Gallery

Mgr. Kornelius Resmikan Peluncuran BIDUK KAM

IMG_1218

Komsoskam.com – Medan, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap, Sabtu (8 Februari 2020), meresmikan peluncuran Basis Integrasi Data Umat Keuskupan Agung Medan (BIDUK KAM). Acara grand launching di hall Catholic Center KAM, dihadiri Imam dan personil pengisian data BIDUK KAM dari masing-masing paroki.

Dalam misa pembuka, Mgr. Kornelius mengaku terilhami dengan nats Bacaan Pertama dan Injil hari ini. “Dalam bacaan pertama, kita mendengar doa Raja Salomo yang akan menggantikan tahta ayahnya, Raja Daud. Salomo meminta agar diberi anugerah hati yang paham memilah hal yang baik dan yang jahat. Ini lah kemampuan yang hendaknya dimiliki pemimpin. Termasuk pemimpin di gereja,” ujarnya di sesi homili.

“Sementara dalam Injil, kita mendengar bagaimana Yesus mengajak murid-muridnya ke tempat yang hening. Untuk berdoa, untuk menimba kekuatan dari Allah. Agar memiliki hati yang paham membedakan hal yang baik dan buruk. Inilah yang menggerakkan hatinya untuk berbelas kasih dalam melayani.” Continue reading

Gallery

BIDUK KAM, Gerakan Pastoral Berbasis Data

20191005094546_IMG_0246
Mgr. Kornelius Sipayung diapit tim BIDUK KAJ dan Pastor Borta (Komsos KAM)

Medan – Menjemaat,

Keuskupan Agung Medan (KAM), Sabtu (5 Oktober 2019), menghelat soft launching Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK) KAM di Catholic Center – Medan. Puluhan perwakilan sekretariat paroki se-KAM turut hadir dalam seremoni dan dwi-hari training input data umat keuskupan secara online ini.

Victor Erico, perwakilan tim BIDUK Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), mengutarakan, program ini adalah gerakan untuk pelayanan pastoral berbasis data. “Ketika kita hendak memulai BIDUK, kita memperkirakan jumlah umat KAJ adalah sebanyak 510.000. Namun, setelah pendataan dengan BIDUK rampung, ternyata jumlah umat KAJ yang benar adalah 430.000,” katanya.

Dia melanjutkan, banyak pihak di KAJ yang marah atas hasil perhitungan tersebut. “Banyak yang marah, bahwa kita kehilangan umat sebanyak 80.000 jiwa. Padahal itu adalah jumlah yang sebenarnya. Kenapa? Karena ada umat yang telah meninggal masih dimasukkan dalam data. Selain itu, ada juga umat yang sering berpindah domisili, sehingga terdata di dua atau tiga paroki.” Continue reading