Menjadi Diri Sendiri

Gillian Lynne - styleable co uk

foto Gillian Lynne – dipinjam dari styleable.co.uk

Gillian baru berusia delapan tahun, tetapi masa depannya mengkhawatirkan. Para guru berpendapat tugas-tugas sekolahnya berantakan. Dia sering terlambat mengumpulkan tugas, tulisan tangannya sangat jelek, dan hasil ujiannya parah.

Bukan itu saja, dia menjadi gangguan di kelasnya. Dia tidak bisa duduk diam, dan sering melamun dan memandang ke luar jendela sehingga guru terpaksa menghentikan kelas agar dapat kembali menarik perhatian Gillian, atau mengganggu anak-anak lain di sekitarnya.

Gillian sendiri tak peduli dengan masalah ini — dia sudah biasa ditegur oleh guru, dan tidak menganggap dirinya anak bermasalah — tetapi sekolah sangat prihatin. Akhirnya, sekolah memutuskan untuk menulis surat kepada orang tuanya.

Sekolah menduga Gillian menderita semacam gangguan belajar dan lebih baik dimasukkan ke sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Orang tua Gillian sangat cemas ketika menerima surat dari sekolah dan langsung mengambil tindakan. Sang Ibu mendandani putrinya dengan baju dan sepatu terbaik, merapikan rambutnya, lalu membawanya ke seorang psikolog. Dan bersiap menghadapi kenyataan terburuk.

Gillian bercerita bahwa dia ingat dibawa ke ruangan besar berpanel kayu ek dengan rak berisi buku-buku bersampul kulit. Di sebelah meja besar di ruangan itu, berdiri seorang pria yang mengenakan jaket wol tebal. Pria itu menghampiri Gillian, lalu membawanya ke sofa kulit besar di ujung ruangan. Gillian duduk di sofa dengan kaki menjuntai, dan hal ini membuatnya gugup. Dia sengaja menduduki tangannya sendiri untuk menekan kegugupannya.

Psikolog itu kembali ke mejanya, dan menanyai ibu Gillian. Meskipun masih sangat muda, Gillian tahu pria ini akan berperan penting dalam hidupnya. Gillian tahu apa artinya masuk “sekolah khusus”, dan dia tidak mau itu terjadi. Dia tidak merasa punya masalah, tetapi orang-orang lain sepertinya menganggap dirinya begitu. Mendengar cara ibunya menjawab pertanyaan, mungkin saja ibunya sendiri merasakan bahwa Gillian punya masalah.

Mungkin, pikir Gillian, mereka benar. Continue reading →

Eviani Messy Juliana: TUHAN TELAH MERENCANAKAN JALAN HIDUPKU UNTUK RUMAH-NYA

Copyright: Komsos KAM | Eviani Messy Juliana

Bagi saudara/ i yang kerap mengunjungi Graha Maria Annai Velangkanni, maka wajah Eviani Messy Juliani sudah tidak asing. Berkenaan dengan tugas liputan untuk majalah Menjemaat edisi April 2015, saya pernah menulis kisah pengalaman iman saudari ini.

Tidak pernah terbersit dalam benak saya bahwa tulisan tersebut bakal bersambung di kemudian hari (seusai dicetak). Hingga pada awal bulan April tahun 2017 ini, saat saya dan Istri menyambangi Velangkanni, bersua denga Evi. Kisah iman dan kerinduan bertemu dengan Ibu kandungnya telah terwujud.

Saya kian takjub saat saudari Evi berkata telah menuliskan sendiri sambungan tulisan kisahnya di Menjemaat kemarin (sub judul terakhir dalam artikel ini). Saya usul apakah dia berkenan untuk dimuat di blog saya ini. Tanpa pikir lama, dia menjawab ‘ya.’ Semoga tulisan kisah ini (dengan penceritaan orang pertama) turut menumbuhkan iman dan pengharapan baru. Sebagaimana kedua nilai tersebut hidup dalam diri saudari Evi. Amin.

***

 

Saat masih di usia belia, saya telah ditinggal pergi kedua orangtua. Pengalaman getir itu membuat saya terlunta-lunta. Relung hati saya lama hampa, dan merindukan hangatnya keluarga. Saya lalu menemukannya dengan jalan pengabdian bagi-Nya. Jalan yang tak pernah saya duga dalam liku kehidupan ini. Namun selalu saya syukuri. Mengapa? Berikut penuturan kisah saya.

Pada tanggal 6 September 1990, saya lahir dari pasangan lintas etnis. Ayah (RC) saya adalah etnis India, sementara Ibu (MyL) berasal dari keluarga etnis Tionghoa. Disamping itu, kedua orangtua saya bukanlah penganut Katolik hingga saat ini. Kenyataan tersebut yang kerap membuat saya sadar bahwa rencana-Nya jua yang hadir dalam kehidupan ini. Meskipun pada awalnya hal membuat pengalaman getir.

Sebagai anak tunggal, pada masa itu, sungguh menyenangkan memperoleh kasih sayang orangtua. Hanya saja keindahan tersebut tidak berlangsung lama. Pada saat saya berusia 9 tahun. Ayah pergi meninggalkan saya dan Ibu. Selang beberapa bulan kemudian, Ibu juga turut pergi meninggalkan saya di Medan. Saya hanya ingat dibawa mengunjungi rumah adik Ibu, dan kemudian saya tak pernah lagi melihat raut wajahnya hingga kini. Continue reading →