Gallery

“Voice of Peace” Lewat Katekese Udara

HIDUPKATOLIK.com – Radio bukan media untuk mencari keuntungan semata tetapi sebagai media pewarta Kabar Gembira dan memberi pesan damai lewat program yang ditawarkan kepada para pendengar.

“Dari lantai lima Gedung Catholic Center Medan, kami mengudara menyapa Anda. Inilah Radio Maria Medan, 104.2 MHz FM. Halo sahabat Maria, ketemu lagi dengan saya Sr Richarda Bangun SFD di program “Songs and Short Stories”. Pada hari Sabtu, hari yang sangat ditunggu kawula muda. Info pagi ini harus sahabat Maria tahu. Kalau belum sempat mengikuti bisa live streaming siaran di http://www.radiomaria.co.id.”

Begitu suara samar Sr Richarda yang terdengar dari Studio Radio Maria Medan. Dari ruangan ini, sejuta pesan Bunda Maria disampaikan kepada seluruh umat Katolik khususnya di Keuskupan Agung Medan.

Sr Richarda membacakan beberapa berita sekaligus menghadirkan lagu-lagu rohani bagi para pendengar. Program “Songs and Short Stories” menjadi salah satu program yang digemari kawula muda dan sahabat Maria.

Continue reading
Gallery

Pusat Perawatan Dan Pemulihan Adiksi Narkoba “Rumah Kita”:TIDAK SEKEDAR RUMAH PEMULIHAN

Suster Yovita bersama Frater Kapusin memimpin kegiatan bersama Residen Rumah Kita
Suster Yovita bersama Frater Kapusin memimpin kegiatan bersama Residen Rumah Kita (dok. Pribadi)

Pada tahun 2013, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengeluarkan Surat Gembala yang bertajuk “Jadilah Pembela Kehidupan! Lawanlah Penyalahgunaan Narkoba!” Surat Gembala ini ditandatangani Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jenderal KWI (masa itu), Mgr Johannes Pujasumarta. Dokumen yang diterbitkan usai studi para uskup seluruh Indonesia ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan yang mendalam atas semakin luasnya penyalahgunaan narkoba di negeri ini.

Poin terakhir dalam Surat Gembala ini menekankan pentingnya Rehabilitasi. Gereja Katolik memandang bahwa terhadap korban penyalah-gunaan narkoba harus dirawat hinggah pulih. Alih-alih hukuman penjara yang tidak menjadi pemecah masalah, upaya memulihkan korban sebaiknya diberikan di rumah rehabilitasi yang dikelola secara benar dan bertanggung jawab.

Dalam Surat Gembala inilah ditemukan keselarasan misi BNN dan karya kasih Gereja Katolik agar pengguna narkoba dilayani di rehabilitasi dengan pendampingan medis, psikologis, dan rohani. Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) Medan tergerak mewujudkan pesan tersebut, dengan mendirikan pusat perawatan dan pemulihan adiksi narkoba “Rumah Kita”. Layanan rehabilitasi ini menjadi oase di tengah derasnya penyebaran narkoba yang mengancam generasi muda bangsa.

“Rumah Kita”diresmikan oleh Uskup Agung Medan (kala itu), Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, pada 28 Oktober 2014. Prosesi peresmian disaksikan sang penggagas, Sr. Ignasia Simbolon KSYY serta sejumlah pejabat pemerintahan. Termasuk diantaranya perwakilan Badan Narkotikan Nasional (BNN) Sumatera Utara. Continue reading

Gallery

Majalah Ralinggungi, “Bukan Perwartaan Biasa”

RP Karolus OFMCap diabadikan bersama pembaca setia Ralinggungi di Paroki Tiga Binanga
RP Karolus OFMCap diabadikan bersama pembaca setia Ralinggungi di Paroki Tiga Binanga (Sumber; Betlehem Ketaren)

Kehadiran media dalam pelayanan pastoral dapat menjembatani saluran informasi maupun katekese-katekese singkat. Pastor Ignatius Simbolon, OFMCap ketika menjadi Parochus di Paroki St. Fransiskus Assisi, Berastagi, Medan pada tahun 2008, menyadari peran tersebut dalam upaya pengembangan komunitas basis Gereja.

Setahun kemudian ide muncul ide untuk membuat buletin paroki. Usul ini pun disambut dengan sangat antusias. Tak lama setelah itu, buletin paroki pun terbit. Bentuk cetakan pertama buletin itu terdiri dari dua lembar folio yang difotokopi. Buletin awal ini diberi nama Gema Paroki.

 

Bahasa Ibu

Awalnya Gema Paroki dikerjakan bersama oleh Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Harian Paroki St. Fransiskus Assisi Berastagi, Medan Betlehem Ketaren bersama Pastor Paulus Silalahi, OFMCap (yang saat itu menjalani tahun orientasi Pastoral) dan Pastor Ignatius. Tema-tema tentang katekese mendominasi tulisan-tulisan awal buletin. Untuk menggarap tema katekese, Pastor Paulus menuangkannya dalam rubrik “Cerita, Pesan dan Katekese Singkat”. Sedangkan Pastor Ignatius bertanggung jawab atas rubrik “Sapaan Pastor Paroki.”

Pada penerbitan kedua di bulan Agustus, Betlehem ditugaskan oleh Pastor Ignatius untuk membuat majalah dalam bahasa Karo. Bahasa ini digunakan oleh suku Karo yang yang mendiami Dataran Tinggi Karo (Kabupaten Karo), Langkat, Deli Serdang, Dairi, Medan, hingga ke Aceh Tenggara di Indonesia.

Hal ini mengingat pesan Uskup Emeritus Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap. Sang Uskup melihat perlunya disediakan bacaan-bacaan rohani yang ditulis dalam bahasa Karo. Dia melihat perkembangan umat Katolik di Keuskupan Agung Medan (KAM) sungguh signifikan. Perkembangan ini terjadi juga di kalangan umat berbahasa Karo.

Betlehem menjelaskan, beberapa daerah yang mengalami pertambahan umat di antaranya ada di Lawe Desky, Lau Baleng dan Deli Tua. Daerah ini mayoritas umat Katolik berbahasa Karo. Dia mengatakan, tanpa pendekatan dan peneguhan yang terus-menerus, ini bisa menjadi bumerang, mereka bisa saja ‘pindah ke lain hati’. “Di titik ini lah hendaknya media turut menampilkan perannya,” ujarnya.

Akhirnya Gema Paroki pun ditulis dalam bahasa Karo. Dengan perubahan ini, maka namanya pun diganti menjadi Ralinggungi, yang berarti ‘menggemakan’. Nama ini dipilih karena dekat dengan umat dan menjadi corong pewartaan dari Paroki Berastagi. Betlehem menjelaskan, perubahan nama media ini juga diiringi perubahan bentuk cetakan menjadi majalah dengan jumlah halaman lebih banyak (28 halaman).

Dengan beban yang semakin banyak, maka Redaksi Ralinggungi juga memerlukan lebih banyak tenaga. Beberapa anggota baru pun direkrut. Mereka berasal dari Seksi Katekese, Seksi Liturgi, Seksi Kitab Suci dan sebagian dari Anggota Dewan Paroki Berastagi.

Ralinggungi diterbitkan hingga sekitar 500 sampai 750 eksemplar setiap kali terbit. Sejak Pastor Ignatius diangkat menjadi Vikaris Episkopal St. Yakobus Rasul Kabanjahe pada 12 Juni 2011, cakupan edar Ralinggungi semakin luas.

Pada masa itu peredarannya mencakup sembilan paroki yang umatnya berbahasa Karo. Selain Paroki Berastagi, Ralinggungi beredar juga di Paroki Bandar Baru, Paroki Santa Perawan Maria Kabanjahe, Paroki Santo Petrus-Paulus Kabanjahe, Paroki Sta. Monika Tiganderket, Paroki St Fransiskus Assisi Saribudolog, Paroki St. Damian Lau Baleng, dan Paroki St. Yosef Lawe Desky.

Sebagai media dengan karakter pewartaan Gereja Katolik, Ralinggungi mewartakan ajaran-ajaran pokok Gereja. Ralinggungi menawarkan rubrik berupa tema liturgi tahunan serta liputan ragam peristiwa seputar Gereja KAM. Beberapa rubrik pun bertambah dengan rubrik Pulungen Tawar (Tips Kesehatan), Bahan Perpulungen (Bahan Doa Lingkungan), dan Jambur Kilajar (Balai Budaya). Setiap pesan dari Uskup Agung Medan juga tak pernah lupa menjadi tema yang ditampilkan.

Continue reading