[Resesensi] Tunanetra Merajut Aksara


cover buku Cahaya Dalam Kegelapan

Verba volant, scripta manent“. Petuah kuno dari Yunani ini memiliki arti anggun: “kata-kata akan melayang pergi, sementara karya tulis selalu abadi.” Maka, menulis adalah seni mematrikan pesan abadi bagi banyak insan. Namun, banyak orang menilai kegiatan menulis adalah perkara sulit. Pesan dan hikmah dari selaksa pengalaman hidup kerap hanya dituturkan secaran lisan. Sehingga ia pun mudah ‘melayang pergi’.

Namun 17 pelajar SLB/ A Karya Murni – Medan, Sumatera Utara yang notabene kaum tuna netra justru mampu bergelut merajut aksara. Meski amat berat, tetapi tidak mustahil. Mereka tak biasa karya tulis, terutama dalam format buku. Hendra Maringga selaku editor hanya memberi pelatihan menulis setengah hari. Selanjutnya, mereka dibimbing menuliskan yang paling mereka mengerti: pengalaman pribadi.

Beratnya penyandang tunanetra dalam menulis bukanlah perkara utama isi buku. Lewat buku ini kita akan menemukan seberkas ilham baru tentang kehidupan penyandang tunanetra. Salah satunya tulisan Ave Xaverius yang mengisahkan ketekunannya mempelajari alat musik hingga akhirnya berhasil menyabet prestasi di sejumlah festival.

 

Judul                     : Cahaya dalam Kegelapan

Penulis                 : Lando Landelinus Manurung, dkk

Penerbit              : PT. Bina Media Perintis

ISBN                      : 978-979-751-330-6

 

 

(Ananta Politan Bangun)

/// dimuat di majalah UTUSAN edisi Mei 2019

Comments are closed.