Apalagi, saat itu Teknik Presentasi yang menjadi tema pelatihannya termasuk hobi saya juga, “ kata pria yang kini disibukkan dengan media online KabarMedan.com (http://www.kabarmedan.com). Continue reading