Gereja Paroki St. Fidelis Dolok Sanggul: “Semangat Persatuan Tertanam Baik di Tengah Umat”


20190915175628_IMG_0184
Gereja Paroki St. Fidel Dolok Sanggul (sumber: Komsos KAM)

Menjemaat disambut Pater Siprianus Wagung SVD, tatkala silaturahmi ke Paroki St. Fidelis Dolok Sanggul, pada Sabtu (14 September 2019). Selaku parochus, dia menyambut baik niat Redaksi memuat profil paroki tersebut di kolom Pesona Gereja. “Paroki St. Fidelis Doloksanggul berdiri pada tahun 1951. Paroki asalnya adalah Paroki Lintongnihuta. Imam yang melayani paroki ini sejak awal adalah saudara-saudara Fransiskan dari OFMCap. Baru pada tahun 1995 hingga sekarang karya penggembalaan umat di paroki ini dilanjutkan oleh para imam Serikat Sabda Allah (SVD),” Imam Soverdi tersebut memaparkan dengan lugas.

Dia menambahkan, batas wilayah paroki ini adalah: bagian Utara Desa Hutagalung Kecamatan Harian-Samosir; bagian Barat desa Pancuragatan dan Simataniari Kecamatan Parlilitan, bagian Timur desa Silaban dan Hutasoit Kecamatan Lintongnihuta, sedang bagian selatan: desa Sihopong dan Hutatua, Kecamatan Parmonangan-Taput. “Paroki Dolok Sanggul meliputi lima kecamatan, yang dibagi ke dalam 28 Stasi, 5 Rayon dan 95 lingkungan. Jumlah umatnya 2.793 kepala keluarga dan 12.405 jiwa. Selain para imam dan Frater SVD, terdapat juga satu komunitas lembaga hidup bakti, yakni Suster KSFL yang berkarya di bidang pendidikan dan kesehatan,” ujarnya.

 

20190915175539_IMG_0179
RP. Siprianus Wagung SVD (Sumber: Komsos KAM)

Menanamkan Semangat Trinitaris

Bagi Imam yang menjadi Parochus Dolok Sanggul sejak Maret 2019, dirinya mendapati pengalaman unik serta menyentuh tatkala melayani di paroki tersebut. “Saya kagum bahwa hampir umumnya paroki-paroki di Keuskupan Agung Medan (KAM) menaruh perhatian besar untuk mempertahankan bahasa daerahnya. Menurut saya, ini adalah sikap positif di masa sekarang. Sebab menjaga kelestarian bahasa daerah juga sama artinya mempertahankan warisan filosofi atau kearifan lokal,” kata dia.

Pater Sipri juga mengaku tersentuh dengan keterlibatan awam mengurus stasi. “Para pengurus gereja di sini punya semangat luar biasa kuat mengurus stasi. Harus diketahui bahwa di Paroki Dolok Sanggul, hanya ada dua pastor. Tentu saja, sumbangsih tenaga dan pikiran mereka amat membantu kami.”

Selain itu, katanya, penghargaan umat sungguh besar kepada para Imam. Pater Sipri kerap disapa para umat lebih tua dan tak sungkan mencium tangannya bagai orang tua yang dihormati. “Awalnya saya menolak. Tapi para umat mengatakan bahwa para Imam sudah dianggap bagai orang tua sendiri yang mengajarkan iman kepada mereka,” ujarnya, seraya mengaku senang dengan keramahtamahan umat setempat mengundang para ‘gembala’ untuk jamuan makan ke rumahnya.

Selaku Imam dari Serikat Sabda Allah, Pater Sipri menjelaskan bahwa ordo SVD memiliki spiritual dalam khasanah Kitab Suci dan Trinitaris atau persekutuan. “Memang untuk aspek pertama belum tumbuh menyeluruh di sini,” katanya. “Namun, setidaknya semangat persatuan telah tertanam dengan baik di tengah umat. Semisal, jika ada beberapa umat Katolik yang menjadi calon kepala daerah, kami mendorong agar umat tidak terpecah karena momen seperti ini.”

Kepada pembaca Menjemaat, Pater Sipri mewariskan sebuah petuah: “Sebagaimana bersepeda. Kalau kita berhenti mengayuh, maka kita berhenti hidup. Demikian juga dalam kehidupan ini, jika kita berhenti menghadapi tantangan maka kita tidak akan pernah mencapai kebahagiaan maupun buah iman. Hidup beriman tentu juga perlu diperjuangkan. Kalau berhenti atau putus asa tidak akan memberi hasil baik.”

(Ananta Bangun)

/// ditulis untuk majalah resmi Keuskupan Agung Medan, MENJEMAAT

IMG_0173
halaman belakang Gereja Paroki St. Fidel Dolok Sanggul (sumber: Komsos KAM)
IMG_0174
Aula Paroki St. Fidel Dolok Sanggul (sumber: Komsos KAM)

Comments are closed.