Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (VI)


Ilustrasi dari Pexels.com

MENYUSUN TERM OF REFERENCE (TOR)

Term of Reference (TOR) adalah kerangka kerja yang umumnya dilakukan jurnalis profesional. Namun, tidak salah menerapkan kiat ini dalam rencana liputan menulis feature. Dalam TOR, kita dapat menyusun tema dan sudut pandang untuk meliput satu peristiwa/ pernyataan.

Frank Barrows, Redaktur Pelaksana di Charlotte Observer (Melvin Mencher di “News Reporting and Writing” (Mc Graw Hill: 2003), mengatakan perencanaan yang terinci dalam menulis feature adalah hal yang penting. “Meskipun feature bukanlah tulisan yang diringkas — laiknya berita lempeng — tak berarti bahan untuk tulisan ini bisa disusun secara acak.”

Dalam ranah pers, Rapat Redaksi bermanfaat untuk menghindari pemberitaan yang mengutip pernyataan kosong/ tidak berarti. Berita seperti ini sering disindir sebagai talking news (berita cuap-cuap).

Hasil dari Rapat Redaksi yang baik ialah sebuah TOR (Term of Reference). TOR merupakan panduan umum peliputan alias lembar penugasan.

Untuk kasus berita yang sifatnya straight news (terjadi tiba-tiba/ di luar perkiraan) seperti bencana alam, kecelakaan, kudeta dan lainnya, tentu tidak bisa didiskusikan terlebih dahulu dalam rapat redaksi.  

Dalam kasus tersebut, pewarta dapat melaporkan fakta-fakta di lapangan terlebih dahulu (jika dia merupakan wartawan media online atau elektronik). Dari data yang diperoleh kemudian dijadikan bahan diskusi dalam Rapat Redaksi untuk liputan berita berikutnya.

***

TOR yang baik adalah yang jelas dan rinci. Semakin baik TOR niscaya mempermudah pengerjaan liputan.

Namun, perlu diingat bahwa TOR adalah panduan umum. Menurut P. Hasudungan Sirait — seorang jurnalis senior — TOR  sebagai panduan umum merujuk dari sejumlah pengandaian. Yang namanya pengandaian harus diuji di lapangan. Ia bisa benar bisa salah. Kalau ternyata pengandaiannya keliru maka TOR-nya yang harus diubah.

Setiap media memiliki gaya penyusunan TOR masing-masing. Secara umum, isi TOR peliputan berita adalah sebagai berikut:

 

Topik

Merupakan tema wawancara atau topik apa yang akan dibahas dalam sebuah wawancara . Ditempatkan sebagai judul TOR dengan kalimat yang singkat, padat dan mencerminkan inti masalah.

Latar masalah

Penjelasan singkat kenapa sebuah masalah diangkat untuk menjadi sebuah topik wawancara.

Sudut berita (angle)

Apa yang hendak dicapai dari masalah yang akan menjadi bahan dan fokus wawancara.

Narasumber

Siapa narasumber yang akan menjadi sumber bertanya pewawancara. Dasar pemilihan narasumber adalah kompetensi, kapabilitas, serta kredibilitasnya. Ada berbagai macam katagori narasumber, yaitu :

Narasumber langsung. Narasumber seperti ini bisa karena dia adalah orang yang menggeluarkan sebuah pernyataan controversial, pejabat yang berwenang menyampaikan keputusan pemerintah atau instansi terkait sebuah kebijakan, saksi mata sebuah peristiwa, korban sebuah peristiwa, dll.

Narasumber tidak langsung, yaitu pihak kedua yang memiliki kompetensi untuk melengkapi informasi atau mengomentari berita dan isu yang berkembang dimasyarakat, atau mengomentari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan instansi lainnya.

Adapun pengamat sebaiknya dipakai kalau dibutuhkan untuk menjelaskan hal-hal yang terlalu teknis saja.

Daftar pertanyaan

Berisi butir-butir pertanyaan dari masalah yang akan dibahas. Pertanyaan tersebut menjadi pegangan bagi pewawancara agar tetap fokus terhadap permasalahan yang dibahas.

Dalam pelaksanaan di lapangan, wawancara pertanyaan tersebut bisa dikembangkan dari jawawaban-jawaban narasumber.

Observasi lapangan

Reportase yang baik adalah yang hidup. Ada penggambaran agar khalayak selekas mungkin bisa menangkap suasana. Media yang menggunakan audio-visual, yaitu TV, seketika bisa melukiskan suasana. Tayangan mereka gambar hidup lengkap dengan suara. Yang menggunakan audio, yaitu radio, perlu waktu yang lebih lama. Suaranya harus pas betul agar konteksnya bisa ditangkap pendengar. Yang butuh waktu paling lama dalam deskripsi suasana adalah media cetak. Observasi untuk keperluan penggambaran diperlukan oleh semua jenis media. TV dan radio tak terkecuali. Untuk mendapatkan deskripsi, gambar dan suara yang baik tentu perlu observasi.

Rancangan foto/suara/gambar

Foto perlu untuk media cetak. Suara untuk radio dan TV; sedangkan gambar untuk TV. Dalam konteks jurnalistik, foto, suara dan gambar adalah informasi.

Sejak awal foto, sound (atmosfir, insert, dsb.) atau gambar perlu direncanakan. Tujuannya agar sinkron dangan tulisan atau narasi. Foto, suara atau gambar sebaiknya yang hidup; bukan yang bergaya salon.

Riset data

Tulisan akan kering dan kurang meyakinkan  kalau datanya minim. Karena itu data pendukung tulisan harus disiapkan sejak awal. Bentuknya bisa kliping koran dan majalah, buku atau terbitan khusus.

Bahan untuk riset data, bisa kita pesan ke bagian data di perpustakaan. Kalau tidak, kita cari sendiri. Sebaiknya reporter yang akan mewawancarai narasumber perlu juga kita ingatkan untuk mencari data terkait, kalau ada dokumen akan sangat baik, milik narasumber yang bisa dipinjam atau digandakan.

Tenggat waktu (deadline).

Pengerjaan liputan tentu ada batas waktunya. Tujuannya, agar semua yang terlibat dalam pengerjaan mengetahuinya.

Comments are closed.