Gallery

Majalah

ilustrasi dari Pexels.com

Jika hendak mencari pengertian majalah di Wikipedia (ensiklopedia daring), kita bakal menemukan ini: “Majalah (bahasa Inggris: magazine, periodical, glossies atau serials) adalah penerbitan yang dicetak menggunakan tinta pada kertas, diterbitkan berkala, misalnya mingguan, dwi mingguan, atau bulanan. Majalah berisi bermacam-macam artikel dalam subyek yang bervariasi, yang ditujukan kepada masyarakat umum dan ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang. Biasanya, majalah didanai oleh iklan, harga penjualan, biaya berlangganan yang dibayar di awal, atau ketiganya.”

Dalam pengertian yang disebut di atas, Wikipedia versi bahasa Indonesia masih menyebutkan majalah sebagai media cetak — sementara di Wikipedia versi bahasa Inggris telah memperbaharuinya, bahwa majalah kini juga sudah merambah ke media daring termasuk di dalam format website berita.

Baik di ranah media cetak dan daring (sekalipun), majalah umumnya punya karakter ‘khas’ dibandingkan saudaranya, yakni koran [di ranah media cetak] dan website berita [media daring]. Ciri khas tersebut adalah kumpulan tulisan yang lebih dalam untuk mengulas (bahkan mengkritik) sebuah peristiwa maupun kebijakan. Continue reading

Gallery

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (VI)

Ilustrasi dari Pexels.com

MENYUSUN TERM OF REFERENCE (TOR)

Term of Reference (TOR) adalah kerangka kerja yang umumnya dilakukan jurnalis profesional. Namun, tidak salah menerapkan kiat ini dalam rencana liputan menulis feature. Dalam TOR, kita dapat menyusun tema dan sudut pandang untuk meliput satu peristiwa/ pernyataan.

Frank Barrows, Redaktur Pelaksana di Charlotte Observer (Melvin Mencher di “News Reporting and Writing” (Mc Graw Hill: 2003), mengatakan perencanaan yang terinci dalam menulis feature adalah hal yang penting. “Meskipun feature bukanlah tulisan yang diringkas — laiknya berita lempeng — tak berarti bahan untuk tulisan ini bisa disusun secara acak.”

Dalam ranah pers, Rapat Redaksi bermanfaat untuk menghindari pemberitaan yang mengutip pernyataan kosong/ tidak berarti. Berita seperti ini sering disindir sebagai talking news (berita cuap-cuap).

Hasil dari Rapat Redaksi yang baik ialah sebuah TOR (Term of Reference). TOR merupakan panduan umum peliputan alias lembar penugasan.

Untuk kasus berita yang sifatnya straight news (terjadi tiba-tiba/ di luar perkiraan) seperti bencana alam, kecelakaan, kudeta dan lainnya, tentu tidak bisa didiskusikan terlebih dahulu dalam rapat redaksi.  

Dalam kasus tersebut, pewarta dapat melaporkan fakta-fakta di lapangan terlebih dahulu (jika dia merupakan wartawan media online atau elektronik). Dari data yang diperoleh kemudian dijadikan bahan diskusi dalam Rapat Redaksi untuk liputan berita berikutnya.

***

TOR yang baik adalah yang jelas dan rinci. Semakin baik TOR niscaya mempermudah pengerjaan liputan.

Namun, perlu diingat bahwa TOR adalah panduan umum. Menurut P. Hasudungan Sirait — seorang jurnalis senior — TOR  sebagai panduan umum merujuk dari sejumlah pengandaian. Yang namanya pengandaian harus diuji di lapangan. Ia bisa benar bisa salah. Kalau ternyata pengandaiannya keliru maka TOR-nya yang harus diubah. Continue reading

Gallery

MENULIS FEATURE BAGI AKTIVIS KOMSOS (VII)

cuplikan foto kolom feature Kolonel Inf Gabriel Lema di majalah HIDUP

SISI TERSEMBUNYI YANG TERBAGI

Aku telah beberapa kali menuturkan perihal niat membukukan tulisan serial “Menulis Feature bagi Aktivis Komsos” dengan Fr. Nicolaus Heru Andrianto. Calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang menyatakan dukungan dan juga berkenan turut menyumbang tulisan ‘pengalaman-nya saat meliput feature untuk majalah mingguan HIDUP.

Aku sungguh bersyukur atas perkenan Fr. Heru membagikan kisah pengalamannya dalam melakukan liputan feature. Serta, petikan ilham yang dia peroleh dalam dunia ‘jurnalistik.’ Kiranya inspirasi tersebut juga tumbuh dan berbuah bagi setiap insan aktivis Komsos lainnya. Matur nuwun, Frater!

***

A: “ Pak apakah saya bisa berjumpa dengan Pak Gabriel?”

B: “Wah itu komandan saya”

A: “ Iya Pak…apakah saya boleh berjumpa dengan beliau?”

B: “ Dalam rangka apa? Apakah Anda sudah buat janji?”

A: “ Sudah Pak, ini sms-nya”

B: “ Baik…siap saya antar ke ruang pribadinya”

Itulah cuplikan singkat percakapan saya dengan seorang ajudan di RINDAM Bukit Barisan, Pematangsiantar Sumatera Utara medio Juni 2016 silam ketika hendak wawancara langsung dengan orang nomor satu di kantor dinas tersebut. Bagi saya ini menjadi salah satu pengalaman unik yang saya alami ketika saya meliput untuk majalah mingguan Katolik HIDUP.

Pengalaman ini membuat saya bangga dan kadang juga membuat tersenyum. Betapa tidak, jika saya datang tanpa maksud untuk meliput, kira-kira apakah saya akan diterima di kompleks militer tersebut? Tampaknya keyakinan saya mengatakan tidak.

Tidak lama setelah percakapan tersebut, dengan disiplin dan etika mereka (antara anak buah dan komandannya) saya dihantar masuk. Tak lama kemudian, ajudan pribadi dari komandan itu menyajikan dua cangkir teh manis di meja. “Silahkan diminum tehnya”. Saya pun tersenyum dan semakin antusias untuk bertanya-tanya a la jurnalis. Amunisi pertanyaan sudah saya siapkan di sebuah kertas catatan kecil dan siap untuk ditanyakan. Continue reading

Gallery

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (V)

Lukisan “Return of Prodigal Son” karya Rembrandt

PERSIAPAN UNTUK MENULIS FEATURE

Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menulis sebuah feature? Hal pertama untuk diketahui dimulai dari sifat feature itu sendiri. R. Masri Sareb (Memulai dan Mengelola Media Gereja dalam Terang Inter Mirifica.Penerbit Obor), meneladani kekhasan Yesus menuturkan cerita. Bahkan, Masreb mengatakan sebenarnya Yesus termasuk penulis yang ulung. Di mana para Rasul hanya menulis apa yang diucapkan oleh-Nya, ini berarti Dia juga seorang penulis.

Satu kisah yang dicuplik dalam buku tersebut adalah perumpamaan “Anak yang Hilang” (Luk 15:11-32). Dalam kisah tersebut kita bisa menemukan kekhasan sebuah feature, yakni menonjolkan karakter antagonis (si anak bungsu), sehingga pendengar/ pembaca merasa jengkel hingga marah terhadap sikapnya. Sementara, sikap mengampuni si Ayah (menggambarkan rahmat dari Allah) melahirkan perasaan takjub dan simpati.

***

Melvin Mencher dalam buku “News Reporting and Writing” (Mc Graw Hill: 2003) memaparkan beberapa panduan dalam menulis feature, sebagai berikut: Continue reading

Gallery

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (IV)

Ilustrasi dari Pexels.com

JENIS-JENIS FEATURE

Luwi Ishawara, dalam buku “Jurnalisme Dasar” (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2011) memaparkan dalam lingkup luas, feature dapat dipilah menjadi beberapa kelompok. Berikut  jenis-jenis feature tersebut, dengan contoh dikutip dari beberapa sumber:

 

* BRIGHT

Bright juga sering disebut brite, yaitu sebuah tulisan kecil yang menyangkut kemanusiaan (human interest featurette), biasanya ditulis dengan gaya anekdot dengan klimaks pada akhir cerita.

Dua contoh  feature bright adalah sebagai berikut — dikutip dari ‘Kumpulan Anekdot Gus Dur (http://kabarinews.com/kumpulan-anekdot-kenang-kenangan-dari-gus-dur/34310)

DO YOU LIKE SALAD?

Ilustrasi dari Sunbasket.com

Rombongan istri pejabat Indonesia  pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan  berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.

“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan

Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.

Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”

Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”

(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).

 

Berikut satu tulisan bright karya mendiang Romo Heri Kartono OSC, dalam blog pribadinya. Artikel utuh bisa dilayari di tautan ini: (http://batursajalurb.blogspot.co.id/2012/07/pangkas-rambut.html)

KETAHUAN JUGA

Foto ibu Eri (Sumber: http://batursajalurb.blogspot.co.id)

Sesudah satu bulan tinggal di paroki St.Helena Lippo Karawaci (Maret 2010), rambut saya mulai panjang, perlu dipangkas. Saat makan siang, saya bertanya pada Pastor Surono, rekan se-komunitas: “Dimana tukang pangkas rambut terdekat dan bukan Katolik?”. (Tentang “bukan Katolik” ini penting bagi kami. Umumnya kami sungkan, khawatir dikira minta gratis kalau pergi ke tempat orang Katolik). Pastor Surono menjelaskan: “Dekat kok. Pastor keluar kompleks, melewati Pos Satpam lalu belok kiri. Di situ ada Salon dan bukan Katolik”, ujarnya.

 Selesai makan siang, sayapun langsung mencari Salon tersebut. Dan memang ada, persis yang dijelaskan Pastor Surono. Jarak dari pastoran hanya sekitar 350 meter saja. Ketika saya membuka pintu salon, seorang pria yang lemah gemulai menyongsong dan menyambut saya. “Mau potong mas?”, tanyanya dengan kenes. Sebenarnya saya tidak suka, namun sudah terlanjur masuk. Ketidak senangan saya makin bertambah saat pria kenes ini memotong rambut sambil nonton sinetron. Beberapa kali dia berhenti memotong karena terpukau pada sinetron yang ditontonnya. Continue reading

Gallery

“YA TUHAN, KEMANA LAGI KAMI AKAN BERLARI?”

Uli Adriani Simatupang (dok. Pribadi)

Mengisahkan kembali sebuah pengalaman traumatis, bukanlah perkara gampang. Pribadi yang mengalaminya lama bergulat dengan penggalan peristiwa kelam tersebut, lalu perlahan mengumpul serpihan harapan agar hidupnya tertata dan kembali pada jalan yang dikehendakinya.

Kira-kira begitulah kesan yang kutangkap kala bincang dengan saudari ini melalui dunia maya. Sejatinya, majalah Menjemaat hendak mendapat tulisan utuh dari bang Germano Manalu selaku kontributor. Pun, dia tengah meniatkan membuat kisah saudari ini — sebagai salah satu bagian — menjadi sebuah buku kala dia membuat riset di Aceh untuk skripsi.

Tetapi, karena satu dan dua hal, bang Germano mengaku kewalahan sebab ragam tugasnya sebagai guru. Dalam hati, aku juga sangat girang. Sejak pertama kali mendengar nukilan peristiwa gadis penyintas di tsunami Aceh, sungguh ingin menuliskan sendiri kisah tersebut.

Bisa dikatakan, hampir seluruh isi tulisan ini telah diutarakan langsung oleh saudari Uli. Aku hanya menyusun beberapa kata saja, agar utuh dan kuat sebagai satu cerita. Ketika tulisan ini rampung dan kukirim ke redaksi, terbersit saja sebuah tanya: Bagaimana bila kisah-kisah seperti ini banyak juga tercecer dan diabaikan di luar sana? Seperti kala erupsi Gunung Sinabung, dan lainnya.

Aku termangu saja.

***

Uli Adriani br. Simatupang adalah seorang penyintas ketika bencana Tsunami menghempas Aceh, pada Minggu (26/12/2004). Butuh waktu lama bagi Uli untuk mengingat dan menceritakan kembali serpihan peristiwa tragis yang nyaris merenggut nyawanya. Bukan hal yang mudah bagi wanita – yang kala itu masih berusia remaja. Tetapi, dalam kisahnya ini, putri sulung dari dari A.P.H. Simatupang dan Lasmauli br. Debataraja juga mengingatkan Iman dan penyerahan sepenuhnya pada perlindungan Ilahi. Berikut penuturannya kepada Menjemaat.

***

Masih memberkas di ingatan saya, peristiwa itu terjadi pada hari Minggu. Tanggal 26 Desember 2004. Saat itu saya masih siswa kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Banda Aceh. Usia saya kira-kira 15 tahun.

Bapak, Mama dan tiga adik saya (Dwina Simatupang, Tiara Simatupang, dan Qiqa Simatupang) telah berangkat bersama untuk turut dalam Misa Minggu pagi di Gereja Paroki Hati Kudus – Banda Aceh. Sementara saya sendiri masih tinggal di rumah. Sejak kemarin, saya telah berencana mengikuti ibadah Oikumene pada sore hari. Ini bukan tak disengaja, sebab keesokan harinya (Senin), saya akan menghadapi ujian semester di sekolah. Sehingga waktu senggang dari pagi hingga siang hari, bisa saya manfaatkan untuk merampungkan beberapa pekerjaan rumah dan mengulangi pelajaran.

Peristiwa tragis itu diawali oleh gempa yang kuat sekali. Menurutku, itu terjadi selang beberapa menit setelah Bapak, Mama dan adik-adik berangkat ke Gereja Paroki. Guncangan lindu tersebut amat kuat. Saya pun mendengar seperti suara permukaan tanah yg ditarik ke bawah. Saya pun lekas keluar dari rumah. Di lapangan voli depan rumah kami, para tetangga sekitar telah ramai berkerumun. Secara naluriah, kami semua segera berkumpul di lapangan voli.

Semakin lama goncangan gempa itu semakin kuat. Kami merasa bagaikan beras yang digoyang di atas ayak. Posisi badan saya saat itu berdiri, tak lama kaki saya pun tidak kuat bertahan di tengah goyangan gempa, hingga akhirnya jongkok. Kemudian terduduk di permukaan tanah.

Keadaan menjadi panik. Beberapa orang lalu menangis dan berdoa sesuai kepercayaannya masing-masing. Saya sendiri masih bengong, sembari menatap sekelilingku dengan nanar. Tampak rumah-rumah bergoyang, tiang listrik bergoyang, pohon asam jawa di jalan raya juga seperti akan tumbang. Dalam pikiran saya, gempa ini terlalu kuat. Saya kemudian teringat akan orangtua dan adik-adik. Dimana mereka saat ini? Saya menjeritkan doa dalam hati: “Tuhan lindungi mereka, lindungi mereka dan kami sekeluarga.” Continue reading

Gallery

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (III)

Ilustrasi dari Pexels.com

MENGENAL ‘FEATURE’

Feature merupakan gaya liputan yang sudah lama dianut, nyaris setua riwayat jurnalistik itu sendiri (demikian dituturkan Fahri Salam dalam bab ‘Pembuka’ di buku “Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme” | Pindai: 2016).

Goenawan Mohammad, dalam buku “Sendainya Saya Wartawan TEMPO” (Tempo Publishing: Mei 2015), menuliskan pengertian feature sebagai: “adalah artikel kreatif, kadang-kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan.”

Goen juga menambahkan, ada juga pernyataan bahwa feature… :”cenderung lebih untuk menghibur ketimbang untuk menginformasikan.”

Tidak seperti menulis berita biasa, menulis feature memungkinkan reporter “menciptakan” sebuah cerita. Memang, ia masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat, dan seterusnya, sebab feature, dengan segala “kebebasan”-nya, tetaplah ragam tulisan jurnalistik – bukan fiksi.

Luwi Ishwara dalam buku “Jurnalisme Dasar” (Penerbit Buku Kompas: 2011) menuliskan, dari segi sifatnya, feature dapat dibagi dua: feature berita dan feature human interest. Feature berita adalah sebuah berita yang ditulis dalam bentuk feature, dan pemuatannya terikat dengan waktu. Sedangkan, feature human interest tidak mengandung unsur berita dengan segala dimensinya (basi/ tidak basi) sehingga dapat dimuat kapan pun dan mengandung human interest.

Artikel dari majalah Menjemaat (majalah resmi Keuskupan Agung Medan), berjudul: “RP Antonius Siregar OFM Cap: “Saya Bersyukur atas Rahmat-Nya” “, ini merupakan satu contoh feature human interest. [artikel utuh dapat dilayari via tautan ini: https://anantabangun.wordpress.com/2017/03/29/rp-antonius-siregar-ofm-cap-saya-bersyukur-atas-rahmat-nya/ ]

Continue reading

Gallery

“Karena Kita Bangkit, Gereja pun Turut Bangkit”

Tampak Muka – Gedung Gereja Stasi Tiga Sabah (Copyright: KomsosKAM)

“Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, sebagaimana dikatakan-Nya: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Jadi Gereja/ ekklesia maksudnya adalah kumpulan umat Allah, yaitu bangsa pilihan Allah yang baru, yang merupakan penggenapan dari bangsa pilihan Allah di jaman Perjanjian Lama, karena jasa Kristus yang menjadi Sang Anak Domba Perjanjian Baru. Gereja Katolik lahir, tumbuh dan dihidupkan oleh Sabda Allah, dan Tubuh dan Darah Kristus.

Dengan demikian, makna Gereja dalam Perjanjian Baru memang tidak terlepas dengan makna ‘jemaah’ dalam Perjanjian Lama karena PL dan PB memang berhubungan satu dengan yang lainnya; dengan PB sebagai penggenapan PL. Dengan demikian, Gereja mempunyai makna yang jauh lebih mendalam daripada hanya sekedar kumpulan orang- orang yang memuji Tuhan. Sebab Gereja telah dirintis oleh Allah sejak masa PL, namun kemudian disempurnakan dalam PB; dengan dijiwai dan diberi hidup oleh Kristus sendiri, agar dapat sampai kepada kehidupan yang kekal (Yoh 6: 54).”

***

Tim Menjemaat mulanya cukup kewalahan mencari alamat Ketua Dewan Stasi St. Yoseph Tiga Sabah, Hotmaruli Marbun. Setelah kontak ponsel – sejak tiba di kota Binjai – dan juga bertanya pada penjaja buah di pinggir jalan, kami menemukan rumah bapak tiga anak ini. “Mungkin karena baru pertama kali kemari, namun setelah ini pasti akan mudah menemukan jalan pulang ke Medan,” ujar Hotmaruli sembari tersenyum menyambut kami, pada Minggu (8/9/2017).

“Kita tidak harus buru-buru ke Gereja Stasi Tiga Sabah. Sebab Ibadat Minggu biasanya dilaksanakan pada pukul 09.00 wib,” imbuh Hotmaruli. Seraya mengajak tim Menjemaat menikmati penganan, dia menceritakan beberapa pengalaman pelayanan dalam gereja stasi di lingkup Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi – Binjai. “Saya mulai kemari (pindah ke stasi ini) pada akhir tahun 2003. Sebelumnya, saya sempat bolak-balik bergereja di Paroki Binjai dan juga di kampung halaman, Sorkam.”

Putra dari (alm.) Lamsana Marbun dan (alm.) Rustia br Sihombing ini tak menutupi kesannya saat kali pertama beri di Stasi Tiga Sabah. “Saya lihat gereja nya nggak layak pakai,” katanya mengenai kondisi fisik gereja stasi yang masih semi permanen. Menurutnya, keadaan tersebut juga mempengaruhi gairah umat untuk beribadah. “Sepertinya semangat iman para pengurus serta umat sudah lama lesu. Saya memaklumi karena tantangan perekonomian umat setempat cukup berat. Tentu tidak mudah untuk membagi waktu dan tenaga dengan kondisi demikian.” Continue reading

Gallery

“Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa bagi Segala Bangsa”

Gedung Gereja Katolik Stasi St. Laurensius Simpang Selayang | Photo Credit: Feri Tarigan

Ini bukan lah karya tulisan feature yang baik. Demikian menurutku. Musababnya, aku hanya mengandalkan data dari satu narasumber, dan mengutip pernyataan satu narasumber yang lain di saat misa. Namun, sepertinya tantangan seperti ini bakalan sering kutemui bila hendak menuliskan riwayat Gereja. Dalam satu bincang dengan mas Kristinus Munte, aku sudah diingatkan perihal ini saat menulis pesta emas Paroki Pasar Merah – Medan. Sungguh berbeda dengan di Jawa, di Keuskupan Agung Medan cukup banyak yang belum rapih menyimpan data-data riwayat Gereja. “Lebih condong ke gereja (bangunan), daripada Gereja (di lingkup manusia/ umat),” katanya, sembari dengan keras mendorongku agar turut mengubah kebiasaan tersebut.

Meski demikian, aku senang juga dengan tulisan ini. Setidaknya, bila kelak ada upaya untuk menggali lebih dalam lagi riwayat Gereja Stasi Simpang Selayang (dan semoga bisa menginspirasi Gereja Katolik lainnya di KAM), kiranya tulisan ini dapat menjadi “batu penjuru.” Sebenarnya, aku ingin sekali bersua dan menuliskan juga pandangan dan kesan dari dua narasumber lainnya: Mgr. Pius Datubara OFM Cap dan RP. Antonio Razoli OFM Conv. Namun, kesempatan belum jua tergapai. Tetapi, aku sangat berterima kasih juga untuk informasi dan dorongan dari bang Ridho Sinuhaji. Sebab banyak juga masukan yang kuperoleh dari Ayah seorang putri ini. Kuharap, aku bisa membuat kelanjutan tulisan ini lagi. Semoga.

***

Barisan lilin di atas kue ultah menunjukkan umur insan yang merayakannya. Peringatan senada juga disematkan pada Gereja. Namun tidak sekedar hitungan angka usia, wadah umat beriman ini juga mewariskan ilham bagi para penerusnya. Jejak sejarah tersebut lah yang menginspirasi pemuka Stasi St. Laurensius – Simpang Selayang kala memperingati Pesta Emas gereja Katolik di satu sudut kota Medan ini. “Agar generasi penerus kami tak lupa semangat dan spiritualitas para pendahulunya, yang menjaga gereja kita ini berdiri dan berkembang hingga kini,” tutur tokoh umat Stasi Simpang Selayang, Rata Antonius kepada Menjemaat, Minggu (20/8/2017), di kediamannya di kelurahan Kemenangan Tani – Medan.

Ayah tiga anak ini mengenang,”Stasi St. Laurensius Simpang Selayang mulai berdiri pada tahun 1966. Di masa itu, umat belum memiliki gedung gereja untuk beribadah. Sehingga, kami masih menumpang di gedung Sekolah Dasar Negeri 060971 Medan. Kami dipersilakan memberdayakan gedung sekolah tersebut, karena ada umat yang mengajar di situ. Salah satunya adalah bapak Mesin Sembiring Depari.” Continue reading

Gallery

Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (II)

MENULIS FEATURE DI RANAH GEREJA

 

Sebagai bagian dari aktivis Komunikasi Sosial (Komsos),meliput peristiwa di Paroki maupun Stasi adalah ihwal biasa bagi Anda. Terutama perayaan rutin, semisal Natal, Paskah hingga Tahbisan Imam. Semua itu disajikan dengan gaya menulis berita keras atau hard news.

Suatu kali, Anda ditugaskan untuk meliput Perayaan Kaul Perdana. Karena bosan dengan gaya pemberitaan hard news, Anda memutuskan untuk coba membuat liputan feature. Dari panduan di buku-buku serta masukan dari pewarta senior, Anda mulai menggarap persiapan liputan beberapa hari sebelum ‘hari H’.

Mulai dari wawacara dengan para biarawan (atau biarawati) yang akan mengikrarkan kaul. Kemudian, dengan perangkat ponsel cerdas, Anda pun merekam homili Uskup. Setelah beberapa jepret foto dan catatan kecil pendukung, Anda pun mulai merajut semua hasil liputan tersebut untuk menjadi sebuah feature yang menggugah.

Sebuah feature dari Komsos Keuskupan Agung Palembang, berjudul: “Silentium Bukan Cuek Bebek”, dapat menjadi contoh liputan feature tentang Perayaan Kaul Perdana [sila dilirik satu sumbernya di tautan Facebook milik Komsos Keuskupan Agung Palembang: https://www.facebook.com/komsoskapal/posts/1801049376792820 ].

 

Copyright: Komsos Keuskupan Agung Palembang

Continue reading