Kenapa Tulisan Resep Dokter Sulit Dibaca (Jelek)?


tulisan resep dokter (Source: dr. Sahat Sidauruk)
Dokter Sahat Sidauruk adalah satu dari sekian dokter yang turut dalam Gerakan Peduli Sesama (GPS). Kami saling mengenal kala aku meliput bakti sosial GPS di Kuta Pengkih (wilayah Paroki St. Fransiskus Assisi – Tiga Binanga), awal bulan Juni kemarin.
Telah lama aku penasaran mengenai “Tulisan Dokter”, yang lekat dengan arti tulisan jelek/ tidak terbaca. Mengapa demikian? Dalam lini masa Fesbuk milik dokter (yang kini melayani di Pematangsiantar), aku menemukan jawaban rasa penasaran tersebut. Aku pikir, ada baik jika dimuat di blog agar lebih awet tersimpan, dan mudah dilacak mesin pencari Google.
Puji Tuhan, dia menyambut permohonan agar kumuat di blog. Kiranya ilham dari tulisan ini mencerahkan banyak insan. Amin!
***

Sharing is caring!

Kita, pada waktu berobat ke dokter, pasti menerima kertas resep buat menebus obat di apotek. Sayangnya, saat kamu coba membacanya, tulisan di resep itu malah sulit dimengerti dan kadang malah samasekali nggak terbaca. Terkadang kita bertanya dalam hati, kenapa ya semua dokter tulisannya selalu amburadul gitu? Terus gimana ceritanya semua apoteker bisa baca dan tau obat yang dimaksud? Well, ternyata, tulisan dokter itu ada rahasianya, teman!

Menjaga Kerahasiaan Resep

Tulisan dokter yang jelek itu ternyata bertujuan buat menjaga kerahasiaan diagnosa pasian serta resep yang diberikan. Kerahasiaan resep ini penting banget supaya tidak terjadi penyalahgunaan obat. Selain itu juga buat menghindari pihak-pihak nggak bertanggung jawab mengakses resep tersebut. Terkadang pasien dapat membeli sendiri obat dengan memberitahukan obat yg pernah dikonsumsi pada waktu dia merasakan keluhan yang sama, padahal belum tentu penyebab penyakitnya sama!

Sebab, tiap resep yang dibuat oleh dokter memiliki dosis yang berbeda-beda dan nggak bisa sembarangan diubah. Karena kekurangan ataupun kelebihan dosis bisa berdampak sangat fatal bagi pasien.

dr. Sahat Sidauruk

Merahasiakan Obat-Obatan Keras dari Jenis Tertentu

Karena resep adalah permintaan tertulis dari dokter untuk apoteker, jadi pasien tidak wajib mengetahui isi dari resep itu. Selain itu, ada beberapa obat dari golongan narkotik maupun psikotropik yang penggunaannya harus dengan resep dokter sesuai dengan dosis yang tertera.

Nah, inilah peran tulisan berantakan tadi. Sebab, cuma apoteker terlatih ajalah yang bisa mengerti kode-kode obat khusus tersebut dari resep yang diberikan.

Selain itu, untuk beberapa kasus tertentu, pasien hanya diperbolehkan untuk menebus obat di apotek tertentu yang mengerti makna tulisan dari si Dokter. Jika persediaan obat narkotik yang terdapat di Apotek jumlahnya terbatas, maka kamu akan diberi copy resep tetapi kamu harus menebusnya kembali di Apotek itu. Tidak boleh di Apotek yang lain karena resep aslinya berada di Apotek.

 

Berisi Singkatan yang Sudah Disepakati secara Internasional

Meskipun tulisannya cukup terbaca, kamu tetap nggak mengerti artinya karena menurutmu kalimat yang ditulis samasekali nggak masuk akal. Well, sebenarnya singkatan itu bukanlah sembarang singkatan yang ditulis dokter, melainkan singkatan yang telah disepakati secara internasional. Singkatan dan kata-kata aneh itu adalah petujuk bagi apoteker untuk memberikan obat kepada pasien.

Seperti misalnya terdapat singkatan “m. f. pulv No. XII” maksdunya m.f adalah singkatan dari “misce fac” yang artinya “campur dan buatlah” kemudian ada “pulv” adalah singkatan dari “pulveres” yang artinya serbuk dan “No. XII” sebanyak dua belas buah.

Bila artinya digabung menjadi “Ambil dan Buatlah serbuk sebanyak dua belas buah” Tidak hanya itu penggunaan singkatan internasioanl juga digunakan untuk memberi dosis, seperti yang tertera pada resep dibawah ini S. 3 dd maksudnya adalah “Signa terdedie” yang artinya “tandai tiga kali sehari” dosis ini biasanya tertera pada etiket yang tertempel dengan obat yang telah kamu tebus dari apotek.

Semoga bermanfaat. GBUs all

Comments are closed.