“Voice of Peace” Lewat Katekese Udara

HIDUPKATOLIK.com – Radio bukan media untuk mencari keuntungan semata tetapi sebagai media pewarta Kabar Gembira dan memberi pesan damai lewat program yang ditawarkan kepada para pendengar.

“Dari lantai lima Gedung Catholic Center Medan, kami mengudara menyapa Anda. Inilah Radio Maria Medan, 104.2 MHz FM. Halo sahabat Maria, ketemu lagi dengan saya Sr Richarda Bangun SFD di program “Songs and Short Stories”. Pada hari Sabtu, hari yang sangat ditunggu kawula muda. Info pagi ini harus sahabat Maria tahu. Kalau belum sempat mengikuti bisa live streaming siaran di http://www.radiomaria.co.id.”

Begitu suara samar Sr Richarda yang terdengar dari Studio Radio Maria Medan. Dari ruangan ini, sejuta pesan Bunda Maria disampaikan kepada seluruh umat Katolik khususnya di Keuskupan Agung Medan.

Sr Richarda membacakan beberapa berita sekaligus menghadirkan lagu-lagu rohani bagi para pendengar. Program “Songs and Short Stories” menjadi salah satu program yang digemari kawula muda dan sahabat Maria.

Misi Evangelisasi
Direktur Radio Maria Pastor Redemptus Simamora OFMCap menceritakan awal berdirinya Radio Maria. Jaringan radio ini berawal dari sebuah paroki di Italia. Usaha ini kemudian berkembang menjadi asosiasi awam dan imam di tahun 1987. Asosiasi ini mengelola sebuah jaringan Radio Maria di Italia. Sejak awal, radio ini dimaksudkan sebagai sarana evangelisasi untuk menyebarkan ajaran dan berita terkait Gereja Katolik. Hingga pada saat itu di Italia, Radio Maria berkembang sebagai jejaring Radio Katolik Nasional.

Radio Maria ini, kata Pastor Redemptus terinspirasi dari pesan Penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal. Radio ini mendesak diwujudkan sebagai sarana evangelisasi. Anjuran Apostolik Cathecesi Tradendae yang dikeluarkan Paus Yohanes Paulus II tahun 1987 pun menyerukan pesan yang sama. Tak hanya itu, seruan tentang evangelisasi juga ada dalam Nasihat Apostolik Evangelii Nuntiandi dari Paus Paulus VI tahun 1975.

Pastor Redemptus menambahkan, tahun 1990, World Family of Radio Mary dibentuk sebagai buah perkembangan Radio Maria Italia. Terinspirasi dari pesan ini, Emmanuele Ferrario, sang pendiri, membentuk perkumpulan Radio Maria di 58 negara termasuk Indonesia, yang diprakarsai Pastor Benyamin Purba OFMCap.

Radio Maria adalah gerakan awam untuk mewartakan Kabar Gembira. Menurut Pastor Redemptus, Radio Maria mengedepankan semangat God’s Providence. Keseluruhan gerak Radio maria mengandalkan penyelenggaraan Ilahi. “Radio Maria tidak tergantung dari pemasukan iklan namun dari dukungan moril dan materiil umat,” ungkap alumnus Animazione Liturgica-Musicale Roma, Italia.

Peran radio sebagai misi evangelisasi juga dijalankan Radio Suara Wajar 96,8 FM Bandar Lampung. Cucu Lukman Ali mengatakan, kehadiran Suara Wajar yang berdiri sejak 1973 pertama-tama sebagai media evangelisasi. Sejak berdiri, beberapa pastor yang terlibat dalam radio ini antusias menyelamatkan jiwa-jiwa lewat siaran-siaran mereka. Orang-orang Katolik pun terbantu karena media ini menjadi salah satu tempat umat Katolik mengekspresikan iman mereka. “Saat itu untuk butuh waktu berbulan-bulan bagi umat untuk mengetahui sebuah berita. Atas keprihatinan ini maka didirikanlah Suara Wajar,” ungkap Direktur Radio Suara Wajar ini.

Saat ini, siaran Suara Wajar menjangkau seluruh Provinsi Lampung. Beberapa program pengembangan iman Katolik tetap menjadi prioritas. Cucu menambahkan, di Suara Wajar dikumandangkan program renungan dan lagu rohani. Setiap pukul 12.00 WIB ada Doa Angelus, sedangkan pada pukul 18.00 WIB ada Doa Ratu Surga. Program rohani lain misalnya Kisah Orang Kudus, talk show rohani, serta dialog pastoral keluarga. “Kami sangat yakin saat media konvensional ditinggalkan, radio akan terus mengudara. Radio memiliki beberapa keunikan yang tidak dimiliki media lainnya.”

Mengungkit soal keunikan radio, Yustina Anik Purwanti, pengelola Radio Boos 104,2 FM Padang Sumatera Barat mengatakan, radio masih tetap relevan dan tidak akan tergantikan di hati umat Keuskupan Padang. Letak geografis Keuskupan Padang menjadi salah satu faktor.

Anik menjelaskan saat internet menjadi media sulung bagi kaum muda, radio justru menjadi kebutuhan primer umat Padang. Di Radio Boos, ada program interaksi dengan pendengar, katekese iman Katolik, dan pesan-pesan keutamaan hidup yang dibawakan dengan bahasa Mentawai. “Ketika radio berhenti karena gangguan, banyak pendengar melayangkan protes kepada kami. Di daerah-daerah sekitar Padang, Radio Boos masih digemari dan tidak akan mati,” tegas Anik.

Belajar Mandiri
Sesuai kodratnya, radio harus sampai ke mana-mana, mencakup pendengar di tempat yang jauh dan tak pernah terbayangkan. Radio harus menjadi sarana yang tidak hanya menyuburkan dan mendukung iman umat tetapi juga menjangkau umat yang jauh dari Gereja. Meski begitu, para pengelola radio terus berjuang agar media audio ini tak
berhenti bernafas. Dalam pengertian ini, radio harus benar-benar independen menghidupi diri sendiri tanpa tergantung pada keuskupan atau lembaga provit lainnya.

Spiritualitas mandiri dialami berbagai radio milik beberapa keuskupan di Indonesia. Radio Modulasi Nada Tintian Inspirasi Jaya (Montini) 106 FM milik Keuskupan Manado misalnya berusaha membangun kerjasama dengan berbagai pihak. Direktur Radio Montini, Pastor Antonius Steven Lalu mengatakan setiap media memiliki commercial price begitu juga dengan Radio Montini. Untuk terus eksis, Montini menawarkan iklan atau promosi yang dihitung per durasi detik dengan harga bervariasi.

Radio dengan misi “Cinta Sesama, Cinta Semesta” ini memasarkan iklan loose spot mulai dari harga 60-75 ribu. Sedangkan iklan sponsor program berkisar antara 550 ribu hingga 750 ribu. “Iklan tetap diperhitungkan tetapi paling penting adalah pelayanan,” ungkap Pastor Steven.

Pastor Steven menjelaskan, para Sobat Montini memahami situasi ini. Radio yang berdiri di Jalan St Yosef 17A Kleak, Manado, Sulawesi Utara ini menjangkau wilayah Manado, sebagian Minahasa Induk, Minahasa Utara, Tomohon, Kakaskasen, dan Bitung. Program berita di Radio Montini bekerjasama dengan Radio KBR-Jakarta. Untuk siaran musik, Radio Montini menyiarkan 50 persen lagu Indonesia dan selebihnya asing. “Target audience kami adalah kelompok usia dari 12-50 tahun atau untuk semua kalangan sosial masyarakat,” ungkap Pastor Steven.

Mirip dengan Montini, Radio Suara Mandala 96.4 FM Banyuwangi, Jawa Timur juga mengedepankan target tertentu untuk terus bertahan. Radio yang berdiri di Jalan A. Suprapto no 35 Banyuwangi ini mulai siaran dari pukul 05.00 pagi hingga pukul 24.00 WIB. Staf Radio Mandala Arnoldus Jansen mengatakan, format Radio Mandala tidak saja melulu program-program tentang kekatolikan.

Untuk saat ini, kata Jansen, target pendengar dari anak-anak Sekolah Dasar berkisar 10 persen. Sementara dari anak usia Sekolah Menengah Pertama berkisar 30 persen dan anak Sekolah Menengah Atas sebesar 40 persen. Untuk pendengar dari kalangan mahasiswa Radio Suara Mandala berharap dapat memperoleh sekitar 20 persen dari keseluruhan pendengar.

Jansen mengakui, Radio Suara Mandala bertahan karena pemasukan dari iklan. Di sini harga iklan ditawarkan dengan harga antara 60 ribu-110 ribu. Sedangkan untuk prime time berkisar antara 70 ribu hingga 135 ribu. Selain itu ada juga paket sponsor program acara per-kategori dengan rate perbulannya berikisar sembilan juta sampai 15 juta untuk durasi 45 menit. “Pada dasarnya semua radio harusnya bertahan karena iklan. Lagi-lagi bukan ini tujuan sebuah radio berdiri. Paling penting adalah sejauh mana suara kenabian bisa sampai ke telinga pendengar.”

Voice of Peace
Meski iklan menjadi “nyawa” sebuah media, tetapi pesan kenabian dan pesan kedamaian menjadi misi utama sebuah radio. Hal ini terus dipegang oleh pengelola Radio Suara Paksi Buana 103.6 FM, Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Pastor Lexi Sarkol MSC. Ia mengatakan, ada program siaran yang sangat digemari di Radio paksi Buana yaitu Youth for Peace. Program ini dirancang untuk menyadarkan orang muda akan perannya membangun perdamaian. “Bahasa kaum muda diangkat sebagai media komunikasi. Kendati begitu, program ruang budaya untuk mengangkat budaya lokal Halmahera tak ditinggalkan,” ungkap Pastor Lexi.

Pastor Lexi bercerita, Radio Suara Paksi Buana didirikan tahun 1999 oleh Pastor Titus Rahail MSC (Jr). Pastor Titus prihatin akan perkembangan kaum muda Tobelo. Sebagai misionaris, ia tergerak dengan kondisi masyarakat yang berada dalam konflik, perpecahan dan masyarakat yang terpisah karena Perang Saudara antar umat beragama di Maluku periode 1999 lalu. Pastor Titus ingin menghadirkan lagi semboyan “Pela Gandong” dalam balutan pesan “Ale rasa Beta rasa”. Dirinya berinisiatif untuk mencari sarana yang bisa menyatukan semua pihak. Setidaknya mereka bisa duduk bersama sebagai saudara untuk bercerita tentang iman masing-masing.

Sebagai suara kedamaian, Radio Suara Paksi Buana menawarkan program penghiburan, pesan damai khususnya kepada para pengungsi, janda, anak yatim piatu, dan mereka yang kehilangan harapan. Banyak kalangan meyakini bahwa Radio Suara Paksi Buana mampu mencairkan suasana saat itu. Beberapa program baru lalu menyusul seperti “Save the Children”. Program pelatihan dan kursus broadcasting juga dihadirkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan umat. “Program-program baru ini bertujuan menghadirkan the voice of peace bagi seluruh umat,” pungkas Pastor Lexi.

Sementara itu di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Direktur Radio Tirilolok FM 101.10 MHz, Pastor Balthazar Erminold Manehat SVD mengatakan pada dasarnya radio itu bersifat right here, right now karena radio tidak mengenal batas dan waktu. Radio bisa didengar di mana saja tanpa dibatas ruang. Melalui siaran radio, komunikasi dapat diterima oleh pendengar dengan cepat dan mudah. Melalui radio, masyarakat bisa mendapatkan hiburan, informasi, dan berita kapanpun.

Wilayah geografis NTT yang berpulau-pulau membuat Radio Tirilolok sangat dibutuhkan. Tirilolok pada dasarnya adalah media yang mudah dijangkau masyarakat terpencil, buta huruf, orang cacat, kaum miskin bahkan kelompok menengah ke atas. Radio bagi Pastor Balthazar dapat menjadi media yang mempengaruhi masyarakat. Siaran radio tidak sekadar pewartaan tetapi Kabar Gembira. “Radio tidak terbatas pada pesan Kitab Suci tetapi ada nilai-nilai Injil dalam berita radio, yang jauh lebih besar dari sekadar evangelisasi,” pungkas Pastor Balthazar.

Di Kupang, lewat Radio Tirilolok pemerintah dan gereja menjadi partner. Pastor Balthazar melanjutkan, hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan kota, sarana prasarana, program pemerintah disampaikan lewat Radio Tirilolok agar menjadi kabar gembira bersama seluruh masyarakat. Sebagai sebuah radio milik Keuskupan Agung Kupang, namun Radio Tirilolok memberi ruang juga untuk Mimbar Agama Protestan dan bahkan Dakwah Islam. “Setidaknya pesan Kabar Gembira bisa sampai kepada semua orang tanpa terkecuali agar dunia damai yang diharapkan tercapai.”

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan : Ananta Bangun (Medan)

Komlit KAM Gelar Sosialisasi TPE 2020 Bagi Kalangan Imam, Biarawan/ Biarawati & Awam

Pematangsiantar – Menjemaat,

Komisi Liturgi Keuskupan Agung Medan (KAM), Sabtu (3 Juli), mengadakan sosialisasi Tata Perayaan Ekaristi 2020 bagi kalangan Imam, biarawan/ biarawati dan sejumlah awam. Puluhan hadirin turut dalam acara yang berlangsung di Pusat Spiritualitas Karmel MBK Tanjung Pinggir, Pematang Siantar.

Panitia mengawali sosialisasi dengan informasi bahwa Tata Perayaan Ekaristi edisi 2021 telah dipromulgasikan oleh Konferensi Waligereja Indonesia pada 27 Desember 2020 dan diluncurkan pada 7 Mei 2021. “Sebelum buku baru ini digunakan di Keuskupan Agung Medan, Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap melalui Komisi Liturgi menghendaki sosialisasi dilaksanakan lebih dahulu,” tutur Ketua Komisi Liturgi KAM, Pastor Emmanuel Sembiring OFM Cap.

Pastor Emmanuel mengatakan, Mgr. Kornelius meminta Komlit KAM untuk memandu sosialisasi di setiap vikariat se-KAM.

Sebelumnya, Komlit KAM telah menghelat kegiatan serupa bagi beberapa Vikariat. Diantaranya Vikariat Doloksanggul, Vikariat Kabanjahe, Vikariat Sidikalang, Vikariat Pangururan, Vikariat Pematangsiantar, dan Vikariat Aekkanopan.

Dia menambahkan, sasaran utama peserta sosialisasi ini adalah para Pastor, Diakon, dan Seksi Liturgi Paroki. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dalam pertemuan langsung atau tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan pada masa pandemi.

Dalam sosialisasi di Tanjung Pinggir, Pastor Emmanuel memaparkan empat tujuan kegiatan tersebut. “Pertama, peserta mengartikan buku TPE 2020 sebagai edition typica (acuan) bagi pelaksanaan Perayaan Ekaristi di seluruh Indonesia juga berbahasa daerah; sarana pemersatu baik Gereja Partikular maupun Universal.”

“Untuk tujuan kedua, peserta mengetahui informasi perkembangan yang menimbulkan kerelaan baru untuk merayakan Ekaristi sesuai dengan TPE 2020: diseminasi. Dan ketiga, Peserta semakin memahami Imam bertindak sebagai in persona Christi dalam Perayaan Ekaristi.”

Sementara dalam tujuan keempat, kata Pastor Emmanuel, setiap peserta sosialisasi menentukan pelaksanaan sosialisasi TPE 2020 kepada umat di Paroki masing-masing.

(Ananta Bangun)

Mgr. Anicetus Sinaga OFM Cap ‘Berpulang’; Tutup Usia 79 Tahun

Umat Katolik mengawali bulan November ini dengan suasana duka. Kabar wafatnya Bapak Uskup Agung Anicetus Sinaga, OFMCap menimbulkan rasa belasungkawa mendalam, bukan hanya bagi umat Keuskupan Sibolga yang dilayani sebagai Uskup dan sekarang sebagai Administrator Apostolik, termasuk juga umat di Keuskupan Agung Medan yang juga pernah dilayani sebagai Uskup Agung.

Mgr Anicetus Bongsu Sinaga, OFM Cap mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Elisabeth Medan, pada Sabtu (7 November 2020). Kabar duka ini disampaikan melalui fanpage Keuskupan Sibolga, sesaat setelah kepergian bapak Uskup.

“Berita dukacita! Telah meninggal dengan tenang Mgr Anicetus B Sinaga, OFM Cap Administrator Apostolik Keuskupan Sibolga, tadi sore sekitar pukul 18.00 WIB di RS Elisabeth Medan. Marilah kita umat Keuskupan Sibolga berdoa untuk keselamatan jiwa Mgr dan semua rencana pemakaman berjalan lancar. Informasi selanjutnya, akan dikeluarkan ordinariat Keuskupan Sibolga dan Uskup Agung Medan.” Demikian tersemat kabar di media sosial Keuskupan Sibolga tersebut.

Mgr. Pius Datubara OFM Cap beri penghormatan terakhir (Binus Brekele Tarigan)

Kanselarius Keuskupan Agung Medan, Pastor Borta Rumapea, O.Carm juga membenarkan kabar duka tersebut melalui pesan singkat yang dibagikan via whatsapp. “Berita Duka. Telah Meninggal dunia dengan tenang hari ini, pkl.18.00. Yang Mulia Mgr. Emeritus B. Sinaga, OFM.Cap, di Rumah Sakit St. Elisabeth Medan. Malam ini dan besok akan disemayamkan di Gereja Katedral Medan. Para LHB dan umat Allah terdekat dipersilahkan datang berdoa. RIP. Informasi selanjutnya akan kami sampaikan. Terimakasih”

Sebelumnya, Mgr Anicetus dinyatakan positif Covid-19, yang disampaikan dalam keterangan pers via youtube oleh Sekretaris Keuskupan Sibolga, Romo Blasius Super Yesse, Pr, pada Senin (19 Oktober 2020).

Pastor Yesse mengatakan, Mgr. Anicetus merasa kondisinya kurang sehat usai tahbisan diakon di Gereja St. Theresia Lisieux, Sibolga, pada Kamis (15 Oktober 2020). “Dan kemudian, Mgr. Anicetus dibawa berobat dan beristirahat di di Klinik St. Melania, Seruni, Sibolga.”

Melalui sumber dari pihak RS Elisabeth disampaikan, Mgr. Anicetus sebelumnya telah menjalani tes usap (SWAB) sebanyak dua kali. Hasil pengujian laboratorium mendapati bahwa Mgr. Anicetus negatif dari virus corona. Sesudah dinyatakan sembuh, Uskup Emeritus dipindah dari ruang isolasi ke ruang perawatan umum. Namun penyakit paru yang pernah diderita sebelumnya kembali kambuh dan membutuhkan perawatan intensif.

Uskup Agung Medan, Mgr Kornelius Sipayung OFMCap mengirim pesan kepada Bapa Kardinal Ignatius Suharyo dan para uskup di Indonesia bahwa Uskup Sinaga telah dipanggil Tuhan pada hari Sabtu (7 November 2020) pukul 18.00 WIB.

“Bapa Kardinal dan para bapa uskup yang terkasih, dalam doa sambil mendekap tangannya, Mgr Anicetus pada pukul 18.00 WIB telah berangkat menghadap Bapa. Mari kita doakan agar Beliau beristirahat dalam damai Tuhan,” demikian WhatsApp Mgr. Kornelius yang menyebar secara luas.

foto dari Binus Brekele Tarigan (Tawa Potret)

Pesan Terakhir

Pada Minggu (8 November 2020), Keuskupan Agung Medan mempersembahkan Misa Requiem Mgr. Anicetus di Gereja Paroki Katedral Medan. Dalam homilinya, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius mengutip kembali ucapan almarhum Uskup Emeritus saat dia memimpin Misa Requiem RP Servasius Sihotang OFMCap di Sibolga. “Pesan itu ditulisnya ditulisnya dalam grup WA Para Uskup Regio Sumatera, 13 Oktober lalu,” ujar Mgr. Kornelius.

Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ mengomentari, “Ya, Opung harus menunggu lama. Opung Pius pun masih gagah kog. Suara kalian berdua cukup keras. Tanda usia akan panjang.” Dan, jawab Mgr Anicetus, “Terima kasih Mgr Darso. Memang urusan kematian ada di tangan Allah. Untuk itu tidak usah kita membentuk panitia.”

Itu pesan WA terakhir Mgr Anicetus dan grup itu. “Kami harap di rumah sakit muncul WA-nya sebagai tanda hidup dan sehat, tetapi tidak muncul,” kenang Mgr. Kornelius.

Mgr. Kornelius beri homili dalam Misa Requiem Mgr. Anicetus di Gereja Paroki Katedral Sibolga (Komisi Komsos KAM)

Mgr. Kornelius melanjutkan, atas permintaan Mgr Anicetus, Mgr Kornelius menerimakan Sakramen Minyak Suci pada Mgr Anicetus 5 November. Tanggal 7 November, Mgr Anicetus menghemburkan napas terakhir. “Dia meninggalkan keuskupan yang sangat dicintainya, Sibolga,” ucapnya.

Padahal, menurut Mgr Kornelius, tanggal 25 September saat merayakan HUT ke-79, uskup yang polos, terbuka, lugas, dan apa adanya itu masih tampil prima dan egergik. Bahkan ada imam berkesan, beliau adalah pribadi survive, tanggap, ceria, suka humor, suka melontarkan ungkapan bahkan ungkapan yang tidak terduga, teratur dan disiplin dalam doa dan meditasi, produktif mengeluarkan buku, artikel, akta diosesan dan surat edaran.

Uskup yang senantiasa menyelipkan Gurindam 12 dalam setiap khotbah dan pembicaraan  itu, lanjut Mgr Kornelius adalah uskup yang peduli dengan budaya, khususnya Budaya Batak. “Dalam perjumpaan formal dan non-formal, beliau sering mengingatkan tentang pentingnya menggali nilai-nilai kekeristenan dalam budaya. Itu juga alasan mengapa beliau selalu ingatkan agar Museum Pusaka Batak Toba di Pangururan dikelola dengan baik, dirancang kurikulum studi Batakologi, dan mempersiapkan orang yang kompeten untuk mengelola museum itu,” kata Uskup Agung Medan itu.

Setelah Misa Requiem di Katedral Medan, pada pukul 9 malam jenazah Mgr Anicetus dibawa menuju Sibolga dan singgah sejenak di Sinaksak. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, semua menunggu kedatangan rombongan di Gereja STSP. Hadir dalam momen ini para Suster dari komunitas-komunitas terdekat di Pematangsiantar, juga para Frater, bruder dan Pastor.

Dalam sambutannya, mewakili lembaga pendidikan, Civitas Academica STFT St Yohanes Pematangsiantar, P. Gonti Simanullang OFMCap, mengajak semua yang hadir, khususnya para mahasiswa civitas academica STFT St Yohanes untuk menjaga api semangat yang telah diwariskan oleh mendiang. Pastor Ivo menandaskan, bahwa perjuangan Mgr Anicetus sungguh memantik semangat dan dengan penuh dedikasi memberikan perhatian yang besar bagi pendidikan  calon imam. “Sudah selayaknya semangat, pemikiran, harapan dan gagasan besar itu kita wujudkan bersama dalam proses bina kita”.

Dalam momen ini, para calon imam diosesan, khususnya dari Praunio Keuskupan Sibolga mempersembahkan lagu buah karya mendiang Mgr Anicetus, Hymne Sibolga yang diciptakannya pada 1983. Lagu ini menceritakan refleksi dan  kekagumannya pada Bumi Sibolga, alam dan kekayaan yang juga turut membentuk sejarah dan akhirnya dikenal secara luas.

Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan doa dan  berkat oleh P. Totok Subiyanto dan kemudian dalam waktu yang cukup singkat beberapa anggota komunitas yang hadir juga umat,  berdoa di sekitar peti jenazah secara bergantian. Pkl. 23.46 WIB, prosesi ditutup dan kemudian rombongan bergerak menuju Sibolga.

Jenazah Mgr. Anicetus disambut di Katedral Sibolga, pada Senin (9 November 2020), dan disusul persembahan Misa Requiem pada pukul 6 sore. Pada Selasa (10 November 2020), dipersembahkan Misa Requiem dan prosesi pemakaman Mgr. Anicetus di Gereja Paroki Katedral Sibolga. Mgr. Kornelius menyampaikan, semestinya Uskup Ruteng, Mgr. Sipri Hormat yang akan memimpin misa tersebut. “Namun karena kendala di bandara di Jakarta, Mgr. Sipri berhalangan datang,” ujarnya.

Dalam homilinya, kata Mgr Kornelius mengisahkan kembali saat menerimakan perminyakan orang sakit kepada Mgr Anicetus, “Nampak semangatnya merayakan kehadiran Kristus yang menyelamatkan dan menyembuhkan itu … Dari wajah dan sikapnya, itu diamininya, sehingga ketika diurapi dengan minyak, dengan sangat semangat ia membuat tanda salib,” katanya.

Barangkali, lanjut Mgr Kornelius, dalam dirinya sudah ada perasaan dan firasat untuk menghadap Bapa, “karena keyakinannya bahwa kematian adalah pengharapan bagi orang yang percaya dan itu adalah karya Allah, tak perlu panitia.”

Seusai misa reqquiem, jenazah Mgr Anicetus dimakamkan di pemakaman Seminari Menengah Santo Petrus, Aek Tolang, Pandan. (Fr. Nicolaus Heru & Ananta Bangun | sumber: Katolikana, Tribun Medan, Geosiar, Mirifica.net)

logo Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFM Cap

RIWAYAT HIDUP ALMARHUM MGR. EMERITUS DR. ANICETUS BONGSU SINAGA OFMCAP

Lahir                           : Nagadolog, 25 September 1941

SD                               : Siatasan, Dolokpagaribuan, Simalungun, Sumut 1949-1952 (Kls I-III); Bahtongguran, Tanah Jawa, Simalungun, Sumut 1952-1955 (Kls IV-VI).

SMP                            : SMP RK Jl. Sibolga 21 Pematangsiantar, 1955-1959;

SMA                           : SMA Seminari Menengah, Pematangsiantar, 1959-1963;

Novisiat Kapusin     : Parapat 1963-1964

Fakultas Filsafat       : Parapat, Seminari Agung, 1964-1967

Fakultas Teologi      : STFT St. Yohanes Pematangsiantar 1967-1970

Tahbisan Imam         : Pematangsiantar 13 Desember 1969

Studi Teologi Moral : Roma (Alfonsiana), Lisensiat 1970-1972;

Studi Teologi Dogmatik     : Leuven (Belgia), S-3, 1972-1975: The High God of the Toba Batak: Transcendence and Immanence, 1981.

Prefek Apostolik / ‘Uskup’ Sibolga: 28 Oktober 1978. Dilantik 25 Januari 1979.

Ketua Komisi Liturgi KWI             : November 1979 – November 1988

Uskup Sibolga (diangkat), 24 Oktober 1980; Ditahbiskan di Roma oleh St. Paus Yohanes Paulus II, 6 Januari 1981. Dengan motto: Ad Pasquam et Aquas Conducitme. (Ia membimbing aku ke padang hijau dan ke air yang tenang. (Mz 23.2)

Utusan KWI ke Sinode Uskup di Roma   : 29 September s/d 29 Oktober 1983

Ketua Komisi HAK KWI (Hubungan Antar-agama dan Kepercayaan) (Kerukunan Umat Beragama): 1988-1997

Wakil Ketua Komisi HAK FABC (Federation of Asian Bishops’ Conference): 1989-1995

Ketua Komisi Teologi KWI: 1997-2003

Utusan ke Sinode Uskup Asia di Roma: Oktober 1998

Delegatus/Ketua LBI KWI: 2003-2009.

Anggota Komisi Teologi KWI: November 2009-2018 (Ketua Seksi Ajaran Iman).

Pada 3 Januari 2004 diangkat menjadi Kuajutor Uskup Agung Medan dan   dilantik 12 Februari 2004. Selanjutnya  Diangkat 12 Februari 2009 sebagai Uskup Keuskupan Agung Medan.

Pada hari Minggu, 22 Februari 2009  jabatan Uskup Keuskupan Agung Medan resmi diserahkan kepada Mgr. Anicetus Bongsu A. Sinaga, OFMCap,.Pada masa ini banyak kemajuan di Keuskupan Agung Medan. Seperti  revitalisasi Komisi-komisi dan penataan berbagai hal komisi/unit subordinasi KAM. Pembadan Hukum – an Paroki.  Salah satu yang pantas disyukuri adalah pemekaran banyak paroki-paroki. Pada masa ini juga semakin bertambah kongregasi maupun Serikat Kerasulan yang berkarya di Medan. Mgr. Anicetus Bongsu A. Sinaga, OFMCap, menjabat dari tahun 2009 – 8 Desember 2018.

Selanjutnya menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Sibolga: 23 September 2018 sampai wafatnya.

Perarakan Jenazah Mgr Anicetus di STFT Pematangsiantar (Fr. Nicolaus Heru)

Misa Mingguan secara Online? Ini Penjelasan Vikaris Yudisial KAM

Vikaris Yudisial, RP. Benyamin Purba, OFM Cap, Sabtu (21 Maret 2020), menyampaikan penjelasan perihal Misa Mingguan yang akan disiarkan online melalui Radio Maria dan channel Youtube Komsos KAM.

“Sebagaimana instruksi dari Presiden hingga Gubernur, terkait pencegahan wabah virus Corona. Gereja juga mengambil kebijakan dispensasi perayan Misa Mingguan, demi menghindari berkumpulnya khalayak ramai,” ucap Pastor Benyamin.

Kebijakan tersebut berkenaan Petunjuk Praktis – Upaya Pencegahan Penularan Covid-19 yang diterbitkan Keuskupan Agung Medan, pada Jumat (20 Maret 2020). Pesan dari surat ini, yakni MENIADAKAN semua kegiatan kegerejaan yang mengumpulkan banyak orang mulai hari Sabtu, 21 Maret s/d Sabtu, 4 April 2020.

Menurut Imam Kapusin tersebut, kebijakan dispensasi diambil dari dasar Kitab Hukum Kanonik (KHK) pada Kanon 87 § 1: ‘”Setiap kali menurut penilaiannya berguna untuk kepentingan spiritual orang-orang beriman, Uskup diosesan dapat memberi dispensasi dari undang-undang disipliner, baik universal maupun partikular, yang diberikan oleh kuasa tertinggi Gereja untuk wilayahnya atau bawahannya, tetapi tidak dari hukum acara atau pidana, juga tidak dari undang-undang yang dispensasinya secara khusus direservasi bagi Takhta Apostolik atau suatu otoritas lain.

Dia melanjutkan, sebagaimana tertera dalam Lima Perintah Gereja, umat Katolik wajib untuk merayakan Hari Raya yang disamakan dengan Hari Minggu. “Memang secara fisik tidak bisa hadir di Gereja, karena gedung Gereja dikunci. Tetapi wajib ikut perayaan Hari Minggu, yang akan disiarkan melalui media komunikasi Radio dan Internet (Youtube).”

“Kita sebenarnya tidak menginginkan ini terjadi. Kita ingin bersama menerima tubuh dan darah Tuhan. Namun karena keadaan ini (wabah virus Corona), Gereja memberi pelayanan melalui saluran komunikasi Radio Maria dan streaming Youtube Komsos KAM,” katanya. “Maka mari ikuti peribadatan dengan duduk bersama keluarga. Ikuti lah perayaan ekaristi secara penuh dan sungguh-sungguh. Dan pada saat sesi penerimaan komuni, ucapkan doa komuni spiritual.”

Pastor Benyamin menjelaskan, bahwa Allah hadir dalam Ibadat Sabda, dan hadir dalam Ekaristi. “Allah menyapa yang hadir. Allah meneguhkan permohonan yang hadir. Manusia ada secara badani, dia hadir.”

“Kita menekankan kebersamaan dalam sukacita, kebersamaan dalam dukacita, menghadap Tuhan. Allah melalui Yesus Kristus menguduskan kita melalui sabdanya. Dan manusia dikuduskan, diteguhkan,” ucapnya.

(Ananta Bangun)

Sr. Paula: Saya Menangis Mendapati Kabar Keluarga di Italia

Serangan wabah virus Corona menimbulkan rasa cemas dan takut. Perasaan demikian juga dialami Sr. Paula Schiavo, SOSFS. Kepada komsoskam.com, biarawati ini mengatakan, selalu menanyakan kabar sanak saudaranya di kota Ariano Irpino, Italia.

“Saya baru-baru ini mendapati kabar keluarga via telepon. Dan, mereka mengatakan selalu berdoa kiranya wabah virus Corona ini dapat segera berakhir,” katanya di Biara SOSFS, Medan, Rabu (18 Maret 2020).

Biarawati yang membuka misi SOSFS ke Indonesia dan Filipina mengatakan, situasi di tempat asalnya seperti ‘kota mati’ pasca diberlakukan ‘lockdown’ nasional di negara pizza. “Hanya satu orang dari masing-masing keluarga yang boleh keluar untuk membeli makanan atau kebutuhan lainnya. Uskup Ariano Irpino, Mgr. Sergia Milelo juga sudah mengimbau umat agar menaati anjuran karantina. Guna mencegah penyebaran virus Corona.”

Kota-kota di Italia kini berada dalam status lockdown oleh pemerintahnya, demi memerangi Virus Corona, memiliki dampak bagi rutinitas warga setempat. Sejak 11 Maret 2020, Perdana Menteri Giuseppe Conte telah mengeluarkan peraturan untuk melakukan lockdown nasional untuk Italia.

“Saya menangis, saat pertama kali mendapati kabar yang dialami keluarga saya di Italia. Setiap malam, saya selalu mendaraskan novena kepada Bunda Maria Pengurai Simpul. Kiranya Tuhan memberkati kita semua dari ancaman virus ini,” imbuh Sr. Paula.

(Ananta Bangun)

Mgr. Kornelius Resmikan Peluncuran BIDUK KAM

IMG_1218

Komsoskam.com – Medan, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap, Sabtu (8 Februari 2020), meresmikan peluncuran Basis Integrasi Data Umat Keuskupan Agung Medan (BIDUK KAM). Acara grand launching di hall Catholic Center KAM, dihadiri Imam dan personil pengisian data BIDUK KAM dari masing-masing paroki.

Dalam misa pembuka, Mgr. Kornelius mengaku terilhami dengan nats Bacaan Pertama dan Injil hari ini. “Dalam bacaan pertama, kita mendengar doa Raja Salomo yang akan menggantikan tahta ayahnya, Raja Daud. Salomo meminta agar diberi anugerah hati yang paham memilah hal yang baik dan yang jahat. Ini lah kemampuan yang hendaknya dimiliki pemimpin. Termasuk pemimpin di gereja,” ujarnya di sesi homili.

“Sementara dalam Injil, kita mendengar bagaimana Yesus mengajak murid-muridnya ke tempat yang hening. Untuk berdoa, untuk menimba kekuatan dari Allah. Agar memiliki hati yang paham membedakan hal yang baik dan buruk. Inilah yang menggerakkan hatinya untuk berbelas kasih dalam melayani.” Continue reading →

Tahbisan Lima Imam Kapusin, Mgr. Kornelius: Meneruskan Jabatan Sebagai Guru, Imam dan Gembala

IMG_1188

Mgr. Kornelius diabadikan bersama Imam baru dan keluarga (dok. Komsos KAM)

Berastagi – Menjemaat,

Paroki St. Fransiskus Assisi – Berastagi, Sabtu (1 Februari 2020), dipadati ribuan umat, rohaniwan, biarawan-biarawati Keuskupan Agung Medan (KAM). Di paroki ini, lima diakon Kapusin siap menerima tahbisan imamat dari Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap.

Para Imam Kapusin yang ditahbiskan adalah: RP. Valent Cristian Sihotang OFMCap, RP. Pater Everis Pinto Sihombing OFMCap, RP. Tuppal Vandenhoven Sipayung OFMCap, RP. Masro Situmorang OFMCap, dan RP. Hendrik Lumbanraja OFMCap.

Misa diselenggarakan secara konselebrasi dengan Bapa Uskup sebagai selebran utama dan didampingi Propinsial Ordo Kapusin Propinsi Medan, RP. Selestinus Manalu OFMCap; Vikjen KAM, RP. Mikael Manurung OFMCap, Kanselarius KAM, RP. Frans Borta Rumapea O.Carm; Parochus Berastagi, RP. Liberius Sihombing OFMCap; dan puluhan Imam.

Dalam homili, Mgr. Kornelius menngatakan: “Putra-putra kita ini, adalah putra terbaik gereja. Sebentar lagi mereka akan ditahbiskan sebagai Imam. Tahbisan ini sebagai pengumuman bahwa mereka adalah manusia yang dekat dengan Allah. Karena kedekatannya dengan Allah, maka dia memperkenalkan Allah melalui kasih. Mereka melayani umat Allah. Dan secara resmi, meneruskan jabatan sebagai guru, Imam, dan gembala di dalam gereja.”

 

Continue reading →

Mgr. Pius Datubara Berkati Gereja Paroki Parsoburan

IMG_0639

Misa pemberkatan gereja paroki Parsoburan dipimpin Mgr. Pius Datubara

Parsoburan, Menjemaat

Uskup Emeritus KAM, Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap, Minggu (17 November 2019), memimpin misa dedikasi Gereja Paroki St. Yoseph Parsoburan. Ratusan umat turut dalam persembahan ekaristi pemberkatan gedung gereja baru ini, bersama puluhan imam termasuk Parochus Paroki Parsoburan, RD. Bernardus Sijabat.

Dalam buku kenangan dedikasi gereja ini, Pastor Bernard menyampaikan, upaya pembangunan dimulai pada awal April 2016. “Lama dinanti 3,7 tahun lamanya selesai, tentu karena biaya yang selalu dalam pencarian, tidak ada dana yang terus bisa diandalkan,” ucapnya. “Banyak juga gereja ini disumbang oleh para donatur baik, dari sekitar maupun yang jauh dari paroki. Entah secara pribadi, keluarga maupun instansi. Serta melalui gotong royong umat dari kota Parsoburan.”

Bupati Toba Samosir, Darwin Siagian turut memberi apresiasi upaya panitia menyelesaikan pembangunan gedung gereja yang terletak di kecamatan Habinsaran. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Toba Samosir mengucapkan selamat pemberkatan Gereja Paroki Parsoburan. Pembangunan gereja ini tentunya membutuhkan pengorbanan, baik pikiran, waktu, tenaga maupun biaya yang tidak sedikit.”

Sementara, Uskup KAM, Mgr. Kornelius mendorong umat agar senantiasa menjadikan gereja paroki sebagai tempat perjumpaan dengan Allah. “Hendaknya kita sungguh memanfaatkan rumah Allah ini sebanyak mungkin. Itu semua sarana berjumpa dengan Allah. Karena bangunan yang kita resmikan ini adalah rumah Allah, maka seharusnya kita sebagai umat Allah menjaga kesakralan rumah ini,” tuturnya, sebagaimana dikutip dalam buku kenangan.

(Ananta Bangun)

IMG_0629

Parochus Parsoburan, RD. Bernardus Sijabat membuka pintu gereja paroki

Aktivis Komsos Paroki Padang Bulan Belajar Jurnalistik Media Online

Aktivis Komsos Paroki Padang Bulan diabadikan bersama narasumber

Aktivis Komsos Paroki Padang Bulan diabadikan bersama narasumber

Komsoskam.com – Medan, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KAM memandu Training Jurnalistik Media Online bagi aktivis komsos di Paroki St. Fransiskus Assisi Padang Bulan, Medan. Kegiatan pembekalan, pada Minggu (20 Oktober 2019), diikuti puluhan umat setempat dan Vikaris Parokial, RP. Yanuarius Tarsik Berek, OFM Conv.

“Kegiatan ini penting dan baik untuk kita pelajari, tidak hanya untuk pengembangan website paroki, namun juga mengasah keahlian komunikasi sosial dan katakese di kalangan umat. Khususnya para aktivis komunikasi sosial di paroki ini. Teknologi komunikasi dan informasi amat relevan dalam upaya pastoral,” ujar Pastor Yan memberi motivasi dan kata pembukaan.

Ada tiga sesi dipaparkan dalam training, yakni: pemahaman dasar tentang komsos, praktik jurnalistik dan penentuan rencana tim aktivis komsos Paroki Padang Bulan ke depannya.

“Sejak pengenalan dekrit Inter Mirifica sebagai akar mula pastoral Komunikasi Sosial. Gereja telah membaca tanda zaman, termasuk perkembangan teknologi komunikasi dan informasi untuk lahan pastoral. Alkitab sendiri termasuk salah satu media komunikasi sosial yang membantu pewartaan hingga sampai ke tempat kita saat ini,” ujar staf Komsos KAM, Ananta Bangun saat mempresentasikan materi pemahaman dasar mengenai komunikasi sosial. Continue reading →

Pusat Perawatan Dan Pemulihan Adiksi Narkoba “Rumah Kita”:TIDAK SEKEDAR RUMAH PEMULIHAN

Suster Yovita bersama Frater Kapusin memimpin kegiatan bersama Residen Rumah Kita

Suster Yovita bersama Frater Kapusin memimpin kegiatan bersama Residen Rumah Kita (dok. Pribadi)

Pada tahun 2013, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengeluarkan Surat Gembala yang bertajuk “Jadilah Pembela Kehidupan! Lawanlah Penyalahgunaan Narkoba!” Surat Gembala ini ditandatangani Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jenderal KWI (masa itu), Mgr Johannes Pujasumarta. Dokumen yang diterbitkan usai studi para uskup seluruh Indonesia ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan yang mendalam atas semakin luasnya penyalahgunaan narkoba di negeri ini.

Poin terakhir dalam Surat Gembala ini menekankan pentingnya Rehabilitasi. Gereja Katolik memandang bahwa terhadap korban penyalah-gunaan narkoba harus dirawat hinggah pulih. Alih-alih hukuman penjara yang tidak menjadi pemecah masalah, upaya memulihkan korban sebaiknya diberikan di rumah rehabilitasi yang dikelola secara benar dan bertanggung jawab.

Dalam Surat Gembala inilah ditemukan keselarasan misi BNN dan karya kasih Gereja Katolik agar pengguna narkoba dilayani di rehabilitasi dengan pendampingan medis, psikologis, dan rohani. Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) Medan tergerak mewujudkan pesan tersebut, dengan mendirikan pusat perawatan dan pemulihan adiksi narkoba “Rumah Kita”. Layanan rehabilitasi ini menjadi oase di tengah derasnya penyebaran narkoba yang mengancam generasi muda bangsa.

“Rumah Kita”diresmikan oleh Uskup Agung Medan (kala itu), Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, pada 28 Oktober 2014. Prosesi peresmian disaksikan sang penggagas, Sr. Ignasia Simbolon KSYY serta sejumlah pejabat pemerintahan. Termasuk diantaranya perwakilan Badan Narkotikan Nasional (BNN) Sumatera Utara. Continue reading →