MENGHITUNG BERKAT


Bersama Istriku terkasih. Saat tandem meliput bareng di Brastagi. (dok. Pribadi)

Mamak mengingat, di kala kecil, aku pernah mendadak ‘cerewet’ menceritakan teman-teman baru di sekolah. Ya, ketika itu aku baru masuk Sekolah Dasar. Karena sebelumnya, tak melalui pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK), bagi Mamak wajar saja aku heboh dengan suasana sekolah. Tidak hanya menghitung jumlah teman yang baru, namun juga buku pelajaran, seragam, tas dan lainnya.

Aku terkenang akan pengalaman indah itu, saat memasuki ulang tahun pernikahan ke-III. Istriku, Eva telah mengajarkan hal baru selama berkeluarga: ‘menghitung berkat’. Sebagaimana Mamak, dengan penuh sabar Istriku selalu mengingatkan pada berkat yang kami terima, setiap kali berkeluh kesah akan ‘beban’ yang tengah kupikul. Seringkali berkat yang dimaksud adalah kesehatan yang kami peroleh hingga kini, dan juga bagi orangtua dan adik-adik (kami berdua adalah anak sulung).

Jika bercerita tentang beban, maka hal serupa tentu pernah dialami juga oleh sosok seperti Raja Daud. Musababnya, dua untaian tentang ‘menghitung berkat’ yang dia tuliskan dalam Mazmur. Yakni,

“Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya.” (Mazmur 71:15)
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Dengan menghitung berkat, aku coba memegang suluh penerang dalam perjalanan di atas genangan sungut-sungut. Dengan menghitung berkat, aku juga mampu mendaki tangga bernama “syukur”.

Di ulang tahun pernikahan ke-III ini aku mengucap syukur atas pribadi yang ditunjukkan Allah sebagai teman hidupku. Seumur hidupku. Terima kasih, ya Allah. Amin.

Aku dan Istriku, Eva, sering tertawa melihat wajah kami di foto gandeng untuk dokumen Surat Perkawinan Gereja ini

Comments are closed.