MENULIS FEATURE BAGI AKTIVIS KOMSOS (VII)


cuplikan foto kolom feature Kolonel Inf Gabriel Lema di majalah HIDUP

SISI TERSEMBUNYI YANG TERBAGI

Aku telah beberapa kali menuturkan perihal niat membukukan tulisan serial “Menulis Feature bagi Aktivis Komsos” dengan Fr. Nicolaus Heru Andrianto. Calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang menyatakan dukungan dan juga berkenan turut menyumbang tulisan ‘pengalaman-nya saat meliput feature untuk majalah mingguan HIDUP.

Aku sungguh bersyukur atas perkenan Fr. Heru membagikan kisah pengalamannya dalam melakukan liputan feature. Serta, petikan ilham yang dia peroleh dalam dunia ‘jurnalistik.’ Kiranya inspirasi tersebut juga tumbuh dan berbuah bagi setiap insan aktivis Komsos lainnya. Matur nuwun, Frater!

***

A: “ Pak apakah saya bisa berjumpa dengan Pak Gabriel?”

B: “Wah itu komandan saya”

A: “ Iya Pak…apakah saya boleh berjumpa dengan beliau?”

B: “ Dalam rangka apa? Apakah Anda sudah buat janji?”

A: “ Sudah Pak, ini sms-nya”

B: “ Baik…siap saya antar ke ruang pribadinya”

Itulah cuplikan singkat percakapan saya dengan seorang ajudan di RINDAM Bukit Barisan, Pematangsiantar Sumatera Utara medio Juni 2016 silam ketika hendak wawancara langsung dengan orang nomor satu di kantor dinas tersebut. Bagi saya ini menjadi salah satu pengalaman unik yang saya alami ketika saya meliput untuk majalah mingguan Katolik HIDUP.

Pengalaman ini membuat saya bangga dan kadang juga membuat tersenyum. Betapa tidak, jika saya datang tanpa maksud untuk meliput, kira-kira apakah saya akan diterima di kompleks militer tersebut? Tampaknya keyakinan saya mengatakan tidak.

Tidak lama setelah percakapan tersebut, dengan disiplin dan etika mereka (antara anak buah dan komandannya) saya dihantar masuk. Tak lama kemudian, ajudan pribadi dari komandan itu menyajikan dua cangkir teh manis di meja. “Silahkan diminum tehnya”. Saya pun tersenyum dan semakin antusias untuk bertanya-tanya a la jurnalis. Amunisi pertanyaan sudah saya siapkan di sebuah kertas catatan kecil dan siap untuk ditanyakan.

Akhirnya……. sisi tersembunyi itu terbagi. Mengapa saya memberi judul itu demikian? Memang benar, saya mendapatkan sesuatu yang lain dari proses peliputan semacam ini. Itulah rahasia sebuah kehidupan. Dalam percakapan itu, sisi yang tersembunyi terbagi kepada saya, dan sejatinya saya juga akan membagikannya ke publik terkait dengan kisah komandan itu. Jika saya tidak menyalakan “lampu imajiner” saya untuk bertanya, tentu kisah kehidupan yang memuat perjuangannya dari dasar hingga menjadi pucuk pimpinan itu tidak akan terungkap.

Satu demi satu pun akhirnya kisah sang komandan terungkap dengan polos. Di sinilah tugas saya sebagai jurnalis untuk peka merasakan sentuhan human interest yang menjadi salah satu syarat penulisan feature. Mudah-mudah gampang menulis feature itu. Perlu kejelian menangkap pesan apa yang ingin kita bagikan kepada pembaca? Apakah itu nilai perjuangan, iman, tantangan, atau hal yang dipandang biasa-biasa saja tanpa harus kita lebay dengan kata-kata yang norak, namun bisa kita ceritakan dengan luwes.

Selain itu, dari pengalaman satu dengan yang lainnya ketika meliput, saya semakin ditantang untuk mengasah “daya endus” untuk mendapatkan sosok yang inspiratif. Namun saya bersyukur, bahwa Tuhan selalu memberi saya “jembatan” untuk sampai pada sosok-sosok inspiratif yang menawarkan banyak nilai untuk menjadi inspirasi bagi saya atau pembaca karya saya.

Selain itu, perlu juga melatih kejelian-kejelian yang mungkin tanpa kita sadari tampak sepele namun sebenarnya berpengaruh. Apakah itu? Privasi narasumber kita. Tidak semua yang kita tanyakan dan dijawab oleh narasumber harus kita tuliskan semua. Kadang perlu juga saya bertanya, keberatankah Anda dengan apa yang Anda ucapkan untuk dipublikasikan? Atau off the record (saya dan Anda) saja yang tahu? Jika YA it’s okey jika TIDAK no problem itu privasinya. Mudah khan?

Fr Nicolaus Heru Andrianto dengan Kolonel Inf Gabriel Lema (dok. Pribadi)

Selain sisi human interest, privasi narasumber, dan meningkatkan daya endus itu, hal lain yang perlu diupayakan dalam menulis feature adalah bahasa yang komunikatif dan syukur-syukur bisa melibatkan emosi dan rasa para pembaca berdasarkan data yang kita peroleh. Maka di sini peran kosa kata yang menarik perlu dimiliki oleh jurnalis. Hal itulah yang membuat sebuah feature itu tidak garing dan tampak membosankan. Hal itu biasanya dapat kita sajikan dengan baik ketika kepekaan kita dalam berwawancara itu sungguh kita maksimalkan. Selain itu, feature juga mengandung sisi hiburan, maka jangan buat dahi pembaca kita berkernyit.

Kita juga biasanya bisa berempati dan larut dalam kisah yang dituturkan narasumber kita. Kadang kita bisa saja ikut sedih, gembira, tersenyum dan bahkan larut juga dalam kejengkelannya. Maka di sini letak nilai lainnya, yaitu subyektivitas kita perlu dimainkan, meski tidak harus berlebihan. Hal itu tampak dari bagaimana kita mengolah tulisan tentang narasumber kita, sedikit-sedikit juga ada nilai subyektif kita atas diri narasumber itu.

Selain itu, karena feature itu tidak mudah basi, ketimbang berita yang harus benar-benar terkini, maka gaya bahasa dan juga kekhasan tulisan kita perlu kita temukan. Kita bisa melihat kolom atau space yang disediakan media yang menampung tulisan kita. Memang editor akan menyunting jika perlu. Namun lebih baik kita bijak dalam mengemas tulisan kita. Data yang berlimpah tidak sia-sia, dan data yang sedikit namun bisa menyajikan yang sempurna.

Bagimana dengan pengalaman unik lainnya? Tentu ada banyak pengalaman lain yang saya dapatkan ketika meliput. Mulai dari narasumber yang informasinya bagaikan tsunami atau informasinya hingga luber-luber sampai yang perlu saya pancing terus-menerus.

Dari pengalaman semacam ini saya menawarkan kepada Anda, baik pegiat tulis-menulis di bagian KOMSOS atau pemula sekali pun (karena semua penulis berawal dari pemula) untuk memiliki keyakinan bahwa setiap orang punya kisah. Kuncinya apakah kisah itu baik, berguna dan memberi inspirasi bagi pembaca kita? Selain itu, kecerdasan kita memilih dan memilah data dan informasi juga sangat dibutuhkan.

Tidak ada yang sulit selagi Anda memiliki kemauan untuk mencoba dan mencoba meski tak jarang naskah kita ditolak. Ditolak bukan berarti berhenti bagi saya, justru amunisi saya harus semakin banyak lagi. Saya punya keyakinan sebagaimana judul di atas, bahwa sisi yang tersembunyi itulah yang akan terbagi ketika kita mau berjumpa dengan sesama kita. Sisi yang tersembunyi biasanya hal yang kadang sepele dan sederhana, bagaimana kita cerdas untuk meraciknya, itu juga menjadi kuncinya.

Maka mari biasakan membagikan apa yang tersembunyi itu dengan melatih diri bergiat dan tekun untuk mengasah “radar” inderawi kita menangkap pesan kehidupan yang begitu bermaka. Itulah sisi lain yang saya dapatkan ketika saya meliput untuk berbagai media Katolik. Semoga “sisi lain yang tersembunyi yang saya alami sebagai rahasia indahnya jurnalistik itu, dapat terbagi untuk Anda dan memberi manfaat”. Ketika saya ditanya berapa persen enaknya menjadi jurnalis, saya akan menjawab hanya 10%. Lalu yang 90% nya? Sungguh sangat enaaaaak? Itu pengalaman saya, bagaimana Anda? Mari berbagi dari sisi kehidupan yang tersembunyi, dari makna sebuah kehidupan yang ada dan dapat kita peroleh dalam perjumpaan kita dengan semesta yang menyaji kisah.

 

(source: Facebook)

Fr. Nicolaus Heru Andrianto

Penulis adalah calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang. Karyanya berupa artikel-artikel pernah dimuat di Kompas, Hidup, Educare, Utusan, Rohani, Nuntius, Petra, Majalah Ilmiah Rajawali, Menjemaat. Dia juga sudah menerbitkan buku perdananya, Memeluk Fajar: Perjalanan Hidup Kaum Berjubah.

Tulisan feature Fr. Heru tentang sosok Kolonel Inf. Gabriel Lema dapat dibaca di laman berikut: http://majalah.hidupkatolik.com/2017/05/02/5462/kolonel-inf-gabriel-lema-darah-komando-dari-ayah/

Comments are closed.