Stasi St. Paulus – Bandar Hinalang “Semoga Stasi Ini Semakin Subur Menyumbang Biarawan/ Biarawati


Gereja Stasi St. Paulus Bandar Hinalang (Copyright: Komsos KAM)

Gereja Stasi St. Paulus – Bandar Hinalang mulai diwacanakan untuk berdiri pada 13 Oktober 1989. Salah seorang pengurus, Fransiskus Hotman Sipayung, mengatakan RP. Raymond Simanjorang OFMCap (salah seorang pastor di Paroki Saribudolok masa itu) menganjurkan kepada pengurus sektor Bandar Hinalang dan Bandar Raya untuk memulai berdirinya Stasi Bandar Hinalang.

“Pastor Raymond mengatakan, untuk memulai berdirinya Stasi Bandar Hinalang harus dimulai dari Asmika. Pada waktu itu, Asmika (Anak Sekolah Minggu Katolik), Mudika (Muda-mudi Katolik) dan Perkumpulan Bapa/ Ibu harus jalan kaki dari Bandar Hinalang ke Gereja Stasi Induk Saribudolok,” kata Hotman kepada Menjemaat.

Maka, atas kerjasama pengurus dengan beberapa Mudika (wanita) ditentukanlah beberapa rumah umat sebagai tempat anak sekolah Minggu mendapatkan katakese. Secara periodik ditunjuk 2-3 orang Mudika tadi sebagai Guru Sekolah Minggu. “Pada saat itu, rumah kita juga menjadi tempat beribadah Asmika,” ujar Hotman.

Pada awal pendirian, Gereja Stasi Bandar Hinalang memiliki 91 Kepala Keluarga (KK). “Terdiri dari 74 KK dari Sektor Bandar Hinalang, dan 17 KK dari Sektor Bandar Raya,” kata Hotman. “Dan sekarang jumlah umat di stasi ini telah mencapai 180 KK.”

Dalam catatannya, Hotman mengatakan, pertapakan gereja Stasi Bandar Hinalang mula-mula terletak di depan bengkel Aeksopo dengan luas 20 x 40 m = 800 m2. Pada saat itu, Hotman kebetulan Ketua Lumbung Desa. Umat stasi setempat sepakat mengumpulkan padi sebagai dana untuk membeli tapak gereja. “Baru di awal tahun 1992, diadakan peletakan batu pertama oleh Pastor Elpidius van Duynhoven (Oppung Dolok). Setelahnya, kami turut membantu – dengan cara bergilir – membantu para tukang dalam pembangunan gedung gereja stasi ini.”

interior gereja Stasi Bandar Hinalang

Pensiunan guru agama Katolik tersebut masih mengingat, sebelum disemayamkan ke Stasi Purba Hinalang, jenazah Oppung Dolok didoakan dan diinapkan semalam di gereja Stasi Bandar Hinalang. “Kami jalan dari Saribudolok, sekira lima kilometer, ke Purba Hinalang.  Sekarang, stasi ini pun menjadi gereja paling bungsu yang dibangun dan diberkati oleh Oppung Dolok,” katanya mengenang.

Nama pelindung Santo Paulus bagi Stasi Bandar Hinalang, ternyata memiliki makna tersendiri di benak Hotman. “Ketika itu, saya ditunjuk Oppung Dolok menjadi salah seorang pengurus di stasi ini. Saya tak langsung mengiyakan, dengan alasan masa lalu hidup saya penuh dosa sehingga tak pantas.”

Tetapi Pastor van Duynhoven teguh pada keputusannya, seraya membujuknya dengan mengisahkan hidup Saulus. Yakni, seorang pembantai pengikut Kristus namun kemudian berubah total setelah berjumpa Tuhan. Mengganti namanya dari Saulus menjadi Paulus. Kemudian, hidup sebagai pewarta militan dan penulis Kitab Suci paling banyak. “Setelah mendengar penuturan kisah Paulus oleh Oppung Dolok, saya pun terkesiap. Dan menjawab, kalau Oppung Dolok mengatakan demikian, saya tak bisa menolak.”

***

Ketua Dewan Stasi Bandar Hinalang, Tamrin Purba kepada Menjemaat mengatakan, pihak dewan stasi telah sebidang tanah di samping gereja stasi. “Rencana sementara untuk dibangun aula. Belum ada rencana pelebaran gedung gereja stasi. Memang, kalau semua umat hadir ke gereja tentu tidak muat.”

Tamrin berharap akan lebih banyak lagi umat yang terpanggil untuk hidup membiara. “Semoga dengan terpilihnya Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap – selaku putra asal Bandar Hinalang –stasi ini lebih subur lagi menyumbang biarawan-biarawati. Kita berharap para Orang tua mendorong anak-anak untuk memilih hidup panggilan.”

Harapan senada turut disampaikan Parochus St. Fransiskus Assisi Saribudolok, RP. Angelo Purba OFMCap. “Kiranya sukacita bahwa salah satu putra dari Stasi Bandar Hinalang, Paroki Saribudolok semakin menggugah semangat menggereja seluruh umat,” ucap Pastor Angelo.

(Ananta Bangun)

pengurus gereja stasi Bandar Hinalang mengapit bapa Hotman Sipayung dan ibu Rosa Tamsar (Copyright: Komsos KAM)

Comments are closed.