Gallery

[Reportase] Keberangkatan Meliput PKSN 2018 di Palangkaraya

Jangan pernah sekali-kali menyamakan Jalan Salib dengan bandara. Meski keduanya punya istilah serupa, ‘station’ atawa ‘perhentian’. Ihwal yang pertama akan memberi makna peziarahan iman, sementara yang terakhir membuatmu senewen karena hanya menyaksikan ‘burung besi’ dan manusia yang terus berseliweran, sembari menanti kesempatan untuk melesat dan membelah angkasa.

Seperti itu lah tertancap di pikiranku, saat hendak mereka-reka tulisan mula reportase pribadi selama Pekan Komunikasi Sosial 2018 di Keuskupan Palangkaraya. Meski sumpek terpapar dampak penundaan penerbangan tadi, aku coba tulis hal sederhana saja. Bahwa, hari ini, aku telah menapaki tiga bandara: Kualanamu, Soekarno-Hatta, dan Tjilik Riwut.

“Tjilik Riwut adalah nama Pahlawan Nasional di sini (Kalimantan Selatan),” terang Romo Penta saat kami meninggalkan bandar udara tersebut. Imam Diosesan Palangkaraya ini menjelaskan bahwa Tjilik Riwut adalah penerjun payung pertama yang turut berjuang melawan penjajah pada masanya.

Aku tertegun saja. Tapi, akhirnya tergelak dalam tawa, saat dia mengatakan bahwa Romo Gatot memberi nomor keliru. “Saya dikasih nomor yang akhirannya angka 6, sementera ponsel panjenengan (kamu) kan akhirannya 5.”

“Iya, Romo. Huehehehe,” aku menimpali. Continue reading