Gallery

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (III)

Ilustrasi dari Pexels.com

MENGENAL ‘FEATURE’

Feature merupakan gaya liputan yang sudah lama dianut, nyaris setua riwayat jurnalistik itu sendiri (demikian dituturkan Fahri Salam dalam bab ‘Pembuka’ di buku “Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme” | Pindai: 2016).

Goenawan Mohammad, dalam buku “Sendainya Saya Wartawan TEMPO” (Tempo Publishing: Mei 2015), menuliskan pengertian feature sebagai: “adalah artikel kreatif, kadang-kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan.”

Goen juga menambahkan, ada juga pernyataan bahwa feature… :”cenderung lebih untuk menghibur ketimbang untuk menginformasikan.”

Tidak seperti menulis berita biasa, menulis feature memungkinkan reporter “menciptakan” sebuah cerita. Memang, ia masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat, dan seterusnya, sebab feature, dengan segala “kebebasan”-nya, tetaplah ragam tulisan jurnalistik – bukan fiksi.

Luwi Ishwara dalam buku “Jurnalisme Dasar” (Penerbit Buku Kompas: 2011) menuliskan, dari segi sifatnya, feature dapat dibagi dua: feature berita dan feature human interest. Feature berita adalah sebuah berita yang ditulis dalam bentuk feature, dan pemuatannya terikat dengan waktu. Sedangkan, feature human interest tidak mengandung unsur berita dengan segala dimensinya (basi/ tidak basi) sehingga dapat dimuat kapan pun dan mengandung human interest.

Artikel dari majalah Menjemaat (majalah resmi Keuskupan Agung Medan), berjudul: “RP Antonius Siregar OFM Cap: “Saya Bersyukur atas Rahmat-Nya” “, ini merupakan satu contoh feature human interest. [artikel utuh dapat dilayari via tautan ini: https://anantabangun.wordpress.com/2017/03/29/rp-antonius-siregar-ofm-cap-saya-bersyukur-atas-rahmat-nya/ ]

Continue reading

Keheningan, Sebuah Selingan

Jpeg
mawar yang kupotret, tadi malam. 🙂

Istriku, Eva Barus, mengawali bincang seusai makan malam kami tentang setangkai mawar. “Lihat mawar ini baru mulai mekar,” ucapnya, seraya menunjuk pada tumbuhan yang bersemburat dari polybag-nya yang kusam.

“Biarpun kecil, tapi bikin perbedaan.”

Kata kunci itu membuat pikiranku menarik ingatan pada catatan pingggir Goenawan Mohammad berjudul “Sopir”. Dari bantuan mbah Google, aku tercenung membaca tulisan yang dimuat di majalah Tempo edisi 15 Maret 2010 ini:

… . Hening itu sebentar, tapi begitu berharga dan mengejutkan—seperti anggrek putih yang sendirian di kebun di sebelah kamarnya itu, kebun dengan tiga batang pohon dan 3 x 3 meter persegi petak rumput. Anggrek itu di sana tampak yang paling beda, sebuah selingan, sebuah surprise.

Mawar kecil itu pun sebuah selingan bagi kami. Penyegar di tengah-tengah ributnya cengkerama hingga debat tentang Pemilihan Kepala Daerah 2017, khususnya di DKI Jakarta. Walaupun tak bersuara, mawar itu berdaya pikat mengalihkan perhatian kami. Untuk menemukan ilham yang membersihkan ruang hati dari debu-debu curiga, pesimis hingga benci. Continue reading