Umat Tak Punya Minat Baca (catatan #2)

Ketua STP Deli Tua Paulinus Tibo membaca majalah Menjemaat (Copyright: Komsos KAM)

Sepertinya sungguh lama jarak waktu untuk kelanjutan tulisan ini. Semoga bisa dilanjutkan dengan teratur.

Aku sengaja membuatnya seringkas mungkin per catatan, agar mudah menyerap dan memahaminya.

Aku kira membaca adalah bagian dari hidup manusia. Penemuan huruf lah yang mencipatakan masa ‘sejarah’. Sebelum mengenal huruf/ tanda baca lazim disebut ‘pra sejarah’.

Membaca tulisan sama dengan merawat sejarah itu sendiri. Mari perhatikan, sejarah mana yang terpelihara dengan cara ‘lisan’ atau ‘omongan’. Jika pun masih ada, besar kemungkinan sudah berubah-ubah.

Di ranah Gereja Kristen sendiri, tanpa adanya Alkitab, tentu sungguh sulit mewartakan sabda Allah. Bagaimana para misionaris dahulu mendorong umat agar takzim membaca Kitab Suci? Bagaimana jika menyerah dan berujar dengan sesamanya: “Umatu di sini tak punya minat baca”?

Apa yang benar-benar kita tinggalkan?

Dipinjam dari: Pexels.com

Sekarang orang-orang sudah tak suka membaca panjang lagi.

Pernyataan itu meluncur deras dari seorang teman, usai kami makan siang. Sepertinya dia hendak mengetuk vonis bahwa buku dan atau apa pun yang ditulis dengan jumlah kata banyak, sudah usang. Ditinggalkan.

Aku tercenung. Memang ndak tahu mau memberi jawaban apa.

Dua minggu berselang, seorang Imam menyatakan pendapat senada. Malah, langsung menahbiskan bahwa video akan menjadi hal lumrah untuk menyampaikan laporan hingga pendapat dalam organisasi maupun lembaga. Continue reading →

Tatkala Penulis Terkena Penyakit ‘Writer’s Block’

dipinjam dari: http://www.pexels.com

Writer’s block adalah ‘penyakit’ yang paling ditakuti penulis. Sebab ketika dilanda ‘penyakit’ ini, gagasan sang penulis mandek. Tidak satu pun kata atau kalimat mengalir untuk digores di kertas atau diketik via papan tuts. Bila sudah mengalami tulah seperti ini, kemanakah sang penulis hendaknya mengadu?

Sebagaimana hal nya tatkala berobat ke klinik, dokter tentu akan mencari tahu penyebab munculnya penyakit. Ini lah pertama yang patut kita ketahui sebagai insan yang “terkutuk” sebagai penulis.

Molly Cochran, penulis trilogi novel The Forever King, mengatakan bahwa writer’s block bisa muncul karena lima sebab, antara lain: Continue reading →

Melirik Arti Kebahagian di Negeri Seberang

dipinjam dari Youtube.com

dipinjam dari Youtube.com

Aku mula aku mengetahui tentang buku “The Geography of Bliss” adalah dari buku “KelaSelasa“-nya Bagja Hidayat. Si jurnalis senior Tempo memuji tulisan Eric Weiner, dalam mengisahkan perjalanannya (sebagai penggerutu) yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan.

Banyak temuan yang mengejutkan hingga mengernyikan dahi. Seperti peraturan di negara Swiss yang melarang kegiatan “menyiram jamban” pada jam tertentu, dan kebahagiaan mereka yang terpatri pada toilet yang bersih. Atau bagaimana Islandia — negara yang nyaris tak pernah disinari matahari sepanjang tahun — justru termasuk paling berbagia di dunia. Moldova sebagai negara paling tak bahagia, dan beragam hal lainnya. Utamanya, Weiner menemukan falsafah kebahagiaan berbeda-beda di setiap tempat.

Aku sempat penasaran ingin kirim pesan ke Weiner, jika dia berniat tulis seri ke-II buku ini hendaknya coba keliling juga ke Indonesia, setidaknya di Sumatera Utara. Kemungkinan dia akan temukan kebagiaan di sini adalah makan bersama.

Buku ini mengasah daya khayal membayangkan segala pengalaman Weiner, sebab seluruhnya ditulis dalam aksara. Namun, sebagaimana disebut Bagja dalam bukunya, Weiner bagai memanggul kamera bagi pembaca. Setiap rentetan dialog dan peristiwa ditulis bernas dan menarik (serta gerutuannya yang memenuhi nyaris setiap halaman).

Adalah baik (malahan penting) untuk rajin membaca karya tulis seperti ini. Selain menguatkan konsentrasi berpikir, juga turut menjadi teladan dalam belajar menulis panjang. Dua kemampuan literasi yang semakin pudar belakangan ini. Continue reading →

MEMBACA TANPA ‘TUJUAN’, SAMA DENGAN TIDAK MEMBACA

Copyright: Pexels

Daya sebuah tulisan adalah kemampuannya menjelajah ruang dan waktu tak terhingga. Ini kurasakan, ketika berbincang dengan Romo Constantius dalam perjalanan menuju Bandara Tjilik Riwut — sepulang meliput PKSN-KW, 13 Mei 2018 lalu. Imam Diosesan dan Ketua Komisi Komsos Keuskupan Palangka Raya, menerima gagasan agar kami merintis sebuah tulisan berseri tentang Kiat Menulis. Harapannya, tentu agar lebih banyak umat berminat menulis untuk media milik keuskupan tersebut.

Aku dengan senang hati memberi kiat literasi ini sejauh kemampuan yang kumiliki. Dalam satu cengkerama bersama pendiri Indonesia Menulis, Budi Soetedjo, menyampaikan kekeliruan mengajarkan umat menulis adalah tidak dimulai dengan belajar membaca. “Baik jika kita awali memberi kiat membaca. Maksudnya, bagaimana menikmati bacaan itu sendiri,” katanya. Kukira bapa Budi ada benarnya juga.

Maka aku kembali merujuk pada buku dan modul pelatihan BacaKilat yang pernah diajarkan pendirinya, Agus Setiawan. Mengingat pengalaman saat menuliskan ulasan tentang metode ini, ternya banyak teman yang mengaku pusing dan tidak mengerti. Aku mencoba mengilhami nasihat mas Kristinus Munte, mentor-ku: memaparkan dengan lebih sederhana lagi. Demikianlah tulisan ini pun berkelana dari kediamanku di Medan, menuju perangkat komunikasi Romo Gatot di pulau Kalimantan. Aku berharap, tulisan ini dapat juga menjadi ilham dalam penulisan buku berikutnya. Amin

 

***

Komedian Cak Lontong beberapa kali mengucapkan lelucon tentang membaca buku: “Saat masuk ruangan ini, ada seorang yang tengah menangis saat membaca buku. Ketika saya dekati dan perhatikan, ternyata dia sedang membaca buku tabungan.” Canda tersebut pun kerap disusul derai tawa.

Petikan kalimat lucu itu, pernah juga kuceritakan sebagai pembuka diskusi tentang pentingnya kemampuan dan minat membaca. Aku mulai menyadarinya saat mengikuti pelatihan BacaKilat oleh pendirinya, Agus Setiawan di Medan pada tahun lalu. “Dengan membaca buku, pengalaman si penulis selama bertahun-tahun, dapat kita kuasai dalam tempo lebih singkat,” ujar Agus tentang satu dari banyak manfaat membaca buku.

“Namun, ada satu hal yang perlu kita ketahui sebelum membaca,” katanya. “Yaitu, punya tujuan pada buku atau materi yang hendak dibaca.” Continue reading →

MENGUKUR DIRI

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Aku pertama kali mengetahui ‘keahlian’ ini melalui buku “Bacakilat for Students.” Mas Agus yang murah hati, memberiku kesempatan untuk menggali pengetahuan ini dalam satu workshop di Medan. Sesudahnya, aku dan alumni workshop lainnya, kerap mendapat pendampingan via grup media bincang – Whatsapp. Kemarin, aku melirik satu kiat yang dia bagikan. Menurutku, sangat menarik dan sarat ilham. Setelah mendapat perkenannya, aku memuat tips tersebut menjadi sebuah artikel di blog ini.

Semoga kiat ini melahirkan inspirasi senada bagi pembaca juga.

***

Copyright: Pexels.com

Selalu kita dengar ungkapan “Rumput Tetangga lebih hijau”.

Ungkapan ini sangat mendalam dan merupkan aspek psikologis yang menjadi semacam budaya.

Dari mana ini berasal?

Banyak sudut pandang yang bisa kita ambil. Kali ini saya ingin membahas dari sudut parenting. Seringkali orangtua membandingkan anaknya dengan anak lain. “Tuh, dia bisa begini begitu lho. Kamu juga harus bisa.”

Ini halus. Tapi ini akan membentuk program yang berjalan bisa selamanya. Dia akan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Bukan membandingkan diri dengan dirinya sendiri.

Intermeso: sebenarnya orangtua ini tidak adil. Dia sendiri ga mau dibandingkan sama orang lain. Mana mau seorang istri dibilang sama suaminya, kamu kok ga seperti istri yg sono? Ngamuk. Wakaka Continue reading →

Menumbuhkan Hidup ‘Membaca Kitab Suci di Keluarga Katolik’ Keuskupan Agung Medan

(ki-ka): Kosman Manik, Fernando Tarigan, Yupen Pandiangan

Alkitab kita kenal sebagai Sabda Allah, maka melalui Kitab Suci ini, kita percaya Allah berbicara dan mengajar kita. Oleh karena itu, kita melihat dokumen pengajaran Gereja dipenuhi oleh kutipan ayat Kitab Suci sebagai sumbernya, sebab memang Gereja menyadari bahwa melalui Kitab Suci, Allah Bapa menjumpai anak-anak-Nya, untuk memberi pengajaran bahwa Sabda-Nya merupakan sumber kekuatan iman.

Dalam poin ke-dua Indikator Keberhasilan dari Fokus Pastoral Keuskupan Agung Medan (KAM) tahun 2017, menyebutkan: “100% keluarga Katolik membaca Kitab Suci di rumah minimal dua kali seminggu.” Semangat ini tentu merupakan ajakan bagi semua umat yang ingin mengenal Kristus secara lebih dalam. Sebagaimana petuah dari St. Jerome, kalau kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita tidak mengenal Kristus.

Empat paroki – diwakili oleh Seksi (terkait) Kitab Suci masing-masing – dalam sajian utama ini mengutarakan program, tantangan dan harapan untuk mewujudkan Fokus Pastoral KAM 2017. Secara khusus agar keluarga Katolik di keuskupan ini, hidup dalam doa dan membaca Alkitab sekeluarga.

Sejumlah pendekatan kreatif dan program rutin dilaksanakan oleh Seksi Kitab Suci di masing-masing paroki tersebut. Sebagai misal, Koordinator Seksi Kerasulan Kitab Suci (KKS) Paroki St. Mikael Pangururan, Kosmas Manik mengatakan, pihaknya telah dua kali mengadakan program Kursus Kitab Suci. “Antusiasme para peserta mengikuti kursus tersebut sangat besar. Bahkan, mereka menginginkan diajari agar mampu membuat khotbah,” ujarnya. “Tetapi hal itu tidak mungkin mereka peroleh, karena ini adalah kursus dasar. Peserta hanya dibekali pengenalan Kitab Suci, cara membaca KS dengan benar dan pengenalan tentang liturgi gereja.”

Dia mengatakan kegiatan, yang melibatkan peserta dari 68 stasi, ini bekerjasama dengan Tim Komisi KKS KAM. “Bukan karena tidak sanggup mengadakannya sendiri, tetapi menurut pemikiran kami lebih pas kalau bersama dengan Tim KKS keuskupan,” ujar bapak yang menjabat Ketua Dewan Pastoral Stasi Boho. Continue reading →

BACAKILAT

Master Trainer Bacakilat, Agus Setiawan | Copyright: Aquarius Learning

Mulanya saya mengetahui istilah Bacakilat dari buku “Bacakilat for Students” karya Agus Setiawan dan Juni Anton. Cukup lama saya memutuskan untuk membaca buku ini, meski beberapa kali meliriknya di rak toko buku Gramedia. Tepatnya pada tahun 2016, saya akhirnya membeli dan mulai menukil benda bersampul dominan biru langit tersebut. Berpuluh kali membaca buku ini (tanpa pernah menerapkan inti sistem Bacakilat), saya mulai memahami secuil. Satu yang paling mengesankan adalah ‘Menetapkan Tujuan’. Tentang betapa kelemahan umumnya orang Indonesia ialah tak kuat menancapkan komitmen untuk meraih tujuan.

Berangkat dari pemahaman sedikit tadi, saya menumpuk rasa penasaran untuk ‘mendengar’ langsung dari peracik sistem Bacakilat ini. Lewat tempo setahun, pada April 2017, saya menemukannya dalam lini masa Facebook: “Seminar Bacakilat 3.0 di kota Medan”. Wah. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Seantusias banteng liar, saya mulai menggandeng beberapa rekan sejawat serta Istri saya, Eva Susanti Barus untuk turut dalam acara tersebut.

Satu ide kemudian terbersit dalam benak saya, bagaimana jika penelusuran untuk belajar sistem Bacakilat ini dituangkan menjadi sebuah tulisan. Meski tak sama hebat, setidaknya saya juga bisa belajar gairah dan gaya meliput Malcolm Gladwell maupun mas Andreas Harsono. Saya bersyukur karena pionir Bacakilat, Agus Setiawan menyambut baik permohonan saya (padahal disampaikan secara lisan). Malah, Master Trainer dan juga Pimpinan Aquarius Learning itu bermurah hati memberi saya ‘kursi’ ikut dalam Workshop Bacakilat 3.0, angkatan ke-158 di Medan, pada 20 Mei 2017.

Setelah bimbang memilih sudut pandang, saya putuskan menulis dalam pengalaman saya sendiri. Sungguh beresiko mengambil perspektif secara umum, sebab belum tentu ‘apa yang saya pandang berhasil pada diri saya, berlaku juga bagi orang lain’. Meski demikian, inspirasi positif layak mendapat ruang di hati setiap insan. Sebab buku yang baik sudah pasti ‘positif’ AIDS atawa Aku Ingin Dibaca Sekarang. Tabik.

***

Agus Setiawan seorang murah senyum dan senang humor. Walau berbadan agak tambun, dengan lincah dan penuh energi dia memberi materi dalam Seminar Bacakilat 3.0, pada (Sabtu) 6 Mei 2017 di Hotel Grand Mercure Maha Cipta Angkasa – Medan. Gerak lincah itu mungkin disebabkan gaya hidup vegetarian yang dianutnya selama puluhan tahun. “Memang benar kok. Jangan percaya lagi dengan slogan ‘4 Sehat, 5 Sempurna’, karena itu dicetuskan oleh Dinas Peternakan. Bukan Dinas Kesehatan,” tutur bapak dua anak ini, disambut gelak tawa hadirin.

Namun, para hadirin datang bukan untuk mendengar gaya hidup sehat Agus. Mereka hendak menagih janji-janji yang ditawarkan oleh Bacakilat.   Diantaranya: “Menguasai Buku Apapun yang Anda Inginkan”, “Membaca 1 detik/ halaman”, serta “Mencapai 100% Tujuan Membaca”. Semua itu diladeni dengan sebuah terobosan belajar yang disebut Agus sebagai Brain Based Learning.

Continue reading →