Gallery

Mgr. Pius Datubara Berkati Gereja Paroki Parsoburan

IMG_0639
Misa pemberkatan gereja paroki Parsoburan dipimpin Mgr. Pius Datubara

Parsoburan, Menjemaat

Uskup Emeritus KAM, Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap, Minggu (17 November 2019), memimpin misa dedikasi Gereja Paroki St. Yoseph Parsoburan. Ratusan umat turut dalam persembahan ekaristi pemberkatan gedung gereja baru ini, bersama puluhan imam termasuk Parochus Paroki Parsoburan, RD. Bernardus Sijabat.

Dalam buku kenangan dedikasi gereja ini, Pastor Bernard menyampaikan, upaya pembangunan dimulai pada awal April 2016. “Lama dinanti 3,7 tahun lamanya selesai, tentu karena biaya yang selalu dalam pencarian, tidak ada dana yang terus bisa diandalkan,” ucapnya. “Banyak juga gereja ini disumbang oleh para donatur baik, dari sekitar maupun yang jauh dari paroki. Entah secara pribadi, keluarga maupun instansi. Serta melalui gotong royong umat dari kota Parsoburan.”

Bupati Toba Samosir, Darwin Siagian turut memberi apresiasi upaya panitia menyelesaikan pembangunan gedung gereja yang terletak di kecamatan Habinsaran. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Toba Samosir mengucapkan selamat pemberkatan Gereja Paroki Parsoburan. Pembangunan gereja ini tentunya membutuhkan pengorbanan, baik pikiran, waktu, tenaga maupun biaya yang tidak sedikit.”

Sementara, Uskup KAM, Mgr. Kornelius mendorong umat agar senantiasa menjadikan gereja paroki sebagai tempat perjumpaan dengan Allah. “Hendaknya kita sungguh memanfaatkan rumah Allah ini sebanyak mungkin. Itu semua sarana berjumpa dengan Allah. Karena bangunan yang kita resmikan ini adalah rumah Allah, maka seharusnya kita sebagai umat Allah menjaga kesakralan rumah ini,” tuturnya, sebagaimana dikutip dalam buku kenangan.

(Ananta Bangun)

IMG_0629
Parochus Parsoburan, RD. Bernardus Sijabat membuka pintu gereja paroki
Gallery

PAROKI ST. PETRUS RASUL – RANTAUPRAPAT “DITERPA TRAGEDI, UMAT SEMAKIN MAU BERBUAT & BERKORBAN”

Gereja Paroki St. Petrus Rasul – Rantau Prapat (latar depan) | Copyright: Komisi Komsos KAM

Menjemaat bertanya kepada beberapa umat dan pengurus DPP setempat: Apakah riwayat Paroki St. Petrus Rasul – Rantauprapat pernah dimuat di majalah resmi Keuskupan Agung Medan? Mereka menggeleng, seraya berharap agar profil gereja tersebut bisa diterbitkan. Tulisan pesona Gereja Paroki St. Mikael – Tanjungbalai di Menjemaat edisi sebelumnya, sungguh bermanfaat sebagai rujukan mula berkembangnya umat di Paroki Rantauprapat.

Buku Kenangan Pesta Emas 50 Tahun Gereja Katolik St. Petrus Rasul – Stasi Rantauprapat, dan wawancara bersama Parokus Rantauprapat, RP Nattye SX dan beberapa umat, turut membantu tulisan di kolom Pesona Gereja ini.

***

Di dalam Buku Kenangan Pesta Emas 50 Tahun Gereja Katolik St. Petrus Rasul – Stasi Rantauprapat, Jabahot Simamora menuliskan, bahwa Gereja Katolik di Rantauprapat mulai terbentuk pada tahun 1954.

“Diawali oleh kerinduan beberapa orang perantau ke daerah Labuhanbatu, yakni Lusius Ulbanus Naibaho, Alman Silitonga dan bapak Hutabarat, secara kebetulan berjumpa atau dipertemukan oleh Tuhan. Mereka dengan semangat untuk membuat ibadah setiap hari Minggu di rumah mereka secara bergantian,” demikian tulis Jabahot.

Persekutuan umat kemudian berkeinginan untuk membangun sebuah rumah ibadah. Maka, seorang tokoh umat mewakili Gereja Katolik Rantauprapat, Lusius U. Naibaho membeli sebidang tanah pada 13 Maret 1955 di Padang Matinggi (kini adalah kelurahan di Kecamatan Padang Sidempuan Selatan, Padang Sidempuan). “Sebab, jika atas nama gereja kemungkinan besar orang setempat enggan menjualnya. Selang satu hari kemudian, kepemilikan surat tanah diganti dari Lusius menjadi nama gereja.”

Pada saat itu, pengurus gereja adalah Lusius sebagai Vorhanger, dibantu Alman Silitonga dan bapak Hutabarat serta sejumlah jemaat sekira 16 KK. Setahun berselang, gedung gereja rampung dibangun, dan diberkati oleh Uskup Vikariat Apostolik Medan (pada masa itu), Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans OFM Cap.

Kepada Menjemaat, seorang tokoh umat, J.L. Purba menuturkan, luas tanah di daerah seberang Sungai Bilah tersebut sekira 1,4 hektar. “Saat itu komplek gereja stasi berada di sekitar penduduk non-Kristen. Akan tetapi, kami tidak menempatkan seseorang sebagai penjaga di komplek gereja tersebut,” katanya. Continue reading