YSA Lihat ‘Peluang’ dari Pandemi Covid-19

Ketua Yayasan Seri Amal (YSA), Sr. Gerarda Sinaga KSSY melihat sisi ‘peluang’ dari pandemi covid-19 yang bermula sejak Maret 2020. Biarawati dari Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) mengatakan, pihak YSA telah membuat perencanaan agar semua guru-guru beradaptasi dengan metode pembelajaran digital. “Ternyata pandemi ini seperti blessing in disguise. Jadi kami melihat pandemi tidak melulu tantangan, namun ada juga sisi peluangnya,” ujarnya dalam satu bincang dengan Menjemaat beberapa waktu lalu.

“Sebelum pandemi, kami sudah merancang sistem pembelajaran berbasis digital, kelas virtual sebanyak dua kali dalam seminggu. Rancangan ini memadukan sistem pembelajaran khas Indonesia dan Amerika Serikat,” katanya. “Itu sudah disampaikan dalam pertemuan dengan para kepala sekolah yayasan ini pada Januari dan Februari 2020 lalu.”

Dalam perspektif YSA, imbuh Suster Gerarda, anak didik saat ini sudah termasuk generasi alpha. “Yakni, kalangan generasi yang sudah terbiasa dengan multi tasking. Mereka bisa mengerjakan chat, tugas sekolah, dan sambil makan kerupuk.”

“Sebelumnya saya juga sempat membuat pemetaan tenaga pejajar di Yayasan ini. Dan mendapati ada 7% pengajar dari generasi baby boomers. Sedangkan di generasi Y ada 45%. Dan sudah ada 8 %  tenaga pengajar dari generasi alpha. Sehingga kami sudah siap untuk pengajaran berbasis teknologi baru,” ucapnya dengan optimis.

Kuncinya, Terus Belajar

Walau telah membuat strategi perencanan untuk budaya pembelajaran digital dengan cermat, Suster Gerarda tak menutupi ada beberapa personil pengajar ada yang enggan untuk sistem baru ini. Tapi ternyata kondisi pandemi memaksa semua staf pengajar untuk membiasakan diri. “Sistem ini memindahkan konsep hard copy ke format digital. Sebagai simulasi awal, kami coba di SD St. Antonius pada waktu itu, dengan menggunakan tablet.

“Semangatnya adalah pro ekologi, untuk mengurangi penggunaan kertas. Dalam tablet ini sendiri juga dilengkapi berbagai fitur untuk kreativitas anak. Seperti menggambar, dan yang lainnya,” terangnya seraya mengungkapkan harapan kelak setiap sekolah di bawah naungan YSA akan difasilitasi pembuatan buku digital dengan server milik yayasan tersebut untuk pengumpulan file digital kelas virtual.

Menurutnya, hambatan untuk memahami =budaya baru tersebut tergantung pribadi masing-masing. “Dari Yayasan kami menerapkan STIFIN, sehingga kami bisa mengenal baik seluruh jajaran pengajar. Selain ini juga menjadi oppurtinity, ini juga bisa menjadi tantangan. DEngan STIFIN, saya sudah bisa masuk ke pintu mereka. meskipun sebenarnya goals kita sama. kuncinya adalah kita harus belajar terus menerus, tanpa henti,” kata Suster Gerarda.

Dia mendapati bahwa pemahaman STIFIN di kalangan personil YSA juga bisa mengurangi ketegangan dalam komunikasi organisasi. “Jika kita tegang, ketika tidak bisa terima. Sehingga saya harus menemukan bagaimana bahasanya agar mereka masing-masing paham,” pungkasnya.

(Ananta Bangun)

Pastor Leo Joosten OFM Cap: Saya tak Pernah Bosan Menulis

Sosok Pastor Leo Joosten, OFM Cap umumnya dikenal atas upayanya dalam pembangunan gereja inkulturatif, yakni di Paroki St. Mikael – Pangururan dan Paroki St. Fransiskus Assisi – Berastagi. Namun Imam Kapusin asal Negeri Kincir Angin ini juga dikagumi atas kegemaran dalam dunia menulis. Sebanyak 23 buku telah lahir dari ‘tangan dingin-nya’.

“Saya mulai tekun menulis buku sejak melayani sebagai Parochus di Pangururan, karena ada pertanyaan dari para turis yang berkunjung untuk melihat gereja inkulturatif di Pangururan dan menikmati pemandangan Danau Toba. Sampai sekarang, saya tak pernah bosan menulis,” akunya dalam satu bincang dengan Katolikana di Berastagi, Sabtu (21 November 2020). Dia mengaku dalam waktu dekat akan menulis sebuah buku berkenaan pesta jubileum salah satu paroki di Keuskupan Agung Medan.

Rekan Imam di Paroki Pangururan, (saat itu) Pastor Elias Sembiring, OFM Cap juga turut memberi dukungan. Buku mengenai budaya Batak dan gereja inkulturasi Pangururan tersebut lalu mendapat apresiasi besar. “Bahkan sempat dicetak dalam bahasa Inggris dan Jepang, karena jumlah peminat yang banyak,” tutur Pastor yang baru saja menapak Momen Emas Imamat (50 tahun).

Usai menulis buku mengenai budaya Batak, Pastor Leo lalu menerjemahkan beberapa buku berbahasa Belanda yang ditulis oleh Gentilis Aster (nama pena seorang Imam Kapusin asal Belanda). “Pastor Aster adalah penulis berbakat. Dia menuliskan dengan baik karya misionaris Kapusin di Sumatera dan Kalimantan,” terangnya.

Kamus Batak Toba  – Bahasa Indonesia dan Kamus Karo – Bahasa Indonesia adalah dua buku paling berkesan dalam benak Pastor Leo. “Saat mengerjakan Kamus Bahasa Indonesia – Batak, saya sekedar menerjemahkan Kamus Jerman – Batak yang telah dibuat seorang pendeta misionaris HKBP asal Jerman, Johanes Warneck,” katanya. “Kamus Batak Toba Indonesia ini diselesaikan oleh Warneck pada tahun 1905, ketika bertugas di Sipoholon (Sumatera Utara).”

Pastor Leo mengaku, Kamus Karo – Bahasa Indonesia adalah buku yang paling lama dia kerjakan di antara semua karya bukunya yang lain. “Hampir 7 tahun, saya mengerjakan Kamus Karo – Bahasa Indonesia sebab sering terganjal oleh kesibukan sebagai Pastor Paroki di Kabanjahe. Saking lamanya saya sempat merasa bosan, dan tergelitik untuk membatalkan saja pekerjaan kamus ini.”

Namun, keputusan itu urung dia lakukan karena nasehat dari sesama saudara Imam Kapusin. “Waktu itu seorang saudara Kapusin, Pastor Eduard Verrijt, OFM.Cap berkata: “Asal ditulis dengan baik dan teliti, semuanya akan berharga itu”,” ucapnya.

Pastor Leo Joosten diabadikan di Paroki Berastagi (Ananta Bangun – KOMSOS KAM)

Verba Volant, Scripta Manent

Pastor Leo sering membuat catatan yang kelak bisa menjadi bahan untuk buku. Oleh sebab itu dirinya sering membawa kertas buram dan pena dalam saku . Kebiasaan sederhana ini telah dilakukan Pastor Leonardus Egidius Joosten OFMCap sejak Maret 1971, kala menjalankan misi di Paroki St Paulus Onanrunggu, Samosir.

“Saya meyakini kata mutiara ‘verba volant, scripta manent‘; bahwasanya, hasil karya tulis akan selalu abadi. Kita juga mendapatinya dari sabda Allah yang ditulis oleh para Nabi dan Rasul. Jika mereka tidak membuat tulisan-tulisan dalam Alkitab, bagaimana kita bisa mengenal Tuhan?” terangnya.

Pendiri Museum Batak dan Museum Pusaka Karo tersebut juga menekankan, pentingnya kebiasaan membaca agar bisa mahir menulis. “Generasi muda sekarang lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain gawai,” katanya. “Saya baru saja mendapat kabar dari keluarga di Belanda, bahwa di sana para pelajar diwajibkan untuk membaca buku dalam waktu tertentu selama jam sekolah. Itu adalah kebijakan yang bagus agar para anak muda tidak hanya memainkan hape saja.” Dalam momen Pesta Emas Imamat, Pastor Leo menerbitkan buku teranyar tentang riwayat hidup dan karya misi di Sumatera. “Buku ini dibuat dari sejumlah surat yang saya kirim kepada keluarga di Belanda. Karena masukan dari beberapa saudara Kapusin, buku ini dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Saya senang bahwa banyak yang memberi apresiasi atas buku ini,” ujarnya. “Bahkan keluarga di Belanda menyampaikan, melalui buku ini lah mereka dapat dengan jelas mengetahui semua karya saya selama misi di Sumatera.”

dr. Sahat Sidauruk: “Hidup Ini Adalah Kesempatan, Untuk Membantu Sesama”

dr Sahat di acara GPS

dr Sahat di kegiatan GPS (dok, Pribadi)

Dokter Sahat Tua Irwanto Sidauruk, selain menjalani profesi dokter, juga menyempatkan waktu untuk karya bakti sosial.Yakni di KMK St. Lukas USU (semasa kuliah di kampus tersebut) hingga kini di Gerakan Peduli Sesama (GPS) St. Felix Cantalice. Dalam pelayanan bagi masyarakat tak mampu tersebut ada kesaksian iman yang dia alami. Berikut penuturannya.

Saya adalah seorang Ayah dari Niel Sidauruk dan Riri Sidauruk, dan Istri boru Sitorus. Lahir pada 3 Agustus 1981 di Medan, saya merupakan sulung dari lima bersaudara. Orang tua mempercayakan lingkungan sekolah Katolik sebagai tempat menimba pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Setelahnya, saya kemudian merampungkan pendidikan dan profesi dokter di Fakultas Kedokteran – Universitas Sumatera Utara (USU).

Saat ini, saya bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Daerah Simalungun, tepatnya di Dinas Kesehatan kabupaten tersebut. Selain itu, saya juga dipercaya sebagai dokter bagian IGD di Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar.

Kegiatan sosial, khususnya dalam pelayanan pemeriksaaan kesehatan bagi masyarakat, telah saya geluti sejak mengenyam pendidikan di FK-USU. Yakni, di Kelompok Mahasiswa Katolik (KMK) St. Lukas USU. Usai tamat dari kampus USU, saya tetap terlibat dalam gerakan ini kala turut juga ke dalam GPS St. Felix Cantalice. Di samping itu, pernah juga saya turut bakti social bersama Suster-suster dari Kongregasi OSF di Keuskupan Sibolga. Continue reading →

Betlehem Ketaren: Semakin Larut dalam Karya Pastoral Komunikasi Sosial

Betlehem-Ketaren-dan-Istri-mengapit-Mgr-Kornelius-Sipayung

Betlehem Ketaren dan Istri mengapit Mgr Kornelius Sipayung (dok. Pribadi)

Mengangkat batu dari sungai guna pembangunan gereja itu mulia. Berbicara jelas guna pengembangan Gereja itu juga tak kalah mulianya. Namun bila kita diberi minat menulis, mengapa tidak? Mari mulai menulis, kalau tidak sekarang kapan lagi?” Demikian satu kata mutiara dituturkan oleh Betlehem Kataren dalam satu bincang dengan Komsoskam.com, Sabtu (2 November 2019), via media sosial.

Suami dari Helpina br. Tarigan, mengaku telah lama gemar akan dunia ‘membaca’ dan ‘menulis’. “Hobi tersebut menjadikan saya selalu mendapat rangking sewaktu bersekolah, saya juga mudah menuangkan isi hati dan buah pikiran, semisal: puisi, anekdot, berita maupun artikel. Di samping itu, kegemaran ini juga memudahkan saya bergaul dengan banyak orang,” ujar ayah dari Yolanda Sanjelitha br. Ketaren, Yoga Makarios Ketaren, Yosef Virgious Ketaren dan Yoandectus Ketaren.

Betlehem sehari-hari mengemban peran sebagai sekretaris DPPH St. Fransiskus Assisi Berastagi. Di ranah yang sama, dia juga dipercaya membantu pastor sebagai katekis dan koordinator Katekese Persiapan Perkawinan. “Saya juga mengampu sekretaris Yayasan Pusaka Karo. Selain itu, juga menjadi anggota Sinode VI KAM, dan selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan komisi-komisi: KOMKAT, KKS, KOMKEL, PSE, KOMEV dan terlebih juga KOMLIT di bagian Misale Romawi Karo,” imbuhnya.

Di tengah seabrek kegiatan tersebut, eks Dosen di Universitas Quality ini juga mengisi posisi Redaktur Pelaksana majalah KAM berbahasa Karo, Ralinggungi. “Disamping semua kegiatan-kegiatan itu semua, untuk menyekolahkan anak-anak dan menyejahterakan keluarga, saya bercocok tanam berbagai jenis bunga Krisan serta juga tanaman-tanaman hortikultura.”

Walau mulanya gagap dalam bidang komunikasi sosial, Betlehem tak patah arang untuk mempelajarinya. Malah, dirinya semakin larut dalam karya pastoral ini. “Ketika mulai kuliah di luar Sumatera Utara, saya sangat menyadari kekurangan saya di bidang komunikasi sosial. Ketika disuruh diskusi kelompok apalagi membuat tugas kelompok, saya selalu kewalahan sebab merasa kurang sekali membenahi diri di bidang yang satu ini,” katanya. Continue reading →

Sr. Angela: Mulai Suka Menulis, Sejak Ikut Pelatihan dari Komsos

Sr-Angel

Sr. Angela Siallagan FCJM (dok. Pribadi)

Walaupun sudah lama menjajal dunia kepenulisan, Sr. M. Angela Siallagan FCJM penuh sukacita menempuh pendidikan Multimedia Journalism di Universitas Multimedia Nusantara. “Saya mendapat tugas dari Pimpinan Kongregasi FCJM,” dia menuturkan. “Saya udah selesai kuliah thn 2010 jurusan Akuntansi di Politeknik MBP. Nah sekarang, saya ditugaskan lagi untuk studi. Awalnya sulit buat saya, tapi demi ketaatan, aku mau coba.”

Penyuka jus mangga tersebut mengaku, suka dunia menulis usai mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Komsos KWI bekerjasama dengan Komsos KAM. “Pelatihan itu berlangsung pada tahun 2014.  Saat pelatihan kita sudah buat niat untuk selalu nulis. Nah, sepulang dari tempat pelatihan, saya baca bukunya Merry Riana tentang mimpi sejuta dolar. Itu yang membuat saya semakin gemar menulis.”

Sebagaimana biasa penulis lainnya, Sr. Angel juga gemar takzim membaca buku. Selain karya Merry Riana, buku-buku seperti “Awaken the Giant” karya Anthony Robbins dan novel Tere Liye sudah lama dilahap biarawati asal Sipoldas, kecamatan Panei, kabupaten Simalungun.

“Hingga saat ini, saya masih suka nulis sebab memang sangat bermanfaat bagi diriku sendiri. Dengan menulis saya bisa mengolah emosi dan pengalamanku, melalui polesan kata-kata indah. Jadi, saya tidak lagi meluapkan emosi kepada orang lain, melainkan lewat tulisan,” ucapnya kepada Komsoskam.com, Sabtu (2 November 2019) via pesan seluler.

Dalam studi di kampus milik Kompas, Sr. Angel mendapati perbedaan menulis kreatif dengan produk junalistik. “Kalau produk jurnalistik, kita mesti menulis sesuai fakta. Di samping itu, ada aturan-aturan yang harus kita ketahui. Jadi bukan karya imajinasi atau fiktif,” ujarnya, seraya menambahkan pihak kampus juga mengajarkan mata kuliah creative writing. Continue reading →

Leo Semba: Pengalaman Sangat Berharga Semasa Berkarya di Komisi Komsos KAM

headline-komsokam-com-leo-semba

Leo Semba (berdiri di belakang, paling kanan) bersama tim Redaksi Menjemaat semasa kepemimpinan Romo Heri Kartono OSC

Dominicus Suherman Semba, sehari-hari kerap disapa Leo. Dalam tulisan ini, Suami Albinaria Damanik mengisahkan pengalaman saat berkarya di Komisi Komsos KAM. Berikut petikan kisahnya sebagaimana disampaikan kepada Ananta Bangun.

***

Saya mulai bergabung di Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Medan (KAM), Pastor H.M. Doomen, OFM.Cap. (Alm.), pada September 1991. Saat itu Komisi Komsos KAM masih hanya melayani Program Radio Sanggar Sutera (Sumatera Utara Televisi & Radio). Renungan Harian, Kotbah Mingguan, Drama Rohani Keluarga, Drama Rohani Untuk Anak Sakit, Drama Natal, Drama Paskah, dan lainnya.

Pastor aktif dan berbakat yang membantu Program Radio ini adalah Pastor Leo Sipahutar, OFM Cap.

Awal saya bertugas adalah di bagian teknisi alat-alat elektronik yang digunakan di studio rekaman (sesuai dengan jurusan di sekolah). Rekan kerja saat itu adalah: kak Eva Pasaribu, kak Lina (Rosalina) Sipayung dan Maringan Manik. Saat itu Komisi Komsos KAM belum menangani majalah Menjemaat.

Kira-kira pada tahun 1992, karena Pastor Doomen sakit, Ketua Komsos KAM diserahkan kepada Pastor Johannes Simamora, OFM. Cap. Bersamaan dengan hadirnya kepemimpinan Pastor Johannes, majalah Menjemaat yang sebelumnya ditangani Komisi Komsos KAM yang juga ada di Medan, dipindahkan ke Pematangsiantar.

Karena majalah Menjemaat disatukan pengelolaannya dengan karya Komsos KAM di Pematangsiantar, maka untuk tenaga penulis/redaksi juga bertambah, antara lain; Titus Sihotang (Alm.) sebagai ketua Redaksi dan Agus Batu Tarigan di bagian Illustrasi. Sebagai Penulis Kotbah ditangani oleh P. Uli Raja Simarmata, Pr.

Pada tahun 1996, kepemimpinan Komisi Komsos KAM beralih ke Pastor Paulinus Simbolon. Pada saat itu, ada wacana perpindahan Komisi Komsos KAM ke PPU Karang Sari Pematangsiantar, menjadi satu lokasi dengan Komisi Liturgi, Komisi Kitab Suci dan Kateketik yang ada disana. Tetapi mungkin atas banyak pertimbangan, Komisi Komsos KAM akhirnya diputuskan pindah kembali ke Medan.

Alasannya mungkin karena pusat informasi ada di kota Medan, khususnya untuk Menjemaat. Sementara untuk pengisi suara Program Radio, kotbah, drama keluarga, dan lainnya, mengalami tantangan tersendiri. Kerena memang di Pematangsiantar, gudangnya pengisi suara, sumber-sumber kotbah maupun drama Rohani ada di seminari-seminari yang ada di Siantar, belum lagi para awam yang sudah terlatih sebagai pengisi suara.

Pada kepeminpinan Pastor Paulinus Simbolon, OFM.Cap. (Jika saya tidak keliru, beliau saat itu juga menjabat Vikjen Kam), Komisi Komsos KAM akhirnya berkantor di kompleks SMA St.Thomas 2 dan Unika St. Thomas di Jl. S. Parman 107 Lt.III. Studio rekaman kembali memakai studio Sanggar Sutera yang ada di Medan, yang waktu itu dikelola oleh Fr. Johan, CMM. Lokasi studio juga ada di kompleks sekolah itu.

Untuk membantu redaksi Menjemaat saat awal perpindahan itu, pak Wilopo Hutapea (Alm.). Bantuan juga diminta kepada Kongregasi KSSY, agar salah satu susternya menjadi bendahara. Yang pertama bertugas saat itu Sr. Kristin Pasaribu, KSSY. Seingat saya, saat kepemimpinan Pastor Paulinus itu, pembangunan Catholic Centre KAM juga sudah mulai diwacanakan. Continue reading →

Albertus Gregory Tan: Diberkati Bukan Karena Materi, Tapi Memberi Dari Kekurangan Kami

greg-dan-Mgr-Pius-1

Setelah berhasil menggalang gerakan via Program Peduli Gereja Katolik (PPGK), Albertus Gregory Tan dan rekannya lalu mendirikan Yayasan Vinea Dei pada 2017. “Yayasan ini adalah legalisasi dari gerakan Program Peduli Gereja Katolik yang sudah dimulai sejak tahun 2011,” terang Greg, dalam satu kesempatan wawancara bersama Komsoskam.com, Jumat (8 November 2019).

Dia menerangkan, setelah enam tahun memulai gerakan PPGK, dukungan umat Katolik semakin meluas membuat aliran donasi menjadi semakin deras dan tak terbendung. “Tentu membentuk Yayasan ini bukan karena kebetulan, semuanya harus diawali dengan banyak pengalaman bagaimana berusaha membangun trust dari banyak orang yang sangat sulit didapatkan. Pengalaman ini yang akhirnya memberanikan diri saya dan teman-teman sepakat mendirikan Yayasan Vinea Dei.”

Putra dari pasutri Athanasius Andry & Katarina Jullany menjelaskan, gerakan ini lahir dari pengalaman spiritual – mistik yang sampai hari ini sangat sulit saya jelaskan. “Bagaimana suara Tuhan itu saya dengar amat jelas dan keinginan hati yang amat kuat untuk berbuat sesuatu meski saat itu kondisinya sangat tidak memungkinkan. Pengalaman ini saya maknai seperti kisah lima roti dan dua ikan. Bagaimana saya bisa membantu orang lain karena saya masih mahasiswa saat itu yang tidak berpenghasilan,” ujarnya.

“Saya juga berdevosi secara mendalam kepada St. Fransiskus Assisi, bukan hanya karena kisah hidupnya yang memperbaiki Gereja secara fisik, namun perjumpaannya dengan Kristus itu sungguh membaharui dirinya dan menginspirasi para pengikutnya untuk hidup sederhana dan bersaudara. Pengalaman itu menjadi amat transformatif untuk pribadi saya,” imbuh saudara kandung Michael Noviando. Continue reading →

RP. Cypriano Barasa OFMCap : “Membangun Pastoran dari Jualan Hasil Bumi, Hingga Kumpulkan Dana via Medsos”

rp-cypriano-barasa-ofm-cap.jpg

RP Cypriano Barasa OFM Cap (Komsos KAM)

Komsoskam.com – Tiga Binanga,

Parochus Tiga Binanga, RP. Cypriano Barasa, OFMCap. mengaku sumringah usai pemberkatan gedung baru pastoran Tiga Binanga, pada Minggu (13 Oktober 2019). Menurutnya, seluruh acara berlangsung baik sebab persiapan yang matang dalam kemasan panitia dan DPP

“Puji Tuhan, semua rencana pemberkatan berjalan dengan baik. Panitia bekerja dengan maksimal dalam kerjasama yang bagus dengan banyak pihak dan panitia semakin terlatih untuk bekerjasama. Semua seksi dapat bekerja dengan baik dan teratur sehingga semua kegiatan berlangsung dengan baik seperti yang direncanakan,” ujarnya kepada Komsoskam.com, Rabu (16 Oktober 2019), perihal seremoni syukur bertepatan 40 tahun pendirian paroki tersebut.

Dia menjelaskan, proses pembangunan telah berlangsung selama setahun penuh. “Peletakan batu pertama terlaksana pada 14 Oktober 2018 yang lalu oleh Mgr Anicetus Sinaga, OFMCap. Setahun sebelumnya, panitia telah merancang time table rencana pembangunan ini sehingga semua panitia dan umat separoki berjalan menurut arah yang sama,” kata Pastor Cypri.

“Sepanjang tahun 2019, semua umat bergerak untuk mencari dana dengan berbagai cara mulai dari kewajiban perkeluarga, misa pengumpulan kewajiban dan pengumpulan sumbangan dengan memakai amplop setiap missa, juga setiap stasi dan lingkungan menyerahkan setengah dari kasnya.”

Imam Kapusin asal Parlilitan mengimbuhkan, panitia pembangunan juga mencari dana dengan menjual hasil bumi dan makanan siap saji ke stasi-stasi dan paroki-paroki lain. Bahkan, panitia bersama Pastor Paroki juga menyampaikan informasi pembangunan melalui media sosial ini seperti: telepon, email, WhatsApp, messenger, facebook, dan telegram.

“Kami melihat bahwa banyak orang membaca dan menanggapinya dengan memberi sumbangan dengan jumlah bervariasi. Media ini menjadi tempat diskusi berlanjut sehingga begitu banyak orang yang terlibat dan memberikan sumbangan. Kami bersyukur atas kehadiran media ini  yang membuka hati banyak orang untuk membantu kami,” katanya.

Pastor Cypri mengungkap, rencana Paroki Tiga Binanga ke depan ialah meneruskan pembangunan kantor paroki dan aula supaya dapat dirunning untuk pelayanan umat.  bangunan ini sendiri bakal memiliki tiga fungsi dengan batas yang jelas dalam satu bangunan.

“Bangunan pastoran, ini sudah selesai dan diberkati pada 13 Oktober 2019 yang lalu. Sementara itu dua bagian lagi ialah kantor paroki dan aula. Kantor paroki dipakai untuk urusan sekretariat, ruang tunggu, ruang kanonik dan bicara 3 ruang, dan kebutuhan umat. Dan bagian ketiga ialah aula dan kamar-kamar tamu. Kantor paroki dan aula sedang dalam proses pengerjaan sekitar 75%. Kami masih membutuhkan banyak dana untuk menyelesaikannya,” ucap Pastor Cypri.

“Kami melihat bahwa pembangunan pastoran, kantor paroki dan aula yang sedang berlangsung ini merupakan salah satu jawaban untuk melengkapi kebutuhan pelayanan pastoral di paroki ini.  Pembekalan pengurus  menjadi rencana yang harus dilaksanakan dan bersifat urgen di sini,” dia melanjutkan.

“Kami sangat yakin bila pengurus semakin tahu tentang tugas-tugasnya, bersemangat, aktif dan terampil, maka banyak kebutuhan umat akan terjawab dan hal ini akan mengundang mereka untuk hadir dan terlibat aktif dalam pelayanan gereja. Karena itu pembangunan dan perayaan 40 tahun pendirian paroki ini merupakan momen kebangkitan kembali iman dan semangat menggereja bagi seluruh umat separoki Tiga Binanga.“

“Semoga semangat berkobar yang kini sudah terbangun, semakin menyala sehingga mempengaruhi seluruh umat untuk bangkit bersama menuju perkembangan yang kita idam-idamkan,” pungkasnya.

 

(Ananta Bangun)

foto

Pemberkatan Pastoran Paroki Tiga Binanga (Altur Manullang)

Menceritakan Allah dengan Bible Story Telling

Sebelum mengenal aksara, moyang kita telah biasa mengajarkan nilai-nilai kehidupan dengan bercerita. Demikian juga Yesus, kerap menggunakan perumpamaan kala mengajar bagi para umat di masa itu.

Aku senang bisa terlibat dalam pengerjaan karya video Bible Story Telling, yang merupakan kerjasama Komisi Kerasulan Kitab Suci (KKS) Keuskupan Agung Medan dan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KAM. Kiranya bisa bermanfaat sebagai ilham bagi keluarga Kristen. Amin,

Kepala Pembimas Katolik Sumut, Wanton Naibaho: “Mungkin Ini lah kehendak Tuhan”

wanton naibaho

Menjemaat menyambangi Kepala Pembimas Katolik Sumut yang baru dilantik, Wanton Naibaho di ‘markas besar’-nya, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara – Jl. Gatot Subroto No.261, Medan. Dia mengaku baru dua minggu menjalani peran baru tersebut. “Berarti masih masa bulan madu,” seloroh Menjemaat dan disambut tawa bapa Wanton.

Kepada Menjemaat, Wanton mengisahkan riwayat hidupnya. “Saya lahir 8 Agustus 1971 di Desa Cinta Damai, kecamatan Air Putih, kabupaten Batubara. Saya tinggal di kampung tersebut dari kecil hingga SMP. Kemudian melanjutkan sekolah SMEA Negeri Kisaran tahun 1987. Pada tahun 1990, kuliah di IKIP (sekarang UNIMED) program Diploma III. Kemudian melanjut S1 Administrasi Negara di Universitas Sisingamangaraja,” ujarnya.

Pada tahun 2000, Wanton mengikuti ujian penerimaan CPNS di Departemen Agama (kini Kementerian Agama). “Di tahun 2001, saya ditempatkan di Bimas Katolik Depag Toba Samosir. Kemudian satu tahun dibuat jadi pengawas, karena keterbatasan SDM. Di tahun yang sama, saya dipercaya Plt Kepala Seksi Bimas Katolik karena pimpinan sebelumnya pindah. Pada tahun 2004, dilantik definitif sebagai Kasi Bimas Katolik. Dan tahun 2019, dilantik menjadi Kepala Pembimas Katolik Sumatera Utara.” Continue reading →