Apa yang benar-benar kita tinggalkan?


Dipinjam dari: Pexels.com

Sekarang orang-orang sudah tak suka membaca panjang lagi.

Pernyataan itu meluncur deras dari seorang teman, usai kami makan siang. Sepertinya dia hendak mengetuk vonis bahwa buku dan atau apa pun yang ditulis dengan jumlah kata banyak, sudah usang. Ditinggalkan.

Aku tercenung. Memang ndak tahu mau memberi jawaban apa.

Dua minggu berselang, seorang Imam menyatakan pendapat senada. Malah, langsung menahbiskan bahwa video akan menjadi hal lumrah untuk menyampaikan laporan hingga pendapat dalam organisasi maupun lembaga.

Dan kembali, aku hanya tercenung.

Aku kepikiran, apakah minat dalam dunia tulis-menulis memang sudah usang? Sudah ditinggalkan di seberang waktu sana?

Sebenarnya, apa yang benar-benar kita tinggalkan?

Koran pernah diramalkan ‘mati’ oleh media online. Namun, media cetak masih tetap bertahan hingga kini. Demikian juga koran dan radio pernah diramalkan ‘mati’ saat teknologi televisi muncul. Dan demikian juga, ketika Internet dengan ‘live streaming’ mewabah, diramalkan bakal membunuh koran, radio dan televisi.

Aku lihat banyak orang turut dalam arus zaman, tapi tidak semua. Sebagian memilih di jalan sepi. Seperti para penggila kamera lawas, kendaraan lawas, pakaian dan lainnya.

Tidak suka membaca panjang. Dan tidak menulis.

Entah bagaimana kelak mereka yang meninggalkan keahlian ‘berkomunikasi’ ini?

 

NB: Aku mau tulis perihal membaca di lain kesempatan

Comments are closed.