Mengapa Menulis?

Kita sering bertanya: “Mengapa (harus) menulis?”, walau sebenarnya kita sering menulis dalam keseharian.

Semisal, menulis daftar belanja, mengirim pesan dari gawai, hingga sekedar merunut beberapa gagasan di selembar kertas.

Menulis, tanpa disadari, adalah kiat komunikasi yang kita batasi dalam sifat yang remeh saja. Seperti contoh disebut tadi.

Padahal, dengan menulis, gagasan baik yang kita miliki mudah disebar ke banyak orang, dia bisa abadi untuk diwariskan turun-temurun, bahkan jadi rujukan tetap.

Bayangkan jika kita harus mengulang-ulang penjelasan dari ide cemerlang secara lisan. Pemaparan itu sangat mungkin berubah dan rumit untuk dipahami.

Karena bisa dibaca dan dipelajari secara mendalam, ide tulisan bisa diperdebatkan. Maka ini menjadikan si penulis bertanggungjawab. Penulis yang gemar menyebar kabar bohong akan segera ditinggal audiens nya. Siapa yang mau ‘menelan’ tulisan bohong?

Maka, hayuk coba menuliskan gagasan milik kita. Sebagai permulaan belajar mempengaruhi dan mendorong dunia yang lebih baik. Bisa jadi, itu hanya soal menghemat uang belanja, kebersihan lingkungan, dan usulan lain yang semakin hebat.

Namun bagai sekumpulan titik, tiap-tiap hasil tulisan ini akan membuat Anda sebagai pribadi luar biasa di tengah sesama.

Mari menulis!

Mitos Tujuan: “Saat Saya mencapai puncak, barulah saya akan belajar untuk memimpin”

marathon-runners

dipinjam dari: https://joeoriade.com

John Calvin Maxwell adalah seorang pendeta, pembicara, dan penulis Amerika yang menulis banyak buku, terutama fokus pada tema kepemimpinan. Dalam satu bukunya, berjudul 360 degree leader, aku mengutip kisah inspiratif. Semoga bisa bermanfaat juga bagi pembaca lainnya. Berikut petikannya:

Pada 2003, Charlie Wetzel, juru tulis saya, memutuskan bahwa dia ingin meraih satu target yang telah dipendamnya selama lebih dari satu dekade. Dia bertekad untuk mengikuti perlombaan maraton. Andai kata suatu hari Anda bertemu dengan Charlie, Anda tidak akan pernah menduga bahwa dia adalah seorang pelari. Artikel di berbagai majalah atletik menyebutkan bahwa dengan tinggi badan 5 kaki 10 inci, seorang pelari jarak jauh seharusnya memiliki berat badan 165 pound atau kurang dari itu. Charlie memiliki berat sekitar 250 pound. Namun dia adalah seorang pelari yang rutin berlari dengan jarak tempuh rata-rata 12 hingga 20 mil per minggu dan mengikuti perlombaan lari 10K sebanyak 2 atau 3 kali setiap tahun. Jadi, dia memilih perlombaan lari maraton Chicago dan memutuskan untuk mengikutinya. Continue reading →

AKU TULIS YANG KUTAHU

Alasan awal saat mempelajari keahlian apa pun adalah belum memiliki waktu, dan persiapan. Dalih ini juga sering kudapati kala memberi pelatihan menulis. Ada semacam dugaan bahwa penulis adalah seorang yang punya banyak waktu untuk membaca, berdiskusi dan menulis di ruang sunyi. ‘Kekayaan’ itu memang kerap kita lihat dalam cuplikan sinema.

Aku pernah terkekeh, ketika bapa Budi Soetedjo, pendiri dan pimpinan Lembaga “Indonesia Menulis”, mengatakan: “Meskipun saya sudah banyak menulis. Bukan berarti kerjaan saya hanya duduk dan menulis. Saya juga dijejali banyak tugas dan tanggung jawab lho. Memangnya, saya ini pengangguran yang cuma menulis melulu.”

Konten atau isi karya tulis sebenarnya bukan perkara sulit saat belajar menulis. Kunci pertama dalam menulis adalah: Aku tulis yang kutahu. Apa sajakah itu? Tentunya dari pengalaman ataupun buku-buku yang dibaca, hingga buah perbincangan (termasuk juga wawancara) dengan sesama.

Menuturkan pengalaman adalah karya tulis terbaik bagi insan yang tengah belajar menulis. Sebab, kisah tersebut hanya diketahui oleh satu orang. Yakni, si penutur itu sendiri. Dia mengetahui setiap bagian hingga konflik, keseruan atau kelucuan dari cerita tersebut.

Coba kita perhatikan penuturan pengalaman dalam buku Dale Carnegie: “Sukses Berkomunikasi”,  mengisahkan bagaimana seorang muridnya di kelas pidato (saat itu belum ada istilah kelas presentasi). Gay K belajar untuk berbicara di depan khalayak untuk pertama kali. Pak Gay ini tidak pernah berpidato di hadapan umum sebelum dia mengikuti kursus pidato yang diadakan Carnegie. Continue reading →

Belajar Menulis dari Penulis Buku “Tuhan Tidak Tuli”

Satu keluarga (Ayah, Ibu, dan tiga anaknya) bersama-sama menuliskan sebuah buku sarat ilham. Judulnya: “Tuhan Tidak Tuli”. Mereka menuliskan pengalaman iman, selama membesarkan dan hidup dengan si bungsu, Yahya A. Tioso yang bergelut dengan penyakit tuli (sulit mendengar).

Buku ini sungguh bagus. Oleh karenanya, aku ingin coba menggali bagaimana satu keluarga ini bisa ‘keroyokan’ menuliskan sebuah buku. Lebih tepatnya, bagaimana belajar menulis dari mereka.

 

Menulis Apa yang Dialami/ Diketahui

Setelah rampung membaca buku “Tuhan Tidak Tuli”, bisa didapati hanya si sulung, Grace Suryani, gemar menulis buku. Kita bisa ketahui dari empat (cover) buku yang disematkan pada halaman akhir buku (hlm. 160). Continue reading →