Gerakan Peduli Sesama (GPS) St. Felix Cantalice “Berbagi Kasih dengan Sesama yang Membutuhkan, Khususnya dalam Kesehatan & Pendidikan”

Pasca Tahun Jubileum Kerahiman Ilahi (2015-2016), sejumlah devosan tertarik untuk melebarkan sayap pelayanan.Kemudian, mereka bersama Direktur Spiritual Apostolat Kerahiman Ilahi – KAM, RP John Rufinus Saragih OFM Cap terbersit gagasan untuk membentuk komunitas baru, bernama Gerakan Peduli Sesama (GPS).

IMG-20190818-WA0013

Kepada Menjemaat, Pastor John menceritakan bahwa komunitas ini mengawali karyanya pada Mei 2016. Dia mengatakan, para aktivis GPS St. Felix Cantalice memiliki semangat berbagi kasih terhadap sesama yang membutuhkan, khususnya dalam hal kesehatan dan pendidikan. Oleh sebab itu, mayoritas aktivis dalam kelompok ini terdiri dari kalangan dokter dan ahli medis lainnya.

“Gerakan ini dimulai karena dirasakan minimnya pengetahuan masyarakat tentang pendidikan dan kesehatan,” tuturnya dalam keterangan tertulis. Oleh sebab itu, GPS St. Felix Cantalice mengambil motto “Sehat adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara”. Continue reading →

Sr. Kornelia: “Aku Bersyukur Sebab Tuhan Menjadi Gembala dalam Hidupku”

Sr Kornelia Tumanggor KSSY 2Komsokam.com – Medan, Sr. Kornelia Tumanggor, KSSY adalah putri pertama dari enam bersaudara. Sebagai anak sulung, orang tuanya berharap besar kelak dia menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Dengan harapan, dirinya bisa turut menjadi ‘penopang’ bagi adik-adiknya. Namun, ternyata panggilan Tuhan menuntun langkahnya menuju Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) Medan.

Biarawati kelahiran Salak , Pakpak Bharat (5 Januari 1968), menjalani masa pembinaan di Novisiat hingga Yuniorat. Pada 1992, kongregasi mengutusnya untuk studi di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Semarang. “Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini, karena boleh semakin memperdalam ilmu dan iman saya. Sehingga saya juga semakin mencintai panggilan melalui kongregasi ini,” tuturnya kepada Komsoskam.com di Medan, Jumat (18 Oktober 2019).

Usai menamatkan pendidikan di IPI Semarang, Sr. Kornelia kemudian ditugaskan mengajar di SMK Sta. Anna Medan, pada 1997. “Saat itu, sekolah tersebut masih bertempat di Jl. Hayam Wuruk, Medan,” katanya. 

Pada saat bersamaan, dirinya juga dipercaya pimpinan untuk mendampingi Postulan KSSY hingga 2003. Pada 2004, dia diutus ke novisiat Jl. Karya Wisata – Medan selama satu tahun.

Tahun berikutnya, Suster Korneli mendapat perutusan ke tempat yang lebih jauh: pulau Kalimantan. Yakni, menjadi staf pengajar di STIPAS Palangkaraya. “Awalnya terasa berat dan cemas berhadapan dengan mahasiswa, apalagi tempatnya pun belum bisa dibayangkan. Namun karena percaya akan Penyelenggaraan Ilahi, saya yakin bahwa Tuhan pasti menolong,” katanya, seraya menyebutkan dirinya melayani di lembaga pendidikan tersebut hingga tahun 2008.

Pada 2009, biarawati murah senyum ini mudik perutusan. Kongregasi menugaskan dirinya menjabat Kepala Sekolah di SMP St. Paulus Sidikalang. Dia mengakui, tugas ini pun awalnya sangat berat. “Tetapi atas kaul ketaatan, saya menerimanya. Saya berusaha memberikan yang terbaik, melaksanakan dengan tulus sebagaimana diteladankan Bapa Yosef pelindung Kongregasi kami.”

Empat tahun mengabdi di sekolah SMP St. Paulus mengalir tak terasa bagi Suster Kornelia. Dia bersyukur bahwa selalu menjadi gembala yang baik dan setia dalam perjalanan hidupnya. “Sebab dalam keterbatasanku, Dia selalu ada bersamaku sehingga memampukan aku melaksanakan dan menyelesaikan setiap tugas dengan baik,” imbuhnya.

Pada 2012, Suster Kornelia ditugaskan kembali ke tempat Pembinaan di Postulat jl. Bougenville Medan. Namun sebelum terjun pimpinan kongregasi memberi kesempatan baginya untuk mengisi diri, menempah kekuatan rohani di Pusat Pembinaan Spiritualitas Roncalli Salatiga – Jawa Tengah selama enam bulan. “Pada 2013, saya memulai tugas di Postulat hingga 2015. Pada tahun tersebut, tepatnya bulan Juni, saya kembali ke Novisiat KSSY hingga kini.”

Kepada kaum generasi muda, Suster Kornelia kerap memotivasi diri bahwa di mana ada kemauan, maka di situ ada jalan. “Dalam menjalankan setiap tugas saya kerap mengucapkan sugesti “Aku Mau, Aku Bisa, Aku Pasti Bisa”,” katanya.

 

(Ananta Bangun)

Sr Kornelia Tumanggor KSSY 1

Perjuangan dan Tantangan Iman Warnai Hidup Keluarga Kami

Berngap Sinuhaji bersama Istri dan dua anaknya. Putra kedua-nya sedang bersekolah ketika didokumentasikan Menjemaat

Berngap Sinuhaji adalah pegawai di Rumah Doa Jericho dan juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Pastoral Stasi Rambung Baru (Paroki Bandar Baru). Dalam kolom ini, dia mengisahkan tantangan yang hampir menggoncang imannya dan sang Istri, Inganta br Keliat. Berikut penuturannya kepada Menjemaat pada Senin (13 Mei).

***

Kami menikah pada 18 Agustus 1994. Sebagaimana pasangan suami istri lainnya, kami juga merindukan kehadiran anak di tengah bahtera keluarga baru ini. Namun hingga tahun ke-empat pernikahan, kami belum juga beroleh karunia tersebut. Segala cara sudah kami tempuh, bahkan ke tempat perobatan yang tak selaras iman Katolik.

Saat itu saya sudah bekerja di Rumah Doa Jericho – Bingkawan. Salah satu penanggungjawab rumah doa ini, Sr. Aloysia membantu kami agar diperiksa oleh dr. J.S. Kolman. Selama masa perobatan, karena ditemani Suster, dokter tidak pernah mengenakan biaya. Kami hanya memberi hasil pertanian dari ladang sebagai ganti.

Pada suatu hari, Istri saya dibawa menjalani operasi pengangkatan kista di RS Elisabeth Medan. Tapi operasi pengangkatan kista tersebut tidak memberikan hasil positif. Bahkan, dokter Kolman sampai menyarankan kami untuk mencoba bayi tabung.

Kemudian saya konsultasi dengan Pastor Corrado OFM Conv. (Parochus Paroki Bandar Baru masa itu). Dia menasehati agar saya tidak menempuh cara itu. “Tuhan pasti tunjukkan jalan,” ucapnya memberi peneguhan, seraya menitipkan firman Allah dari nats Kitab Surat Yakobus.

Selama delapan tahun kemudian, kami berdua sillih berganti menjalani perobatan kampung maupun medis. Suatu hari, kami mendapat informasi bahwa ada seorang pastor di Paroki Tigabinanga yang bisa membantu masalah seperti kami alami. Saya lupa namanya. Dalam satu kesempatan, saya menelepon pastor tersebut untuk memohon bantuan. Dia hanya menganjurkan agar kami – suami istri – berdoa novena.

Kami pun tekadkan untuk berdoa novena selama 40 malam, tidak sembilan. Dalam perjalanan waktu, kadang saya sendiri berdoa sebab Istri tak kuasa menahan kantuk. Kadang saya berlinang air mata saat berdoa sendiri saja. Continue reading →

MAJALAH RALINGGUNGI: MENGGEMAKAN WARTA GEREJA & MELESTARIKAN BUDAYA/ BAHASA KARO

Ilustrasi salah satu majalah Ralinggungi (Sumber: Betlehem Ketaren)

Tulisan ini disunting dari hasil praktik kelompok pada Training Menulis Fakta bagi Redaksi Ralinggungi beberapa waktu lalu di Kabanjahe. Beberapa kutambahkan dari saat wawancara dengan bapa Betlehem Ketaren untuk media majalah online Lentera. Kiranya tulisan ini bisa menjadi rujukan saat kelak ada niat untuk membuat sebuah buku kenangan ataupun rupa kegiatan mulia serupa.

***

Pewartaan via media di Keuskupan Agung Medan tidak melulu berbasis bahasa Indonesia. Kerinduan akan bahasa daerah, juga menghadirkan media pewartaan dengan bahasa daerah. Beberapa di antaranya adalah: majalah Parbarita (bahasa Batak Toba) dan majalah Ralinggungi (bahasa Karo). Kedua majalah ini tersebar, baik di dalam hingga luar lingkup KAM, menyasar para umat yang akrab dengan bahasa daerah tersebut.

Pada 2007, Ralinggungi mulanya dirintis sebagai warta Paroki St. Fransiskus Assisi – Berastagi yang digarap oleh umat setempat, Betlehem Ketaren bersama seorang Frater Topper (kala itu), Fr. Paulus Silalahi OFM Cap.

Betlehem mengaku, mulai ‘larut’ dalam dunia media saat sejumlah karya tulisnya mulai dimuat beberapa tabloid/ majalah setempat.  “Sebelum di Ralinggungi, saya ada menulis di majalah daerah seperti Sora Sirulo dan juga majalah Budaya Karo.Saya lihat hampir setiap tulisan yang saya kirim tidak banyak yang dikoreksi, wah bisa juga ini. Sehingga memunculkan semangat saya. Hehehehe.” Continue reading →

PAROKI ST. PETRUS RASUL – RANTAUPRAPAT “DITERPA TRAGEDI, UMAT SEMAKIN MAU BERBUAT & BERKORBAN”

Gereja Paroki St. Petrus Rasul – Rantau Prapat (latar depan) | Copyright: Komisi Komsos KAM

Menjemaat bertanya kepada beberapa umat dan pengurus DPP setempat: Apakah riwayat Paroki St. Petrus Rasul – Rantauprapat pernah dimuat di majalah resmi Keuskupan Agung Medan? Mereka menggeleng, seraya berharap agar profil gereja tersebut bisa diterbitkan. Tulisan pesona Gereja Paroki St. Mikael – Tanjungbalai di Menjemaat edisi sebelumnya, sungguh bermanfaat sebagai rujukan mula berkembangnya umat di Paroki Rantauprapat.

Buku Kenangan Pesta Emas 50 Tahun Gereja Katolik St. Petrus Rasul – Stasi Rantauprapat, dan wawancara bersama Parokus Rantauprapat, RP Nattye SX dan beberapa umat, turut membantu tulisan di kolom Pesona Gereja ini.

***

Di dalam Buku Kenangan Pesta Emas 50 Tahun Gereja Katolik St. Petrus Rasul – Stasi Rantauprapat, Jabahot Simamora menuliskan, bahwa Gereja Katolik di Rantauprapat mulai terbentuk pada tahun 1954.

“Diawali oleh kerinduan beberapa orang perantau ke daerah Labuhanbatu, yakni Lusius Ulbanus Naibaho, Alman Silitonga dan bapak Hutabarat, secara kebetulan berjumpa atau dipertemukan oleh Tuhan. Mereka dengan semangat untuk membuat ibadah setiap hari Minggu di rumah mereka secara bergantian,” demikian tulis Jabahot.

Persekutuan umat kemudian berkeinginan untuk membangun sebuah rumah ibadah. Maka, seorang tokoh umat mewakili Gereja Katolik Rantauprapat, Lusius U. Naibaho membeli sebidang tanah pada 13 Maret 1955 di Padang Matinggi (kini adalah kelurahan di Kecamatan Padang Sidempuan Selatan, Padang Sidempuan). “Sebab, jika atas nama gereja kemungkinan besar orang setempat enggan menjualnya. Selang satu hari kemudian, kepemilikan surat tanah diganti dari Lusius menjadi nama gereja.”

Pada saat itu, pengurus gereja adalah Lusius sebagai Vorhanger, dibantu Alman Silitonga dan bapak Hutabarat serta sejumlah jemaat sekira 16 KK. Setahun berselang, gedung gereja rampung dibangun, dan diberkati oleh Uskup Vikariat Apostolik Medan (pada masa itu), Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans OFM Cap.

Kepada Menjemaat, seorang tokoh umat, J.L. Purba menuturkan, luas tanah di daerah seberang Sungai Bilah tersebut sekira 1,4 hektar. “Saat itu komplek gereja stasi berada di sekitar penduduk non-Kristen. Akan tetapi, kami tidak menempatkan seseorang sebagai penjaga di komplek gereja tersebut,” katanya. Continue reading →

Kenapa Tulisan Resep Dokter Sulit Dibaca (Jelek)?

tulisan resep dokter (Source: dr. Sahat Sidauruk)

Dokter Sahat Sidauruk adalah satu dari sekian dokter yang turut dalam Gerakan Peduli Sesama (GPS). Kami saling mengenal kala aku meliput bakti sosial GPS di Kuta Pengkih (wilayah Paroki St. Fransiskus Assisi – Tiga Binanga), awal bulan Juni kemarin.
Telah lama aku penasaran mengenai “Tulisan Dokter”, yang lekat dengan arti tulisan jelek/ tidak terbaca. Mengapa demikian? Dalam lini masa Fesbuk milik dokter (yang kini melayani di Pematangsiantar), aku menemukan jawaban rasa penasaran tersebut. Aku pikir, ada baik jika dimuat di blog agar lebih awet tersimpan, dan mudah dilacak mesin pencari Google.
Puji Tuhan, dia menyambut permohonan agar kumuat di blog. Kiranya ilham dari tulisan ini mencerahkan banyak insan. Amin!
***

Sharing is caring!

Kita, pada waktu berobat ke dokter, pasti menerima kertas resep buat menebus obat di apotek. Sayangnya, saat kamu coba membacanya, tulisan di resep itu malah sulit dimengerti dan kadang malah samasekali nggak terbaca. Terkadang kita bertanya dalam hati, kenapa ya semua dokter tulisannya selalu amburadul gitu? Terus gimana ceritanya semua apoteker bisa baca dan tau obat yang dimaksud? Well, ternyata, tulisan dokter itu ada rahasianya, teman!

Continue reading →

CATATAN SEORANG KARMELIT AUSTRALIA TENTANG GEREJA PAROKI BEATUS DIONYSIUS – SUMBUL

Copyright: RP. Scerri, O.Carm

RP. Anthony Scerri. O. Carm adalah Imam Misionaris dari Ordo Karmelit. Dia menjadi gembala di Paroki Beatus Dionysius – Sumbul pada Maret 1973 hingga Oktober 1982. Dalam kolom Balai Budaya di majalah resmi Keuskupan Agung Medan – MENJEMAAT, Imam kelahiran Minia – Mesir tersebut, menuliskan pengalamannya kala membangun Gereja Paroki Sumbul, yang sarat dengan nilai-nilai budaya Pakpak.
Menurutku, tulisan pengalaman Pater Scerri ini sungguh menggugah. Tidak hanya dari perjalanannya saat menggali budaya Pakpak, namun juga semangatnya untuk mengangkat martabat budaya tersebut. Dalam majalah MENJEMAAT, tulisan ini dimuat dalam dua edisi. berikut penuturannya.

***

Waktu saya masuk paroki Sumbul, pada bulan April 1973, belum ada gereja paroki.  Pada hari Minggu, umat kumpul untuk Misa dalam ruang kecil, yang merupakan bagian dari pastoran. Jelas bahwa umat memerlukan gereja baru yang pantas.

Kebanyakan gereja dalam Keuskupan Agung Medan, dibangun dalam gaya Eropah/Belanda, dan jelas itu baik juga menurut pendapat saya. Tetapi, bagi saya sendiri nampaknya lebih tepat jika membangun gereja yang mencerminkan kebudayaan setempat. Lalu, saya bertanya: Kebudayaan setempat yang mana?

Sumbul terletak di daerah Pakpak, dan tanah gereja juga terletak di tanah Pakpak. Tetapi, kebanyakan umat di paroki Sumbul adalah orang Batak Toba. Hal itu menimbulkan dilema dalam diri saya. Continue reading →

TAMAN ZIARAH ROHANI ‘YESUS GUNUNG KERAHIMAN ILAHI’ – PUNCAK 2000: “SARANA PEWARTAAN KEDAMAIAN, CINTA & PERSAHABATAN DUNIA”

Kapel Sta. Faustina — salah satu fasilitas ziarah rohani di Puncak 2000

‘Puncak 2000’ telah lama menjadi buah bibir di Keuskupan Agung Medan. Terutama sejak, Kongres Kerahiman Ilahi se-Asia di Medan, pada 2015 lalu. Seperti apa rupa dan bagaimana pelayanan yang hendak ditawarkan, kerap menjadi topik pembicaraan seru di tengah umat setempat. Kru Menjemaat tentu girang beroleh kesempatan ‘menggali’ jawaban tersebut kala meliput Pemberkatan Kapel Sta. Faustina di pusat peziarahan, bernama lengkap Taman Ziarah Rohani ‘Yesus Gunung Kerahiman Ilahi’ Puncak 2000 – di Desa Kacinambun, Karo, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (8/4/2018).

 

Setelah melewati Pasar Kabanjahe, rute masuk ke Puncak 2000 mudah untuk ditemukan karena terdapat sebuah plank bertuliskan tempat ziarah rohani tersebut. Tepatnya mulai dari jalan masuk ke Desa Singa. Setelah melewati beberapa desa, sebuah persimpangan dengan satu rambu navigasi besar bertuliskan arah ke Siosar. Perjalanan menuju Puncak 2000 semakin nyaman, karena aspal jalan yang lebih bagus pasca pembangunan relokasi pengungsi Sinabung.

“Ini merupakan anugerah Tuhan. Sebab akses transportasi ke Puncak 2000 semakin mudah. Sebab tempat ini terletak lima kilometer sebelum Siosar,” ujar Direktur Spiritual Apostolat Kerahiman Ilahi – KAM, RP John Rufinus Saragih OFM Cap kepada Menjemaat.

Pastor John menuturkan, ide pembangunan Puncak 2000 bermula dari terbentuknya AKI-KAM. “Kelompok kerasulan ini getol memperkenalkan Devosi Kerahiman Ilahi di bawah asuhan Pastor (alm.) Marselinus Manalu. Dan kini berkembang ke beberapa paroki-paroki di KAM, di antaranya: Paroki Kristus Raja, Paroki Katedral Medan, Paroki Hayam Wuruk, Paroki Mandala. Bahkan sampai juga ke Siantar dan Paroki Perdagangan.”

Imam Kapusin, yang juga Parokus di Paroki Hayam Wuruk, menjelaskan bahwa AKI-KAM tidak bisa disebut sebagai kelompok kategorial. “Karena kerasulan ini langsung diasuh di bawah Keuskupan. AKI-KAM sendiri resmi diakui oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFM Cap, melalui Surat Keputusan, pada Maret 2017. Perayaan usia setahun AK-KAM sempat juga digelar di Puncak 2000,” kata Pastor John.

Uskup Mgr. Anicetus kemudian menunjuk pengurus resmi kelompok kerasulan ini. “Ibu Cynthia Leowardy diangkat sebagai koordinator se-Indonesia dan Asia. Sementara saya sendiri, diangkat menjadi Direktur Spiritual di KAM dan Asia,” katanya.

Jericho Walk

Upaya merintis sebuah taman ziarah rohani telah lama mencuat dalam benak devosan di AKI-KAM. Impian tersebut sebenarnya berseberangan dengan kenyataan bahwa kerasulan ini tidak memiliki modal materiil, apalagi tanah. Namun, karena iman sungguh-sungguh, mereka kemudian menggelar doa khusus agar Tuhan menunjukkan anugerah-Nya untuk mewujudkan berdirinya sebuah tempat ziarah iman. Terutama, untuk devosi Kerahiman Ilahi.

“Gerakan tersebut dinamai Jericho Walk. Dimana sejumlah Imam dan umat dari AKI-KAM, menjalankan doa sembari berjalan di daerah Kacinambun,” kata Pastor John. “Mereka meyakini akan mendapat tanah untuk mendirikan Puncak 2000. Meskipun mereka tidak punya uang. Kemudian, karena satu dan lain hal, terjadi pertemuan dengan bapak Mujianto. Dia bertanya: “Uang kalian ada berapa?” Mereka bilang: “Kami tidak punya uang.” Pak Mujianto kaget, dan menimpali: “Bagaimana mungkin kalian bisa mendapatkan tanah.””

Buah-buah doa dan bercengkerama bersama, ternyata meluluhkan hati Mujianto. “Meskipun Mujianto seorang penganut agama Buddha, bahkan seorang Ketua Tzu Chi di Medan, dia berkenan menyumbangkan tanah miliknya di Desa Kacinambun tanpa pamrih,” terang Pastor John.

Pada 9 Agustus 2011, peletakan batu pertama kemudian dilaksanakan. Namun, Pastor John, mengatakan proses pembangunan kemudian terkendala. “Lokasi, yang semula dilakukan pelatakan batu pertama, dialihkan ke tempat Puncak 2000 kini. Alasannya, lokasi pertama tersebut, secara hukum, termasuk dalam wilayah hutan lindung,” kata Pastor John.

Namun, menurutnya, kendala tersebut justru menjadi anugerah semata. Lokasi yang baru menjadi lebih dekat dengan badan jalan. Di samping itu, kebijakan pembangunan relokasi pengungsi Sinabung ke Siosar oleh pemerintahan Jokowi, juga memberi kemudahan akses ke Puncak 2000. “Puncak 2000 terletak 5 kilometer sebelum Siosar.”

Sebelumnya, media online Karo.or.id juga mengutip semangat pembangunan Puncak 2000 dari (kala itu) Vikep Kabanjahe, RP Ignatius Simbolon OFM Cap: “Tempat ini diharapkan dapat memberikan pencerahan jiwa bagi setiap umat yang berkunjung. Segala sesuatu yang akan dilakukan manusia harus didasari iman kepada Yesus Kristus.”

Pastor John (paling kanan) berfoto bersama Uskup dan devosan Kerahiman Ilahi usai misa dedikasi

Menekankan Semangat Kerahiman Ilahi

Pastor John menyampaikan, proses pembangunan Puncak 2000 masih berlangsung secara bertahap. “Sejauh ini yang sudah mendekati tahap perampungan adalah Kapel Sta. Faustina dan Gua Maria. Sementara Gereja terbuka – yang diharapkan dapat menampung ribuan orang, Pastoran, Susteran, Tempat Penginapan dan Jalan Salib masih dalam tahap pembangunan,” katanya seraya mengimbuhkan, Puncak 2000 juga akan mendirikan patung Yesus setinggi 15 meter.

Pihak AKI-KAM, sejauh ini, masih terganjal untuk menemukan mata air. “Kesulitan sampai sekarang, adalah sumber mata air sulit untuk ditemukan. Karenanya, AKI-KAM terus mendoakan hal ini. Sungguh sulit jika pembangunan dan pelayanan di tempat ini harus terus membeli air dari luar.”

Pastor John menyampaikan, Ordo/ Kongregasi yang akan melayani di Puncak 2000 masih belum ditetapkan. “Sebelumnya, Uskup sudah sempat mengundang kongregasi suster H. Carm yang ada di Paroki Sumbul. Namun, kerjasama tersebut tidak jadi,” katanya. “Kemudian, kini tengah ada perbincangan dengan Kongregasi Suster dari Sta. Faustina di Polandia. Perbicangan lebih lanjut akan dilaksanakan saat AACOM di Pineng – Malaysia tahun depan.”

Kala memimpin dedicatio Kapel Sta. Faustina di Puncak 2000, Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFM Cap menekankan semangat pengampunan yang dibangun sejak Pesta Kerahiman Ilahi di misa dedikasi tersebut. “Mari jadikan Kapel Sta Faustina menjadi sarana mewartakan kedamaian, cinta dan persahabatan dunia. Kita dituntut mengampuni orang yang bersalah. Kita dituntut memberi kedamaian. Menentang tindakan-tindakan anarkis, begal-begalan. Inilah kerinduan dunia. Perdamaian dan sukacita serta kita adalah bersaudara.”

Dia mengatakan, mimpi KAM terhadap Puncak 2000 adalah menjadikannya seperti pusat peziarahan Bulacan di Manila, Filipina. “Di Bulacan, setiap minggunya, bisa berkumpul hingga 4500-an peziarah,” kenang Mgr. Anicetus kala menghadiri Tahun Kerahiman Ilahi di Manila pada 2016.

(Ananta Bangun) /// ditulis untuk majalah Keuskupan Agung Medan, MENJEMAAT

SEKOLAH ANNAI PAADASAALAI “MIMPI YANG MASIH BERSEMAYAM DI LUBUK ANAK PENGUNGSI”

Pastor James SJ diabadikan bersama siswa-siswa sekolah Annai Paadasaalai

Mulanya Jeffry Siallagan, voluntir di Graha Maria Annai Velangkanni, mengisahkan sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak pengungsi dari Sri Lanka. Dia lalu mengajak untuk mebuatkan sebuah liputan tentang semangat belajar di sekolah ini. Aku menyambut ajakan tersebut.
Pendidikan adalah hak setiap orang. Demikian kami menemukan inti dari liputan ini, dan memang mantra itu bagai memantul-mantul di setiap sesi wawancara dan rekaman video ini. Oleh karena itu, aku dan Jeff sepakat fokus pada nilai ini. Beberapa info yang kami pandang sensitif sengaja kami hilangkan, agar tidak memancing reaksi negatif yang berdampak pada keberlangsungan sekolah ini.
Aku dan Jeff juga sepakat menerbitkan artikel ini pada tanggal 2 Mei. Hari sakral dalam peringatan Hari Pendidikan. Semoga ilham dalam tulisan ini turut merasuki setiap pembaca. Amin.

***

Aku bersua kedua anak gadis tersebut, Sadurjana (13) dan Jasmita (15), di kantin Kanna – Graha Maria Annai Velangkanni. Aku memuji mereka cantik, dibalas dengan derai tawa dan senyuman manis. Sepintas lalu, mereka terlihat bagai remaja umumnya.

Aku berniat mewawancara mereka sebagai siswi di Sekolah Annai Paadasaalai. Yakni, lembaga pendidikan (sementara ini) dari tingkat playgroup hingga sekolah dasar bagi anak-anak pengungsi Sri Lanka yang mengungsi di Sumatera Utara, Indonesia.

Seumpama pengalaman hidup mereka ditulis pada satu buku harian. Tentu lah hampir setiap halamannya akan tercabik-cabik oleh amarah, luka, dendam dan luapan emosi lainnya. Tapi, kini di hadapanku keduanya mengaku bahagia dan punya mimpi yang hendak dikejar. Dan sama dengan teman sejawatnya di tempat penampungan pengungsi, mereka tengah berjalan, berlari dan akhirnya akan terbang bersama iman. Keyakinan. Continue reading →

FR. FLAVIANUS MARIA, CSE: “ROSARIO MERINTIS JALAN PANGGILAN IMANKU”

Fr. Flavianus diabadikan di Pertapaan Karmel - Talun Kenas

Fr. Flavianus diabadikan di Pertapaan Karmel – Talun Kenas (Copyright: Komsos KAM)

Saat Menjemaat hendak menuliskan kisah panggilan, fikiran saya melesat pada sejumlah cuplikan pengalaman di masa lalu. Semua itu terjadi pada tempat dan waktu yang tidak bersamaan. Namun, tentu saja berjalin laiknya tenunan benang hingga menjadi sehelai kain. Demikianlah kiranya napaktilas maka saya menjadi seorang biarawan di Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE), dan saat ini melayani di Pertapaan Karmel (Rumah Retret) Talun Kenas – kabupaten Deli Serdang.

Mungkin beberapa pembaca Menjemaat mendapati ini kali pertama mengenai CSE. Saya kira, ada baik memberi pengenalan ringkas, bahwa kongregasi ini didirikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, CSE pada tanggal 20 Juli 1986.

Saya adalah anak ke-dua dari orangtua Benyamin Hadir (Bapa) dan Maria Jemimo (Mama). Sejak masih kanak-kanak, Bapa dan Mama selalu ajarkan bahwa kami harus doa Rosario sebelum tidur. Kadang kala kami pernah lupa, langsung beranjak tidur. Namun, dengan penuh kasih sabar, Bapa dan Mama mengajak kami untuk mendaraskan doa Rosario.

Tentang doa Rosario ini pun saya pernah mendapat pengalaman unik. Yakni, tatkala menjalani pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) St. Claus Manggarai. Meskipun jarak sekolah dengan rumah orangtua dekat, tetapi kami diwajibkan untuk tinggal di asrama. Di tengah masa studi tersebut, saya pernah jatuh sakit yang cukup aneh. Setiap kali makan nasi dan lauk, saya kerap muntah. Terkecuali meminum air. Kurangnya asupan makanan, membuat saya harus dirawat ke rumah sakit setempat.

Dalam masa perawatan, satu kali seorang Imam SVD (saya sudah lupa nama beliau), seorang Imam misioner dari luar negeri, menjenguk saya. Dia bertanya: “Kamu selama ini doa nya, apa?”, dan lekas saya jawab: “Saya sering berdoa Rosario.”

“Nah. Imani itu. Maka kamu akan bisa sembuh,” ucapnya memberi peneguhan. Continue reading →