Majalah


ilustrasi dari Pexels.com

Jika hendak mencari pengertian majalah di Wikipedia (ensiklopedia daring), kita bakal menemukan ini: “Majalah (bahasa Inggris: magazine, periodical, glossies atau serials) adalah penerbitan yang dicetak menggunakan tinta pada kertas, diterbitkan berkala, misalnya mingguan, dwi mingguan, atau bulanan. Majalah berisi bermacam-macam artikel dalam subyek yang bervariasi, yang ditujukan kepada masyarakat umum dan ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang. Biasanya, majalah didanai oleh iklan, harga penjualan, biaya berlangganan yang dibayar di awal, atau ketiganya.”

Dalam pengertian yang disebut di atas, Wikipedia versi bahasa Indonesia masih menyebutkan majalah sebagai media cetak — sementara di Wikipedia versi bahasa Inggris telah memperbaharuinya, bahwa majalah kini juga sudah merambah ke media daring termasuk di dalam format website berita.

Baik di ranah media cetak dan daring (sekalipun), majalah umumnya punya karakter ‘khas’ dibandingkan saudaranya, yakni koran [di ranah media cetak] dan website berita [media daring]. Ciri khas tersebut adalah kumpulan tulisan yang lebih dalam untuk mengulas (bahkan mengkritik) sebuah peristiwa maupun kebijakan.

Majalah tidak fokus mengejar berita peristiwa terbaru, tetapi ‘menggali’ penyebab, makna, ataupun dampak dari peristiwa/ kebijakan tersebut. Oleh sebab itu, kelompok penggemar majalah umumnya adalah mereka yang tidak punya cukup waktu untuk membaca informasi baik di koran maupun website berita.

Sahabatku, Vinsensius Sitepu, pernah bilang soal dirinya tak sempat baca berita baik di koran maupun di website berita. “Maka itu, aku berlangganan majalah. Lagipula, aku bisa fokus pada peristiwa yang benar-benar penting saja,” katanya.

Tulisan khas di majalah umumnya menggunakan ‘Feature’. Teknik menulis ini menuturkan peristiwa seperti ‘teman yang bercerita’. Supaya pembaca bisa menyantap setiap fakta dan data dengan perlahan. Goenawan Mohammad, dalam buku “Seandainya Saya Wartawan TEMPO”, bilang bahwa mulanya media — yang sempat diberedel pemerintah Orde Baru — tersebut sebelumnya tak punya pakem/ standar tertentu dalam penulisan artikel. Belakangan, salah seorang staf redaksi memberikan buku mengenai Feature sepulang dari studi di Amerika Serikat. Teknik menulis tersebut, akhirnya terus digunakan TEMPO hingga kini.

Feature merupakan senjata media majalah untuk melawan harian dan website berita yang menawarkan informasi seperti aliran sungai deras.

Setiap media tentu punya karakter khas dalam menggaet audience atau pembaca/ pemirsa. Ini yang membuat media tersebut tak bisa dibilang mati (sepenuhnya). Semisal, media radio yang pernah diramalkan bakal ‘almarhum’ karena hadirnya media Televisi. Kini masih tetap digandrungi, terutama di kalangan pekerja yang masih ingin memperoleh informasi tanpa menyela pekerjaannya.

Belakangan ini sudah terkenal pula istilah “senjakala” bagi media cetak. Pembuktian diambil dari sejumlah media cetak (baik koran maupun majalah) yang gulung tikar dan beralih ke media daring. Umumnya alasan yang disampaikan pengelola adalah masalah keuangan yang tak bisa menalangi biaya cetak dan sirkulasi. Memang patut dimaklumi, media daring yang gratis tentu saja lebih banyak menggiring budaya baca dari perangkat kertas ke layar gawai maupun komputer.

Tetapi, sebagaimana disebut sebelumnya, kegemaran akan majalah atau media cetak lain belum sepenuhnya mati. Ruh-nya merasuk ke media internal — sebagaimana terlihat dalam rupa majalah bagi para pegawai perusahaan, umat agama, maupun komunitas tertentu. Keberadaan majalah tersebut seperti sebuah perwakilan identitas, (bahkan mungkin) perasaan prestise. Semacam itu lah kira-kira.

///// tulisan ini sekedar berbagi dari pendapat dan pengalaman pribadi

Comments are closed.