YSA Lihat ‘Peluang’ dari Pandemi Covid-19


Ketua Yayasan Seri Amal (YSA), Sr. Gerarda Sinaga KSSY melihat sisi ‘peluang’ dari pandemi covid-19 yang bermula sejak Maret 2020. Biarawati dari Kongregasi Suster Santu Yosef (KSSY) mengatakan, pihak YSA telah membuat perencanaan agar semua guru-guru beradaptasi dengan metode pembelajaran digital. “Ternyata pandemi ini seperti blessing in disguise. Jadi kami melihat pandemi tidak melulu tantangan, namun ada juga sisi peluangnya,” ujarnya dalam satu bincang dengan Menjemaat beberapa waktu lalu.

“Sebelum pandemi, kami sudah merancang sistem pembelajaran berbasis digital, kelas virtual sebanyak dua kali dalam seminggu. Rancangan ini memadukan sistem pembelajaran khas Indonesia dan Amerika Serikat,” katanya. “Itu sudah disampaikan dalam pertemuan dengan para kepala sekolah yayasan ini pada Januari dan Februari 2020 lalu.”

Dalam perspektif YSA, imbuh Suster Gerarda, anak didik saat ini sudah termasuk generasi alpha. “Yakni, kalangan generasi yang sudah terbiasa dengan multi tasking. Mereka bisa mengerjakan chat, tugas sekolah, dan sambil makan kerupuk.”

“Sebelumnya saya juga sempat membuat pemetaan tenaga pejajar di Yayasan ini. Dan mendapati ada 7% pengajar dari generasi baby boomers. Sedangkan di generasi Y ada 45%. Dan sudah ada 8 %  tenaga pengajar dari generasi alpha. Sehingga kami sudah siap untuk pengajaran berbasis teknologi baru,” ucapnya dengan optimis.

Kuncinya, Terus Belajar

Walau telah membuat strategi perencanan untuk budaya pembelajaran digital dengan cermat, Suster Gerarda tak menutupi ada beberapa personil pengajar ada yang enggan untuk sistem baru ini. Tapi ternyata kondisi pandemi memaksa semua staf pengajar untuk membiasakan diri. “Sistem ini memindahkan konsep hard copy ke format digital. Sebagai simulasi awal, kami coba di SD St. Antonius pada waktu itu, dengan menggunakan tablet.

“Semangatnya adalah pro ekologi, untuk mengurangi penggunaan kertas. Dalam tablet ini sendiri juga dilengkapi berbagai fitur untuk kreativitas anak. Seperti menggambar, dan yang lainnya,” terangnya seraya mengungkapkan harapan kelak setiap sekolah di bawah naungan YSA akan difasilitasi pembuatan buku digital dengan server milik yayasan tersebut untuk pengumpulan file digital kelas virtual.

Menurutnya, hambatan untuk memahami =budaya baru tersebut tergantung pribadi masing-masing. “Dari Yayasan kami menerapkan STIFIN, sehingga kami bisa mengenal baik seluruh jajaran pengajar. Selain ini juga menjadi oppurtinity, ini juga bisa menjadi tantangan. DEngan STIFIN, saya sudah bisa masuk ke pintu mereka. meskipun sebenarnya goals kita sama. kuncinya adalah kita harus belajar terus menerus, tanpa henti,” kata Suster Gerarda.

Dia mendapati bahwa pemahaman STIFIN di kalangan personil YSA juga bisa mengurangi ketegangan dalam komunikasi organisasi. “Jika kita tegang, ketika tidak bisa terima. Sehingga saya harus menemukan bagaimana bahasanya agar mereka masing-masing paham,” pungkasnya.

(Ananta Bangun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.