TENTANG KEAHLIAN MEMBACA


pexels-photo-membaca buku 1
Copyright: Pexels

Keahlian berkomunikasi, pada dasarnya, terbagi dalam empat bagian: mendengar, berbicara, menulis dan membaca. Umumnya masyarakat kita memandang keahlian membaca cukup pada ‘mengenal’ huruf dan hingga pelafalan rangkaian kalimat. Mungkin ini lah sebabnya lema bahasa Inggris ‘illiterate’diterjemahkan sebagai ‘buta huruf’. Satu permasalahan yang di masa Orde Baru amat gigih untuk dikurangi oleh pemerintah pada masa itu.

Seiring perubahan zaman, seorang peramal masa depan atau futuris bernama Alvin Toffler telah mendefinisikan ulang arti illiterate. “The illiterate of the 21st century will not those who cannot read or write, but those who cannot learn, unlearn and relearn”. Toffler menekankan bahwa ‘illiterate’ bukan lagi ketidakmampuan membaca dan menulis. Tetapi ketidakmampuan untuk belajar berubah seusai tuntutan zaman.

Oleh sebab itu, pendapat bahwa keahlian membaca cukup pada pengenalan huruf dan pelafalan kalimat bisa dimaklumi. Namun, kini rasanya tidak elok mengkerdilkan nilai satu keahlian berkomunikasi hingga di titik itu. Terlebih keahlian membaca erat dalam kehidupan sehari-hari.

Agus Setiawan, penemu/ pendiri kiat “BacaKilat”, dalam satu bukunya berjudul “BacaKilat 3.0” mengetengahkan, betapa berharganya keahlian membaca. Setiawan mengumpakan, bila saja ada seorang pengusaha sukses menuliskan buku tentang keberhasilannya dari pengalaman selama lima tahun. Tentu pembaca buku tersebut dapat ‘memetik buah’ dari buku tersebut dalam tempo lebih ringkas daripada periode itu. Maka wajar saja, keahlian membaca adalah hal vital di tengah masyarakat negara maju. Mereka menyadari betapa praktis dan hemat waktu, untuk ‘memetik buah’ tersebut. Bagaimana dengan masyarakat Indonesia?

Berdasarkan studi universitas Central Connecticut State Universitas (Amerika Serikat), Indonesia berada di ranking ke-60 dari 61 negara dalam ihwal minat membaca. Indonesia, dalam hasil studi tersebut, berada di bawah Thailand dan di atas Bostwana.

Permasalahan baru muncul ketika internet dan media sosial mulai digemari masyarakat Indonesia. Pakar manajemen A.M. Lilik Agung, dalam kolom di majalah HIDUP menuliskan, terjadinya lompatan dari budaya ngobrol ke kebiasaan menggunakan media sosial, telah mendorong pesatnya tindak penyebaran hoax/ berita palsu. Kebanyakan pelaku penyebar berita palsu tersebut, tidak tuntas membaca dan juga rendah pemahaman mengenai inti informasi yang disebarkan. Pusaran ini terus berputar hingga menjadikan Internet dan media sosial seperti tempat tumpukan sampah.

Membaca Tanpa Tujuan sama dengan Tidak Membaca

Kita boleh saja saling berbeda pendapat tentang definisi membaca. Tetapi, sangat disayangkan bila berbagai ilham pengetahuan amat sedikit diperoleh hanya karena rendahnya minat membaca. Buku dan internet adalah ‘gudang pengetahuan’ sebagai rujukan dalam meningkatkan potensi diri kita. Kunci pertama ialah menumbuhkan minat membaca, yang hendaknya dimulai dengan menemukan tujuan.

Menurut Setiawan, ada satu hal yang perlu kita ketahui sebelum membaca. Yaitu, punya tujuan pada buku atau materi yang hendak dibaca. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menentukan tujuan. Sadar maupun tidak, semua yang kita lakukan selalu bertujuan. Misalnya, tujuan kita makan adalah untuk memberikan tubuh kita energi agar kita bisa beraktivitas. Tujuan kita tidur adalah untuk mengistirahatkan tubuh kita dari segala aktivitas agar ketika bangun kita segar kembali.

Dalam beberapa kesempatan, saya sering membuat perumpamaan seorang penumpang becak. Pengayuh becak tentu akan kesal, jika si penumpang menaiki becaknya tanpa tujuan jelas. Semua yang kita lakukan setiap hari memiliki tujuan. Namun, sering kali kita tidak menyadari akan tujuan itu atau tidak memiliki tujuan yang jelas. Membaca pun tidak lepas dari menentukan tujuan. Mengapa?

Otak manusia adalah bagian yang menjalankan perintah. Tujuan adalah perintah yang diberikan kepada otak dan pikiran kita. Semisal, jika saudara atau orang tua memberikan tugas, tetapi menyampaikan perintah yang tidak jelas, apakah kamu bisa mengerjakan tugas tersebut dengan baik? Tentu saja tidak. Otak akan mengerahkan segala cara untuk menyelesaikan perintah kita. Jadi, dengan menentukan tujuan, pikiran kita akan berusaha untuk meraih tujuan itu.

Bagaimana jika tidak menentukan tujuan yang jelas? Otak kita akan menjalankan perintah paling dasar dalam diri kita, yaitu “mencari kenikmatan” atau “menghindari kesengsaraan”. Ketika kita membaca buku tanpa tujuan, umumnya kita tidak akan memahami apa yang telah dibaca, dan akhirnya kita ingin tidur, malas, atau kurang konsentrasi. Itulah yang disebut “mencari kenikmatan” atau “menghindari kesengsaraan”. Karena tidak memiliki tujuan yang jelas, otak kita akan menganggap bahwa hal yang kita lakukan adalah menyita waktu dan energi.

Dalam metode BacaKilat, Agus Setiawan memaparkan bahwa ada tiga langkah untuk membuat tujuan membaca. Ketiga langkah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Apa yang ingin kamu capai? (what?) | 2. Mengapa kamu ingin mencapai hal itu? (Why?) | 3. Tujuan yang ditentukan harus jelas, tepat dan spesifik.

 

Apa yang ingin kamu capai? (What?)

Menjawab “What?” membantu menentukan target yang kamu tuju. Namun, target ini bersifat jangka pendek. Pertanyaa ini, membantu kamu menentukan hasil akhir yang ingin kamu capai dalam membaca.

 

Mengapa kamu ingin mencapai hal itu? (Why?)

Kalau pertanyaan yang pertama mengenai “What?” membantu menentukan arah dan target, pertanyaan “Why” membantumu menemukan alasan untuk mencapai target itu. Ini akan memotivasi dirimu untuk mencapai tujuan.

Sebagai contoh, jika kamu seorang perokok dan ingin berhenti merokok. Tetapi, kamu tidak punya alasan yang jelas mengapa saya ingin berhenti merokok. Apakah kamu akan berhenti merokok? Tentu saja tidak. Namun, jika alasannya adalah:  tidak ingin anak dan istri menjadi perokok pasif, atau saya ingin hidup sehat, maka kemungkinan besar kamu dapat berhenti merokok.

 

Tujuan yang kamu buat harus JELAS, TEPAT, dan SPESIFIK

Jelas, menandakan bahwa tujuan kamu benar-benar bisa dipahami dengan mudah. Tujuan tepat adalah yang mengarah kepada keinginanmu dan sesuai dengan konteks belajarmu. Spesifik, artinya tujuanmu sudah sangat detail dan tidak ada pertanyaan yang bisa digali lagi dari tujuanmu. Patokannya adalah adanya tenggat waktu dan keberhasilannya terukur.

 

Agar lebih mudah dipahami, perhatikan dua tujuan berikut ini saat hendak membaca buku Manajemen Keuangan Keluarga

 

Tujuan A: Aku ingin memahami manajemen keuangan keluarga

Tujuan B: Aku ingin memahami manajemen keuangan keluarga. Khususnya, bagaimana penghasilan saat ini bisa diatur untuk memiliki rumah dan pendidikan anak dalam lima tahun mendatang.

 

Pada tujuan A, telah menjawab langkah pertama (What?). Tetapi, tidak menjawab sisa dua langkah lainnya. Karena, tidak ada alasan yang kuat di dalamnya. Di samping itu, tujuan yang dibuat belum spesifik, karena tidak ada tenggat waktu dan tolok ukur keberhasilan.

Sementara pada tujuan B, telah menjawab dengan baik ketiga langkah menetapkan tujuan membaca. Sehingga mudah dipahami dan dibayangkan hasil akhirnya dengan sangat jelas.

 

Menerapkan dalam kehidupan

Dengan memiliki tujuan terarah, membaca buku kiranya bukan lagi kegiatan pengisi waktu. Lebih dari itu, upaya untuk mengembangkan kemampuan dan wawasan lebih besar. Dan, tentu saja, dalam tempo waktu lebih singkat. Investasi waktu dan dana untuk membaca akan berbuah dengan membuat tujuan yang jelas untuk bukumu.

Tujuan juga menjaga kita tidak akan tersesat dalam buku. Tentu saja kamu juga tidak akan menghabiskan waktu dan energimu untuk hal-hal yang tidak penting. Sebab membaca tanpa tujuan sama dengan tidak membaca.

Kemampuan memahami bacaan bukan lah tahap akhir dalam keahlian membaca. Ada juga kemampuan membaca cepat atau speed reading, agar keahlian literasi ini semakin meningkat. Kita bisa mempelajarinya dari internet.

Akhir kata. Semoga tercerahkan akan pemahaman tentang membaca. Mari menikmati bacaan dan memetik lebih banyak ‘buah’ ilham dari berbagai macam rujukan.

 

//// ditulis untuk majalah MENJEMAAT edisi Agustus 2019

 

 

Comments are closed.