CATATAN SEORANG KARMELIT AUSTRALIA TENTANG GEREJA PAROKI BEATUS DIONYSIUS – SUMBUL


Copyright: RP. Scerri, O.Carm
RP. Anthony Scerri. O. Carm adalah Imam Misionaris dari Ordo Karmelit. Dia menjadi gembala di Paroki Beatus Dionysius – Sumbul pada Maret 1973 hingga Oktober 1982. Dalam kolom Balai Budaya di majalah resmi Keuskupan Agung Medan – MENJEMAAT, Imam kelahiran Minia – Mesir tersebut, menuliskan pengalamannya kala membangun Gereja Paroki Sumbul, yang sarat dengan nilai-nilai budaya Pakpak.
Menurutku, tulisan pengalaman Pater Scerri ini sungguh menggugah. Tidak hanya dari perjalanannya saat menggali budaya Pakpak, namun juga semangatnya untuk mengangkat martabat budaya tersebut. Dalam majalah MENJEMAAT, tulisan ini dimuat dalam dua edisi. berikut penuturannya.

***

Waktu saya masuk paroki Sumbul, pada bulan April 1973, belum ada gereja paroki.  Pada hari Minggu, umat kumpul untuk Misa dalam ruang kecil, yang merupakan bagian dari pastoran. Jelas bahwa umat memerlukan gereja baru yang pantas.

Kebanyakan gereja dalam Keuskupan Agung Medan, dibangun dalam gaya Eropah/Belanda, dan jelas itu baik juga menurut pendapat saya. Tetapi, bagi saya sendiri nampaknya lebih tepat jika membangun gereja yang mencerminkan kebudayaan setempat. Lalu, saya bertanya: Kebudayaan setempat yang mana?

Sumbul terletak di daerah Pakpak, dan tanah gereja juga terletak di tanah Pakpak. Tetapi, kebanyakan umat di paroki Sumbul adalah orang Batak Toba. Hal itu menimbulkan dilema dalam diri saya.

Kaum Batak terdiri dari empat suku bangsa, yaitu, Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun and Batak Pakpak. Suku bangsa yang paling besar dan paling dominan adalah Batak Toba, diikuti oleh Batak Karo, lalu Batak Simalungun, dan suku bangsa yang paling kecil adalah Batak Pakpak. Masing-masing suku bangsa mempunyai bahasa sendiri, kebudayaan dan adat sendiri yang diturunkan dari nenek moyang ratusan tahun yang lalu. Maka pertanyaan yang timbul dalam benak saya adalah apakah gereja itu akan dibangun gaya Batak Toba atau Batak Pakpak?

Sejak lama, dan masih sekarang pun, kebudayaan Pakpak sedang mundur dalam arti bahwa antara orang Pakpak ada yang  sedang diserap ke dalam kebudayaan Batak Toba, baik karena memakai bahasa Toba maupun karena memakai adat Toba. Tetapi masih ada kelompok-kelompok orang Pakpak tertentu, seperti di Dairi (Sidikalang dan Salak), kecamatan di Sumatera Utara, yang sadar akan situasi kebudayaan Pakpak dan sadar akan bahwa kebudayaan Pakpak itu merupakan warisan yang penting dan harus dilindungi, bahkan harus dikembangkan dan dimodernisasi.

Sumbul adalah kecamatan di Dairi dan tanah Sumbul adalah tanah Pakpak, walaupun kebanyakan penduduknya adalah Batak Toba. Tanah gereja di Sumbul dibeli dari marga Lingga yang adalah pemilik tanah dari zaman dulu. Saya juga berusaha memperhatikan apa yang dikatakan oleh Konsili Vatikan II tentang kebudayaan-kebudayaan dan adat-adat dalam Gereja, dan bahwa salah satu tugas Gereja adalah melindungi kebudayaan-kebudayaan dan  menanamkan kebudayaan-kebudayaan itu ke dalam liturgi, arsitektur dan dengan cara-cara yang lain.

Kebudayaan Pakpak sangat membutuhkan bantuan, tetapi kebanyakan anggota paroki Sumbul adalah orang Batak Toba, Apakah yang saya harus buat? Saya panggil pertemuan para pengurus gereja dari ke-21 stasi yang ada di paroki pada waktu itu, sekitar 200 orang. (Sekarang, saya kira ada hampir 50 stasi di paroki Sumbul!) Sekitar 120 orang yang hadir pada pertemuan (sermon) itu. Baru sekitar lima atau enam orang di antara yang hadir adalah orang Pakpak, yaitu dari stasi Linggaraja dan dari stasi Sumbul sendiri.  Saya menerangkan kepada mereka keadaan kebudayaan Pakpak, dan saya juga menerangkan bahwa salah satu tugas Gereja adalah melindungi dan membudayakan hidup Gereja dalam liturgi, arsitektur, dll.

Maka, saya mengusulkan bahwa pantas kita membangun gereja gaya Pakpak, gaya rumah seorang raja Pakpak, di mana Yesus merajai umatNya! Saya menjadi heran dan senang karena tidak ada yang keberatan. Memang setelah pertemuan ada beberapa orang yang datang pada saya dengan merasa sedikit gelisah karena bangunan adat Pakpak mengandung makna yang kurang enak bagi mereka. Maksud mereka adalah bahwa dalam adat sipelebegu, tengkorak seorang musuh harus ditanam di bawah setiap tiang bangunan dalam pondasi. Saya mengatakan kepada mereka bahwa tentu saja hal itu tidak akan terjadi dan bahwa Uskup Agung Medan sendiri akan memberkati pondasi seluruhnya sebelum gedung akan mulai dibangun. Dengan jawaban itu mereka merasa dirinya lega. Kata, “Jangan, Pastor, itu sipelebegu” (yang berarti mereka yang menyembah roh-roh) menjadi semacam referen dalam proses mempertimbangkan setiap bagian bangunan gereja itu.

Langkah yang berikut adalah untuk mencari bagaimana rupanya bangunan Pakpak karena hampir tidak ada lagi bangunan Pakpak yang berdiri utuh. Pada zaman itu ada seorang Bruder Karmel, Otto Flapper, yang mengurus pertukangan di ibu kota Kabupaten Dairi, Sidikalang. Beliau, bersama beberapa karyawan yang berpengalaman dan dipercayai, membangun semua gereja baru di stasi-stati di keempat paroki yang dikelola oleh Ordo Karmel di Dairi. Kami berdua mulai bertanya kepada orang Dairi dimanakah ada rumah adat Pakpak. Ada yang  menunjukkan kami ke kampung sini atau ke kampung sana, dan dengan demikian kami kumpulkan bagian-bagian dari rumah adat Pakpak, seperti bagian dari atap, atau dari ukiran, atau dari tembok, dsbg.

Di salah satu desa, Balna, pernah ada rumah Pakpak yang cukup besar, tetapi rumah itu dalam keadaan yang sangat busuk, dan sedang hancur papan demi papan.  Tidak ada seorang pun yang mendekati rumah itu atau rela omong tentang rumah itu. Lalu, satu malam saya sedang bermalam di rumah seorang Pakpak yang tua, anggota paroki Sumbul, di desa Suhana, dekat Balna. Malam itu, kami berdua duduk di tikar, diterangi oleh cahaya dari lampu minyak kecil. Saya menyebut kepada bapak yang tua itu bahwa tidak ada yang memelihara rumah adat itu, dan bahwa tidak ada orang yang mau bicara tentang rumah itu. Bapak itu memandang saya dengan mata yang kabur dan mengatakan kepada saya, “Pastor, saya sudah tua dan hidup saya sudah tidak lama lagi. Saya tidak keberatan menceritakan kepada Pastor tentang rumah itu. Sekarang, kami orang Pakpak sudah jadi orang Kristen dan kami merasa malu atas rumah itu, makanya tidak ada yang mau berbicara tentang rumah itu atau mendekatinya, apalagi memperbaikinya. Zaman dulu, rumah itu dipakai sebagai tempat penyembelihan manusia, musuh yang ditangkap waktu perang, atau juga gadis-gadis yang sangat cantik di kampung-kampung sendiri. Kami campur daging manusia dengan daging kerbau atau babi dan memakannya supaya memperoleh keberanian dari para musuh yang berani memberi hidupnya dalam perang, atau kecantikan orang gadis-gadis itu”. Walaupun, cerita itu sangat mengerikan, rumah itu sangat menolong bruder Otto dan saya untuk menemukan bentuk asli rumah Pakpak.

Bentuk rumah adat Pakpak sangat berbelit dari segi arsitekturnya karena tembok-temboknya miring, juga karena bentuk atapnya, dan juga karena pandangan muka dan belakang yang miring dan terdiri dari papan yang panjang dan tebal dan berat. Bruder Otto membuat gambar-gambar dari setiap bagian bangunan itu, serta menghitung tekanan-tekanan. Saya mulai mencari dana untuk bangunan itu. Pada tahun 1973 dalam paroki Sumbul ada 21 stasi, dan uang kolekte dari seluruh stasi dan gereja pusat untuk satu bulan jumlahnya sekitar dua dollar Australia! Bukan karena anggota paroki kikir, sebaliknya. Pada waktu itu, mereka tidak mempunyai uang, mereka lebih tukar-menukar hasil bumi atau barang lain.  Maka, saya tidak berani minta tambahan dari anggota paroki. Saya teringat pada Injil di mana Yesus menunjukkan janda yang memberi sedikit tetapi yang sedikit itu adalah jauh lebih daripada yang banyak yang diberikan oleh orang yang mampu. Tetapi, anggota paroki rela memberi tenaga kerja, batu dan pasir untuk pondasi, dan ijuk untuk atap.

Maka, saya minta bantuan dari Australia, dan pelan-pelan bantuan itu mulai masuk. Begitu saya menerima uang dari Australia saya kasih kepada bruder Otto untuk membeli papan untuk gereja yang seluruhnya akan dari kayu. Kayu yang dibeli adalah maranti batu, kayu yang indah dan keras, dan yang diperoleh dari hutan di Dairi. Kayu itu juga tahan cuaca dan serangga. Kayu itu dikeringkan di pertukangan di Sidikalang, menunggu uang datang lagi dari Australia. Yang perlu diperhatikan adalah tiang-tiang yang ditanam dalam pondasi dan berdiri lima meter tingginya. Kalau saya tidak keliru, ada 28 tiang dalam gereja. Tiang-tiang itu juga dari maranti batu dan adalah batang-batang pohon yang dibentuk di pertukangan di Sidikalang.

interior gereja Paroki Sumbul (Photo: Josef Surbakti)

Bruder Otto memberi perhatian khusus agar tiang-tiang itu utuh dan kwalitet yang paling baik. Saya tahu bahwa bruder beberapa kali mengembalikan tiang-tiang yang tidak sesuai dengan kwalitet yang beliau menuntut. Begitu juga deng kayu-kayu yang lain. Keempat papan yang diagonal di bagian depan dan belakang atas, adalah sekitar 10 centimeter tebal dan sekitar 7 meter panjang dan berat luar biasa! Lebih dari 43 ton kayu dipakai dalam bangunan seluruh gereja.

Di sekeliling badan bangunan gereja ada ukiran. Ukiran itu dilaksanakan oleh seorang seniman di Sidikalang. Ijuk untuk atap seluruhnya dikumpul dari pohon-pohon kelapa dalam paroki, terutama dari stasi Linggaraja oleh anggota marga Lingga. Bruder Otto dan kawan-kawannya, tidak mempunyai alat-alat moderen, kecuali menara dari kayu yang mereka bangun sendiri dan katrol untuk menaikan papan-papan yang berat dan yang harus diletakkan dalam posisi miring itu. Waktu mereka memasang papan yang berat itu, saya tahan nafas saja! Saya tahan nafas juga waktu anggota-anggota paroki naik atap untuk memasang ijuk di atap yang curam itu. Tuhan melindungi para karyawan selama bangunan itu dibangun, karena, syukur, tidak ada satupun yang luka serius.

Tingginya bagian bawah bangunan adalah dua meter dari tanah. Menurut kebiasaan orang Batak, daerah itu dipakai sebagai kandang unuk kerbau dan babi dan ayam, terutama pada malam hari. Karena gereja tidak akan memelihara kerbau dan babi dan ayam, maka kami memutuskan menggali satu meter lagi supaya bagian bawah itu dapat dipakai sebagai aula. Ketika kami mulai menggali, kami menemukan dua mata air yang terus-menerus mengalir. Maka kami mengalihkan air itu ke suatu tali air yang mengalir si samping tanah gereja. Pada pagi kami menggali tanah itu, kebetulan ketua marga Lingga datang melihat-lihat, dan pada waktu beliau melihat kedua mata air itu, bapak Lingga mengatakan pada saya, “Inilah tempat gereja yang tepat, karena dalam mimpi tadi malam saya melihat kedua mata air itu di tempat ini”. Lalu dipasang semen untuk membentuk lantai aula, dan seluruh bagian bawah itu dikeliling dengan tembok dari plastik buram supaya pandangan bangungan tetap seperti bangunan yang asli.

***

Sekarang mari kita melihat bagian-bagian tertentu dari gereja. Tiang-tiang yang lima meter tingginya itu, adalah bulat pada dua meter bagian bawah bangunan dan empat segi pada tiga meter yang tembus di dalam gereja. Lantai gereja adalah sepuluh meter lebar dan dua puluh meter panjang. Cara masuk ke dalam gereja adalah dari bawah lantai gereja dengan pintu yang dapat menutup jalan masuk itu pada waktu malam. Semua itu merupakan usaha untuk menghalang roh-roh jahat masuk bangunan. Kedua ukiran naga yang digantung pada tembok, satu disebelah kanan dan satu disebelah kiri pintu masuk untuk menjaga jalan masuk ke dalam bangunan, juga dimaksudkan untuk menakuti roh jahat.

Dalam salah satu pertemuan bersama ketua-ketua Pakpak dari Dairi, yang Katolik dan bukan Katolik, saya usulkan agar kita juga memasang naga-naga itu, mereka langsung mengatakan, “Jangan, Pastor, itu sipelebegu”.  Lalu saya tanya apa fungsi kedua naga itu, mereka mengatakan untuk menjaga bangunan dari roh-roh jahat. Maka, saya mengusulkan agar mengganti arti kedua naga itu dengan menamakan mereka Beatus Dionysius dan Beatus Redemptus, dua Karmelit yang jatuh martir di Aceh. Mereka itu akan membela gereja dari segala kejahatan. Usul saya itu diterima dengan penuh semangat.

Sekarang saya ingin menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan naga-naga itu.  Saya mulai berpikir, bagaimana saya akan memperoleh rupa Dionysius dan Redemptus yang membela gereja dan bukan seperti patung-patung yang manis-manis dari Eropah, yang sangat tidak cocok di suatu bangunan Pakpak? Pada zaman itu, ada seorang pastor Kapusin, namanya Philippus, seorang seniman yang sangat pandai, baik dalam bidang seni lukis maupun dalam bidang seni pahat. Dia tinggal di Pematang Siantar, kota yang kedua di Sumatra Utara. Saya menemui dia untuk mencari pendapat dan berharap dia kesediaannya melaksanakan karya itu. Dia menerima tantangan itu. Lalu saya minta agar kedua ukiran tetap berupa naga supaya cocok dengan seluruh bangunan. Dia memenuhi permintaan itu dengan gemilang! Dionysius dan Redemptus tetap berupa naga, tetapi Dionysius, yang seorang imam, memegang salib, sedang Redemptus, yang seorang bruder, mengadakan kedua tangannya dalam bentuk sedang berdoa. Pastor Philippus itu sungguh pemberian dari Tuhan! Tetapi kita akan bertemu dengan Pastor Philippus nanti lagi.

Satu hal lagi yang menjadi soal dengan naga-aga itu adalah cecak yang terletak di atas wajah naga-naga itu dan juga dalam ukiran-ukiran lain di bagian luar bangunan. Menurut adat, cecak adalah lambang kesuburan. Para ketua Pakpak sekali lagi mengatakan kepada saya bahwa tidak boleh memasukkan cecak dalam ukiran-ukiran itu karena itu sipelebegu! Alasan mereka adalah karena cecak itu melambangkan kesuburan. Saya jawab bahwa tentu saja gereja juga harus subur dan menambah anggotanya! Itupun diterima dan sekarang cecak itu bisa dilihat di ukiran naga-naga itu serta ukiran lain di bagian luar gereja itu.

Lalu datang masalah altar dan tabernakel. Para ketua menerangkan kepada saya bahwa altar yang dipakai oleh orang Pakpak dan semua orang Batak pada zaman sipelebegu berbentuk segi tiga dan terbuat dari bambu. Di situ orang meletakkan padi atau bunga atau rokok sebagai persembahan kepada dewa di atas, dewa di tengah, dan dewa di bawah.  Langsung menjadi jelas bagi saya bahwa altar segi tiga itu akan melambangkan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Makanya altar dibuat segi tiga, dan altar itu berdiri di atas satu tiang dengan tiga kaki untuk melambangkan dalihan na tolu, filsafat dan kepercayaan dasar yang mengatur hidup semua orang Batak. Maka altar serta kakinya mengandung makna yang sangat dalam bagi orang Batak.

Lalu, tabernakel yang bagaimana supaya seirama dengan bangunan itu? Timbul pikiran barangkali tabernakel yang sama bentuknya seperti bangunan sendiri, karena gereja itu adalah rumah Raja dan tabernakel itu juga rumah Raja segala raja. Maka saya pergi ke pertukangan Kapusin di Pematang Siantar dan jumpa dengan bruder Anianus, seorang tukang pintar di bermacam-macam bidang dan sangat kreatif. Tentu saja, katanya, dia dapat menukangi tabernakel dalam bentuk rumah adat itu. Hasilnya pekerjaan bruder Anianus sangat memuaskan. Saya kira bahwa bahan tabernakel itu adalah tembaga. Lalu tabernakel itu diletakkan di atas tumpuan yang nampaknya seperti bagian bawah gereja, sehingga kalau dilihat lewat altar akan nampak seperti tiang-tiang bagian bawah rumah adat.

Salah satu gambar jalin salib yang diukir di gereja Paroki Sumbul (Photo: Josef Surbakti)

Lalu, yang harus dipikirkan adalah jalan salib. Saya pikir bahwa tidak masuk akal kalau saya pasang jalan salib yang dijual di toko-toko, dengan warna warni dan gaya Eropa tidak cocok.  Pada satu pagi setelah saya merayakan Ekaristi, saya menjadi sadar bahwa ada tujuh tiang di sebelah kanan dan tujuh tiang di sebelah kiri gereja. Pas untuk jalan salib! Maka saya dekati pastor Philippus sekali lagi, dan minta apakah dia dapat mengukir jalan salib dalam tiang-tiang itu, dan supaya orang yang diukir adalah mirip dengan orang Batak. Sekali lagi, pastor Philippus yang baik hati setuju, dan dia datang mengukir jalan salib itu, dengan syarat bahwa jangan diganggu oleh orang yang menonton waktu dia mengukir. Tentu saja syarat itu dihormati. Setelah pastor Philippus selesai, kita dapat menyaksikan karya seni yang sungguh agung!

Saya cari salib besar untuk digantung di belakang altar dan juga patung Bunda Maria, tetapi saya tidak menemukan seorang seniman setempat yang sangup melaksanakan karya itu dengan memuaskan. Dan saya tidak berani meminta-minta lagi pastor Philippus! Maka saya membeli salib yang biasa saja. Saya sangat senang ketika akhir-akhir ini saya melihat suatu gambar gereja dengan salib yang cocok dan seperti apa yang saya banyangkan dulu, yaitu Kristus yang disalib dengan wajah Batak. Proficiat kepada pengganti saya yang melaksanakan hal itu!

Untuk patung Bunda Maria ada ceritanya. Suatu keluarga di Jakarta pernah memberi patung Bunda Maria, yang diukir di Bali, kepada para suster SMSM yang pernah bertugas di paroki Sumbul. Para suster lalu menyerahkan patung itu kepada paroki Sumbul, dan itulah patung Bunda Maria yang ada di gereja sampai sekarang. Patung itu sangat indah, dan karena dari kayu, maka cocok dalam gereja.

Waktu Misa, umat duduk di atas tikar sebagaimana masyarakat pada umumnya duduk di rumah sendiri juga, apalagi di rumah seorang Raja. Ada anggota paroki yang pada permulaan minta agar dipasang bangku dalam gereja, sebagaimana di gereja Kristen Protestan. Saya sendiri tidak ingat persis apa yang terjadi sesudah itu. Tetapi rupanya bahwa saya mengatakan kepada anggota paroki bahwa kita tidak bersaing dengan Protestan atau orang lain, dan bahwa mereka bisa memasang bangku setelah saya meninggal. Anggota paroki mengangap saya serius dan ternyata bahwa sampai sekarang belum ada banku dalam gereja Sumbul. Barangkali mereka sedang menunggu saya mati dulu!

Ada bagian-bagian lain dari bangunan gereja yang saya tidak menyebut di sini karena saya lupa. Beberapa dari pastor sejawat di Keuskupan Agung Medan mengatakan bahwa saya gila karena proyek pembangunan gereja itu. Juga mereka bilang bahwa pasti biaya akan lebih daripada gereja yang biasa saja. Tetapi karena kewaspadaan bruder Otto, kebaikan hati para anggota paroki Sumbul, pastor Philippus, dan para bruder Kapusin di pertukangan di Pematang Siantar, akhirnya jadi bahwa biaya bangunan gereja Sumbul ternyata lebih murah daripada gereja-gereja yang lain. Dan setelah gereja  berdiri, para kawan itu menjadi kagum dan senang melihatnya. Sebenarnya, gereja Sumbul adalah satu-satunya bangunan Pakpak asli yang ada.

Gereja Paroki Sumbul (Photo: Josef Surbakti)

Itulah pertama kalinya gereja dalam bentuk rumah adat Batak yang dibangun di Sumatera Utara. Beberapa tahun kemmudian, Pastor Leo Joosten, OFM Cap datang ke Sumbul menanyakan, apakah saya masih simpan gambar-gambar bangunan gereja. Saya jawab bahwa memang saya simpan gambar-gambar itu, dan bahwa dengan senang hati saya pinjamkan kepada dia. Pada waktu itu, Pastor Joosten adalah Parokus Pangururan. Dia ingin membangun gereja di Pangururan gaya Batak Toba. Memang jadi bahwa dia membangun gereja itu. Namun kemudian, telah muncul larangan untuk menebang kayu di hutan, termasuk pohon kayu maranti. Oleh sebab itu, tiang-tiang gereja itu terpaksa dibuat dari semen yang diberi warna dan rupa kayu. Ketika Pastor Joosten pindah ke Paroki Berastagi. Sekali lagi dia membangun gereja gaya Karo. Saya mendengar bahwa sekarang ada juga gereja gaya adat Batak Simalungun. Waktu saya membangun gereja Sumbul, saya tidak sadar akan bahwa saya mulai tren yang akan menular!

Perencanaan gereja itu mulai pada tahun 1973. Perencanaan itu berlangsung selama tiga tahun, dengan mengadakan banyak pertemuan dengan ketua-ketua Pakpak, dan dengan mencari dana dan membeli bahan.  Setelah bangunan selesai pada tahun 1976, gereja itu diberkati oleh uskup agung, Mgr. Pius Datubara dan dirayakan dengan pesta yang berlangsung selama tiga hari dan tiga malam. Semua paroki di keuskupan agung Medan diundang. Selama tiga hari itu ada 10,000 tamu yang diterima. Ada yang datang perorangan tetapi kebanyakan datang berkelompok. Semua diterima dengan tortor, diiringi oleh dua kelompok music, satu Pakpak (genderang)  dan satu Toba (gondang) . Selama tiga hari itu juga, Mgr. Pius dan saya serta beberapa pengurus gereja Sumbul terus menerima tamu dengan tortor itu.

Mgr. Datubara tetap tinggal selama tiga hari itu, dan pada malam hari terakhir, sekitar jam sebelas malam, setelah semua tamu sudah pulang, Mgr. Datubara, saya, dan beberapa pengurus gereja, masuk gereja untuk memberi syukur kepada Tuhan atas segala rahmat yang dilimpahkan atas gereja dan seluruh umat. Saya ingat bahwa pada kesempatan itu, Mgr. Pius membiskkan pada saya, “Saya merasakan kehadiran Roh Kudus di tempat ini!” Saya lalu jawab, “Amen!”

Hal yang menyenangkan hati saya adalah bahwa beberapa orang Papak menyatakan bahwa bangunan gereja itu menambah kebanggaan dan rasa harga diri orang Pakpak. Apa yang saya paling harapkan adalah bahwa bangunan gereja itu menambah semangat berdoa umat kita, dan bahwa seluruhnya itu adalah demi kemuliaan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus, dalihan na tolu ilahi.

(RP. Anthony Scerri. O. Carm)

//// artikel ini telah disunting oleh Redaksi MENJEMAAT

Pastor Anthony Scerri, O. Carm hingga kini masih gemar memakai batik.

Comments are closed.