MENGUKUR DIRI


Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Aku pertama kali mengetahui ‘keahlian’ ini melalui buku “Bacakilat for Students.” Mas Agus yang murah hati, memberiku kesempatan untuk menggali pengetahuan ini dalam satu workshop di Medan. Sesudahnya, aku dan alumni workshop lainnya, kerap mendapat pendampingan via grup media bincang – Whatsapp. Kemarin, aku melirik satu kiat yang dia bagikan. Menurutku, sangat menarik dan sarat ilham. Setelah mendapat perkenannya, aku memuat tips tersebut menjadi sebuah artikel di blog ini.

Semoga kiat ini melahirkan inspirasi senada bagi pembaca juga.

***

Copyright: Pexels.com

Selalu kita dengar ungkapan “Rumput Tetangga lebih hijau”.

Ungkapan ini sangat mendalam dan merupkan aspek psikologis yang menjadi semacam budaya.

Dari mana ini berasal?

Banyak sudut pandang yang bisa kita ambil. Kali ini saya ingin membahas dari sudut parenting. Seringkali orangtua membandingkan anaknya dengan anak lain. “Tuh, dia bisa begini begitu lho. Kamu juga harus bisa.”

Ini halus. Tapi ini akan membentuk program yang berjalan bisa selamanya. Dia akan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Bukan membandingkan diri dengan dirinya sendiri.

Intermeso: sebenarnya orangtua ini tidak adil. Dia sendiri ga mau dibandingkan sama orang lain. Mana mau seorang istri dibilang sama suaminya, kamu kok ga seperti istri yg sono? Ngamuk. Wakaka

Kembali ke rumput tetangga. Rumput tetangga bisa lebih hijau karena dia berkomitmen melakukan apapun untuk menghijaukan rumputnya. Dia melakukan PR nya. Dia berkomitmen dan membuat prioritas membangun tamannya.

Kalau seseorang sudah sempat bandingkan rumputnya dengan orang lain, berarti dia sudah tidak cukup berkomitmen menghijaukan rumputnya. Karena sudah ada waktu memperhatikan rumput tetangga.

***

Copyright: Pexels.com

Ketika mengukur pertumbuhan diri, ada dua sudut pandang. Yang pertama adalah mengukur gap. Yang kedua adalah mengukur kemajuan.

Kita semua memiliki goal. Ada gap antara kita dan goal. Jika kita menggunakan gap itu untuk mengukur, kita akan stres dan bisa patah semangat. Kehilangan arah dan kehilangan motivasi. Bahkan, kita tidak melakukan apapun.

Jika kita mengukur diri dengan kemajuan yang kita buat, maka kita akan memiliki rasa senang membuat kemajuan. Kita merasa bisa melakukan sesuatu. Merasa dalam kendali.

Kemajuan ini kita ukur dengan menyusun milestone. Anggap seperti anak tangga. Satu per satu kita tapaki dan kita bisa naik ke lantai dua. Bayangkan tidak ada tangga, perasaan di atas akan kita rasakan.

Dalam menyusun goal, kita perlu menyusun goal yang di luar zona nyaman sehingga Anda bisa bertumbuh di dalamnya. Lalu buatlah milestone dan kegiatan yang berada dalam zona nyaman Amda sehingga Anda melakukannya dengan mudah dan nyaman.

Dalam proses mencapai impian, membaca dan mengembangkan diri adalah proses yang tidak bisa lepas dari pandangan. Karena inilah kita bisa bertumbuh dalam impian dan menyiapkan kapasitas diri untuk mewujudkan impian dalam kehidupan. Sehingga impian itu muat dalam kehidupan kita.

Menyusun kurikulum pengembangan diri akan membuat kita bisa mengukur kemajuan. Semakin jelas kurikulum pengembangan diri Anda, semakin semangat Anda membuat kemajuan.

Apa impian Anda 5-10 tahun mendatang? Apa pengetahuan, keahlian dan kebiasaan yang perlu Anda kuasai untuk mencapai impian Anda?

Cari bukunya dan selesaikan dengan Bacakilat.

Mari ukur diri dengan diri sendiri dan mulai membuat kemajuan setiap hari. Forward is forward no matter how slow.

Agus Setiawan
Bandung, Cihampelas, 4 Maret 2018
Untuk Alumni Bacakilat

Advertisements

Comments are closed.