Gerakan Peduli Sesama (GPS) St. Felix Cantalice “Berbagi Kasih dengan Sesama yang Membutuhkan, Khususnya dalam Kesehatan & Pendidikan”


Pasca Tahun Jubileum Kerahiman Ilahi (2015-2016), sejumlah devosan tertarik untuk melebarkan sayap pelayanan.Kemudian, mereka bersama Direktur Spiritual Apostolat Kerahiman Ilahi – KAM, RP John Rufinus Saragih OFM Cap terbersit gagasan untuk membentuk komunitas baru, bernama Gerakan Peduli Sesama (GPS).

IMG-20190818-WA0013

Kepada Menjemaat, Pastor John menceritakan bahwa komunitas ini mengawali karyanya pada Mei 2016. Dia mengatakan, para aktivis GPS St. Felix Cantalice memiliki semangat berbagi kasih terhadap sesama yang membutuhkan, khususnya dalam hal kesehatan dan pendidikan. Oleh sebab itu, mayoritas aktivis dalam kelompok ini terdiri dari kalangan dokter dan ahli medis lainnya.

“Gerakan ini dimulai karena dirasakan minimnya pengetahuan masyarakat tentang pendidikan dan kesehatan,” tuturnya dalam keterangan tertulis. Oleh sebab itu, GPS St. Felix Cantalice mengambil motto “Sehat adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara”.

Motto ini akan mengingatkan kita untuk hidup seimbang antara doa dan karya,” katanya seraya menambahkan bahwa visi dari GPS adalah “Menjadi wadah dan saluran berkat bagi sesama yang membutuhkan”.

Salah satu aktivis GPS St. Felix Cantalice, dokter Sahat Tua Irwanto Sidauruk mengaku sukacita bisa terlibat dalam karya pelayanan GPS St. Felix Cantalice. “Sebab saya dapat membantu sesama manusia yang membutuhkan pertolongan dalam bidang kesehatan,” kata ayah dari Niel Sidauruk dan Riri Sidauruk. “Saya juga merasa senang karena dengan senyum, tawa dan perlakuan baik orang-orang tempat kegiatan sosial berlangsung adalah obat penghiburan dan semangat baru buat kegiatan selanjutnya.”

Dari Pelayanan Menemukan Nama Pelindung

Pastor John mengatakan, kegiatan sosial pertama dilaksanakan dengan bantuan dari beberapa dokter, team apoteker dan Kelompok Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Medan. “Selanjutnya kegiatan-kegiatan sosial lainnya dibantu beberapa dokter umum maupun spesialis, yang juga dibantu sahabat GPS,” ujarnya. “Sahabat GPS adalah orang-orang yang bersedia membantu segala kegiatan-kegiatan di GPS secara sukarela. Pada awalnya dana yang terkumpul adalah merupakan sumbangan dari donatur pribadi dan kelompok.”

Dia melanjutkan, seiring berjalannya waktu GPS terus-menerus mendapat kesempatan untuk mengadakan kegiatan sosial.  “GPS menyadari tidak selamanya dapat menerima sumbangan penuh dari para donatur. Maka muncul lagi ide dari sahabat GPS untuk mengumpulkan dan menjual pakaian layak pakai serta barang-barang layak pakai lainnya spt elektronik, tas, koper, dsb.”

GPS kemudian menjual barang-barang tersebut dengan harga murah kepada masyarakat yang membutuhkan. “Para sahabat mengumpulkan, memilahnya dan menjualnya dalam bazar kecil di samping Gereja di stasi-stasi sesudah Misa. Dalam bazar GPS, selain pakaian layak pakai, GPS juga menjual minuman segar dan snack.  Kegiatan bazar ini telah dimulai sejak Desember 2016.”

Setelah berjalan satu tahun, para aktivis merasakan perlunya untuk mencari nama pelindung kelompok ini. Beberapa sahabat GPS bersama Pastor John berdoa bersama di Kapel Pastoran Tuntungan di hadapan relikwi St. John Paul II. Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian GPS menemukan nama pelindung yang tepat yaitu St. Felix Cantalice.

Pastor John menjelaskan, “St. Felix Cantalice (18 Mei 1515 – 18 Mei 1587) adalah seorang bruder Kapusin yang pada masanya menjadi terkenal karena kesalehannya. Hidupnya sangat sederhana, rajin berdoa dan selalu sopan kepada semua orang sehingga ia sangat dicintai. Ia menghabiskan 40 tahun untuk meminta derma bagi biara dan membantu menyembuhkan orang-orang sakit.  Bruder Felix dijuluki Bruder Deo Gratias, karena selalu mengucapkan kata “Deo Gratias” yang artinya “Syukur kepada Allah” kepada tiap perlakuan yang diterimanya. Apakah itu ketika ia diterima dengan baik  maupun ketika ditolak.”

Menurutnya, nama pelindung ini sungguh tepat karena adanya dua kesamaan dengan St. Felix Cantalice. “Yakni: Pertama, kemiripan dengan GPS yaitu St. Felix Cantalice diperingati pada 18 Mei; GPS terbentuk pada bulan Mei. Dan yang kedua, Bruder Felix meminta derma dengan hati yang penuh syukur; hal yang hampir sama selama ini dilakukan oleh para sahabat GPS.”

Pada tanggal 18 Mei 2018 (Peringatan St. Felix Cantalice) beberapa sahabat GPS bersama RP. John Rufinus Saragih, OFMCap berkunjung ke Keuskupan Agung Medan untuk menemui Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap (pada masa itu). Uskup menanggapi kedatangan ini dengan penuh kegembiraan dan menyarankan untuk menemui R.P. Harold Harianja, OFMCap yang akan membantu memetakan spiritualitas GPS dan menetapkan R.P. John Rufinus Saragih, OFMCap sebagai Moderator GPS St. Felix Cantalice.

Pada Tahun 2017, GPS melihat rendahnya perekonomian masyarakat di daerah pedalaman dan menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk anak-anak saat ini. Komunitas kemudian memulai Program Orang Tua dan Anak Asuh. Mereka bekerjasama dengan Sekolah SD St. Pius Parsoburan dan SD St. Maria Pakkat, di mana GPS mencarikan beberapa orang tua asuh untuk membiayai uang sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu.

“Sampai awal Januari 2018, GPS telah membantu uang sekolah  25 anak SD di Parsoburan dan 5 anak SD di Pakkat. Rencana ke depan  GPS akan mengusahakan pendidikan anak-anak sampai tingkat SMA, sesuai dengan kemampuan dan prestasi anak tersebut,” kata Pastor John. “Hal ini terwujud ketika niat untuk mengasuh anak-anak disambut baik oleh para orang tua asuh.

IMG-20190324-WA0038

Selalu Ada Mukjizat

Dalam melaksanakan karya sosial ini, Pastor John mengakui bahwa GPS St. Felix Cantalice tak bisa lepas dari ragam tantangan. “Kami merasa bahwa selalu saja ada mukjizat, jalan yang diberikan oleh Tuhan. Pada awalnya kami memang cemas, apakah ada voluntir yang kami sebut sahabat GPS akan gabung,  para dokter yang mau ikut terlibat, dan semuanya itu free charge, pro Deo, dari mana dana akan kami dapat? Tetapi pertanyaan ini selalu terjawab ketika hari baksos sudah dekat, ada saja orang yang mau mensupport baik itu berupa doa, tenaga dan materi.”

Rahmat senada juga dialami dr. Sahat, salah satunya dalam perjalanan bakti sosial GPS St. Felix Cantalice, pada 2018 ke Kuta Pengkih, Kecamatan Mardinding – Kabupaten Karo. “Medan yang harus ditempuh cukup berat, di mana tim kami menumpang mobil pick-up hartop selama tiga jam,” katanya. “Harus diakui, sebagai manusia biasa, saya merasa takut atas medan berat menjalankan karya sosial ini. Namun, saya menyakini bahwa Tuhan Yesus selalu menaungi dan melindungi perjalanan, setiap bakti sosial walau bagaimanapun sulit perjalanannya.”

Simpatisan GPS St. Felix Cantalice lainnya, dokter Filemon Tarigan juga turut mengamini. “Nilai/rahmat yang saya rasakan, makin merasakan indahnya hidup berbagi dengan saudara khusus nya saudara yang seiman. Selain itu, terjalin juga hubungan akrab antara kita pelaku kegiatan GPS. Ketika kita melihat reaksi saudara kita menerima dengan positif kegiatan GPS semakin bertambah semangat untuk ikut kegiatan-kegiatan yang lainnya,” tutur dokter yang mulai terlibat GPS dari anggota KMKI (komunitas medik katolik Indonesia).

Seiring perkembangannya, GPS St. Felix Cantalice kini memiliki satu divisi khusus menangani penggalangan dana dari hasil menerima barang-barang bekas yang masih layak pakai  dengan nama “GPS Charity Shop” yang akhirnya disempurnakan namanya menjadi “Cantalice Charity Shop”.

“Penghasilan dari Charity Shop ini adalah untuk operasional GPS. Sedangkan untuk kegiatan sosial membeli sembako dan obat-obatan, masih sangat berharap  dari kemurahan hati para donator,” terang Pastor John yang juga Parochus di Paroki Hayam Wuruk Medan. “Saat ini Cantalice Charity Shop sudah memiliki produk unggulannya, a.l; kopi bubuk Arabica Premium, snack Curut Keju dan minuman segar yang dikemas dalam botol 325 ml.”

Pastor John berharap, kelak GPS punya donatur yang tetap dan sekretariat. “Untuk sementara ini kami memakai satu ruangan di Paroki St. Antonius Padua Hayam Wuruk. Ruang itu kami pakai untuk kegiatan rapat, tempat barang bekas yang hendak dijual, obat-obatan. Ruangan itu juga kadang dipakai untuk rapat AKI (Apostolat Kerahiman Ilahi) KAM.”

“Dan juga kami mempunyai mimpi ke depan, GPS boleh memberikan pelayananan kesehatan yang lebih luas dan membiayai anak asuh yang tidak mampu sampai ke perguruan tinggi. Untuk saat ini, GPS mempunyai anak didik masih di tingkat SD di daerah Parsoburan. Kami hanya membiaya uang sekolah anak dan kadang memberikan seragam dan alat-alat sekolah seperti buku tulis, pulpen dan tas.”

Dia menambahkan, GPS sangat terbuka dan mau bekerja sama dengan kelompok lain. Bahkan dengan PSE Caritas KAM kita sudah pernah bekerja sama ketika membantu para korban di Gunung Sinabung. Dengan AKI KAM juga ada kerja sama bahkan dengan OMK tiga paroki Kabanjahe-Berastagi dan Tiganderket kita pernah kerja sama ketika mengadakan penghijauan di Puncak 2000 Kacinambun-Kabanjahe.

“Kita ingin agar GPS bisa menjadi saluran kasih bagi sebanyak mungkin orang. Kami sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung bersama GPS baik dalam tenaga maupun materi welcome,” katanya. “Dan bagi saudara-i yang bersimpati ingin membantu secara material  boleh mengirimkan bantuanya ke rek BCA No 0222524511 a.n. John Rupinus Saragih or Emillia Dewi.

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukanya untuk Aku.” (Mat 25:40)

 

Ananta Bangun | dimuat di majalah Menjemaat edisi Februari 2020 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.