Gallery

Mengapa Menulis?

Kita sering bertanya: “Mengapa (harus) menulis?”, walau sebenarnya kita sering menulis dalam keseharian.

Semisal, menulis daftar belanja, mengirim pesan dari gawai, hingga sekedar merunut beberapa gagasan di selembar kertas.

Menulis, tanpa disadari, adalah kiat komunikasi yang kita batasi dalam sifat yang remeh saja. Seperti contoh disebut tadi.

Padahal, dengan menulis, gagasan baik yang kita miliki mudah disebar ke banyak orang, dia bisa abadi untuk diwariskan turun-temurun, bahkan jadi rujukan tetap.

Bayangkan jika kita harus mengulang-ulang penjelasan dari ide cemerlang secara lisan. Pemaparan itu sangat mungkin berubah dan rumit untuk dipahami.

Karena bisa dibaca dan dipelajari secara mendalam, ide tulisan bisa diperdebatkan. Maka ini menjadikan si penulis bertanggungjawab. Penulis yang gemar menyebar kabar bohong akan segera ditinggal audiens nya. Siapa yang mau ‘menelan’ tulisan bohong?

Maka, hayuk coba menuliskan gagasan milik kita. Sebagai permulaan belajar mempengaruhi dan mendorong dunia yang lebih baik. Bisa jadi, itu hanya soal menghemat uang belanja, kebersihan lingkungan, dan usulan lain yang semakin hebat.

Namun bagai sekumpulan titik, tiap-tiap hasil tulisan ini akan membuat Anda sebagai pribadi luar biasa di tengah sesama.

Mari menulis!

Gallery

Mengapa menulis di blog?

Mengapa menulis di blog? Jawaban yang lekas melesat di pikiranku adalah: mudah dan abadi. Ia mudah, sebab tak banyak proses yang musti ditempuh untuk menerbitkan konten (baik tulisan, gambar hingga video).

Sukar membayangkan jika alur pemuatan artikel di blog mirip dengan redaksi media profesional. Harus ditulis oleh seorang reporter dahulu, kemudian dibaca dan disunting oleh redaktur, untuk kemudian diputuskan oleh pemimpin redaksi ‘apakah artikel ini layak muat atau tidak’.

Tak dipungkiri, alasan ‘kemudahan’ ini turut berperan dalam penyebaran berita palsu atawa hoax. Namun, seiring waktu, kemampuan literasi pembaca dan teknologi akan mampu memilah warta-warta tak baik itu.

Tadi, aku sebut juga perihal ‘keabadian’. Menulis di media sosial seperti Facebook dan Twitter juga baik, namun dalam hal ‘abadi’ ini patut disorot. Entah lah jika dalam beberapa tahun (usai artikel ini diterbitkan) terjadi perubahan kebiasaan. Namun, konten (khususnya tulisan) di media sosial, amat jarang ditelusur ulang di mesin pencari. Konten di blog akan tersusun rapih, tanpa ditimpa berbagai status ringkas. Sehingga memudahkan untuk melirik dan takzim membaca artikel yang pernah dimuat.

Maka, baiklah untuk menulis di blog. Berbagai penyedia blog semakin serius mengemas agar kita senang dan nyaman menerbitkan ragam artikel. Apa untungnya bagi mereka? Tentu saja data yang kita bagi melalui blog tersebut. Kedua belah pihak saling diuntungkan. Hepi.

Gallery

Mitos Tujuan: “Saat Saya mencapai puncak, barulah saya akan belajar untuk memimpin”

marathon-runners
dipinjam dari: https://joeoriade.com

John Calvin Maxwell adalah seorang pendeta, pembicara, dan penulis Amerika yang menulis banyak buku, terutama fokus pada tema kepemimpinan. Dalam satu bukunya, berjudul 360 degree leader, aku mengutip kisah inspiratif. Semoga bisa bermanfaat juga bagi pembaca lainnya. Berikut petikannya:

Pada 2003, Charlie Wetzel, juru tulis saya, memutuskan bahwa dia ingin meraih satu target yang telah dipendamnya selama lebih dari satu dekade. Dia bertekad untuk mengikuti perlombaan maraton. Andai kata suatu hari Anda bertemu dengan Charlie, Anda tidak akan pernah menduga bahwa dia adalah seorang pelari. Artikel di berbagai majalah atletik menyebutkan bahwa dengan tinggi badan 5 kaki 10 inci, seorang pelari jarak jauh seharusnya memiliki berat badan 165 pound atau kurang dari itu. Charlie memiliki berat sekitar 250 pound. Namun dia adalah seorang pelari yang rutin berlari dengan jarak tempuh rata-rata 12 hingga 20 mil per minggu dan mengikuti perlombaan lari 10K sebanyak 2 atau 3 kali setiap tahun. Jadi, dia memilih perlombaan lari maraton Chicago dan memutuskan untuk mengikutinya. Continue reading

Gallery

Menjadi Diri Sendiri

Gillian Lynne - styleable co uk
foto Gillian Lynne – dipinjam dari styleable.co.uk

Gillian baru berusia delapan tahun, tetapi masa depannya mengkhawatirkan. Para guru berpendapat tugas-tugas sekolahnya berantakan. Dia sering terlambat mengumpulkan tugas, tulisan tangannya sangat jelek, dan hasil ujiannya parah.

Bukan itu saja, dia menjadi gangguan di kelasnya. Dia tidak bisa duduk diam, dan sering melamun dan memandang ke luar jendela sehingga guru terpaksa menghentikan kelas agar dapat kembali menarik perhatian Gillian, atau mengganggu anak-anak lain di sekitarnya.

Gillian sendiri tak peduli dengan masalah ini — dia sudah biasa ditegur oleh guru, dan tidak menganggap dirinya anak bermasalah — tetapi sekolah sangat prihatin. Akhirnya, sekolah memutuskan untuk menulis surat kepada orang tuanya.

Sekolah menduga Gillian menderita semacam gangguan belajar dan lebih baik dimasukkan ke sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Orang tua Gillian sangat cemas ketika menerima surat dari sekolah dan langsung mengambil tindakan. Sang Ibu mendandani putrinya dengan baju dan sepatu terbaik, merapikan rambutnya, lalu membawanya ke seorang psikolog. Dan bersiap menghadapi kenyataan terburuk.

Gillian bercerita bahwa dia ingat dibawa ke ruangan besar berpanel kayu ek dengan rak berisi buku-buku bersampul kulit. Di sebelah meja besar di ruangan itu, berdiri seorang pria yang mengenakan jaket wol tebal. Pria itu menghampiri Gillian, lalu membawanya ke sofa kulit besar di ujung ruangan. Gillian duduk di sofa dengan kaki menjuntai, dan hal ini membuatnya gugup. Dia sengaja menduduki tangannya sendiri untuk menekan kegugupannya.

Psikolog itu kembali ke mejanya, dan menanyai ibu Gillian. Meskipun masih sangat muda, Gillian tahu pria ini akan berperan penting dalam hidupnya. Gillian tahu apa artinya masuk “sekolah khusus”, dan dia tidak mau itu terjadi. Dia tidak merasa punya masalah, tetapi orang-orang lain sepertinya menganggap dirinya begitu. Mendengar cara ibunya menjawab pertanyaan, mungkin saja ibunya sendiri merasakan bahwa Gillian punya masalah.

Mungkin, pikir Gillian, mereka benar. Continue reading

Gallery

Sisi Lain Keheningan, Masihkah? (Refleksi Buku The Power of Silence)

Belakangan ini, aku kehabisan gagasan untuk menulis. Ide yang mencuat malah mengingatkan pada tulisan penuh ilham oleh Milda Pinem, tepatnya artikel yang dia kirim buat majalah online Lentera (kini sudah mati suri). Sudah sejak lama aku memohon izinnya untuk kumuat di blog pribadi ini. Dan jawabannya, selalu dengan tulus mengiyakan. Walau telah berkali-kali membaca karya tulisannya ini, aku tetap meresapi petuahnya. Tak lekang oleh waktu.
***

Di perpustakaan sebuah universitas tempat saya biasa menghabiskan hari-hari belakangan ini, terdapat ruang baca di lantai dua. Sebuah area yang melarang siapa saja untuk berbicara (keras), tidak boleh gaduh, bising, tidak direstui membawa makanan, kecuali minuman yang tersimpan di dalam wadah yang aman. Tidak banyak mahasiswa yang betah di ruangan ‘soliter’ itu di hari-hari biasa, kecuali menjelang ujian.

Hanya segelintir orang termasuk para mahasiswa postgraduate ataupun para peneliti bermuka ‘kusut’ yang tampak sibuk membaca lembaran-lembaran kertas tua, yang selalu menjadi pengunjung setia. Tak ada yang cukup berani melangkah tergesa. Tiada yang punya nyali menyapa seseorang. Keheningan adalah keharusan. Diam adalah kewajiban. Lain kisah di ruang-ruang lainnya. Rasa ‘hangat’ takkan membuat kita merasa sendiri. Kita takkan merasa sepi. Siapa saja boleh tertawa. Diizinkan bergurau. Silahkan berdiskusi. Boleh makan (diam-diam).

Sungguh keheningan begitu menakutkan, demikian saya membatin. Kesunyian adalah teror. Ia tidaklah digandrungi. Siapakah yang bisa bertahan bersamanya? Tanpa ‘suara’, kita akan ‘tersesat’. Kita menjadi ‘bukan apa-apa’. Kita bermukim bersama ‘hantu-hantu’. Sungguh menyeramkan. Kita ‘dipaksa’ untuk menghadapi gejolak diri sendiri. Keramaian ternyata telah memberi jaminan keamanan dan kenyamanan. Banyak diam pun dipandang sebagai wujud kelemahan, ketidakpedulian, bahkan lemahnya kehendak.

Celotehan banal nan dangkal lebih diminati. Mereka berlomba dipertontonkan entah di media sosial, surat kabar, televisi, atau di mana-mana. Kita merelakan diri terperangkap di dalam rimba kata-kata, gambar-gambar, dan imaji-imaji. Kita menceburkan diri ke dalam samudera kebisingan yang tak bertepi. Suara dan kata adalah candu. Continue reading

Gallery

Doa Seekor Burung

Sumber: http://baptistmessage.com

Jika bisa memahami hidup seekor burung, bagaimanakah mahluk bersayap ini mengucapkan doa? Atau singkatnya, apakah kira-kira ucapan doanya kepada Tuhan?

Pastor Kosman P. Sianturi OSC, dalam satu rekoleksi pegawai Keuskupan Agung Medan (KAM) di Pusat Bina Iman St. Yusuf – Mela, Sibolga, Jumat (28/4/2017), ‘menantang’ kami untuk menuliskannya. “Kalian boleh tidak menulis, atau menghafalnya. Namun lebih baik jika dituliskan,” ujar Pastor Ketua Komisi Keluarga KAM itu.

Sebenarnya ini bisa kuanggap mudah, fikirku. Tapi aku tersentak juga. Saat mereka-reka insting seekor burung, dia tentu memohon secara sederhana: makanan dan hidup terbebas ancaman. Setidaknya inilah menurutku.

Maka, aku menuliskannya seperti ini:

“Ya, Allah.

Berilah aku makanan pada hari ini, dan lindungilah aku dari setiap cobaan atau marabahaya.

Terima kasih untuk kasih dan pemeliharaan-Mu. Amin.”

Aku tersentak karena mengingat doa-doaku yang lalu. Permohonan yang rumit, bertele-tele. Atau juga aku yang tidak tahu apa yang hendak kumohon kepada Tuhan.

Menakup tangan, menutup mata dan menenangkan batin serta fikiran. Lalu mulut komat kamit. Sering tanpa suara. Demikian aku menyebut diri sedang berdoa. Namun ternyata doa lebih mendalam daripada itu. Dia (inti pesan doa) lebih sederhana dan jelas.

Sederhana itu jelas dan berdaya. Sehingga ‘dia’ (inti pesan) mudah ditemukan. Mungkin seperti kala aku bayi langsung menemukan/ mengenali Mamak (Ibu) karena suara dan bau tubuhnya. Maka, sepertinya aku bahagia karena ‘terlahir’ kembali dalam pemahaman. Sama bahagianya dengan Archimedes saat menemukan hukum massa dengan menceburkan badannya ke kolam air, dan keluar lagi sambil berseru: “Eureka!”.

Aku bersyukur memperoleh inspirasi baru ini. Terima kasih atas petunjuk-Mu, ya Tuhan. Amin.

Gallery

Agoez Perdana: Bagi Saya, Berbagi Inspirasi adalah Investasi Akhirat

Dok. Pribadi | Repro untuk halaman Lentera News

Artikel ini adalah bagian liputan untuk majalah online Lentera News. Hal yang unik adalah saya mewawancara sobat saya sendiri, Agoez Perdana. Namun saya dimudahkan karena telah beberapa kali turut dalam training yang dia bawakan.

Melirik kembali artikel ini, saya berfikir perlu belajar menulis lebih giat lagi. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Namun sebagaimana sejatinya sebuah otokritik. Setiap penilaian dan koreksi adalah untuk membangun diri sendiri. Kiranya gagasan utama dalam tulisan ini juga menggugah saudara/i pembaca.

***

Agoez Perdana mengawali  karir sebagai Jurnalis di Radio. Dari media elektronik ini, ia merintis pemahaman  jurnalistik, khususnya broadcasting. Sebagai jurnalis, ia  melabuhkan pemahaman jurnalistiknya di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Dia (pada saat diliput untuk tulisan ini) menjalankan amanah sebagai Koordinator Divisi Advokasi AJI Medan. Tidak hanya untuk menanamkan etika jurnalistik yang benar. Ia juga sering diundang menghadiri sejumlah pelatihan. Baik di ranah jurnalistik, hingga melebar ke masalah hukum jurnalistik dan sosial. Pengalaman tersebut menyalakan ‘lampu’ gagasannya. “Mengapa tak saya coba berbagi pengetahuan ini dengan orang lain? Dimulai dari sahabat-sahabat terdekat,” ujarnya.

Berbekal pengalaman  meliput dan sejumlah pelatihan, Agoez Perdana memberanikan diri berbagi pengetahuannya dengan sesama.  “Kala pertama, saya  ditawari salah satu yayasan milik  perusahaan kelapa sawit  Labuhanbatu.  Tanpa linglung, saya terima. Sebab toh saya telah mengetahui materi pelatihannya terlebih dahulu. Apalagi, saat itu Teknik Presentasi yang menjadi tema pelatihannya termasuk hobi saya juga, “ kata pria yang kini disibukkan dengan media online KabarMedan.com (http://www.kabarmedan.com). Continue reading