Gallery

“Laksanakan Tugas Mengajar Demi Kristus, Gurumu”

Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap menahbiskan tiga Imam Diosesan KAM di Gereja Paroki St. Joseph Jalan Bali – Pematangsiantar, pada Kamis (19 Agustus 2021).

Ketiga Imam Diosesan KAM tersebut ialah: RD. Rafael Henra Wibowo Sirait (Putra Paroki St. Fidelis Sigmaringen – Parapat), RD. Finsensius Purba (Putra Paroki St. Fransiskus Assisi – Saribudolok), dan RD. John Paul Tri Siboro (Putra Paroki Sakramen Maha Kudus – Kisaran).

Walau masih dalam kondisi pandemi covid-19, acara berjalan lancar dan penuh hikmat. Prosesi tahbisan yang berlangsung di Gereja Paroki Jalan Bali ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat.  Para umat yang hadir dibatasi hanya sebatas keluarga Imam baru dan tamu undangan, pengecekan suhu, cuci tangan serta penggunaan masker diwajibkan.

Mgr. Kornelius menyampaikan, “Tahbisan Imamat ini mengusung tema: “Tuhanlah Gembalaku, tak akan kekurangan aku.” Tuhan Allah mengangkat bagi kita gembala-gembala yang sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga mereka dapat menggembalakan umat dengan pengetahuan dan kepedulian.”

Continue reading
Gallery

Albertus Gregory Tan: Diberkati Bukan Karena Materi, Tapi Memberi Dari Kekurangan Kami

greg-dan-Mgr-Pius-1

Setelah berhasil menggalang gerakan via Program Peduli Gereja Katolik (PPGK), Albertus Gregory Tan dan rekannya lalu mendirikan Yayasan Vinea Dei pada 2017. “Yayasan ini adalah legalisasi dari gerakan Program Peduli Gereja Katolik yang sudah dimulai sejak tahun 2011,” terang Greg, dalam satu kesempatan wawancara bersama Komsoskam.com, Jumat (8 November 2019).

Dia menerangkan, setelah enam tahun memulai gerakan PPGK, dukungan umat Katolik semakin meluas membuat aliran donasi menjadi semakin deras dan tak terbendung. “Tentu membentuk Yayasan ini bukan karena kebetulan, semuanya harus diawali dengan banyak pengalaman bagaimana berusaha membangun trust dari banyak orang yang sangat sulit didapatkan. Pengalaman ini yang akhirnya memberanikan diri saya dan teman-teman sepakat mendirikan Yayasan Vinea Dei.”

Putra dari pasutri Athanasius Andry & Katarina Jullany menjelaskan, gerakan ini lahir dari pengalaman spiritual – mistik yang sampai hari ini sangat sulit saya jelaskan. “Bagaimana suara Tuhan itu saya dengar amat jelas dan keinginan hati yang amat kuat untuk berbuat sesuatu meski saat itu kondisinya sangat tidak memungkinkan. Pengalaman ini saya maknai seperti kisah lima roti dan dua ikan. Bagaimana saya bisa membantu orang lain karena saya masih mahasiswa saat itu yang tidak berpenghasilan,” ujarnya.

“Saya juga berdevosi secara mendalam kepada St. Fransiskus Assisi, bukan hanya karena kisah hidupnya yang memperbaiki Gereja secara fisik, namun perjumpaannya dengan Kristus itu sungguh membaharui dirinya dan menginspirasi para pengikutnya untuk hidup sederhana dan bersaudara. Pengalaman itu menjadi amat transformatif untuk pribadi saya,” imbuh saudara kandung Michael Noviando. Continue reading

Gallery

Warisan Semangat Pastoral Komunikasi Sosial dari Dekrit Inter Mirifica

dokumen Inter Mirifica lahir dari Konvisi Vatikan II
dokumen Inter Mirifica lahir dari Konvisi Vatikan II

Di antara penemuan yang mengagumkan. Demikian lah frase awal dari Dekrit Inter Mirifica (4 Desember 1963), salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yang dinamakan sesuai penggalan awal paragraf pembukanya.

Frase tersebut adalah ungkapan kagum atas kemampuan teknologi komunikasi dan informasi di zaman Konsili Vatikan II. Di antaranya: telepon, radio, media cetak (seperti koran dan majalah), hingga televisi hitam-putih. Ya, benar. Bahkan pada masa itu, para bapa konsili telah membaca tanda zaman, secara khusus perihal teknologi tersebut.

Kekaguman tersebut atas kemampuan teknologi komunikasi dan informasi menembus batas waktu dan tempat, hingga daya-nya untuk menggerakkan massa (sejumlah besar insan). Sebab kemampuan itu, Gereja kemudian mencetuskan istilah ‘Komunikasi Sosial’. 

Dan, atas dasar itu juga, Inter Mirifica dibuat. Yakni, pada upaya-upaya komunikasi sosial yang pada hakikatnya mampu mencapai dan menggerakkan bukan hanya orang perorangan, melainkan juga massa.

Gereja menyadari bahwa media komunikasi sosial dapat bermanfaat untuk mewartakan kabar gembira, terutama bila digunakan secara tepat. Namun Gereja juga cemas apabila manusia cenderung menyalahgunakannya. Media berwajah ganda. 

Gereja memandang sebagai kewajibannya, untuk juga dengan memanfaatkan media komunikasi sosial menyiarkan Warta Keselamatan, dan mengajarkannya, bagaimana manusia dapat memakai media itu dengan tepat.

Konsili mendukung sepenuhnya perhatian dan kewaspadaan Paus dan Uskup dalam perkara yang penting ini. Sekaligus percaya bahwa ajarannya akan berguna, tidak hanya bagi umat Katolik tetapi juga bagi masyarakat umum. Continue reading

Gallery

Ketua STP Bonaventura – Deli Tua, Paulinus Paul Tibo: “Saya Memang Lahir dari STP”

Ketua STP Deli Tua Paulinus Tibo membaca majalah Menjemaat
Ketua STP Deli Tua Paulinus Tibo membaca majalah Menjemaat (Copyright: Komsos KAM)

Ketua Sekolah Tinggi Pastoral (STP) St. Bonaventura – Deli Tua, Paulinus Tibo baru saja memberi bimbingan bagi beberapa mahasiswa, tatkala Menjemaat datang menyapa, pada Sabtu (21 September). “Saya berasal dari keluarga besar. Sepuluh bersaudara. Di antara kami, ada yang terpanggil menjadi Suster dan Frater. Dan ada juga yang menjadi guru Agama Katolik, seperti saya,” ucap pria kelahiran Ende, 13 September 1985, dengan logat khas Flores.

Dia mengakui, rahmat dalam jalan karya pelayanan hingga sejauh ini merupakan buah dari ketekunan orang tua. “Bapak dan Mamak saya adalah petani. Keduanya sejak muda sudah aktif di gereja. Oleh sebab itu, kami anak-anaknya telah memetik rahmat Tuhan dari pelayanan mereka di Gereja,” ucapnya.

Sebelum bertugas di STP Deli Tua, Paulinus mengenyam pendidikan magister di IPI Malang. Setelah lulus pada 2015, Ketua STP Deli Tua (sebelumnya), Fr. Tugas Ginting OFM Conv. menggaetnya untuk bergabung di lembaga pendidikan milik Keuskupan Agung Medan. “Latar belakang pendidikan saya memang di jurusan pastoral dari IPI Malang, hanya saja nggak jadi pastor,” ucapnya disusul derai tawa.

Pada September 2015, Paulinus mulai menjadi staf Dosen di STP Deli Tua. Kemudian, pada November 2015, dia dipercaya menjabat Kepala Program Studi (Kaprodi). “Pada tahun 2017, KAM dan Yayasan Budi Murni memilih saya untuk menggantikan Frater Tugas selaku Ketua STP Deli Tua. Dari sisi perjalanan karir, sepertinya amat cepat ya,” ujar pria yang masih melajang tersebut.

Karena pengalaman terbatas, dia mengaku masih terus belajar untuk pengembangan STP Deli Tua. “Namun, saya merasa mudah meneruskan tugas ini karena latar pendidikan S1 dan S2 saya dari STP. Saya memang lahir dari STP. Mungkin ini juga pertimbangan dari yayasan dan dewan pembina, memilih saya dalam kepemimpinan kampus.” Continue reading

Gallery

RP. Fransiskus de Sales Borta Parlindungan Rumapea O.Carm: “Masih Dalam Suasana Bulan Madu”

RP Frans Borta Rumapea OCarm
RP. Frans Borta Rumapea, O.Carm

Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Medan, RP. Fransiskus de Sales Borta Parlindungan Rumapea, O.Carm menyambut dengan senyum ramah, kala tim Menjemaat menyambangi kantornya. “Saat ini saya masih dalam suasana berbulan madu,” ujarnya berseloroh, kala menjawab pertanyaan bagaimana rasanya menjadi Sekjen KAM yang baru.

Putra dari pasutri Artianus Harber Rumapea dan Rowana br. Sinaga mengaku tak pernah terpikir dipercaya memangku peran tersebut. “Saya tak pernah membayangkan menjadi Sekjen KAM. Sebab selama ini tak pernah menjabat tugas sekretaris. Sepengetahuan saya hanya menjalani peran notulis dan sekretaris di Dewan Imam KAM,” ujar alumnus Master of Theological Studies dalam bidang Moral and Practical Theology di The Melbourne College of Divinity, Australia.

Imam Karmelit ini mengaku dapat kabar awal kabar perihal pengangkatan menjadi Sekjen dari Uskup Emeritus, Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap. “Pemberitahuan resmi kemudian datang dari Propinsial Ordo Karmel di Malang,” aku pastor yang menerima tahbisan Imamat di Paroki Kristus Raja, Perdagangan pada 21 November 1997. “Mulanya saya menolak, karena faktor usia. Namun atas kaul ketaatan, saya kemudian menerima tugas perutusan tersebut.”

Eks Parochus di Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan mengaku beruntung sebab administrasi dan korespondensi di KAM telah tertata dengan baik. “Dalam pelaksanaan tugas baru ini, saya merasakan bahwa seluruh pihak di Kuria ini sungguh kooperatif. Dan para personil juga sudah berpengalaman,” terangnya. “Namun, saya kira perlu ada pembenahan database yang bisa dengan cepat untuk merujuk data paroki maupun keuskupan. Tantangannya, saya kira adalah membangun database secara online agar bisa diakses dengan cepat. Saya mengakui terbatas dalam penguasaan teknologi informasi ini.”

Di sela kesibukan sehari-hari, Pastor Borta tetap berolah raga untuk menjaga kebugaran tubuh. “Semasa muda dahulu, saya gemar bermain sepakbola. Sekarang karena faktor usia dan hal lain, saya lebih kerap jogging dan lari,” aku penyuka masakan opor ayam berbumbu kacang. “Syukurlah saya belum ada pantangan dalam hal makanan. Opor ayam tersebut adalah masakan khas orangtua kami. Kalau pulang ke kampung saya sering minta Ibu masak itu (opor ayam berbumbu kacang).”

Dalam bincang bersama Menjemaat, Pastor Borta sempat mengisahkan kisah pemberian namanya. “Saya dengar kisah ini dari orangtua. Kata mereka, ketika kecil saya hampir meninggal. Kemudian opung menganjurkan agar saya diberi nama Borta, karena saya telah membuat banyak orang menangis. Dan semoga kelak berguna sebagaimana pohon borta atau enau,” tutur anak ketiga dari sembilan bersaudara.

(Ananta Bangun)

/// ditulis untuk majalah resmi Keuskupan Agung Medan, MENJEMAAT

Gallery

Komisi HAK KAM Gelar “Seminar Gereja Katolik dan Politik”

RD Benno Ola Tage membuka sesi seminar di samping RD Anton Moa RP Ivo Sinaga dan RD Benny Susetyo

MEDAN – Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) KAM, Jumat (23/3/2018), menghelat “Seminar Gereja Katolik dan Politik” di Catholic Center KAM, Medan. Melalui jajaran panitia, Komisi HAK KAM menyampaikan, tujuan kegiatan ini guna mengasah wawasan dan menentukan sikap agama Katolik terhadap perhelatan Pilkada Sumut 2018, dengan tetap menjaga negara kesatuan Republik Indonesia.

Ketua Komisi HAK KAM, RD Benno Olla Tage, bertindak sebagai moderator memperkenalkan tiga pemateri dalam seminar ini. Yakni, Ketua Komisi Kerawam KAM, RP Ivo Sinaga OFM Cap, Dosen Theologi Moral STFT Pematangsiantar, RD Antonius Moa Tolipung, dan Penasihat di Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), RD. Benny Susetyo.

Dalam kata sambutan, Vikjen KAM, RP Elias Sembiring OFM Cap memberi apresiasi penyelenggaraan seminar ini, sebagai referensi Gereja KAM menjelang Pilkada serentak di daerah-daerah di Sumatera Utara. “Dalam Gaudium et Spes telah menekankan bahwa Gereja wajib berperan dalam ranah politik. Terutama karena kekuasaan politik dari negara bertujuan untuk mencapai kesejahteraan umum.”

Pastor Elias juga mengutip pandangan dari negeri pizza mengenai politik, sebagai ilustrasi, “Kata orang Italia, politik itu seperti dapur. Tidak akan pernah benar-benar bersih. Tetapi, harus selalu ada tindakan untuk membuat dapur bersih. Demikianlah kiranya Gereja berperan dalam ranah politik ini, menjaganya untuk ‘bersih’,” ucapnya. Continue reading

Gallery

MEMBANGUN HABITUS BARU DALAM KELUARGA

Parokus Tiganderket, RP Evangelis Pardede OFM Cap (Copyright: Komsos KAM)

Keluarga merupakan tanda kehadiran Tuhan yang nyata, mewujudkan Sakramen Perkawinan di tengah-tengah masyarakat atau warga. Top Pastoral Priority (TPP) 2018 tentang “Keluarga Rukun” semakin memperteguh ‘rahmat’ ini, setelah TPP sebelumnya berfokus pada upaya “Keluarga Berdoa”. Menjemaat edisi ini, mengulas sejumlah harapan dan masukan dalam gerakan tersebut. Terutama perihal “Membangun Habitus Baru dalam Keluarga”. Yakni, dalam menghidupi kebiasaan menuturkan ‘maaf’, ‘permisi’, ‘tolong’ dan ‘terima kasih’.

Parokus St. Monika Tiganderket, RP. Evangelis Pardede OFM Cap menilai penghayatan habitus baru tersebut adalah tugas semua orang, secara khusus orang tua di dalam keluarganya. “Sebab dengan relasi yang baik aggota keluarga akan mampu menyatakan kasih kita kepada orang lain dengan cara yang baik pula. Dalam relasi keluarga belajar mengenal dan mengungkapkan kasih kepada anggota keluarga yang lain (ini menyangkut semua jenjang perkawinan). Perkawinan yang sudah bertahun-tahun pun belum tentu lulus dalam hal berelasi,” ujar Imam yang kerap disapa Pastor Evan kepada Menjemaat via surel.

“Menurut saya sosialisasi habitus baru ini amat baik. Ketika kita menyampaikan hal ini kepada umat berbagai tanggapan muncul, namun umumnya disadari bahwa kebiasaan ini jarang dilakukan atau bahkan tidak pernah di laksanakan. Ada rasa malu namun dari keluarga yang mencoba untuk komit melaksanakannya sungguh merasakan sesuatu yang berbeda. Karena itu, kami tetap menyampaikannya kepada umat baik dalam forum resmi maupun dalam pembicaraan biasa,” dia mengimbuhkan. Continue reading

Gallery

Memetik ‘Buah’ Tahun Keluarga Berdoa

narasumber (searah jarum jam): Damianus Haloho, keluarga M. Purba, keluarga H. Pardosi dan keluarga Baron Pandiangan (dok. Pribadi)

Saat menapak akhir 2017, Keuskupan Agung Medan juga rindu untuk memetik buah dari “Keluarga Berdoa” sepanjang tahun ini. Satu dari sejumlah gerakan yang lahir dari Sinode KAM ke-VI. Beberapa keluarga dari ragam paroki, berkenan berbagi pendapat, kesan hingga harapan pada gerakan “Keluarga Saleh” di 2018 mendatang.

Mangatur Purba dari Paroki St. Maria Ratu Rosari – Tanjung Selamat, kepada Menjemaat, mengaku telah mengetahui gerakan “Keluarga Berdoa” selama 2017 di KAM. “Di mana setiap keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak memiliki tanggung jawab bersama  untuk menjamin terlaksananya doa bersama di dalam keluarga. Berdoa dalam keluarga ini akan memupuk anak-anak menjadi umat Katolik pendoa di masa depan. Bisa kita bayangkan jika anak-anak kita sekarang ini tidak tahu, tidak mau dan tidak gemar berdoa, apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun mendatang? Gereja kita akan kosong melompong. Tentu hal ini tidak kita kehendaki terjadi pada generasi penerus kita,” ujar suami dari Erniwati br Peranginangin, dan ayah dari Fernando Erianta Purba.

“Kesan saya tentang “Tahun Keluarga Berdoa”, ini adalah momen tepat walaupun terkesan terlambat. Saya katakan tepat karena  ini merupakan satu usaha yang bisa kita lakukan untuk membentuk karakter anggota keluarga teristimewa anak-anak kita menjadi anak-anak yang tahu, taat dan gemar berdoa, dengan demikian mereka akan menjadi anak-anak yang tangguh, militan yang selalu memiliki pengharapan dan mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya,” dia menjelaskan. “Saya katakan terkesan agak terlambat, pada saat kita memulai keluarga berdoa di tahun 2017, maka saudara kita umat lain telah lama dan relatif  konsisten melakukan Keluarga Berdoa seperti sholat berjamaah bagi keluarga Muslim dan “saat teduh” bagi keluarga saudara-saudara kita di Protestan dan Kharismatik.”

Mangatur mengatakan, pengurus lingkungan St. Agustinus di stasi induk paroki (tempatnya berada), menanggapai dengan baik pelaksanaan doa dalam keluarga agar lebih semarak dan berkualitas. “Jika selama ini  kecenderungan bahwa berdoa dalam keluarga merupakan rutinitas, atau kewajiban belaka, maka pada tahun ini muncul kesadaran bahwa berdoa merupakan sapaan kepada Allah yaitu merupakan suatu rasa syukur atas berkat dan karunia yang telah kita terima di setiap detik nafas kehidupan kita,” kata Ketua Lingkungan St. Agustinus tersebut. Continue reading

Gallery

Gereja Katolik Stasi St. Paulus Kacaribu

Copyright: Komsos KAM

Tahun ini, saya niatkan untuk menulis di blog pribadi setidaknya sekali dalam satu minggu. Sayangnya, ide tak selalu datang. Maka, stok tulisan lama pun diulik kembali. Satu liputan ke kampung halaman Ibu di desa Kacaribu ini rasanya sangat menarik untuk dimuat ke blog pribadi. Semoga kiranya menjadi inspirasi bagi siapa saja insan yang membaca. Shalom.

***

Ibadah Minggu (7/12/2014) di Stasi St. Paulus Kacaribu diwarnai abu vulkanik di sekitar halaman gereja. Gunung Sinabung, pagi itu, kembali ‘batuk’ dan menebar debu putih di desa Kacaribu, Kabupaten Karo. “Saat terbangun pagi, kami sudah mendapati abu vulkanik gunung Sinabung,” ucap Ketua Dewan Pimpinan Stasi (DPS) St. Paulus Kacaribu, Adil Purba kepada Menjemaat yang berkesempatan meliput untuk kolom ‘Pesona Gereja’.

Gereja Katolik St. Paulus Stasi Kacaribu, merupakan bagian dari Paroki Santo Petrus Paulus – Kabanjahe, didirikan pada tahun 1964.  “Pada masa itu, penginjilan di desa kami diawali oleh Pastor Brans. Beliau didampingi tokoh awam Katolik, Paulus Suruhen Ginting. Itulah sebabnya, nama santo pelindung gereja stasi ini terinspirasi dari nama bapak PS Ginting,” ujar Purba menceritakan kisah awal stasi tersebut.

Penyebaran Katolik semakin besar di masa misionaris Pastor Lisi (RP Licinius Fasol OFM Cap), pada tahun 1970-an. Semangatnya bersama umat turut menarik perhatian penduduk desa Kacaribu untuk mengenal dan memeluk agama Katolik. Pastor Lisi merupakan misionaris (sejak tahun 1970-an) yang sangat akrab dikenal umat setempat.

Setelah Gereja dibangun dibangun pada tahun 1964, prakarsa untuk merenovasi gedung yang lama muncul pada tahun 2006. Saat itu, Pastor Leo Joosten tak henti-hentinya memberi motivasi agar panitia yang diketuai (alm.) Lima Kuta Girsang tetap semangat. Continue reading