SEKOLAH KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG MEDAN DI TENGAH PUSARAN PANDEMI COVID-19

Gereja tidak menganggap pendidikan sebagai suatu proses yang berdiri sendiri terpisah dari perjalanan iman seseorang agar mencapai tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga. Dalam terang inilah, Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada Surga.

Bagi Gereja Katolik, tujuan pendidikan terarah kepada pembentukan anak-anak agar mereka dapat  memenuhi panggilan hidup mereka untuk menjadi orang-orang yang kudus, yaitu untuk menjadi seperti Kristus. Visi Kristiani ini harus dimiliki oleh seluruh komunitas sekolah, agar nilai-nilai Injil dapat diterapkan sebagai norma-norma pendidikan di sekolah. Sebagaimana sering diajarkan oleh para Paus (Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan sekarang, Paus Fransiskus), adalah penting agar manusia di masa sekarang ini, diajarkan untuk menghargai martabat manusia, secara khusus dimensi rohaninya.

Namun teranyar, dunia pendidikan mengalami tantangan baru sejak pandemi Covid. Belajar, bekerja dan berdoa dari rumah (WFH) menjadi jargon sekaligus gaya hidup di kenormalan baru. Dalam lingkup pendidikan, kini lebih dari satu tahun dunia institut edukasi seolah mati suri, meski belajar mengajar masih berlangsung dengan bantuan teknologi atau sekolah daring.

Meskipun demikian teknologi, tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Sr. Zita (paling kiri) bersama staf pengajar SMP Assisi Tomok

Pendapat senada dilontarkan Kepala Sekolah SMP Swasta Asisi Tomok, Suster Zita Simarmata dalam wawancara bersama Menjemaat. “Peserta didik kurang jujur dan disiplin dalam menyelesaikan tugas karena kebanyakan orang tua yang lebih berperan dalam penyelesaian tugas siswa,” tutur biarawati kongregasi FCJM. “Selain itu, siswa kurang peduli dengan sesama dan lingkungannya karena menggunakan gawai untuk bermain game daripada menonton video pembelajaran.”

Suster Zita mengakui, SMP Swasta Assisi Tomok shock atas tantangan besar yang diemban Suster, bapak dan ibu guru di masa awal pandemi. Seiring waktu mereka mulai terbiasa dengan situasi walaupun mereka masih was-was kemungkinan terjangkit virus Covid-19.

“Dengan penuh keyakinan kami bergerak dan berusaha mengepakkan sayap agar kami tetap bisa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa dan masyarakat seperti motto sekolah yakni ‘Melayani dengan Kasih’. Puji Tuhan hingga saat ini kami masih dalam perlindungan-Nya,” tutur Suster melalui surel.

Teknologi dalam pembelajaran itu sendiri tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar. Ini karena ranah edukasi bukan sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Darius Simamora (kiri) bersama rekan pengajar SMK Bina Media

Kepala Sekolah SMK Grafika Bina Media Medan, Darius Dorento Simamora mengatakan, banyak orang tua siswa protes akan pembelajaran daring tidak maksimal. “Sejak Juni tahun lalu, sesuai arahan dari Dinas Pendidikan kota Medan, proses pembalajaran telah dilangsungkan secara daring. Kami dari pihak sekolah selalu meyakinkan para orang tua bahwa metode dan model pembelajaran di sekolah kita adalah baik dan berkualitas,” ujarnya kepada Menjemaat.

Darius mengatakan, pemangku kepentingan SMK Bina Media, sejak Maret hingga Juni 2021, telah mengevaluasi kekurangan pembelajaran daring di sekolah mereka. “Ada juga staf pengajar yang tak mampu lagi beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Oleh sebab itu, satu bulan sebelum pembelajaran semester ganjil dimulai, kami sudah membekali diri dengan perangkat lunak penunjang pembelajaran daring.”

Kiat serupa juga dilaksanakan oleh SMP Swasta Assisi Tomok. Tepatnya, sejak memulai ajaran baru  pada 13 Juli 2020, ketika pemerintah daerah mengeluarkan surat edaran agar pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran online atau daring. “Akibat situasi tersebut suster, bapak, ibu guru harus mengubah strategi untuk pengenalan lingkungan sekolah (PLS) dan untuk pembelajaran,” kata Suster Zita. “Beruntung kami bisa meyakinkan dan menerima tanggapan positif dari orang tua siswa ketika sekolah melaksanakan PLS dan pembelajaran secara online baik melalui zoom maupun melalui video pembelajaran.”

Selain itu, imbuh Suster Zita, pihaknya juga melaksanakan pembelajaran secara luring (kunjungan belajar) di lima lokasi atau wilayah. “Untuk setiap wilayah kami batasi maksimal 10 siswa. Dan jika pembelajaran tatap muka sudah di izinkan, pembelajaran online hanya akan diberikan bagi siswa yang sakit atau tidak bisa hadir ke sekolah.”

Memetik Rahmat di Balik Pandemi

Meskipun kenormalan baru berimbas besar dalam dunia pendidikan, Ketua Yayasan Seri Amal (YSA), Sr. Gerarda Sinaga KSSY melihat sisi ‘peluang’ dari pandemi covid-19 yang bermula sejak Maret 2020. Biarawati dari Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) mengatakan, pihak YSA telah membuat perencanaan agar semua guru-guru beradaptasi dengan metode pembelajaran digital. “Ternyata pandemi ini seperti blessing in disguise. Jadi kami melihat pandemi tidak melulu tantangan, namun ada juga sisi peluangnya,” ujarnya kepada Menjemaat.

Sr. Gerarda Sinaga KSSY

“Sebelum pandemi, kami sudah merancang sistem pembelajaran berbasis digital, kelas virtual sebanyak dua kali dalam seminggu. Rancangan ini memadukan sistem pembelajaran khas Indonesia dan Amerika Serikat,” katanya. “Itu sudah disampaikan dalam pertemuan dengan para kepala sekolah yayasan ini pada Januari dan Februari 2020 lalu.”

Dalam perspektif YSA, imbuh Suster Gerarda, anak didik saat ini sudah termasuk generasi alpha. “Yakni, kalangan generasi yang sudah terbiasa dengan multi tasking. Mereka bisa mengerjakan chat, tugas sekolah, dan sambil makan kerupuk.”

Walau telah membuat strategi perencanan untuk budaya pembelajaran digital dengan cermat, Suster Gerarda tak menutupi ada beberapa personil pengajar ada yang enggan untuk sistem baru ini. Tapi ternyata kondisi pandemi memaksa semua staf pengajar untuk membiasakan diri. “Sistem ini memindahkan konsep hard copy ke format digital. Sebagai simulasi awal, kami coba di SD St. Antonius pada waktu itu, dengan menggunakan tablet.

“Semangatnya adalah pro ekologi, untuk mengurangi penggunaan kertas. Dalam tablet ini sendiri juga dilengkapi berbagai fitur untuk kreativitas anak. Seperti menggambar, dan yang lainnya,” terangnya seraya mengungkapkan harapan kelak setiap sekolah di bawah naungan YSA akan difasilitasi pembuatan buku digital dengan server milik yayasan tersebut untuk pengumpulan file digital kelas virtual.

Bruder Rismario, BM

Praktisi pendidikan di KAM, Bruder Rismario, BM turut menimpali, bahwa Sekolah Katolik sejatinya mendidik murid-murid untuk mencapai nilai-nilai Katolik. Yakni, tolong menolong, kedisiplinan, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, menghormati, dan mempunyai semangat kerasulan.

“Guru dengan semangat kerja luar biasa akan mengubah kelemahan murid menjadi kekuatan murid yang maha dahsyat. Dengan demikian murid akan mampu berkembang di tengah zamannya,” tutur Bruder Budi Mulia dalam satu tulisan refleksi kepada Komsoskam.com.

Suster Zita sendiri mengakui, pembelajaran tatap muka di sekolah lebih efektif dari pada pembelajaran secara online atau pun luring. “Namun.  Iya memang situasi  pandemi Covid-19 telah mendorong Suster, bapak, dan ibu guru dalam mempercepat proses  pembelajaran. Dengan kata lain, para guru berusaha membuat video pembelajaran lebih kreatif lagi agar pencapaian pembelajaran berhasil seperti target yang diinginkan.”

Menurutnya, para guru di SMP Swasta Asisis Tomok juga semakin berkembang saat mengunakan teknologi yang tadinya hanya tahu seadanya saja kini menjadi banyak mengetahui. “Saya yakin, banyak pengajar lainnya juga bakal termotivasi untuk berinovasi dalam pembuatan video pembelajaran kreatif dan menarik.”

Reportase: Sr. Dionisia Marbun SCMM | Jansudin Saragih | Ananta Bangun

Penyunting: Ananta Bangun

//// dimuat di Menjemaat edisi Juli 2021

Mgr. Anicetus Sinaga OFM Cap ‘Berpulang’; Tutup Usia 79 Tahun

Umat Katolik mengawali bulan November ini dengan suasana duka. Kabar wafatnya Bapak Uskup Agung Anicetus Sinaga, OFMCap menimbulkan rasa belasungkawa mendalam, bukan hanya bagi umat Keuskupan Sibolga yang dilayani sebagai Uskup dan sekarang sebagai Administrator Apostolik, termasuk juga umat di Keuskupan Agung Medan yang juga pernah dilayani sebagai Uskup Agung.

Mgr Anicetus Bongsu Sinaga, OFM Cap mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Elisabeth Medan, pada Sabtu (7 November 2020). Kabar duka ini disampaikan melalui fanpage Keuskupan Sibolga, sesaat setelah kepergian bapak Uskup.

“Berita dukacita! Telah meninggal dengan tenang Mgr Anicetus B Sinaga, OFM Cap Administrator Apostolik Keuskupan Sibolga, tadi sore sekitar pukul 18.00 WIB di RS Elisabeth Medan. Marilah kita umat Keuskupan Sibolga berdoa untuk keselamatan jiwa Mgr dan semua rencana pemakaman berjalan lancar. Informasi selanjutnya, akan dikeluarkan ordinariat Keuskupan Sibolga dan Uskup Agung Medan.” Demikian tersemat kabar di media sosial Keuskupan Sibolga tersebut.

Mgr. Pius Datubara OFM Cap beri penghormatan terakhir (Binus Brekele Tarigan)

Kanselarius Keuskupan Agung Medan, Pastor Borta Rumapea, O.Carm juga membenarkan kabar duka tersebut melalui pesan singkat yang dibagikan via whatsapp. “Berita Duka. Telah Meninggal dunia dengan tenang hari ini, pkl.18.00. Yang Mulia Mgr. Emeritus B. Sinaga, OFM.Cap, di Rumah Sakit St. Elisabeth Medan. Malam ini dan besok akan disemayamkan di Gereja Katedral Medan. Para LHB dan umat Allah terdekat dipersilahkan datang berdoa. RIP. Informasi selanjutnya akan kami sampaikan. Terimakasih”

Sebelumnya, Mgr Anicetus dinyatakan positif Covid-19, yang disampaikan dalam keterangan pers via youtube oleh Sekretaris Keuskupan Sibolga, Romo Blasius Super Yesse, Pr, pada Senin (19 Oktober 2020).

Pastor Yesse mengatakan, Mgr. Anicetus merasa kondisinya kurang sehat usai tahbisan diakon di Gereja St. Theresia Lisieux, Sibolga, pada Kamis (15 Oktober 2020). “Dan kemudian, Mgr. Anicetus dibawa berobat dan beristirahat di di Klinik St. Melania, Seruni, Sibolga.”

Melalui sumber dari pihak RS Elisabeth disampaikan, Mgr. Anicetus sebelumnya telah menjalani tes usap (SWAB) sebanyak dua kali. Hasil pengujian laboratorium mendapati bahwa Mgr. Anicetus negatif dari virus corona. Sesudah dinyatakan sembuh, Uskup Emeritus dipindah dari ruang isolasi ke ruang perawatan umum. Namun penyakit paru yang pernah diderita sebelumnya kembali kambuh dan membutuhkan perawatan intensif.

Uskup Agung Medan, Mgr Kornelius Sipayung OFMCap mengirim pesan kepada Bapa Kardinal Ignatius Suharyo dan para uskup di Indonesia bahwa Uskup Sinaga telah dipanggil Tuhan pada hari Sabtu (7 November 2020) pukul 18.00 WIB.

“Bapa Kardinal dan para bapa uskup yang terkasih, dalam doa sambil mendekap tangannya, Mgr Anicetus pada pukul 18.00 WIB telah berangkat menghadap Bapa. Mari kita doakan agar Beliau beristirahat dalam damai Tuhan,” demikian WhatsApp Mgr. Kornelius yang menyebar secara luas.

foto dari Binus Brekele Tarigan (Tawa Potret)

Pesan Terakhir

Pada Minggu (8 November 2020), Keuskupan Agung Medan mempersembahkan Misa Requiem Mgr. Anicetus di Gereja Paroki Katedral Medan. Dalam homilinya, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius mengutip kembali ucapan almarhum Uskup Emeritus saat dia memimpin Misa Requiem RP Servasius Sihotang OFMCap di Sibolga. “Pesan itu ditulisnya ditulisnya dalam grup WA Para Uskup Regio Sumatera, 13 Oktober lalu,” ujar Mgr. Kornelius.

Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ mengomentari, “Ya, Opung harus menunggu lama. Opung Pius pun masih gagah kog. Suara kalian berdua cukup keras. Tanda usia akan panjang.” Dan, jawab Mgr Anicetus, “Terima kasih Mgr Darso. Memang urusan kematian ada di tangan Allah. Untuk itu tidak usah kita membentuk panitia.”

Itu pesan WA terakhir Mgr Anicetus dan grup itu. “Kami harap di rumah sakit muncul WA-nya sebagai tanda hidup dan sehat, tetapi tidak muncul,” kenang Mgr. Kornelius.

Mgr. Kornelius beri homili dalam Misa Requiem Mgr. Anicetus di Gereja Paroki Katedral Sibolga (Komisi Komsos KAM)

Mgr. Kornelius melanjutkan, atas permintaan Mgr Anicetus, Mgr Kornelius menerimakan Sakramen Minyak Suci pada Mgr Anicetus 5 November. Tanggal 7 November, Mgr Anicetus menghemburkan napas terakhir. “Dia meninggalkan keuskupan yang sangat dicintainya, Sibolga,” ucapnya.

Padahal, menurut Mgr Kornelius, tanggal 25 September saat merayakan HUT ke-79, uskup yang polos, terbuka, lugas, dan apa adanya itu masih tampil prima dan egergik. Bahkan ada imam berkesan, beliau adalah pribadi survive, tanggap, ceria, suka humor, suka melontarkan ungkapan bahkan ungkapan yang tidak terduga, teratur dan disiplin dalam doa dan meditasi, produktif mengeluarkan buku, artikel, akta diosesan dan surat edaran.

Uskup yang senantiasa menyelipkan Gurindam 12 dalam setiap khotbah dan pembicaraan  itu, lanjut Mgr Kornelius adalah uskup yang peduli dengan budaya, khususnya Budaya Batak. “Dalam perjumpaan formal dan non-formal, beliau sering mengingatkan tentang pentingnya menggali nilai-nilai kekeristenan dalam budaya. Itu juga alasan mengapa beliau selalu ingatkan agar Museum Pusaka Batak Toba di Pangururan dikelola dengan baik, dirancang kurikulum studi Batakologi, dan mempersiapkan orang yang kompeten untuk mengelola museum itu,” kata Uskup Agung Medan itu.

Setelah Misa Requiem di Katedral Medan, pada pukul 9 malam jenazah Mgr Anicetus dibawa menuju Sibolga dan singgah sejenak di Sinaksak. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, semua menunggu kedatangan rombongan di Gereja STSP. Hadir dalam momen ini para Suster dari komunitas-komunitas terdekat di Pematangsiantar, juga para Frater, bruder dan Pastor.

Dalam sambutannya, mewakili lembaga pendidikan, Civitas Academica STFT St Yohanes Pematangsiantar, P. Gonti Simanullang OFMCap, mengajak semua yang hadir, khususnya para mahasiswa civitas academica STFT St Yohanes untuk menjaga api semangat yang telah diwariskan oleh mendiang. Pastor Ivo menandaskan, bahwa perjuangan Mgr Anicetus sungguh memantik semangat dan dengan penuh dedikasi memberikan perhatian yang besar bagi pendidikan  calon imam. “Sudah selayaknya semangat, pemikiran, harapan dan gagasan besar itu kita wujudkan bersama dalam proses bina kita”.

Dalam momen ini, para calon imam diosesan, khususnya dari Praunio Keuskupan Sibolga mempersembahkan lagu buah karya mendiang Mgr Anicetus, Hymne Sibolga yang diciptakannya pada 1983. Lagu ini menceritakan refleksi dan  kekagumannya pada Bumi Sibolga, alam dan kekayaan yang juga turut membentuk sejarah dan akhirnya dikenal secara luas.

Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan doa dan  berkat oleh P. Totok Subiyanto dan kemudian dalam waktu yang cukup singkat beberapa anggota komunitas yang hadir juga umat,  berdoa di sekitar peti jenazah secara bergantian. Pkl. 23.46 WIB, prosesi ditutup dan kemudian rombongan bergerak menuju Sibolga.

Jenazah Mgr. Anicetus disambut di Katedral Sibolga, pada Senin (9 November 2020), dan disusul persembahan Misa Requiem pada pukul 6 sore. Pada Selasa (10 November 2020), dipersembahkan Misa Requiem dan prosesi pemakaman Mgr. Anicetus di Gereja Paroki Katedral Sibolga. Mgr. Kornelius menyampaikan, semestinya Uskup Ruteng, Mgr. Sipri Hormat yang akan memimpin misa tersebut. “Namun karena kendala di bandara di Jakarta, Mgr. Sipri berhalangan datang,” ujarnya.

Dalam homilinya, kata Mgr Kornelius mengisahkan kembali saat menerimakan perminyakan orang sakit kepada Mgr Anicetus, “Nampak semangatnya merayakan kehadiran Kristus yang menyelamatkan dan menyembuhkan itu … Dari wajah dan sikapnya, itu diamininya, sehingga ketika diurapi dengan minyak, dengan sangat semangat ia membuat tanda salib,” katanya.

Barangkali, lanjut Mgr Kornelius, dalam dirinya sudah ada perasaan dan firasat untuk menghadap Bapa, “karena keyakinannya bahwa kematian adalah pengharapan bagi orang yang percaya dan itu adalah karya Allah, tak perlu panitia.”

Seusai misa reqquiem, jenazah Mgr Anicetus dimakamkan di pemakaman Seminari Menengah Santo Petrus, Aek Tolang, Pandan. (Fr. Nicolaus Heru & Ananta Bangun | sumber: Katolikana, Tribun Medan, Geosiar, Mirifica.net)

logo Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFM Cap

RIWAYAT HIDUP ALMARHUM MGR. EMERITUS DR. ANICETUS BONGSU SINAGA OFMCAP

Lahir                           : Nagadolog, 25 September 1941

SD                               : Siatasan, Dolokpagaribuan, Simalungun, Sumut 1949-1952 (Kls I-III); Bahtongguran, Tanah Jawa, Simalungun, Sumut 1952-1955 (Kls IV-VI).

SMP                            : SMP RK Jl. Sibolga 21 Pematangsiantar, 1955-1959;

SMA                           : SMA Seminari Menengah, Pematangsiantar, 1959-1963;

Novisiat Kapusin     : Parapat 1963-1964

Fakultas Filsafat       : Parapat, Seminari Agung, 1964-1967

Fakultas Teologi      : STFT St. Yohanes Pematangsiantar 1967-1970

Tahbisan Imam         : Pematangsiantar 13 Desember 1969

Studi Teologi Moral : Roma (Alfonsiana), Lisensiat 1970-1972;

Studi Teologi Dogmatik     : Leuven (Belgia), S-3, 1972-1975: The High God of the Toba Batak: Transcendence and Immanence, 1981.

Prefek Apostolik / ‘Uskup’ Sibolga: 28 Oktober 1978. Dilantik 25 Januari 1979.

Ketua Komisi Liturgi KWI             : November 1979 – November 1988

Uskup Sibolga (diangkat), 24 Oktober 1980; Ditahbiskan di Roma oleh St. Paus Yohanes Paulus II, 6 Januari 1981. Dengan motto: Ad Pasquam et Aquas Conducitme. (Ia membimbing aku ke padang hijau dan ke air yang tenang. (Mz 23.2)

Utusan KWI ke Sinode Uskup di Roma   : 29 September s/d 29 Oktober 1983

Ketua Komisi HAK KWI (Hubungan Antar-agama dan Kepercayaan) (Kerukunan Umat Beragama): 1988-1997

Wakil Ketua Komisi HAK FABC (Federation of Asian Bishops’ Conference): 1989-1995

Ketua Komisi Teologi KWI: 1997-2003

Utusan ke Sinode Uskup Asia di Roma: Oktober 1998

Delegatus/Ketua LBI KWI: 2003-2009.

Anggota Komisi Teologi KWI: November 2009-2018 (Ketua Seksi Ajaran Iman).

Pada 3 Januari 2004 diangkat menjadi Kuajutor Uskup Agung Medan dan   dilantik 12 Februari 2004. Selanjutnya  Diangkat 12 Februari 2009 sebagai Uskup Keuskupan Agung Medan.

Pada hari Minggu, 22 Februari 2009  jabatan Uskup Keuskupan Agung Medan resmi diserahkan kepada Mgr. Anicetus Bongsu A. Sinaga, OFMCap,.Pada masa ini banyak kemajuan di Keuskupan Agung Medan. Seperti  revitalisasi Komisi-komisi dan penataan berbagai hal komisi/unit subordinasi KAM. Pembadan Hukum – an Paroki.  Salah satu yang pantas disyukuri adalah pemekaran banyak paroki-paroki. Pada masa ini juga semakin bertambah kongregasi maupun Serikat Kerasulan yang berkarya di Medan. Mgr. Anicetus Bongsu A. Sinaga, OFMCap, menjabat dari tahun 2009 – 8 Desember 2018.

Selanjutnya menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Sibolga: 23 September 2018 sampai wafatnya.

Perarakan Jenazah Mgr Anicetus di STFT Pematangsiantar (Fr. Nicolaus Heru)

Gerakan Peduli Sesama (GPS) St. Felix Cantalice “Berbagi Kasih dengan Sesama yang Membutuhkan, Khususnya dalam Kesehatan & Pendidikan”

Pasca Tahun Jubileum Kerahiman Ilahi (2015-2016), sejumlah devosan tertarik untuk melebarkan sayap pelayanan.Kemudian, mereka bersama Direktur Spiritual Apostolat Kerahiman Ilahi – KAM, RP John Rufinus Saragih OFM Cap terbersit gagasan untuk membentuk komunitas baru, bernama Gerakan Peduli Sesama (GPS).

IMG-20190818-WA0013

Kepada Menjemaat, Pastor John menceritakan bahwa komunitas ini mengawali karyanya pada Mei 2016. Dia mengatakan, para aktivis GPS St. Felix Cantalice memiliki semangat berbagi kasih terhadap sesama yang membutuhkan, khususnya dalam hal kesehatan dan pendidikan. Oleh sebab itu, mayoritas aktivis dalam kelompok ini terdiri dari kalangan dokter dan ahli medis lainnya.

“Gerakan ini dimulai karena dirasakan minimnya pengetahuan masyarakat tentang pendidikan dan kesehatan,” tuturnya dalam keterangan tertulis. Oleh sebab itu, GPS St. Felix Cantalice mengambil motto “Sehat adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara”. Continue reading →

BIDUK KAM, Gerakan Pastoral Berbasis Data

20191005094546_IMG_0246

Mgr. Kornelius Sipayung diapit tim BIDUK KAJ dan Pastor Borta (Komsos KAM)

Medan – Menjemaat,

Keuskupan Agung Medan (KAM), Sabtu (5 Oktober 2019), menghelat soft launching Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK) KAM di Catholic Center – Medan. Puluhan perwakilan sekretariat paroki se-KAM turut hadir dalam seremoni dan dwi-hari training input data umat keuskupan secara online ini.

Victor Erico, perwakilan tim BIDUK Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), mengutarakan, program ini adalah gerakan untuk pelayanan pastoral berbasis data. “Ketika kita hendak memulai BIDUK, kita memperkirakan jumlah umat KAJ adalah sebanyak 510.000. Namun, setelah pendataan dengan BIDUK rampung, ternyata jumlah umat KAJ yang benar adalah 430.000,” katanya.

Dia melanjutkan, banyak pihak di KAJ yang marah atas hasil perhitungan tersebut. “Banyak yang marah, bahwa kita kehilangan umat sebanyak 80.000 jiwa. Padahal itu adalah jumlah yang sebenarnya. Kenapa? Karena ada umat yang telah meninggal masih dimasukkan dalam data. Selain itu, ada juga umat yang sering berpindah domisili, sehingga terdata di dua atau tiga paroki.” Continue reading →

Kriswanto Ginting: “Meluhurkan Budaya, Salah Satunya Melalui Museum”

Kriswanto Ginting - 2

Kurator Museum Pusaka Karo, Kriswanto Ginting

Peran sebagai Kurator di Museum Pusaka Karo, bagi Kriswanto Ginting Sugihen, memberi kesan menggoda. Kenapa?  “Karena bagi saya menjadi kurator museum itu asik dan tidak biasa. Asik karena bisa tahu dan belajar tentang sejarah dan permuseuman dan banyak hal lainnya,” tutur suami dari Sartika Nominanda br Tarigan Sibero.

Dia menjelaskan, Kurator adalah orang yang karena kompetensi keahliannya bertanggung jawab dalam pengelolaan koleksi museum. “Seorang yang bertanggung jawab dalam menyiapkan konsep dan materi pameran dan terutama dalam perawatan dan pemeliharaan koleksi-koleksi di museum.”

“Menjadi seorang Kurator museum itu tidak biasa dan tidaklah mudah. Karena tugasnya menangani mulai sejak sebuah benda diseleksi dan terdaftar sebagai koleksi museum sampai menjadi sebuah benda koleksi pameran, kemudian merawatnya dengan baik, melakukan pengkajian dan mempublikasikannya bahkan mengajak dan mengedukasi pengunjung tentang benda-benda koleksi di museum,” dia mengimbuhkan.

Meski tampak rumit, menurut ayah dari Leticia La Velle br Ginting Sugihen dan Helsa Zivanya br Ginting Sugihen, ada banyak pengalaman menarik bagi dirinya sejak bergabung menjadi bagian dari Museum Pusaka Karo. “Pernah mendapat kesempatan berjumpa dengan orang-orang hebat yang datang ke museum, berjumpa dengan seniman terkenal, pegiat budaya dari mancanegara bahkan pernah berdebat hebat (tentang pengetahuan kebudayaan Karo) dengan seseorang yang mengaku sebagai professor dari salah satu universitas ternama di Benua Eropa dan banyak kesempatan lainnya. Tapi saya jalani saja semua dengan sepenuh hati.” Continue reading →

RP. Fransiskus de Sales Borta Parlindungan Rumapea O.Carm: “Masih Dalam Suasana Bulan Madu”

RP Frans Borta Rumapea OCarm

RP. Frans Borta Rumapea, O.Carm

Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Medan, RP. Fransiskus de Sales Borta Parlindungan Rumapea, O.Carm menyambut dengan senyum ramah, kala tim Menjemaat menyambangi kantornya. “Saat ini saya masih dalam suasana berbulan madu,” ujarnya berseloroh, kala menjawab pertanyaan bagaimana rasanya menjadi Sekjen KAM yang baru.

Putra dari pasutri Artianus Harber Rumapea dan Rowana br. Sinaga mengaku tak pernah terpikir dipercaya memangku peran tersebut. “Saya tak pernah membayangkan menjadi Sekjen KAM. Sebab selama ini tak pernah menjabat tugas sekretaris. Sepengetahuan saya hanya menjalani peran notulis dan sekretaris di Dewan Imam KAM,” ujar alumnus Master of Theological Studies dalam bidang Moral and Practical Theology di The Melbourne College of Divinity, Australia.

Imam Karmelit ini mengaku dapat kabar awal kabar perihal pengangkatan menjadi Sekjen dari Uskup Emeritus, Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap. “Pemberitahuan resmi kemudian datang dari Propinsial Ordo Karmel di Malang,” aku pastor yang menerima tahbisan Imamat di Paroki Kristus Raja, Perdagangan pada 21 November 1997. “Mulanya saya menolak, karena faktor usia. Namun atas kaul ketaatan, saya kemudian menerima tugas perutusan tersebut.”

Eks Parochus di Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan mengaku beruntung sebab administrasi dan korespondensi di KAM telah tertata dengan baik. “Dalam pelaksanaan tugas baru ini, saya merasakan bahwa seluruh pihak di Kuria ini sungguh kooperatif. Dan para personil juga sudah berpengalaman,” terangnya. “Namun, saya kira perlu ada pembenahan database yang bisa dengan cepat untuk merujuk data paroki maupun keuskupan. Tantangannya, saya kira adalah membangun database secara online agar bisa diakses dengan cepat. Saya mengakui terbatas dalam penguasaan teknologi informasi ini.”

Di sela kesibukan sehari-hari, Pastor Borta tetap berolah raga untuk menjaga kebugaran tubuh. “Semasa muda dahulu, saya gemar bermain sepakbola. Sekarang karena faktor usia dan hal lain, saya lebih kerap jogging dan lari,” aku penyuka masakan opor ayam berbumbu kacang. “Syukurlah saya belum ada pantangan dalam hal makanan. Opor ayam tersebut adalah masakan khas orangtua kami. Kalau pulang ke kampung saya sering minta Ibu masak itu (opor ayam berbumbu kacang).”

Dalam bincang bersama Menjemaat, Pastor Borta sempat mengisahkan kisah pemberian namanya. “Saya dengar kisah ini dari orangtua. Kata mereka, ketika kecil saya hampir meninggal. Kemudian opung menganjurkan agar saya diberi nama Borta, karena saya telah membuat banyak orang menangis. Dan semoga kelak berguna sebagaimana pohon borta atau enau,” tutur anak ketiga dari sembilan bersaudara.

(Ananta Bangun)

/// ditulis untuk majalah resmi Keuskupan Agung Medan, MENJEMAAT

Komkat KAM & Komkel KAM Gelar Lokarkarya Materi Kursus Persiapan Perkawinan

Panitia dan Peserta Lokakarya Penyusunan Bahan KPP

Komisi Kateketik (Komkat) dan Komisi Keluarga (Komkel) Keuskupan Agung Medan menghelat Lokakarya Materi Kursus Persiapan Perkawinan di Pusat Pembinaan Umat (PPU) KAM – Pematangsiantar. Kegiatan ini, Minggu-Rabu (24-27 Maret), diikuti 24 peserta dari sejumlah latar. Di antaranya: Frater Kapusin, perwakilan Komisi Kerasulan Kitab Suci (KKS) dan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), dan Dewan Pastoral dari beberapa Paroki di KAM.

Ketua Komkat KAM, RP. Octavianus Situngkir, OFMCap menjelaskan, ide lokakarya ini tercetus dalam Studi Imam Keuskupan Agung Medan yang berlangsung pada Juni 2016 lalu di Gedung Catholic Center KAM, Medan. “Studi Imam ini mendalami tema: “Pelayanan Pastoral Keluarga dalam Kursus Persiapan Perkawinan (KPP)”. Berkenaan dengan hasil studi tersebut, diharapkan ada standar materi KPP yang menjadi acuan bersama di seluruh wilayah KAM,” kata Pastor Octav.

Adapun materi kursus yang didalami dalam lokarkarya ini sebagai bahan KPP ke depannya, yakni: ‘Paham Kitab Suci dan Ajaran Gereja’ yang diampu oleh RP. Surip Stanislaus, OFMCap dan RP. Richard Sinaga, OFMCap; ‘Moralitas Perkawinan Katolik’ diampu oleh RD. Anton Moa; ‘Perkawinan Menurut KHK’ diampu oleh RP. Benyamin Purba, OFMCap; ‘Liturgi Tatacara Perayaan Perkawinan’ diampu oleh RP. Emmanuel Sembiring, OFMCap; ‘Komunikasi Keluarga – Relasi Suami Istri’ dipresentasikan oleh Juler Manalu; ‘Ekonomi Keluarga’ dipresentasikan oleh Betlehem Ketaren; dan ‘Gender & KDRT’ diampu oleh RP. Gonzales Nadeak, OFMCap. Continue reading →

Panitia Tahbisan Uskup KAM Gelar Konferensi Pers

Panitia Tahbisan Uskup Terpilih KAM, Senin (28 Januari), menghelat konferensi pers di Gedung Catholic Center KAM. Temu dengan kalangan media tersebut, memaparkan momen penting bagi Gereja Katolik di Keuskupan Agung Medan, yakni peralihan perutusan dari Uskup Emeritus, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap kepada Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap. Demikian disampaikan Ketua Panitia, RD. Sebastianus Eka Bhakti Sutapa, didampingi jajaran panitia: RP. Selestinus Manalu OFMCap, RD. Benno Ola Tage, dan Hendrik Sitompul.

“Perayaan Tahbisan Uskup KAM akan digelar pada tiga hari, yakni 1-3 Februari 2019. Masing-masing hari merayakan: Ibadat Sore Meriah di Gereja Paroki Katedral Medan pada Jumat (1 Februari) – momen Uskup baru mengucapkan ikrar setia bagi keuskupan dan pemberkatan simbol-simbol yang digunakan olehnya. Pada hari kedua (2 Februari) adalah momen puncak, yaitu Tahbisan Uskup di Gedung Serbaguna Pemprov Sumut dengan misa yang dihadari diperkirakan 14 ribu hadirin – dari kalangan Kardinal Indonesia, Uskup se-Indonesia, para Imam, biarawan/ biarawati dan umat. Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo akan memimpin misa ini serta menahbisan Uskup baru,” kata Romo Eka.

Dia melanjutkan, Misa Perdana Uskup Baru, Mgr. Kornelius akan digelar di Paroki Katedral Medan pada Minggu (3 Februari). “Dalam perayaan ini juga akan berlangsung serah terima jabatan Uskup Agung Medan kepada Mgr. Kornelius.”

Pastor Benno, mewakili panitia, turut menyampaikan undangan kepada insan pers agar turut serta meliput seluruh peristiwa bersejarah bagi umat KAM. “Besar harapan kami bahwa media cetak, online dan elektronik di Sumut akan memuat momentum ini,” ucapnya.

(Ananta Bangun)

 

Paroki Mandala Rayakan Ultah ke-10, Gelar Pemberkatan Gua Hati Maria & Misa Syukur

Mgr Anicetus memberkati Gua Hati Maria Paroki Mandala (Copyright: Komsos KAM)

Paroki St. Yohanes Penginjil – Mandala,  Minggu (29 Oktober), merayakan ulang tahun ke-10. Perayaan diisi dengan acara pemberkatan Gua Hati Maria dan Misa Syukur dipimpin Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap. Parokus Mandala, RP Robertus Hadun CMF, sejumlah Imam dan ratusan umat turut dalam perayaan ini.

Mgr. Anicetus menyampaikan pesan, agar umat Paroki Mandala meneladani iman Bunda Maria yang menerima perintah Allah kepadanya. “Fiat Voluntas Tua atau terjadilah padaku menurut kehendak-Mu,” kata Uskup dalam misa syukur seusai pemberkatan Gua Hati Maria Paroki Mandala.

Sementara Parokus Mandala, RP Robertus Hadun CMF mengatakan, sepuluh tahun Paroki St. Yohanes Penginjil Mandala Medan sepatutnya kita syukuri, karena terpatri jejak langkah para perintis awal paroki bersama Komunitas Claretian. Menurutnya, jejak 10 tahun untuk sebuah paroki termasuk usia muda.

“Di penghujung tahun 2017 lalu sudah ada niat yang begitu kuat, menjadikan momen 10 tahun paroki guna mengusik kembali kesadaran seluruh umat,” ujar Pastor Robertus.

Menurutnya, Gereja sebagai persekutuan orang-orang tentu memiliki dinamika tersendiri di dalamnya. “Gereja dituntut untuk merefleksikan dirinya menemukan wajah baru sesuai zaman. Ketidakmampuan gereja menampilkan wajah baru mengakibatkan kehilangan masa depannya. Dengan menemukan wajah baru sesuai zaman, inilah disebut gereja yang hidup.” Continue reading →

[Kisah] Pastor Damian & Jam Dinding

RP Damian O Carm (Copyright: Komsos KAM)

Pada 17 April 1998, Pastor Damianus Christanto Parngadi, O.Carm diantar oleh Pastor Angelus Soepratignjo, O.Carm masuk ke dalam Biara Karmelites Santo Yosef, Benturung, Palangkaraya sambil memangku sebuah jam dinding kiriman dari Biara Karmelites Fios Carmeli, Batu.

Menurut cerita, jam dinding itu selalu dalam pelukan Pastor Damianus sejak berangkat dari Malang. Dia telah sampai pukul 07.00 pagi di Bandara Juanda, Surabaya. Sial, pesawat ditunda sampai dengan pukul 15.30, sehingga tiba di tujuan tepat menjelang makan malam. Continue reading →