Panduan (Cara) Menulis Artikel Berita

Menulis artikel berita berbeda dengan menulis artikel lain, termasuk artikel informatif atau eksposisi.

Dalam penulisan berita, sangat penting menyampaikan semua informasi yang relevan dalam jumlah kata terbatas. Artinya, penulis berita hendaknya memberikan fakta secara ringkas kepada audiens.

Berikut ini tiga bagian untuk panduan atau tutorial menulis berita.

Bagian Pertama: Merencanakan Artikel Berita

1. Teliti topik Anda

Untuk mulai menulis artikel berita, Anda perlu meneliti topik yang akan Anda tulis. Sebelum memiliki artikel yang layak terbit, Anda harus memahami topiknya dengan baik. Walaupun itu adalah sekedar liputan seremoni atapun rilis pers.

Langkah awal menulis berita, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri tentang “5 W + 1 H” (terkadang “6 W + 1 H”).

Who/ Siapa – siapa yang terlibat?
What/Apa – apa yang terjadi?
Where/ Di mana – di mana itu terjadi?
Why/ Mengapa – mengapa itu terjadi?
When/ Kapan – kapan itu terjadi?
How/ Bagaimana – bagaimana itu terjadi?

2. Kumpulkan semua fakta Anda.

Setelah Anda rampung menjawab “5 W”, tuliskan daftar semua fakta dan informasi terkait yang perlu disertakan dalam artikel. Atur fakta Anda menjadi tiga kelompok:

  • hal-hal yang perlu dimasukkan dalam artikel
  • hal-hal yang menarik tetapi tidak vital
  • hal-hal yang terkait tetapi tidak penting dengan tujuan artikel

Anda cukup hanya mengambil informasi yang relevan tentang topik atau cerita. Sehingga Anda bakal terbantu menulis artikel yang bersih dan ringkas.

Jika Anda tidak memiliki fakta yang relevan, tuliskan pertanyaan untuk tambahan informasi sehingga Anda tidak akan lupa untuk menemukannya.

Continue reading →

Bagaimana mulai menulis? (1)

Meskipun menulis adalah kegiatan komunikasi yang umum, tak semua orang mudah menuliskan gagasan atau perasaannya. Terutama jika hasil karya tulis itu akan dibaca khalayak ramai.

Jika kamu sering mengalami tantangan tersebut, mungkin inspirasi video ini bisa membantu.

Seumpama memasak, sebuah karya tulis tentu saja membutuhkan sejumlah bumbu. Dalam kegiatan menulis, supaya mudah kita pahami, bumbu ini adalah bahan yang akan kita olah menjadi tulisan utuh nanti.

Bumbu atau bahan tadi bisa kita kumpulkan sebanyak mungkin, dengan mengutip buku ataupun dari internet, wawancara, bahkan dari pengalaman diri sendiri (dalam hal ini, misalnya ketika kita ingin menulis tentang satu kuliner yang belum pernah kita makan).

Nah, setelah terkumpul sesuai keinginan kita, bumbu ini perlu kita kupas agar nanti saling melengkapi dalam tulisan yang kita buat. Tidak semua kutipan, teks wawancara dan catatan dari pengalaman pribadi tersebut dijejalkan seluruhnya ke dalam tulisan.

Upayakan agar bahan yang dimuat ke dalam tulisan, ditulis pendek. Ini agar nanti pembaca bisa mudah memahami apa yang sedang kita ceritakan atau paparkan.

Setelah draft atau versi awal tulisan rampung, coba kamu beri kepada beberapa teman atau keluarga, agar mereka membacanya. Bisa jadi, kita akan memperoleh masukan berharga. Semisal: Alur tulisan kurang mengalir karena pergantian topik tak jelas, atau tambahan ide baru agar tulisan tersebut semakin menarik.

Kalau bingung untuk mencari ide buat tulisan, kita bisa menelusur isu penting/ menarik di media cetak dan online, atau sekedar dari menjelajah alam sekitar.

Hayuk mulai memetik ide-ide buat menulis, dan jadikan dunia yang lebih baik dengan berbagi gagasan atau kabar dari tulisanmu.

Selamat menulis!

Mengapa Menulis?

Kita sering bertanya: “Mengapa (harus) menulis?”, walau sebenarnya kita sering menulis dalam keseharian.

Semisal, menulis daftar belanja, mengirim pesan dari gawai, hingga sekedar merunut beberapa gagasan di selembar kertas.

Menulis, tanpa disadari, adalah kiat komunikasi yang kita batasi dalam sifat yang remeh saja. Seperti contoh disebut tadi.

Padahal, dengan menulis, gagasan baik yang kita miliki mudah disebar ke banyak orang, dia bisa abadi untuk diwariskan turun-temurun, bahkan jadi rujukan tetap.

Bayangkan jika kita harus mengulang-ulang penjelasan dari ide cemerlang secara lisan. Pemaparan itu sangat mungkin berubah dan rumit untuk dipahami.

Karena bisa dibaca dan dipelajari secara mendalam, ide tulisan bisa diperdebatkan. Maka ini menjadikan si penulis bertanggungjawab. Penulis yang gemar menyebar kabar bohong akan segera ditinggal audiens nya. Siapa yang mau ‘menelan’ tulisan bohong?

Maka, hayuk coba menuliskan gagasan milik kita. Sebagai permulaan belajar mempengaruhi dan mendorong dunia yang lebih baik. Bisa jadi, itu hanya soal menghemat uang belanja, kebersihan lingkungan, dan usulan lain yang semakin hebat.

Namun bagai sekumpulan titik, tiap-tiap hasil tulisan ini akan membuat Anda sebagai pribadi luar biasa di tengah sesama.

Mari menulis!

Pada Mulanya adalah Niat, dan Terciptalah ‘e-book’

Syahdan, Pater Hubertus Lidi OSC — mantan pimpinanku di Komisi Komsos KAM — menyampaikan niatnya agar beberapa karya tulis kami, baik di majalah Menjemaat hingga majalah online Lentera, diterbitkan sebagai buku cetak.

Aku tentu saja senang, karena bisa menambah daftar buku ceotak yang kutulis. Sejauh ini, masih hitungan jari. Maka, sejak tahun lalu, kami saling kontak dengan penerbit Bina Media.

Apa daya, pandemi virus covid-19 turut menjegal harapan agar buku ini bisa dicetak dengan dukungan pihak penerbit. Karena keadaan itu, terbersit gagasan: bagaimana jika dikemas sebagai buku elektronik (e-book)?

Sahabatku, Vinsensius Sitepu, menyambut ide itu. Kebetulan, dalam e-book ku “Menulis di Atas Pasir” juga diterbitkan berkat kemurahan hatinya. Dan memang, sebagian besar naskah dari e-book pertama itu yang juga disalin ke e-book bersama Pater Hubert, dengan judul “Merajut Ide pada Lembaran Datar.

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi buku

Kiat “menulis buku secara keroyokan” pertama kali kutahu saat pelatihan dibimbing bapa Budi Sutedjo — pendiri Indonesia Menulis.

Itu sebuah pencerahan perihal bagaimana memulai agar berani menulis dan menerbitkan buku. Dia sendiri menunjukkan beberapa karya buku dari hasil keroyokan peserta training diasuhnya.

Aku beruntung, dalam pengerjaan e-book Merajut Ide pada Lembaran Datar bisa tandem dengan Pater Hubert. Beliau sudah berhasil menerbitkan buku. Beberapa di antaranya bahkan karya novel.

Dan ternyata kepingan naskah yang kami tulis buat majalah Menjemaat dan majalah online Lentera, kelak bisa direkat sebagai karya buku. Yang membuatku teringat nasihat sepuh: “sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”. Mantra yang umumnya disemat agar rajin menabung uang, bisa juga dilekatkan pada niat menulis buku.

Aku kira, buku ini merupakan perjuangan kami untuk ‘merdeka’. Melawan musuh paling berat, yakni: DIRI SENDIRI. Bergulat dengan ketidakyakinan, kecemasan dan pikiran buruk lainnnya. [Dalam tulisan blog terpisah, aku ingin menuliskan perihal ini]

Tentu saja karya e-book amat jauh dari sempurna. Tapi tak ada menanti hingga kesempurnaan itu jadi. Biarlah semakin banyak kritikan dan masukan yang akan membentuknya menjadi lebih baik lagi.

Untuk saat ini, e-book tersebut bak sebuah secarik pengingat. Bahwa setiap penciptaan bermula dari niat. Tiada yang kebetulan.

Salam!

Betlehem Ketaren: Semakin Larut dalam Karya Pastoral Komunikasi Sosial

Betlehem-Ketaren-dan-Istri-mengapit-Mgr-Kornelius-Sipayung

Betlehem Ketaren dan Istri mengapit Mgr Kornelius Sipayung (dok. Pribadi)

Mengangkat batu dari sungai guna pembangunan gereja itu mulia. Berbicara jelas guna pengembangan Gereja itu juga tak kalah mulianya. Namun bila kita diberi minat menulis, mengapa tidak? Mari mulai menulis, kalau tidak sekarang kapan lagi?” Demikian satu kata mutiara dituturkan oleh Betlehem Kataren dalam satu bincang dengan Komsoskam.com, Sabtu (2 November 2019), via media sosial.

Suami dari Helpina br. Tarigan, mengaku telah lama gemar akan dunia ‘membaca’ dan ‘menulis’. “Hobi tersebut menjadikan saya selalu mendapat rangking sewaktu bersekolah, saya juga mudah menuangkan isi hati dan buah pikiran, semisal: puisi, anekdot, berita maupun artikel. Di samping itu, kegemaran ini juga memudahkan saya bergaul dengan banyak orang,” ujar ayah dari Yolanda Sanjelitha br. Ketaren, Yoga Makarios Ketaren, Yosef Virgious Ketaren dan Yoandectus Ketaren.

Betlehem sehari-hari mengemban peran sebagai sekretaris DPPH St. Fransiskus Assisi Berastagi. Di ranah yang sama, dia juga dipercaya membantu pastor sebagai katekis dan koordinator Katekese Persiapan Perkawinan. “Saya juga mengampu sekretaris Yayasan Pusaka Karo. Selain itu, juga menjadi anggota Sinode VI KAM, dan selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan komisi-komisi: KOMKAT, KKS, KOMKEL, PSE, KOMEV dan terlebih juga KOMLIT di bagian Misale Romawi Karo,” imbuhnya.

Di tengah seabrek kegiatan tersebut, eks Dosen di Universitas Quality ini juga mengisi posisi Redaktur Pelaksana majalah KAM berbahasa Karo, Ralinggungi. “Disamping semua kegiatan-kegiatan itu semua, untuk menyekolahkan anak-anak dan menyejahterakan keluarga, saya bercocok tanam berbagai jenis bunga Krisan serta juga tanaman-tanaman hortikultura.”

Walau mulanya gagap dalam bidang komunikasi sosial, Betlehem tak patah arang untuk mempelajarinya. Malah, dirinya semakin larut dalam karya pastoral ini. “Ketika mulai kuliah di luar Sumatera Utara, saya sangat menyadari kekurangan saya di bidang komunikasi sosial. Ketika disuruh diskusi kelompok apalagi membuat tugas kelompok, saya selalu kewalahan sebab merasa kurang sekali membenahi diri di bidang yang satu ini,” katanya. Continue reading →

Sr. Angela: Mulai Suka Menulis, Sejak Ikut Pelatihan dari Komsos

Sr-Angel

Sr. Angela Siallagan FCJM (dok. Pribadi)

Walaupun sudah lama menjajal dunia kepenulisan, Sr. M. Angela Siallagan FCJM penuh sukacita menempuh pendidikan Multimedia Journalism di Universitas Multimedia Nusantara. “Saya mendapat tugas dari Pimpinan Kongregasi FCJM,” dia menuturkan. “Saya udah selesai kuliah thn 2010 jurusan Akuntansi di Politeknik MBP. Nah sekarang, saya ditugaskan lagi untuk studi. Awalnya sulit buat saya, tapi demi ketaatan, aku mau coba.”

Penyuka jus mangga tersebut mengaku, suka dunia menulis usai mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Komsos KWI bekerjasama dengan Komsos KAM. “Pelatihan itu berlangsung pada tahun 2014.  Saat pelatihan kita sudah buat niat untuk selalu nulis. Nah, sepulang dari tempat pelatihan, saya baca bukunya Merry Riana tentang mimpi sejuta dolar. Itu yang membuat saya semakin gemar menulis.”

Sebagaimana biasa penulis lainnya, Sr. Angel juga gemar takzim membaca buku. Selain karya Merry Riana, buku-buku seperti “Awaken the Giant” karya Anthony Robbins dan novel Tere Liye sudah lama dilahap biarawati asal Sipoldas, kecamatan Panei, kabupaten Simalungun.

“Hingga saat ini, saya masih suka nulis sebab memang sangat bermanfaat bagi diriku sendiri. Dengan menulis saya bisa mengolah emosi dan pengalamanku, melalui polesan kata-kata indah. Jadi, saya tidak lagi meluapkan emosi kepada orang lain, melainkan lewat tulisan,” ucapnya kepada Komsoskam.com, Sabtu (2 November 2019) via pesan seluler.

Dalam studi di kampus milik Kompas, Sr. Angel mendapati perbedaan menulis kreatif dengan produk junalistik. “Kalau produk jurnalistik, kita mesti menulis sesuai fakta. Di samping itu, ada aturan-aturan yang harus kita ketahui. Jadi bukan karya imajinasi atau fiktif,” ujarnya, seraya menambahkan pihak kampus juga mengajarkan mata kuliah creative writing. Continue reading →

Sr. Seraphine: Menulis Cerpen Dengan Tangan yang Tak Patah

Sr Seraphine Manik KYM

Sr Seraphine Munthe KYM (dok. Pribadi)

Komsoskam.com – Medan, “Cerpen ‘Bangku Kosong’ yang dimuat di majalah Menjemaat adalah karya fiksi pertama saya. Saya sangat bahagia, bisa dimuat,” tutur Sr. Maria Seraphine Munthe KYM dalam satu kesempatan bincang dengan Komsoskam.com, Kamis (24 Oktober 2019).

Dia mengaku, belum pernah belajar keahlian literasi tersebut dalam pelatihan khusus. “Saya menyadari talenta menulis fiksi, saat guru menyuruh kami meresensi sebuah novel,” kenang alumni SMA Negeri 1 Tiga Baru, Sumbul.

Usai membuat resensi, Sr. Seraphine tergugah untuk menuliskan satu kisah percintaan. “Saya kemudian beri ke beberapa teman untuk dibaca. Dan mereka memuji. Wah, saya pun kembali tergerak menulis dengan tangan satu kisah lagi di buku catatan yang sama,” ujarnya, seraya menambahkan semakin banyak yang tertarik membaca cerita di buku tersebut. Hingga tidak pernah lagi kembali pada empunya semula. Continue reading →

Fr. Heru: Jadi Penulis Itu Mengasyikkan!

Fr Nicolaus Heru

Fr Nicolaus Heru (dok. Pribadi)

Komsoskam.com – Medan, Fr. Nicolaus Heru Andrianto sedang menekuni panggilan sebagai calon imam diosesan untuk Keuskupan Tanjungkarang, di Seminari Tinggi St Petrus Pematangsiantar.  Saat ini masih menempuh pendidikan Teologi di STFT St Yohanes Pematangsiantar.  Di sela-sela aktivitas studi, menikmati dunia tulis-menulis ke beberapa media, lokal dan nasional. Baginya menulis adalah salah satu sarana merawat keabadian.

“Menjadi penulis itu mengasyikkan. Saya mendapat banyak sahabat dengan menulis, meski belum bertatap muka. Namun saya meyadari jaringan persaudaraan juga diperluas. Dengan menulis ide-ide senantiasa mengalir. Sebab saya pernah mencoba untuk tidak menulis, justru ide juga serasa sirna dari keseharian. Maka untuk menjaga hal itu saya akan terus menekuni dunia tulis menulis,” katanya kepada Komsoskam.com via Whatsapp, Senin (24 Oktober 2019).

Saat ini, Fr. Heru dipercaya mengemban peran Pemimpin Redaksi Majalah Petra. “Ini adalah majalah komunikasi yang diterbitkan oleh Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar untuk media pewartaan dan sarana berefleksi bagi para frater, calon imam diosesan region Gerejawi Sumatera,” ucapnya.

Dia menjelaskan, majalah Petra mencoba eksis di tengah gencarnya media online yang setiap saat diakses. “Media ini terbit triwulan sekali. Kendati masih dalam bentuk media cetak, media ini menjadi wadah yang hendak dikembangkan sebagai sarana pastoral menyapa umat Allah. Tema yang disajikan juga tidak hanya seputar Seminari, melainkan Gereja Universal dalam segala dinamikanya.”

Bagi Calon Imam Diosesan Keuskupan Tanjung Karang tersebut, Majalah Menjemaat sebagai media komunikasi di Keuskupan Agung Medan memberi warna tersendiri bagi para frater di Seminari Tinggi.

“Kehadiran Menjemaat juga menambah kekayaan pengetahuan bagi para frater terkait majalah lokal yang harus disimak dan dibaca, apalagi sebagai calon imam diosesan yang akan berkarya di keuskupan. Mengapa demikian? Majalah menjemaat juga mengulas situasi dan peristiwa yang terjadi di seputar keuskupan Medan.  Maka informasi dari media ini harus dibaca dan disadari sebagai bentuk kecintaan terhadap keuskupan dan pastoralnya bagi umat Allah,” imbuh Fr. Heru.

Menurutnya, meski di tengah perkembangan media online, media cetak hendaknya tetap berjuang untuk tetap eksis. “Memang ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pengelola. Namun kita patut bersyukur dengan media semacam ini kita bisa menyapa banyak umat yang ada di berbagai tempat.”

Melalui Komsoskam.com, Fr. Heru juga berbagi kata mutiara yang selalu dia tularkan dalam berbagai kesempatan. “Tarikanlah pena kehidupanmu dan buatlah dunia tersenyum. Ini menjadi usaha dan daya juang, agar setiap peristiwa menjadi sarana pewartaan, lebih-lebih hal baik yang kiranya bisa memberi pengaruh positif demi kemajuan banyak orang, juga dunia. Bagi orang muda di mana saja Anda berada, ringankanlah tangan Anda menorehkan sejarah keabadian dengan menulis,” pungkasnya.

(Ananta Bangun)

Kelas Literasi Pacu Novis KSSY Hasilkan Karya Tulis

Kelas Literasi yang telah diadakan di Novisiat KSSY Medan

Kelas Literasi yang telah diadakan di Novisiat KSSY Medan

Sr. Kornelia Tumanggor KSSY, merupakan formator di Novisiat KSSY Medan. Sejak Juli 2019, Suster Kornel dan Komisi Komsos KAM menginisiasi Kelas Literasi bagi Novis KSSY. Kelas ini utamanya mengajarkan keahlian berkomunikasi di bidang menulis dan presentasi.

“Sungguh menyenangkan mengikuti perkembangan para Novis dalam Kelas Literasi. Sebelumnya, para novis merasa enggan jika diserahi tugas menulis karena minimnya penguasaan bahasa baku. Mungkin ada juga pengaruh kebiasaan bertutur di aplikasi bincang daring hingga SMS. Namun kini mereka semakin semangat menulis,” terang biarawati asal Salak, Pakpak Bharat.

Dampak baik lainnya, menurut Suster Kornel, adalah keteraturan tata bahasa. “Dari angkatan novis sebelumnya, ada yang malas menuliskan pengalaman hidupnya setiap hari. Sekarang, mereka telah mengetahui kiat menulis yang baik. Sehingga sekarang ada kemajuan dan cara penulisan makin terarah lebih baik,” ucapnya kepada Komsoskam.com di Medan, Jumat (18 Oktober 2019). Continue reading →

Apa yang benar-benar kita tinggalkan?

Dipinjam dari: Pexels.com

Sekarang orang-orang sudah tak suka membaca panjang lagi.

Pernyataan itu meluncur deras dari seorang teman, usai kami makan siang. Sepertinya dia hendak mengetuk vonis bahwa buku dan atau apa pun yang ditulis dengan jumlah kata banyak, sudah usang. Ditinggalkan.

Aku tercenung. Memang ndak tahu mau memberi jawaban apa.

Dua minggu berselang, seorang Imam menyatakan pendapat senada. Malah, langsung menahbiskan bahwa video akan menjadi hal lumrah untuk menyampaikan laporan hingga pendapat dalam organisasi maupun lembaga. Continue reading →