Hidupta Kacaribu : Alunan Musik Gereja Mengalir dalam Hidupku

(Copyright: Komsos KAM) Hidupta Kacaribu

Semasa balita, seorang tenaga medis keliru memberikan vaksin polio untuk kakinya. Kesalahan tersebut berimbas fatal, hingga kini kakinya tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya. Namun, kelemahan fisik tersebut tidak menyisakan pedih di hati Hidupta Kacaribu. Ia lebih memilih untuk bersuka cita dalam menjalani hidupnya. Kegembiraan tersebut semakin meluap, saat dirinya menemukan dunia musik. Ia pun larut dalam gelombang nada dalam ibadah Gereja. Serta memuji nama Tuhan.

Kala pertama bersua dengan Menjemaat, Hidupta Kacaribu dibonceng oleh keponakannya Jupri ke tempat pertemuan di Gereja Katolik Stasi St. Paulus Kacaribu. Setelah menyapa dengan sapaan khas suku Karo: “Mejuah-juah”, dengan cekatan tangannya menurunkan dua roda kecil yang terpasang pada sebatang besi. Ternyata dengan alat itulah yang memudahkannya ‘berjalan’.

Dengan senyum masih terpancar di wajahnya, Hidupta beringsut gegas menuju tempat kibor di samping altar gereja. “Adik kita ini sering memainkan piano untuk ibadah misa di Gereja Katolik Kacaribu. Bahkan, sebelum misa untuk umat dewasa, ia juga mengiringi nyanyian dalam ibadah bagi anak-anak Asmika,” tutur Ketua Dewan Stasi Kacaribu, Adil Purba kepada Menjemaat. Sementara Hidupta tampak asyik menyetel kibor dan memainkan satu lagu bertema Natal.

Setelah mengiyakan penuturan bapak Purba, Hidupta mengatakan dirinya tidak pernah mengikuti kursus resmi sehingga mahir memainkan kibor. Semuanya secara otodidak atau mengamati dan uji coba sejak tahun 2008 lalu. “Bahkan, saya juga tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah resmi hingga kini,” aku putra dari pasangan Pulungan Kacaribu dan Sabar br Bangun ini, yang mengatakan dirinya belajar membaca dan menulis dari kakak kandungnya. Continue reading

Advertisements

Gereja Katolik Stasi St. Paulus Kacaribu

Copyright: Komsos KAM

Tahun ini, saya niatkan untuk menulis di blog pribadi setidaknya sekali dalam satu minggu. Sayangnya, ide tak selalu datang. Maka, stok tulisan lama pun diulik kembali. Satu liputan ke kampung halaman Ibu di desa Kacaribu ini rasanya sangat menarik untuk dimuat ke blog pribadi. Semoga kiranya menjadi inspirasi bagi siapa saja insan yang membaca. Shalom.

***

Ibadah Minggu (7/12/2014) di Stasi St. Paulus Kacaribu diwarnai abu vulkanik di sekitar halaman gereja. Gunung Sinabung, pagi itu, kembali ‘batuk’ dan menebar debu putih di desa Kacaribu, Kabupaten Karo. “Saat terbangun pagi, kami sudah mendapati abu vulkanik gunung Sinabung,” ucap Ketua Dewan Pimpinan Stasi (DPS) St. Paulus Kacaribu, Adil Purba kepada Menjemaat yang berkesempatan meliput untuk kolom ‘Pesona Gereja’.

Gereja Katolik St. Paulus Stasi Kacaribu, merupakan bagian dari Paroki Santo Petrus Paulus – Kabanjahe, didirikan pada tahun 1964.  “Pada masa itu, penginjilan di desa kami diawali oleh Pastor Brans. Beliau didampingi tokoh awam Katolik, Paulus Suruhen Ginting. Itulah sebabnya, nama santo pelindung gereja stasi ini terinspirasi dari nama bapak PS Ginting,” ujar Purba menceritakan kisah awal stasi tersebut.

Penyebaran Katolik semakin besar di masa misionaris Pastor Lisi (RP Licinius Fasol OFM Cap), pada tahun 1970-an. Semangatnya bersama umat turut menarik perhatian penduduk desa Kacaribu untuk mengenal dan memeluk agama Katolik. Pastor Lisi merupakan misionaris (sejak tahun 1970-an) yang sangat akrab dikenal umat setempat.

Setelah Gereja dibangun dibangun pada tahun 1964, prakarsa untuk merenovasi gedung yang lama muncul pada tahun 2006. Saat itu, Pastor Leo Joosten tak henti-hentinya memberi motivasi agar panitia yang diketuai (alm.) Lima Kuta Girsang tetap semangat. Continue reading