Bagaimana mulai menulis? (1)

Meskipun menulis adalah kegiatan komunikasi yang umum, tak semua orang mudah menuliskan gagasan atau perasaannya. Terutama jika hasil karya tulis itu akan dibaca khalayak ramai.

Jika kamu sering mengalami tantangan tersebut, mungkin inspirasi video ini bisa membantu.

Seumpama memasak, sebuah karya tulis tentu saja membutuhkan sejumlah bumbu. Dalam kegiatan menulis, supaya mudah kita pahami, bumbu ini adalah bahan yang akan kita olah menjadi tulisan utuh nanti.

Bumbu atau bahan tadi bisa kita kumpulkan sebanyak mungkin, dengan mengutip buku ataupun dari internet, wawancara, bahkan dari pengalaman diri sendiri (dalam hal ini, misalnya ketika kita ingin menulis tentang satu kuliner yang belum pernah kita makan).

Nah, setelah terkumpul sesuai keinginan kita, bumbu ini perlu kita kupas agar nanti saling melengkapi dalam tulisan yang kita buat. Tidak semua kutipan, teks wawancara dan catatan dari pengalaman pribadi tersebut dijejalkan seluruhnya ke dalam tulisan.

Upayakan agar bahan yang dimuat ke dalam tulisan, ditulis pendek. Ini agar nanti pembaca bisa mudah memahami apa yang sedang kita ceritakan atau paparkan.

Setelah draft atau versi awal tulisan rampung, coba kamu beri kepada beberapa teman atau keluarga, agar mereka membacanya. Bisa jadi, kita akan memperoleh masukan berharga. Semisal: Alur tulisan kurang mengalir karena pergantian topik tak jelas, atau tambahan ide baru agar tulisan tersebut semakin menarik.

Kalau bingung untuk mencari ide buat tulisan, kita bisa menelusur isu penting/ menarik di media cetak dan online, atau sekedar dari menjelajah alam sekitar.

Hayuk mulai memetik ide-ide buat menulis, dan jadikan dunia yang lebih baik dengan berbagi gagasan atau kabar dari tulisanmu.

Selamat menulis!

PERTANYAAN TERBUKA

Ilustrasi dari Pexels.com

Bagi para penulis, bertanya merupakan cara dasar untuk mengumpulkan informasi. Namun, tentu saja dibutuhkan pemahaman mengenai kiat bertanya. Dalam ranah komunikasi, kiat bertanya terbagi dua: pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.

Apa perbedaa kedua kiat bertanya tersebut? Pertanyaan tertutup adalah mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab singkat. Biasanya, pertanyaan tertutup digunakan untuk mendapatkan hanya fakta dan potongan informasi tertentu.

Contoh pertanyaan tertutup adalah sebagai berikut:

“Siapa yang akan Anda pilih?”

“Apa merek mobil Anda?”

“Apakah kamu tahu dimana rumah bapak Barus?”

“Semua kuenya sudah dimakan habis?”

 

Sementara, pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban penuh yang menggunakan pengetahuan atau perasaan narasumber. Pertanyaan terbuka bersifat objektif dan menghasilkan jawaban yang terdiri dari banyak kata.

Contoh pertanyaan terbuka adalah sebagai berikut:

“Bagaimana pendapat orang-orang tentang kue tersebut?”

“Ceritakan tentang pekerjaan Anda hari ini.”

“Bagaimana pendapat Anda tentang tempat wisata baru tersebut?”

“Mengapa sistem masuk tempat ini menggunakan kartu khusus?”

Continue reading →

Belajar Menulis dari Penulis Buku “Tuhan Tidak Tuli”

Satu keluarga (Ayah, Ibu, dan tiga anaknya) bersama-sama menuliskan sebuah buku sarat ilham. Judulnya: “Tuhan Tidak Tuli”. Mereka menuliskan pengalaman iman, selama membesarkan dan hidup dengan si bungsu, Yahya A. Tioso yang bergelut dengan penyakit tuli (sulit mendengar).

Buku ini sungguh bagus. Oleh karenanya, aku ingin coba menggali bagaimana satu keluarga ini bisa ‘keroyokan’ menuliskan sebuah buku. Lebih tepatnya, bagaimana belajar menulis dari mereka.

 

Menulis Apa yang Dialami/ Diketahui

Setelah rampung membaca buku “Tuhan Tidak Tuli”, bisa didapati hanya si sulung, Grace Suryani, gemar menulis buku. Kita bisa ketahui dari empat (cover) buku yang disematkan pada halaman akhir buku (hlm. 160). Continue reading →

MEMBACA TANPA ‘TUJUAN’, SAMA DENGAN TIDAK MEMBACA

Copyright: Pexels

Daya sebuah tulisan adalah kemampuannya menjelajah ruang dan waktu tak terhingga. Ini kurasakan, ketika berbincang dengan Romo Constantius dalam perjalanan menuju Bandara Tjilik Riwut — sepulang meliput PKSN-KW, 13 Mei 2018 lalu. Imam Diosesan dan Ketua Komisi Komsos Keuskupan Palangka Raya, menerima gagasan agar kami merintis sebuah tulisan berseri tentang Kiat Menulis. Harapannya, tentu agar lebih banyak umat berminat menulis untuk media milik keuskupan tersebut.

Aku dengan senang hati memberi kiat literasi ini sejauh kemampuan yang kumiliki. Dalam satu cengkerama bersama pendiri Indonesia Menulis, Budi Soetedjo, menyampaikan kekeliruan mengajarkan umat menulis adalah tidak dimulai dengan belajar membaca. “Baik jika kita awali memberi kiat membaca. Maksudnya, bagaimana menikmati bacaan itu sendiri,” katanya. Kukira bapa Budi ada benarnya juga.

Maka aku kembali merujuk pada buku dan modul pelatihan BacaKilat yang pernah diajarkan pendirinya, Agus Setiawan. Mengingat pengalaman saat menuliskan ulasan tentang metode ini, ternya banyak teman yang mengaku pusing dan tidak mengerti. Aku mencoba mengilhami nasihat mas Kristinus Munte, mentor-ku: memaparkan dengan lebih sederhana lagi. Demikianlah tulisan ini pun berkelana dari kediamanku di Medan, menuju perangkat komunikasi Romo Gatot di pulau Kalimantan. Aku berharap, tulisan ini dapat juga menjadi ilham dalam penulisan buku berikutnya. Amin

 

***

Komedian Cak Lontong beberapa kali mengucapkan lelucon tentang membaca buku: “Saat masuk ruangan ini, ada seorang yang tengah menangis saat membaca buku. Ketika saya dekati dan perhatikan, ternyata dia sedang membaca buku tabungan.” Canda tersebut pun kerap disusul derai tawa.

Petikan kalimat lucu itu, pernah juga kuceritakan sebagai pembuka diskusi tentang pentingnya kemampuan dan minat membaca. Aku mulai menyadarinya saat mengikuti pelatihan BacaKilat oleh pendirinya, Agus Setiawan di Medan pada tahun lalu. “Dengan membaca buku, pengalaman si penulis selama bertahun-tahun, dapat kita kuasai dalam tempo lebih singkat,” ujar Agus tentang satu dari banyak manfaat membaca buku.

“Namun, ada satu hal yang perlu kita ketahui sebelum membaca,” katanya. “Yaitu, punya tujuan pada buku atau materi yang hendak dibaca.” Continue reading →