Gallery

Mengapa Menulis?

Kita sering bertanya: “Mengapa (harus) menulis?”, walau sebenarnya kita sering menulis dalam keseharian.

Semisal, menulis daftar belanja, mengirim pesan dari gawai, hingga sekedar merunut beberapa gagasan di selembar kertas.

Menulis, tanpa disadari, adalah kiat komunikasi yang kita batasi dalam sifat yang remeh saja. Seperti contoh disebut tadi.

Padahal, dengan menulis, gagasan baik yang kita miliki mudah disebar ke banyak orang, dia bisa abadi untuk diwariskan turun-temurun, bahkan jadi rujukan tetap.

Bayangkan jika kita harus mengulang-ulang penjelasan dari ide cemerlang secara lisan. Pemaparan itu sangat mungkin berubah dan rumit untuk dipahami.

Karena bisa dibaca dan dipelajari secara mendalam, ide tulisan bisa diperdebatkan. Maka ini menjadikan si penulis bertanggungjawab. Penulis yang gemar menyebar kabar bohong akan segera ditinggal audiens nya. Siapa yang mau ‘menelan’ tulisan bohong?

Maka, hayuk coba menuliskan gagasan milik kita. Sebagai permulaan belajar mempengaruhi dan mendorong dunia yang lebih baik. Bisa jadi, itu hanya soal menghemat uang belanja, kebersihan lingkungan, dan usulan lain yang semakin hebat.

Namun bagai sekumpulan titik, tiap-tiap hasil tulisan ini akan membuat Anda sebagai pribadi luar biasa di tengah sesama.

Mari menulis!

Gallery

Pada Mulanya adalah Niat, dan Terciptalah ‘e-book’

Syahdan, Pater Hubertus Lidi OSC — mantan pimpinanku di Komisi Komsos KAM — menyampaikan niatnya agar beberapa karya tulis kami, baik di majalah Menjemaat hingga majalah online Lentera, diterbitkan sebagai buku cetak.

Aku tentu saja senang, karena bisa menambah daftar buku ceotak yang kutulis. Sejauh ini, masih hitungan jari. Maka, sejak tahun lalu, kami saling kontak dengan penerbit Bina Media.

Apa daya, pandemi virus covid-19 turut menjegal harapan agar buku ini bisa dicetak dengan dukungan pihak penerbit. Karena keadaan itu, terbersit gagasan: bagaimana jika dikemas sebagai buku elektronik (e-book)?

Sahabatku, Vinsensius Sitepu, menyambut ide itu. Kebetulan, dalam e-book ku “Menulis di Atas Pasir” juga diterbitkan berkat kemurahan hatinya. Dan memang, sebagian besar naskah dari e-book pertama itu yang juga disalin ke e-book bersama Pater Hubert, dengan judul “Merajut Ide pada Lembaran Datar.

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi buku

Kiat “menulis buku secara keroyokan” pertama kali kutahu saat pelatihan dibimbing bapa Budi Sutedjo — pendiri Indonesia Menulis.

Itu sebuah pencerahan perihal bagaimana memulai agar berani menulis dan menerbitkan buku. Dia sendiri menunjukkan beberapa karya buku dari hasil keroyokan peserta training diasuhnya.

Aku beruntung, dalam pengerjaan e-book Merajut Ide pada Lembaran Datar bisa tandem dengan Pater Hubert. Beliau sudah berhasil menerbitkan buku. Beberapa di antaranya bahkan karya novel.

Dan ternyata kepingan naskah yang kami tulis buat majalah Menjemaat dan majalah online Lentera, kelak bisa direkat sebagai karya buku. Yang membuatku teringat nasihat sepuh: “sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”. Mantra yang umumnya disemat agar rajin menabung uang, bisa juga dilekatkan pada niat menulis buku.

Aku kira, buku ini merupakan perjuangan kami untuk ‘merdeka’. Melawan musuh paling berat, yakni: DIRI SENDIRI. Bergulat dengan ketidakyakinan, kecemasan dan pikiran buruk lainnnya. [Dalam tulisan blog terpisah, aku ingin menuliskan perihal ini]

Tentu saja karya e-book amat jauh dari sempurna. Tapi tak ada menanti hingga kesempurnaan itu jadi. Biarlah semakin banyak kritikan dan masukan yang akan membentuknya menjadi lebih baik lagi.

Untuk saat ini, e-book tersebut bak sebuah secarik pengingat. Bahwa setiap penciptaan bermula dari niat. Tiada yang kebetulan.

Salam!

Gallery

Mengapa menulis di blog?

Mengapa menulis di blog? Jawaban yang lekas melesat di pikiranku adalah: mudah dan abadi. Ia mudah, sebab tak banyak proses yang musti ditempuh untuk menerbitkan konten (baik tulisan, gambar hingga video).

Sukar membayangkan jika alur pemuatan artikel di blog mirip dengan redaksi media profesional. Harus ditulis oleh seorang reporter dahulu, kemudian dibaca dan disunting oleh redaktur, untuk kemudian diputuskan oleh pemimpin redaksi ‘apakah artikel ini layak muat atau tidak’.

Tak dipungkiri, alasan ‘kemudahan’ ini turut berperan dalam penyebaran berita palsu atawa hoax. Namun, seiring waktu, kemampuan literasi pembaca dan teknologi akan mampu memilah warta-warta tak baik itu.

Tadi, aku sebut juga perihal ‘keabadian’. Menulis di media sosial seperti Facebook dan Twitter juga baik, namun dalam hal ‘abadi’ ini patut disorot. Entah lah jika dalam beberapa tahun (usai artikel ini diterbitkan) terjadi perubahan kebiasaan. Namun, konten (khususnya tulisan) di media sosial, amat jarang ditelusur ulang di mesin pencari. Konten di blog akan tersusun rapih, tanpa ditimpa berbagai status ringkas. Sehingga memudahkan untuk melirik dan takzim membaca artikel yang pernah dimuat.

Maka, baiklah untuk menulis di blog. Berbagai penyedia blog semakin serius mengemas agar kita senang dan nyaman menerbitkan ragam artikel. Apa untungnya bagi mereka? Tentu saja data yang kita bagi melalui blog tersebut. Kedua belah pihak saling diuntungkan. Hepi.

Gallery

Stasi St. Paulus Huta Ginjang: “Menjaga Kerukunan untuk Pelayanan”

IMG_0669
gereja Stasi Huta Ginjang

Menjemaat berkesempatan menulis profil Stasi St. Paulus Huta Ginjang, pada Rabu (20 November 2019).

Ketua Dewan Pastoral Stasi, Bapak Luminta Simbolon menyampaikan bahwa salah satu dusun yang berada di kecamatan Sijama Polang, Kabupaten Humbang Hasundutan.

“Di Huta Ginjang ini, seluruh penduduk beragama Katolik. 100%,” ucapnya kepada Menjemaat.

Simbolon mengatakan gedung gereja Stasi Huta Ginjang sudah tiga kali direnovasi. “Untuk pembangunan gedung pertama sekali, dan rehab kedua, saya kurang ingat tahun berapa persisnya. Namun, gedung gereja yang sekarang adalah hasil rehab yang ke-tiga kali, yakni sekira tahun 2013,” kata bapak yang dipercaya menjadi pengurus stasi sejak tahun 1992.

“Sejarahnya, kurang paham kami. Namun, sejak mulai sebagai pengurus gereja, di situ lah kami berbagi pengalaman,” akunya.

Dia mengatakan, upaya renovasi teranyar berlangsung di bawah penggembalaan RP. Konrad Situmorang OFM Cap. “Biaya rehab gedung gereja ini kemarin menelan biaya setidaknya Rp700 juta.”

Wakil Ketua Dewan Stasi Huta Ginjang, bapak Manalu turut menimpali, stasi ini telah mempersembahkan mempersembahkan beberapa putra-putri nya sebagai Imam dan biarawan/ biarawati. “Di antaranya Pastor Bonifasius Simanullang OFM Cap, Pastor Adrianus Simatupang OFM Cap, Pastor Junius, Bruder Sumitro OFM Cap, Fr. Paulinus, dan sejumlah suster,” terang Manalu.

Menurut bapak Manalu, setiap kali pesta besar atau misa dipimpin Pastor, gedung gereja tidak akan cukup menampung umat yang hadir.

Keduanya sepakat bahwa keharmonisan antara pengurus dan umat amat dibutuhkan dalam karya pelayanan di Stasi Huta Ginjang.

“Saya pernah mendengar nasihat dari Pastor bahwa kami adalah dongan sada huria, sada huta, sada paradaton. Artinya, kami semua adalah masih satu dalam keluarga besar, baik di lingkup gereja, kampung dan adat,” katanya. “Semoga kerukunan dan kerjasama bisa lebih rukun lagi, agar tidak menghalangi karya pelayanan di stasi ini.”

(Ananta Bangun)

Gallery

RP. Yanuarius Tasik Berek OFM Conv. : “Saya Menemukan Keluarga Besar Seiman”

IMG_8253
Pastor Yanuarius Tasik Berek OFM Conv. diabadikan usai Tahbisan Imamat di Pematangsiantar (Komsos KAM)

“Makanan kesukaan saya adalah tasak telu,” ucap Pastor Yan, kala diwawancara oleh aktivis komsos Paroki Padang Bulan, dalam Training Jurnalistik, pada Minggu (20 Oktober 2019). Interview tersebut merupakan sesi praktik untuk menulis artikel profil.

Imam Konventual mengaku suka makanan khas Karo tersebut sejak menjalani pembinaan dan pelayanan di Keuskupan Agung Medan. “Kalau minuman, saya lebih suka air mineral dan jus alpukat,” katanya, seraya menyatakan diri sebagai penggemar klub sepakbola Real Madrid.

Pastor Yan lahir pada 19 Januari 1983 di Harekain, Desa Builaran, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka – provinsi NTT. Orang tua nya, Hendrikus Berek (ayah) dan Martha Hoar (ibu), memberi dia nama: Yanuarius Tasik Berek. Yan — nama sapannya, merupakan sulung dari tiga bersaudara. “Saya adalah anak laki-laki semata wayang,” imbuhnya.

Dia mengenyam pendidikan dasar hingga menengah atas masing-masing di: SD Inpres Harekain, SMP Negeri 1 Tabene, dan SMA Negeri 1 Kefamenanu, kabupaten Timor Tengah Utara.

Yan remaja mulai tertarik menjalani panggilan sebagai Imam, tatkala RP. Antonio Razzoli OFM Conv membuka pelayanan di Kefamenanu. “Saat itu, kami ada 10 siswa Postulan yang berasal dari SMA Negeri 1 Kefamenanu. Waktu itu, Pastor Razzoli visitasi ke Kefa. Kami tertarik untuk coba-coba masuk Postulan Ordo Konventual di Deli Tua,” katanya. Continue reading

Gallery

Sr. Kornelia: “Aku Bersyukur Sebab Tuhan Menjadi Gembala dalam Hidupku”

Sr Kornelia Tumanggor KSSY 2Komsokam.com – Medan, Sr. Kornelia Tumanggor, KSSY adalah putri pertama dari enam bersaudara. Sebagai anak sulung, orang tuanya berharap besar kelak dia menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Dengan harapan, dirinya bisa turut menjadi ‘penopang’ bagi adik-adiknya. Namun, ternyata panggilan Tuhan menuntun langkahnya menuju Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) Medan.

Biarawati kelahiran Salak , Pakpak Bharat (5 Januari 1968), menjalani masa pembinaan di Novisiat hingga Yuniorat. Pada 1992, kongregasi mengutusnya untuk studi di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Semarang. “Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini, karena boleh semakin memperdalam ilmu dan iman saya. Sehingga saya juga semakin mencintai panggilan melalui kongregasi ini,” tuturnya kepada Komsoskam.com di Medan, Jumat (18 Oktober 2019).

Usai menamatkan pendidikan di IPI Semarang, Sr. Kornelia kemudian ditugaskan mengajar di SMK Sta. Anna Medan, pada 1997. “Saat itu, sekolah tersebut masih bertempat di Jl. Hayam Wuruk, Medan,” katanya. 

Pada saat bersamaan, dirinya juga dipercaya pimpinan untuk mendampingi Postulan KSSY hingga 2003. Pada 2004, dia diutus ke novisiat Jl. Karya Wisata – Medan selama satu tahun.

Tahun berikutnya, Suster Korneli mendapat perutusan ke tempat yang lebih jauh: pulau Kalimantan. Yakni, menjadi staf pengajar di STIPAS Palangkaraya. “Awalnya terasa berat dan cemas berhadapan dengan mahasiswa, apalagi tempatnya pun belum bisa dibayangkan. Namun karena percaya akan Penyelenggaraan Ilahi, saya yakin bahwa Tuhan pasti menolong,” katanya, seraya menyebutkan dirinya melayani di lembaga pendidikan tersebut hingga tahun 2008.

Pada 2009, biarawati murah senyum ini mudik perutusan. Kongregasi menugaskan dirinya menjabat Kepala Sekolah di SMP St. Paulus Sidikalang. Dia mengakui, tugas ini pun awalnya sangat berat. “Tetapi atas kaul ketaatan, saya menerimanya. Saya berusaha memberikan yang terbaik, melaksanakan dengan tulus sebagaimana diteladankan Bapa Yosef pelindung Kongregasi kami.”

Empat tahun mengabdi di sekolah SMP St. Paulus mengalir tak terasa bagi Suster Kornelia. Dia bersyukur bahwa selalu menjadi gembala yang baik dan setia dalam perjalanan hidupnya. “Sebab dalam keterbatasanku, Dia selalu ada bersamaku sehingga memampukan aku melaksanakan dan menyelesaikan setiap tugas dengan baik,” imbuhnya.

Pada 2012, Suster Kornelia ditugaskan kembali ke tempat Pembinaan di Postulat jl. Bougenville Medan. Namun sebelum terjun pimpinan kongregasi memberi kesempatan baginya untuk mengisi diri, menempah kekuatan rohani di Pusat Pembinaan Spiritualitas Roncalli Salatiga – Jawa Tengah selama enam bulan. “Pada 2013, saya memulai tugas di Postulat hingga 2015. Pada tahun tersebut, tepatnya bulan Juni, saya kembali ke Novisiat KSSY hingga kini.”

Kepada kaum generasi muda, Suster Kornelia kerap memotivasi diri bahwa di mana ada kemauan, maka di situ ada jalan. “Dalam menjalankan setiap tugas saya kerap mengucapkan sugesti “Aku Mau, Aku Bisa, Aku Pasti Bisa”,” katanya.

 

(Ananta Bangun)

Sr Kornelia Tumanggor KSSY 1

Gallery

Kelas Literasi Pacu Novis KSSY Hasilkan Karya Tulis

Kelas Literasi yang telah diadakan di Novisiat KSSY Medan
Kelas Literasi yang telah diadakan di Novisiat KSSY Medan

Sr. Kornelia Tumanggor KSSY, merupakan formator di Novisiat KSSY Medan. Sejak Juli 2019, Suster Kornel dan Komisi Komsos KAM menginisiasi Kelas Literasi bagi Novis KSSY. Kelas ini utamanya mengajarkan keahlian berkomunikasi di bidang menulis dan presentasi.

“Sungguh menyenangkan mengikuti perkembangan para Novis dalam Kelas Literasi. Sebelumnya, para novis merasa enggan jika diserahi tugas menulis karena minimnya penguasaan bahasa baku. Mungkin ada juga pengaruh kebiasaan bertutur di aplikasi bincang daring hingga SMS. Namun kini mereka semakin semangat menulis,” terang biarawati asal Salak, Pakpak Bharat.

Dampak baik lainnya, menurut Suster Kornel, adalah keteraturan tata bahasa. “Dari angkatan novis sebelumnya, ada yang malas menuliskan pengalaman hidupnya setiap hari. Sekarang, mereka telah mengetahui kiat menulis yang baik. Sehingga sekarang ada kemajuan dan cara penulisan makin terarah lebih baik,” ucapnya kepada Komsoskam.com di Medan, Jumat (18 Oktober 2019). Continue reading

Gallery

Aktivis Komsos Paroki Padang Bulan Belajar Jurnalistik Media Online

Aktivis Komsos Paroki Padang Bulan diabadikan bersama narasumber
Aktivis Komsos Paroki Padang Bulan diabadikan bersama narasumber

Komsoskam.com – Medan, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KAM memandu Training Jurnalistik Media Online bagi aktivis komsos di Paroki St. Fransiskus Assisi Padang Bulan, Medan. Kegiatan pembekalan, pada Minggu (20 Oktober 2019), diikuti puluhan umat setempat dan Vikaris Parokial, RP. Yanuarius Tarsik Berek, OFM Conv.

“Kegiatan ini penting dan baik untuk kita pelajari, tidak hanya untuk pengembangan website paroki, namun juga mengasah keahlian komunikasi sosial dan katakese di kalangan umat. Khususnya para aktivis komunikasi sosial di paroki ini. Teknologi komunikasi dan informasi amat relevan dalam upaya pastoral,” ujar Pastor Yan memberi motivasi dan kata pembukaan.

Ada tiga sesi dipaparkan dalam training, yakni: pemahaman dasar tentang komsos, praktik jurnalistik dan penentuan rencana tim aktivis komsos Paroki Padang Bulan ke depannya.

“Sejak pengenalan dekrit Inter Mirifica sebagai akar mula pastoral Komunikasi Sosial. Gereja telah membaca tanda zaman, termasuk perkembangan teknologi komunikasi dan informasi untuk lahan pastoral. Alkitab sendiri termasuk salah satu media komunikasi sosial yang membantu pewartaan hingga sampai ke tempat kita saat ini,” ujar staf Komsos KAM, Ananta Bangun saat mempresentasikan materi pemahaman dasar mengenai komunikasi sosial. Continue reading

Gallery

RP. Cypriano Barasa OFMCap : “Membangun Pastoran dari Jualan Hasil Bumi, Hingga Kumpulkan Dana via Medsos”

rp-cypriano-barasa-ofm-cap.jpg
RP Cypriano Barasa OFM Cap (Komsos KAM)

Komsoskam.com – Tiga Binanga,

Parochus Tiga Binanga, RP. Cypriano Barasa, OFMCap. mengaku sumringah usai pemberkatan gedung baru pastoran Tiga Binanga, pada Minggu (13 Oktober 2019). Menurutnya, seluruh acara berlangsung baik sebab persiapan yang matang dalam kemasan panitia dan DPP

“Puji Tuhan, semua rencana pemberkatan berjalan dengan baik. Panitia bekerja dengan maksimal dalam kerjasama yang bagus dengan banyak pihak dan panitia semakin terlatih untuk bekerjasama. Semua seksi dapat bekerja dengan baik dan teratur sehingga semua kegiatan berlangsung dengan baik seperti yang direncanakan,” ujarnya kepada Komsoskam.com, Rabu (16 Oktober 2019), perihal seremoni syukur bertepatan 40 tahun pendirian paroki tersebut.

Dia menjelaskan, proses pembangunan telah berlangsung selama setahun penuh. “Peletakan batu pertama terlaksana pada 14 Oktober 2018 yang lalu oleh Mgr Anicetus Sinaga, OFMCap. Setahun sebelumnya, panitia telah merancang time table rencana pembangunan ini sehingga semua panitia dan umat separoki berjalan menurut arah yang sama,” kata Pastor Cypri.

“Sepanjang tahun 2019, semua umat bergerak untuk mencari dana dengan berbagai cara mulai dari kewajiban perkeluarga, misa pengumpulan kewajiban dan pengumpulan sumbangan dengan memakai amplop setiap missa, juga setiap stasi dan lingkungan menyerahkan setengah dari kasnya.”

Imam Kapusin asal Parlilitan mengimbuhkan, panitia pembangunan juga mencari dana dengan menjual hasil bumi dan makanan siap saji ke stasi-stasi dan paroki-paroki lain. Bahkan, panitia bersama Pastor Paroki juga menyampaikan informasi pembangunan melalui media sosial ini seperti: telepon, email, WhatsApp, messenger, facebook, dan telegram.

“Kami melihat bahwa banyak orang membaca dan menanggapinya dengan memberi sumbangan dengan jumlah bervariasi. Media ini menjadi tempat diskusi berlanjut sehingga begitu banyak orang yang terlibat dan memberikan sumbangan. Kami bersyukur atas kehadiran media ini  yang membuka hati banyak orang untuk membantu kami,” katanya.

Pastor Cypri mengungkap, rencana Paroki Tiga Binanga ke depan ialah meneruskan pembangunan kantor paroki dan aula supaya dapat dirunning untuk pelayanan umat.  bangunan ini sendiri bakal memiliki tiga fungsi dengan batas yang jelas dalam satu bangunan.

“Bangunan pastoran, ini sudah selesai dan diberkati pada 13 Oktober 2019 yang lalu. Sementara itu dua bagian lagi ialah kantor paroki dan aula. Kantor paroki dipakai untuk urusan sekretariat, ruang tunggu, ruang kanonik dan bicara 3 ruang, dan kebutuhan umat. Dan bagian ketiga ialah aula dan kamar-kamar tamu. Kantor paroki dan aula sedang dalam proses pengerjaan sekitar 75%. Kami masih membutuhkan banyak dana untuk menyelesaikannya,” ucap Pastor Cypri.

“Kami melihat bahwa pembangunan pastoran, kantor paroki dan aula yang sedang berlangsung ini merupakan salah satu jawaban untuk melengkapi kebutuhan pelayanan pastoral di paroki ini.  Pembekalan pengurus  menjadi rencana yang harus dilaksanakan dan bersifat urgen di sini,” dia melanjutkan.

“Kami sangat yakin bila pengurus semakin tahu tentang tugas-tugasnya, bersemangat, aktif dan terampil, maka banyak kebutuhan umat akan terjawab dan hal ini akan mengundang mereka untuk hadir dan terlibat aktif dalam pelayanan gereja. Karena itu pembangunan dan perayaan 40 tahun pendirian paroki ini merupakan momen kebangkitan kembali iman dan semangat menggereja bagi seluruh umat separoki Tiga Binanga.“

“Semoga semangat berkobar yang kini sudah terbangun, semakin menyala sehingga mempengaruhi seluruh umat untuk bangkit bersama menuju perkembangan yang kita idam-idamkan,” pungkasnya.

 

(Ananta Bangun)

foto
Pemberkatan Pastoran Paroki Tiga Binanga (Altur Manullang)

Gallery

Pusat Perawatan Dan Pemulihan Adiksi Narkoba “Rumah Kita”:TIDAK SEKEDAR RUMAH PEMULIHAN

Suster Yovita bersama Frater Kapusin memimpin kegiatan bersama Residen Rumah Kita
Suster Yovita bersama Frater Kapusin memimpin kegiatan bersama Residen Rumah Kita (dok. Pribadi)

Pada tahun 2013, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengeluarkan Surat Gembala yang bertajuk “Jadilah Pembela Kehidupan! Lawanlah Penyalahgunaan Narkoba!” Surat Gembala ini ditandatangani Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jenderal KWI (masa itu), Mgr Johannes Pujasumarta. Dokumen yang diterbitkan usai studi para uskup seluruh Indonesia ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan yang mendalam atas semakin luasnya penyalahgunaan narkoba di negeri ini.

Poin terakhir dalam Surat Gembala ini menekankan pentingnya Rehabilitasi. Gereja Katolik memandang bahwa terhadap korban penyalah-gunaan narkoba harus dirawat hinggah pulih. Alih-alih hukuman penjara yang tidak menjadi pemecah masalah, upaya memulihkan korban sebaiknya diberikan di rumah rehabilitasi yang dikelola secara benar dan bertanggung jawab.

Dalam Surat Gembala inilah ditemukan keselarasan misi BNN dan karya kasih Gereja Katolik agar pengguna narkoba dilayani di rehabilitasi dengan pendampingan medis, psikologis, dan rohani. Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) Medan tergerak mewujudkan pesan tersebut, dengan mendirikan pusat perawatan dan pemulihan adiksi narkoba “Rumah Kita”. Layanan rehabilitasi ini menjadi oase di tengah derasnya penyebaran narkoba yang mengancam generasi muda bangsa.

“Rumah Kita”diresmikan oleh Uskup Agung Medan (kala itu), Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, pada 28 Oktober 2014. Prosesi peresmian disaksikan sang penggagas, Sr. Ignasia Simbolon KSYY serta sejumlah pejabat pemerintahan. Termasuk diantaranya perwakilan Badan Narkotikan Nasional (BNN) Sumatera Utara. Continue reading