Lelaki Harimau


ilustrasi dipinjam dari: http://ekakurniawan.com

Mulanya aku dan Istriku, Eva Barus, sepakat bahwa kami perlu membaca novel. Tujuannya, agar kami bisa melatih konsentrasi tatkala membaca teks yang panjang. Tidak hanya sekedar coba menulis artikel dalam jumlah karakter banyak. Maka, dalam satu kencan sutri (suami-istri), kami memilih novel karya Eka Kurniawan: Lelaki Harimau.

Karena tidak begitu tebal, kami bisa rampung membaca novel ini dalam dua minggu. Tentu saja di tengah kegiatan pekerjaan dan lainnya. Hehehehe.

***

Usai membaca novel ini, kami mengakui cukup terkena dampak depresi. Terutama Istriku, yang tak tahan kala membaca deskripsi ‘cara’ Margio membunuh Anwar Sadat dengan gigitan bak harimau. Tepatnya di leher Anwar. “Lho. Padahal cuma baca teks. Bagaimana nanti kalau menonton adegan film-nya nanti kalau ada,” ledekku yang dibalas senyum manyun Istriku.

Adegan pembunuhan tersebut menjadi pembuka dan juga penutup dalam novel (yang telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa) tersebut. Gaya penceritaan maju mundur yang cepat — namun mudah diikuti, membuat kisah seluruh karakter menarik untuk terus ditelusur. Bagaikan sedang melacak sesuatu. Yakni, mengapa si Margio sampai sebuas itu membunuh laki-laki bernama Anwar Sadat. Dan memang terjawab saat rampung membacanya.

Beberapa cuplikan mengenai tubuh wanita dan adegan birahi mengisi novel ini. Sungguh sikap yang berani. Berbeda. Terutama memperhatikan banyak novel-novel di rak toko buku nasional melulu percintaan dangkal. Hiks. (Maaf, ini hanya pendapat pribadi).

Sebab kegemaran menulis, aku kira perlu belajar banyak dari novel mengenai deskripsi tempat/ setting. Wajar, dari majalah Intisari aku mendapat tahu bahwa Eka kerap melakukan riset untuk setiap novelnya. Sehingga penceritaan tentang tempat bisa dibayangkan secara utuh.

Kami pun coba membaca kembali kumpulan novel yang lama. Istriku coba membaca Canting, karya Arswendo Atmowiloto. “Masih sulit kupahami. Tapi, coba kuulangi lagi membacanya. Dan nanti kubuat ulasanku sendiri,” katanya. Aku tersenyum manis saja, sebagai lelaki (yang bukan harimau).

 

///// ulasan pribadi.

Comments are closed.