SEKOLAH KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MEDAN DI TENGAH PUSARAN PANDEMI COVID-19

Gereja tidak menganggap pendidikan sebagai suatu proses yang berdiri sendiri terpisah dari perjalanan iman seseorang agar mencapai tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga. Dalam terang inilah, Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada Surga.

Bagi Gereja Katolik, tujuan pendidikan terarah kepada pembentukan anak-anak agar mereka dapat  memenuhi panggilan hidup mereka untuk menjadi orang-orang yang kudus, yaitu untuk menjadi seperti Kristus. Visi Kristiani ini harus dimiliki oleh seluruh komunitas sekolah, agar nilai-nilai Injil dapat diterapkan sebagai norma-norma pendidikan di sekolah. Sebagaimana sering diajarkan oleh para Paus (Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan sekarang, Paus Fransiskus), adalah penting agar manusia di masa sekarang ini, diajarkan untuk menghargai martabat manusia, secara khusus dimensi rohaninya.

Namun teranyar, dunia pendidikan mengalami tantangan baru sejak pandemi Covid. Belajar, bekerja dan berdoa dari rumah (WFH) menjadi jargon sekaligus gaya hidup di kenormalan baru. Dalam lingkup pendidikan, kini lebih dari satu tahun dunia institut edukasi seolah mati suri, meski belajar mengajar masih berlangsung dengan bantuan teknologi atau sekolah daring.

Meskipun demikian teknologi, tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Sr. Zita (paling kiri) bersama staf pengajar SMP Assisi Tomok

Pendapat senada dilontarkan Kepala Sekolah SMP Swasta Asisi Tomok, Suster Zita Simarmata dalam wawancara bersama Menjemaat. “Peserta didik kurang jujur dan disiplin dalam menyelesaikan tugas karena kebanyakan orang tua yang lebih berperan dalam penyelesaian tugas siswa,” tutur biarawati kongregasi FCJM. “Selain itu, siswa kurang peduli dengan sesama dan lingkungannya karena menggunakan gawai untuk bermain game daripada menonton video pembelajaran.”

Suster Zita mengakui, SMP Swasta Assisi Tomok shock atas tantangan besar yang diemban Suster, bapak dan ibu guru di masa awal pandemi. Seiring waktu mereka mulai terbiasa dengan situasi walaupun mereka masih was-was kemungkinan terjangkit virus Covid-19.

“Dengan penuh keyakinan kami bergerak dan berusaha mengepakkan sayap agar kami tetap bisa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa dan masyarakat seperti motto sekolah yakni ‘Melayani dengan Kasih’. Puji Tuhan hingga saat ini kami masih dalam perlindungan-Nya,” tutur Suster melalui surel.

Teknologi dalam pembelajaran itu sendiri tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar. Ini karena ranah edukasi bukan sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Darius Simamora (kiri) bersama rekan pengajar SMK Bina Media

Kepala Sekolah SMK Grafika Bina Media Medan, Darius Dorento Simamora mengatakan, banyak orang tua siswa protes akan pembelajaran daring tidak maksimal. “Sejak Juni tahun lalu, sesuai arahan dari Dinas Pendidikan kota Medan, proses pembalajaran telah dilangsungkan secara daring. Kami dari pihak sekolah selalu meyakinkan para orang tua bahwa metode dan model pembelajaran di sekolah kita adalah baik dan berkualitas,” ujarnya kepada Menjemaat.

Darius mengatakan, pemangku kepentingan SMK Bina Media, sejak Maret hingga Juni 2021, telah mengevaluasi kekurangan pembelajaran daring di sekolah mereka. “Ada juga staf pengajar yang tak mampu lagi beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Oleh sebab itu, satu bulan sebelum pembelajaran semester ganjil dimulai, kami sudah membekali diri dengan perangkat lunak penunjang pembelajaran daring.”

Kiat serupa juga dilaksanakan oleh SMP Swasta Assisi Tomok. Tepatnya, sejak memulai ajaran baru  pada 13 Juli 2020, ketika pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran agar pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran online atau daring. “Akibat situasi tersebut suster, bapak, ibu guru harus mengubah strategi untuk pengenalan lingkungan sekolah (PLS) dan untuk pembelajaran,” kata Suster Zita. “Beruntung kami bisa meyakinkan dan menerima tanggapan positif dari orang tua siswa ketika sekolah melaksanakan PLS dan pembelajaran secara online baik melalui zoom maupun melalui video pembelajaran.”

Selain itu, imbuh Suster Zita, pihaknya juga melaksanakan pembelajaran secara luring (kunjungan belajar) di lima lokasi atau wilayah. “Untuk setiap wilayah kami batasi maksimal 10 siswa. Dan jika pembelajaran tatap muka sudah di izinkan, pembelajaran online hanya akan diberikan bagi siswa yang sakit atau tidak bisa hadir ke sekolah.”

Memetik Rahmat di Balik Pandemi

Meskipun kenormalan baru berimbas besar dalam dunia pendidikan, Ketua Yayasan Seri Amal (YSA), Sr. Gerarda Sinaga KSSY melihat sisi ‘peluang’ dari pandemi covid-19 yang bermula sejak Maret 2020. Biarawati dari Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) mengatakan, pihak YSA telah membuat perencanaan agar semua guru-guru beradaptasi dengan metode pembelajaran digital. “Ternyata pandemi ini seperti blessing in disguise. Jadi kami melihat pandemi tidak melulu tantangan, namun ada juga sisi peluangnya,” ujarnya kepada Menjemaat.

Sr. Gerarda Sinaga KSSY

“Sebelum pandemi, kami sudah merancang sistem pembelajaran berbasis digital, kelas virtual sebanyak dua kali dalam seminggu. Rancangan ini memadukan sistem pembelajaran khas Indonesia dan Amerika Serikat,” katanya. “Itu sudah disampaikan dalam pertemuan dengan para kepala sekolah yayasan ini pada Januari dan Februari 2020 lalu.”

Dalam perspektif YSA, imbuh Suster Gerarda, anak didik saat ini sudah termasuk generasi alpha. “Yakni, kalangan generasi yang sudah terbiasa dengan multi tasking. Mereka bisa mengerjakan chat, tugas sekolah, dan sambil makan kerupuk.”

Walau telah membuat strategi perencanan untuk budaya pembelajaran digital dengan cermat, Suster Gerarda tak menutupi ada beberapa personil pengajar ada yang enggan untuk sistem baru ini. Tapi ternyata kondisi pandemi memaksa semua staf pengajar untuk membiasakan diri. “Sistem ini memindahkan konsep hard copy ke format digital. Sebagai simulasi awal, kami coba di SD St. Antonius pada waktu itu, dengan menggunakan tablet.

“Semangatnya adalah pro ekologi, untuk mengurangi penggunaan kertas. Dalam tablet ini sendiri juga dilengkapi berbagai fitur untuk kreativitas anak. Seperti menggambar, dan yang lainnya,” terangnya seraya mengungkapkan harapan kelak setiap sekolah di bawah naungan YSA akan difasilitasi pembuatan buku digital dengan server milik yayasan tersebut untuk pengumpulan file digital kelas virtual.

Bruder Rismario, BM

Praktisi pendidikan di KAM, Bruder Rismario, BM turut menimpali, bahwa Sekolah Katolik sejatinya mendidik murid-murid untuk mencapai nilai-nilai Katolik. Yakni, tolong menolong, kedisiplinan, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, menghormati, dan mempunyai semangat kerasulan.

“Guru dengan semangat kerja luar biasa akan mengubah kelemahan murid menjadi kekuatan murid yang maha dahsyat. Dengan demikian murid akan mampu berkembang di tengah zamannya,” tutur Bruder Budi Mulia dalam satu tulisan refleksi kepada Komsoskam.com.

Suster Zita sendiri mengakui, pembelajaran tatap muka di sekolah lebih efektif dari pada pembelajaran secara online atau pun luring. “Namun.  Iya memang situasi  pandemi Covid-19 telah mendorong Suster, bapak, dan ibu guru dalam mempercepat proses  pembelajaran. Dengan kata lain, para guru berusaha membuat video pembelajaran lebih kreatif lagi agar pencapaian pembelajaran berhasil seperti target yang diinginkan.”

Menurutnya, para guru di SMP Swasta Asisis Tomok juga semakin berkembang saat mengunakan teknologi yang tadinya hanya tahu seadanya saja kini menjadi banyak mengetahui. “Saya yakin, banyak pengajar lainnya juga bakal termotivasi untuk berinovasi dalam pembuatan video pembelajaran kreatif dan menarik.”

Reportase: Sr. Dionisia Marbun SCMM | Jansudin Saragih | Ananta Bangun

Penyunting: Ananta Bangun

//// dimuat di Menjemaat edisi Juli 2021

Umat Tak Punya Minat Baca (catatan #2)

Ketua STP Deli Tua Paulinus Tibo membaca majalah Menjemaat (Copyright: Komsos KAM)

Sepertinya sungguh lama jarak waktu untuk kelanjutan tulisan ini. Semoga bisa dilanjutkan dengan teratur.

Aku sengaja membuatnya seringkas mungkin per catatan, agar mudah menyerap dan memahaminya.

Aku kira membaca adalah bagian dari hidup manusia. Penemuan huruf lah yang mencipatakan masa ‘sejarah’. Sebelum mengenal huruf/ tanda baca lazim disebut ‘pra sejarah’.

Membaca tulisan sama dengan merawat sejarah itu sendiri. Mari perhatikan, sejarah mana yang terpelihara dengan cara ‘lisan’ atau ‘omongan’. Jika pun masih ada, besar kemungkinan sudah berubah-ubah.

Di ranah Gereja Kristen sendiri, tanpa adanya Alkitab, tentu sungguh sulit mewartakan sabda Allah. Bagaimana para misionaris dahulu mendorong umat agar takzim membaca Kitab Suci? Bagaimana jika menyerah dan berujar dengan sesamanya: “Umatu di sini tak punya minat baca”?

dr. Sahat Sidauruk: “Hidup Ini Adalah Kesempatan, Untuk Membantu Sesama”

dr Sahat di acara GPS

dr Sahat di kegiatan GPS (dok, Pribadi)

Dokter Sahat Tua Irwanto Sidauruk, selain menjalani profesi dokter, juga menyempatkan waktu untuk karya bakti sosial.Yakni di KMK St. Lukas USU (semasa kuliah di kampus tersebut) hingga kini di Gerakan Peduli Sesama (GPS) St. Felix Cantalice. Dalam pelayanan bagi masyarakat tak mampu tersebut ada kesaksian iman yang dia alami. Berikut penuturannya.

Saya adalah seorang Ayah dari Niel Sidauruk dan Riri Sidauruk, dan Istri boru Sitorus. Lahir pada 3 Agustus 1981 di Medan, saya merupakan sulung dari lima bersaudara. Orang tua mempercayakan lingkungan sekolah Katolik sebagai tempat menimba pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Setelahnya, saya kemudian merampungkan pendidikan dan profesi dokter di Fakultas Kedokteran – Universitas Sumatera Utara (USU).

Saat ini, saya bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Daerah Simalungun, tepatnya di Dinas Kesehatan kabupaten tersebut. Selain itu, saya juga dipercaya sebagai dokter bagian IGD di Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar.

Kegiatan sosial, khususnya dalam pelayanan pemeriksaaan kesehatan bagi masyarakat, telah saya geluti sejak mengenyam pendidikan di FK-USU. Yakni, di Kelompok Mahasiswa Katolik (KMK) St. Lukas USU. Usai tamat dari kampus USU, saya tetap terlibat dalam gerakan ini kala turut juga ke dalam GPS St. Felix Cantalice. Di samping itu, pernah juga saya turut bakti social bersama Suster-suster dari Kongregasi OSF di Keuskupan Sibolga. Continue reading →

Stasi St. Paulus Huta Ginjang: “Menjaga Kerukunan untuk Pelayanan”

IMG_0669

gereja Stasi Huta Ginjang

Menjemaat berkesempatan menulis profil Stasi St. Paulus Huta Ginjang, pada Rabu (20 November 2019).

Ketua Dewan Pastoral Stasi, Bapak Luminta Simbolon menyampaikan bahwa salah satu dusun yang berada di kecamatan Sijama Polang, Kabupaten Humbang Hasundutan.

“Di Huta Ginjang ini, seluruh penduduk beragama Katolik. 100%,” ucapnya kepada Menjemaat.

Simbolon mengatakan gedung gereja Stasi Huta Ginjang sudah tiga kali direnovasi. “Untuk pembangunan gedung pertama sekali, dan rehab kedua, saya kurang ingat tahun berapa persisnya. Namun, gedung gereja yang sekarang adalah hasil rehab yang ke-tiga kali, yakni sekira tahun 2013,” kata bapak yang dipercaya menjadi pengurus stasi sejak tahun 1992.

“Sejarahnya, kurang paham kami. Namun, sejak mulai sebagai pengurus gereja, di situ lah kami berbagi pengalaman,” akunya.

Dia mengatakan, upaya renovasi teranyar berlangsung di bawah penggembalaan RP. Konrad Situmorang OFM Cap. “Biaya rehab gedung gereja ini kemarin menelan biaya setidaknya Rp700 juta.”

Wakil Ketua Dewan Stasi Huta Ginjang, bapak Manalu turut menimpali, stasi ini telah mempersembahkan mempersembahkan beberapa putra-putri nya sebagai Imam dan biarawan/ biarawati. “Di antaranya Pastor Bonifasius Simanullang OFM Cap, Pastor Adrianus Simatupang OFM Cap, Pastor Junius, Bruder Sumitro OFM Cap, Fr. Paulinus, dan sejumlah suster,” terang Manalu.

Menurut bapak Manalu, setiap kali pesta besar atau misa dipimpin Pastor, gedung gereja tidak akan cukup menampung umat yang hadir.

Keduanya sepakat bahwa keharmonisan antara pengurus dan umat amat dibutuhkan dalam karya pelayanan di Stasi Huta Ginjang.

“Saya pernah mendengar nasihat dari Pastor bahwa kami adalah dongan sada huria, sada huta, sada paradaton. Artinya, kami semua adalah masih satu dalam keluarga besar, baik di lingkup gereja, kampung dan adat,” katanya. “Semoga kerukunan dan kerjasama bisa lebih rukun lagi, agar tidak menghalangi karya pelayanan di stasi ini.”

(Ananta Bangun)

Mgr. Pius Datubara Berkati Gereja Paroki Parsoburan

IMG_0639

Misa pemberkatan gereja paroki Parsoburan dipimpin Mgr. Pius Datubara

Parsoburan, Menjemaat

Uskup Emeritus KAM, Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap, Minggu (17 November 2019), memimpin misa dedikasi Gereja Paroki St. Yoseph Parsoburan. Ratusan umat turut dalam persembahan ekaristi pemberkatan gedung gereja baru ini, bersama puluhan imam termasuk Parochus Paroki Parsoburan, RD. Bernardus Sijabat.

Dalam buku kenangan dedikasi gereja ini, Pastor Bernard menyampaikan, upaya pembangunan dimulai pada awal April 2016. “Lama dinanti 3,7 tahun lamanya selesai, tentu karena biaya yang selalu dalam pencarian, tidak ada dana yang terus bisa diandalkan,” ucapnya. “Banyak juga gereja ini disumbang oleh para donatur baik, dari sekitar maupun yang jauh dari paroki. Entah secara pribadi, keluarga maupun instansi. Serta melalui gotong royong umat dari kota Parsoburan.”

Bupati Toba Samosir, Darwin Siagian turut memberi apresiasi upaya panitia menyelesaikan pembangunan gedung gereja yang terletak di kecamatan Habinsaran. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Toba Samosir mengucapkan selamat pemberkatan Gereja Paroki Parsoburan. Pembangunan gereja ini tentunya membutuhkan pengorbanan, baik pikiran, waktu, tenaga maupun biaya yang tidak sedikit.”

Sementara, Uskup KAM, Mgr. Kornelius mendorong umat agar senantiasa menjadikan gereja paroki sebagai tempat perjumpaan dengan Allah. “Hendaknya kita sungguh memanfaatkan rumah Allah ini sebanyak mungkin. Itu semua sarana berjumpa dengan Allah. Karena bangunan yang kita resmikan ini adalah rumah Allah, maka seharusnya kita sebagai umat Allah menjaga kesakralan rumah ini,” tuturnya, sebagaimana dikutip dalam buku kenangan.

(Ananta Bangun)

IMG_0629

Parochus Parsoburan, RD. Bernardus Sijabat membuka pintu gereja paroki

Betlehem Ketaren: Semakin Larut dalam Karya Pastoral Komunikasi Sosial

Betlehem-Ketaren-dan-Istri-mengapit-Mgr-Kornelius-Sipayung

Betlehem Ketaren dan Istri mengapit Mgr Kornelius Sipayung (dok. Pribadi)

Mengangkat batu dari sungai guna pembangunan gereja itu mulia. Berbicara jelas guna pengembangan Gereja itu juga tak kalah mulianya. Namun bila kita diberi minat menulis, mengapa tidak? Mari mulai menulis, kalau tidak sekarang kapan lagi?” Demikian satu kata mutiara dituturkan oleh Betlehem Kataren dalam satu bincang dengan Komsoskam.com, Sabtu (2 November 2019), via media sosial.

Suami dari Helpina br. Tarigan, mengaku telah lama gemar akan dunia ‘membaca’ dan ‘menulis’. “Hobi tersebut menjadikan saya selalu mendapat rangking sewaktu bersekolah, saya juga mudah menuangkan isi hati dan buah pikiran, semisal: puisi, anekdot, berita maupun artikel. Di samping itu, kegemaran ini juga memudahkan saya bergaul dengan banyak orang,” ujar ayah dari Yolanda Sanjelitha br. Ketaren, Yoga Makarios Ketaren, Yosef Virgious Ketaren dan Yoandectus Ketaren.

Betlehem sehari-hari mengemban peran sebagai sekretaris DPPH St. Fransiskus Assisi Berastagi. Di ranah yang sama, dia juga dipercaya membantu pastor sebagai katekis dan koordinator Katekese Persiapan Perkawinan. “Saya juga mengampu sekretaris Yayasan Pusaka Karo. Selain itu, juga menjadi anggota Sinode VI KAM, dan selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan komisi-komisi: KOMKAT, KKS, KOMKEL, PSE, KOMEV dan terlebih juga KOMLIT di bagian Misale Romawi Karo,” imbuhnya.

Di tengah seabrek kegiatan tersebut, eks Dosen di Universitas Quality ini juga mengisi posisi Redaktur Pelaksana majalah KAM berbahasa Karo, Ralinggungi. “Disamping semua kegiatan-kegiatan itu semua, untuk menyekolahkan anak-anak dan menyejahterakan keluarga, saya bercocok tanam berbagai jenis bunga Krisan serta juga tanaman-tanaman hortikultura.”

Walau mulanya gagap dalam bidang komunikasi sosial, Betlehem tak patah arang untuk mempelajarinya. Malah, dirinya semakin larut dalam karya pastoral ini. “Ketika mulai kuliah di luar Sumatera Utara, saya sangat menyadari kekurangan saya di bidang komunikasi sosial. Ketika disuruh diskusi kelompok apalagi membuat tugas kelompok, saya selalu kewalahan sebab merasa kurang sekali membenahi diri di bidang yang satu ini,” katanya. Continue reading →

Sr. Seraphine: Menulis Cerpen Dengan Tangan yang Tak Patah

Sr Seraphine Manik KYM

Sr Seraphine Munthe KYM (dok. Pribadi)

Komsoskam.com – Medan, “Cerpen ‘Bangku Kosong’ yang dimuat di majalah Menjemaat adalah karya fiksi pertama saya. Saya sangat bahagia, bisa dimuat,” tutur Sr. Maria Seraphine Munthe KYM dalam satu kesempatan bincang dengan Komsoskam.com, Kamis (24 Oktober 2019).

Dia mengaku, belum pernah belajar keahlian literasi tersebut dalam pelatihan khusus. “Saya menyadari talenta menulis fiksi, saat guru menyuruh kami meresensi sebuah novel,” kenang alumni SMA Negeri 1 Tiga Baru, Sumbul.

Usai membuat resensi, Sr. Seraphine tergugah untuk menuliskan satu kisah percintaan. “Saya kemudian beri ke beberapa teman untuk dibaca. Dan mereka memuji. Wah, saya pun kembali tergerak menulis dengan tangan satu kisah lagi di buku catatan yang sama,” ujarnya, seraya menambahkan semakin banyak yang tertarik membaca cerita di buku tersebut. Hingga tidak pernah lagi kembali pada empunya semula. Continue reading →

Fr. Heru: Jadi Penulis Itu Mengasyikkan!

Fr Nicolaus Heru

Fr Nicolaus Heru (dok. Pribadi)

Komsoskam.com – Medan, Fr. Nicolaus Heru Andrianto sedang menekuni panggilan sebagai calon imam diosesan untuk Keuskupan Tanjungkarang, di Seminari Tinggi St Petrus Pematangsiantar.  Saat ini masih menempuh pendidikan Teologi di STFT St Yohanes Pematangsiantar.  Di sela-sela aktivitas studi, menikmati dunia tulis-menulis ke beberapa media, lokal dan nasional. Baginya menulis adalah salah satu sarana merawat keabadian.

“Menjadi penulis itu mengasyikkan. Saya mendapat banyak sahabat dengan menulis, meski belum bertatap muka. Namun saya meyadari jaringan persaudaraan juga diperluas. Dengan menulis ide-ide senantiasa mengalir. Sebab saya pernah mencoba untuk tidak menulis, justru ide juga serasa sirna dari keseharian. Maka untuk menjaga hal itu saya akan terus menekuni dunia tulis menulis,” katanya kepada Komsoskam.com via Whatsapp, Senin (24 Oktober 2019).

Saat ini, Fr. Heru dipercaya mengemban peran Pemimpin Redaksi Majalah Petra. “Ini adalah majalah komunikasi yang diterbitkan oleh Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar untuk media pewartaan dan sarana berefleksi bagi para frater, calon imam diosesan region Gerejawi Sumatera,” ucapnya.

Dia menjelaskan, majalah Petra mencoba eksis di tengah gencarnya media online yang setiap saat diakses. “Media ini terbit triwulan sekali. Kendati masih dalam bentuk media cetak, media ini menjadi wadah yang hendak dikembangkan sebagai sarana pastoral menyapa umat Allah. Tema yang disajikan juga tidak hanya seputar Seminari, melainkan Gereja Universal dalam segala dinamikanya.”

Bagi Calon Imam Diosesan Keuskupan Tanjung Karang tersebut, Majalah Menjemaat sebagai media komunikasi di Keuskupan Agung Medan memberi warna tersendiri bagi para frater di Seminari Tinggi.

“Kehadiran Menjemaat juga menambah kekayaan pengetahuan bagi para frater terkait majalah lokal yang harus disimak dan dibaca, apalagi sebagai calon imam diosesan yang akan berkarya di keuskupan. Mengapa demikian? Majalah menjemaat juga mengulas situasi dan peristiwa yang terjadi di seputar keuskupan Medan.  Maka informasi dari media ini harus dibaca dan disadari sebagai bentuk kecintaan terhadap keuskupan dan pastoralnya bagi umat Allah,” imbuh Fr. Heru.

Menurutnya, meski di tengah perkembangan media online, media cetak hendaknya tetap berjuang untuk tetap eksis. “Memang ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pengelola. Namun kita patut bersyukur dengan media semacam ini kita bisa menyapa banyak umat yang ada di berbagai tempat.”

Melalui Komsoskam.com, Fr. Heru juga berbagi kata mutiara yang selalu dia tularkan dalam berbagai kesempatan. “Tarikanlah pena kehidupanmu dan buatlah dunia tersenyum. Ini menjadi usaha dan daya juang, agar setiap peristiwa menjadi sarana pewartaan, lebih-lebih hal baik yang kiranya bisa memberi pengaruh positif demi kemajuan banyak orang, juga dunia. Bagi orang muda di mana saja Anda berada, ringankanlah tangan Anda menorehkan sejarah keabadian dengan menulis,” pungkasnya.

(Ananta Bangun)

Kelas Literasi Pacu Novis KSSY Hasilkan Karya Tulis

Kelas Literasi yang telah diadakan di Novisiat KSSY Medan

Kelas Literasi yang telah diadakan di Novisiat KSSY Medan

Sr. Kornelia Tumanggor KSSY, merupakan formator di Novisiat KSSY Medan. Sejak Juli 2019, Suster Kornel dan Komisi Komsos KAM menginisiasi Kelas Literasi bagi Novis KSSY. Kelas ini utamanya mengajarkan keahlian berkomunikasi di bidang menulis dan presentasi.

“Sungguh menyenangkan mengikuti perkembangan para Novis dalam Kelas Literasi. Sebelumnya, para novis merasa enggan jika diserahi tugas menulis karena minimnya penguasaan bahasa baku. Mungkin ada juga pengaruh kebiasaan bertutur di aplikasi bincang daring hingga SMS. Namun kini mereka semakin semangat menulis,” terang biarawati asal Salak, Pakpak Bharat.

Dampak baik lainnya, menurut Suster Kornel, adalah keteraturan tata bahasa. “Dari angkatan novis sebelumnya, ada yang malas menuliskan pengalaman hidupnya setiap hari. Sekarang, mereka telah mengetahui kiat menulis yang baik. Sehingga sekarang ada kemajuan dan cara penulisan makin terarah lebih baik,” ucapnya kepada Komsoskam.com di Medan, Jumat (18 Oktober 2019). Continue reading →

Warisan Semangat Pastoral Komunikasi Sosial dari Dekrit Inter Mirifica

dokumen Inter Mirifica lahir dari Konvisi Vatikan II

dokumen Inter Mirifica lahir dari Konvisi Vatikan II

Di antara penemuan yang mengagumkan. Demikian lah frase awal dari Dekrit Inter Mirifica (4 Desember 1963), salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yang dinamakan sesuai penggalan awal paragraf pembukanya.

Frase tersebut adalah ungkapan kagum atas kemampuan teknologi komunikasi dan informasi di zaman Konsili Vatikan II. Di antaranya: telepon, radio, media cetak (seperti koran dan majalah), hingga televisi hitam-putih. Ya, benar. Bahkan pada masa itu, para bapa konsili telah membaca tanda zaman, secara khusus perihal teknologi tersebut.

Kekaguman tersebut atas kemampuan teknologi komunikasi dan informasi menembus batas waktu dan tempat, hingga daya-nya untuk menggerakkan massa (sejumlah besar insan). Sebab kemampuan itu, Gereja kemudian mencetuskan istilah ‘Komunikasi Sosial’. 

Dan, atas dasar itu juga, Inter Mirifica dibuat. Yakni, pada upaya-upaya komunikasi sosial yang pada hakikatnya mampu mencapai dan menggerakkan bukan hanya orang perorangan, melainkan juga massa.

Gereja menyadari bahwa media komunikasi sosial dapat bermanfaat untuk mewartakan kabar gembira, terutama bila digunakan secara tepat. Namun Gereja juga cemas apabila manusia cenderung menyalahgunakannya. Media berwajah ganda. 

Gereja memandang sebagai kewajibannya, untuk juga dengan memanfaatkan media komunikasi sosial menyiarkan Warta Keselamatan, dan mengajarkannya, bagaimana manusia dapat memakai media itu dengan tepat.

Konsili mendukung sepenuhnya perhatian dan kewaspadaan Paus dan Uskup dalam perkara yang penting ini. Sekaligus percaya bahwa ajarannya akan berguna, tidak hanya bagi umat Katolik tetapi juga bagi masyarakat umum. Continue reading →