ORANG MUDA KATOLIK (OMK) BIJAK MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

Artikel untuk Materi Presentasi 
dalam Literasi Komunikasi Sosial di Paroki St. Yoseph – Tebing Tinggi
Tebing Tinggi, 23 Juni 2019

 

keluarga candu internet

Pendahuluan

Perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya, Ananta Bangun. Seorang penulis dan pegawai di Komisi Komunikasi Sosial (KomSos) – Keuskupan Agung Medan. Saya beroleh kesempatan untuk menyampaikan materi ini melalui pihak Paroki Tebing Tinggi dan panitia, yakni Romo Evo OSC.

Suatu kehormatan bisa terlibat sebagai pemateri dalam kegiatan literasi di Paroki Tebing Tinggi ini. Sebab, perihal komunikasi menjadi bagian karya kami. 

Melalui perbincangan via Whatsapp dengan Romo Evo, saya mendapati bahwa topik yang hendak dikaji ialah mengenai pemanfaatan media sosial bagi kalangan Orang Muda Katolik di Paroki Tebing Tinggi. Saya coba berbagi seturut pengetahuan dan pengalaman karya di Komsos KAM.

Continue reading →

PERTANYAAN TERBUKA

Ilustrasi dari Pexels.com

Bagi para penulis, bertanya merupakan cara dasar untuk mengumpulkan informasi. Namun, tentu saja dibutuhkan pemahaman mengenai kiat bertanya. Dalam ranah komunikasi, kiat bertanya terbagi dua: pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.

Apa perbedaa kedua kiat bertanya tersebut? Pertanyaan tertutup adalah mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab singkat. Biasanya, pertanyaan tertutup digunakan untuk mendapatkan hanya fakta dan potongan informasi tertentu.

Contoh pertanyaan tertutup adalah sebagai berikut:

“Siapa yang akan Anda pilih?”

“Apa merek mobil Anda?”

“Apakah kamu tahu dimana rumah bapak Barus?”

“Semua kuenya sudah dimakan habis?”

 

Sementara, pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban penuh yang menggunakan pengetahuan atau perasaan narasumber. Pertanyaan terbuka bersifat objektif dan menghasilkan jawaban yang terdiri dari banyak kata.

Contoh pertanyaan terbuka adalah sebagai berikut:

“Bagaimana pendapat orang-orang tentang kue tersebut?”

“Ceritakan tentang pekerjaan Anda hari ini.”

“Bagaimana pendapat Anda tentang tempat wisata baru tersebut?”

“Mengapa sistem masuk tempat ini menggunakan kartu khusus?”

Continue reading →

Petuah Sukses & Bahagia a la Les Giblin

Ada banyak petuah cara merengkuh sukses dan kebahagiaan. Ya, kita bisa melihatnya dalam rupa tumpukan buku di meja perpustakaan maupun toko buku. Atau iklan seminar dan siaran yang menjejal pada halam koran, majalah hingga berbagai media sosial. Dan sekarang satu buku Les Giblin telah berhasil ‘mencolek’ perhatianku.

Buku ini menarik saat satu bukaan acak aku menemukan ini: “Seni menjadi orang yang pandai mengobrol adalah pada kemauan untuk memberi kesempatan kepada orang lain dan membuat mereka berbicara. Jika Anda dapat mendorong orang lain untuk berbicara, Anda akan memperoleh reputasi sebagai orang yang pandai mengobrol dengan orang lain. Jika Anda dapat membuat orang lain terus berbicara, tidak ada cara yang lebih baik untuk membuatnya terbuka terhadap Anda dan ide-ide Anda.”

Wah! Sungguh bertolak belakang dengan kebiasaan-kebiasaanku selama ini. Sesuatu yang ‘mendobrak’ kebiasaan tentu punya nilai tersendiri. Buku seukuran saku dengan sampul berlatar kuning ini pun masuk uluran kasir yang tersenyum. Berkat ukurannya, ini saatnya menerapkan teknik Bacakilat besutan mas Agus Setiawan. Continue reading →

JIKA AKTIVIS GEREJA ‘BERMAIN’ MEME

PENDAHULUAN

Mulanya saya bernasib mujur dapat buku murah di gerai terbuka Toko Buku GRAMEDIA Jl. Gajah Mada – Medan, pada Januari 2017. Judulnya: “VIRUS AKALBUDI: Ilmu Pengetahuan Baru tentang Meme”.

Tak lama berselang, perhatian saya terpancing meme (dibaca: mim) yang di lini masa Facebook milik Komisi Kepemudaan KAM, yakni gambar yang menjadi pembuka artikel ini. Sebagai pegawai di Komisi Komunikasi Sosial KAM, saya mengenal baik beberapa rekan di komisi tetangga tersebut.

Sepertinya ‘gayung bersambut’, walau kami tidak perlu repot membawa gayung milik masing-masing. Maka saya bercengkerama sejenak dengan Novenita apakah Pastor Alex berkenan bila saya wawancara untuk satu tulisan panjang untuk blog pribadi. E-mail permohonan saya kemudian disambut Pastor Alex.

Sembari menerjemahkan kembali hasil wawancara dengan Pastor Alex, saya disambangi (tanpa sengaja) oleh Vinsensius Sitepu. Seingat saya, dia pernah menuliskan tentang meme dalam artikel analisis di majalah kajian media DICTUM. Saya diselamatkan arsip blog DICTUM di WordPress, sebab cetakan majalah itu mungkin saja sulit diperoleh saat ini. Saya semakin mujur, karena Vinsensius berkenan saya kutip pendapatnya. (Mungkin Vinsen akan bereaksi berbeda, jika saya kutip penghasilannya).

Komisi Kepemudaan KAM, Pastor Alex, Vinsensius dan buku Brodie setidaknya memberi saya pencerahan tentang meme di kalangan pengguna Internet. Juga apa sejatinya meme itu sendiri. Semoga tulisan yang tak sempurna ini juga ‘mencipratkan’ pencerahan yang sama bagi pembaca.

============

meme-kgm-kam-24-januari-2017  Continue reading →

Tak Sekedar Pemberitaan, Namun Juga Memolah Fikiran?

Diambil dari: thegirlwithbrokenwings.wordpress.com

Diambil dari: thegirlwithbrokenwings.wordpress.com

Ide mengenai media sebagai pembentuk opini (mindset framing) bermula dari sebuah drama ecek-ecek di radio CBS Radio Studio One, New York – Amerika Serikat, pada 30 Oktober 1983 silam. Sang narator, Orson Welles saat itu tengah asyik cuap-cuap sebagaimana tertulis dalam naskah. Begini isinya: “Wah. Tunggu dulu! Sepertinya ada sesuatu muncul! Pendengar sekalian, saya melihat sesuatu yang mengerikan. Tampak ujung dari benda tersebut mulai mengelupas! Bagian atasnya mulai berputar seperti sekrup! Benda itu pasti terbuat dari besi! Ini benda paling menakutkan saya yang pernah saya lihat! Tunggu sebentar. Tampaknya seseorang merangkak keluar dari bagian atasnya yang berongga. Orang ataukah … benda. Dan saya masih terpaku menatap dua cakram bercahaya di depan … apakah itu mata? Atau mungkin itu wajah. Yah bisa jadi…?

Patut diperhatikan, pada masa itu radio merupakan arus utama di dunia. Pun sajian hiburan fiksi ilmiah belum jua rutin diputar. Dampaknya tentu saja berujung kepanikan massal. Segera setelah drama berdurasi satu jam tersebut disiarkan, masyarakat berbondong-bondong ke stasiun radio CBS dengan membawa berbagai perabot. Jalan-jalan dipenuhi suasana histeris. Rumah-rumah ibadah penuh sesak oleh manusia yang ingin bertobat. Semuanya mengira bahwa cerita drama tersebut adalah sungguhan. Baru setelah Orson dan CBS menjelaskan duduk perkara sebenarnya, masyarakat kembali tenang. Continue reading →