AKU TULIS YANG KUTAHU

Alasan awal saat mempelajari keahlian apa pun adalah belum memiliki waktu, dan persiapan. Dalih ini juga sering kudapati kala memberi pelatihan menulis. Ada semacam dugaan bahwa penulis adalah seorang yang punya banyak waktu untuk membaca, berdiskusi dan menulis di ruang sunyi. ‘Kekayaan’ itu memang kerap kita lihat dalam cuplikan sinema.

Aku pernah terkekeh, ketika bapa Budi Soetedjo, pendiri dan pimpinan Lembaga “Indonesia Menulis”, mengatakan: “Meskipun saya sudah banyak menulis. Bukan berarti kerjaan saya hanya duduk dan menulis. Saya juga dijejali banyak tugas dan tanggung jawab lho. Memangnya, saya ini pengangguran yang cuma menulis melulu.”

Konten atau isi karya tulis sebenarnya bukan perkara sulit saat belajar menulis. Kunci pertama dalam menulis adalah: Aku tulis yang kutahu. Apa sajakah itu? Tentunya dari pengalaman ataupun buku-buku yang dibaca, hingga buah perbincangan (termasuk juga wawancara) dengan sesama.

Menuturkan pengalaman adalah karya tulis terbaik bagi insan yang tengah belajar menulis. Sebab, kisah tersebut hanya diketahui oleh satu orang. Yakni, si penutur itu sendiri. Dia mengetahui setiap bagian hingga konflik, keseruan atau kelucuan dari cerita tersebut.

Coba kita perhatikan penuturan pengalaman dalam buku Dale Carnegie: “Sukses Berkomunikasi”,  mengisahkan bagaimana seorang muridnya di kelas pidato (saat itu belum ada istilah kelas presentasi). Gay K belajar untuk berbicara di depan khalayak untuk pertama kali. Pak Gay ini tidak pernah berpidato di hadapan umum sebelum dia mengikuti kursus pidato yang diadakan Carnegie. Continue reading →