BUKU YANG BERBICARA: “KEBERHASILAN SAYA DIBANGUN DI ATAS BAHU AYAH YANG PENUH KASIH”


ki-ka: Mike Stevens dan ayahnya, Jerry Stevens
ki-ka: Mike Stevens dan ayahnya, Jerry Stevens

Dalam artikel blog pada Jumat (23/2/2018), aku menuliskan sub judul “Buku-buku yang Berbicara”. Kukira itu sebuah frase yang indah. Maka, muncullah ide untuk membagikan untaian tulisan sarat ilham dari buku-buku yang pernah kubaca, dalam blog ini. Aku harap inspirasi senada juga tumbuh dalam benak tamu blog ini.

Satu petikan kisah di buku karya Guy Kawasaki, “Enchantment“, telah lama hendak kumuat dalam satu artikel blog. Ada sebuah kesan mendalam dari penuturan tokoh di buku tersebut, yakni nilai kekeluargaan. Bahkan, kesimpulan yang dibuat Guy perihal kisah ini pun bagai sebuah mantra: “Jika semua persiapanmu gagal (atau Anda tidak melakukan persiapan apa pun), selalu ada keluargamu!”

buku Enchantment

***

Kisah Pribadi Saya, oleh Mike Stevens

Mike Stevens adalah konsultan pemasaran dari Fargo, North Dakota, yang membantu para pemilik percetakan meningkatkan bisnis mereka. Dalam kisah pribadinya, dia menjelaskan bagaimana ayahnya menyelamatkannya dari kurangnya persiapan ketika memulai bisnis serta bagaimana membangun suatu bisnis yang memikat bersama-sama. Pelajarannya: Jika semua persiapanmu gagal (atau Anda tidak melakukan persiapan apa pun), selalu ada keluargamu!

***

Beberapa hari setelah membeli toko percetakan kecil pada 1983, saya menyadari saya sama sekali tidak memahami apa yang saya lakukan. Saya memegang gelar dalam bisnis, tapi dengan cepat mendapati bahwa ijazah saya hampir tidak ada nilainya dalam usaha baru ini. Di hari kedua kami buka, badai salju besar menghantam kota kami, Fargo, North Dakota, dan pada dasarnya menutup semua yang ada.

Saya tak punya uang tunai ekstra dan perlu terus buka karena saya butuh penjualan harian untuk melakukan penggajian pertama dalam beberapa hari lagi. Entah bagaimana, saya bisa pergi bekerja, berpikir bisa merampungkan beberapa pekerjaan yang tengah dilakukan dan belum terselesaikan sehingga saya bisa memfakturnya untuk mendapatkan uang tunai. Tapi, dengan cepat sadar saya tidak tahu cara mengoperasikan satu pun peralatan.

Kegembiraan dan semangat memiliki bisnis baru pudar dengan cepat. Saya merasa tak berdaya. Saya melakukan satu-satunya hal yang bisa saya pikirkan: saya menelepon ayah saya, seorang pensiunan pekerja permobilan yang tinggal di Florida. Saya berkata,”Dad, aku tersesat. Aku tak tahu harus berbuat apa atau jalan mana yang harus kuambil.” Bahkan tanpa mengambil jeda, dia berkata kepada saya agar tidak usah khawatir; dia akan datang dalam waktu empat puluh delapan jam. Ayah saya masuk ke dalam mobilnya dan berkendara sepanjang 1.500 mil — nyaris terus-terusan — hingga sampai di Fargo.

Begitu sampai, hal pertama yang dilakukannya adalah memeluk saya dan melingkarkan lengannya ke bahu saya (sebelumnya dia tak pernah melakukan ini). Saya tidak akan melupakan bagaimana dia menatap mata saya dan berkata,”Ini akan baik-baik saja, Mike. Kita akan melalui ini bersama-sama, satu masalah dalam satu waktu.”

Keesokan harinya, ketika saya berangkat bekerja pada jam 5 pagi, ayah saya sudah berada di sana. Dia telah menata dan membersihkan segala sesuatu dan menyiapkan sarapan untuk saya. Saya merasa kekhawatiran saya mulai mencair. Segala sesuatu membaik dengan cepat. Semua orang menyukai ayah saya — terutama para pelanggan. Dia menjadi penjaga konter saya, manajer produksi saya, pengemudi pengantar saya, juga inspirasi saya. Kadang tampak seolah dia yang melakukan semua pekerjaan dan saya mendapat pujian. Tapi, dia mengingikannya seperti itu. Dia menjadi senjata rahasia saya … dan dia akhirnya tinggal selama dua puluh tiga tahun.

Selama dua puluh tiga tahun itu kami bekerja bersama, kami tertawa bersama, dan kami mempelajari bisnis percetakan bersama. Pada akhirnya, bisnis kecil saya menjadi sangat sukses dan memenangkan banyak penghargaan dalam inidustri percetakan. Namun, saya tak pernah melupakan bahwa kesuksesan saya dibangun di atas bahu seorang ayah yang penuh kasih, yang tak ingin melihat putranya gagal. Dia selalu ada untuk saya, apa pun yang terjadi. Saya mendapatkan gelar saya dari univerisitas, tetapi ayah saya yang seorang pekerja permobilan yang mengajari saya bagaimana menjalankan bisnis.

Dia pada akhirnya pensiun pada usia tujuh puluh tujuh tahun. Dia meninggal secara tak terduga enam belas hari kemudian, di rumah danau kecil milik keluarga kami yang dikunjunginya dalam perjalanannya kembali ke Florida.

Dalam banyak cara, saya tidak terkejut. Dia mungkin merencanakannya demikian. Bagaimanapun, pekerjaannya pada akhirnya telah rampung.

Mike Stevens dan keluarganya
Advertisements

Comments are closed.