Menulis Feature bagi Aktivis Komsos (IV)


Ilustrasi dari Pexels.com

JENIS-JENIS FEATURE

Luwi Ishawara, dalam buku “Jurnalisme Dasar” (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2011) memaparkan dalam lingkup luas, feature dapat dipilah menjadi beberapa kelompok. Berikut  jenis-jenis feature tersebut, dengan contoh dikutip dari beberapa sumber:

 

* BRIGHT

Bright juga sering disebut brite, yaitu sebuah tulisan kecil yang menyangkut kemanusiaan (human interest featurette), biasanya ditulis dengan gaya anekdot dengan klimaks pada akhir cerita.

Dua contoh  feature bright adalah sebagai berikut — dikutip dari ‘Kumpulan Anekdot Gus Dur (http://kabarinews.com/kumpulan-anekdot-kenang-kenangan-dari-gus-dur/34310)

DO YOU LIKE SALAD?

Ilustrasi dari Sunbasket.com

Rombongan istri pejabat Indonesia  pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan  berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.

“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan

Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.

Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”

Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”

(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).

 

Berikut satu tulisan bright karya mendiang Romo Heri Kartono OSC, dalam blog pribadinya. Artikel utuh bisa dilayari di tautan ini: (http://batursajalurb.blogspot.co.id/2012/07/pangkas-rambut.html)

KETAHUAN JUGA

Foto ibu Eri (Sumber: http://batursajalurb.blogspot.co.id)

Sesudah satu bulan tinggal di paroki St.Helena Lippo Karawaci (Maret 2010), rambut saya mulai panjang, perlu dipangkas. Saat makan siang, saya bertanya pada Pastor Surono, rekan se-komunitas: “Dimana tukang pangkas rambut terdekat dan bukan Katolik?”. (Tentang “bukan Katolik” ini penting bagi kami. Umumnya kami sungkan, khawatir dikira minta gratis kalau pergi ke tempat orang Katolik). Pastor Surono menjelaskan: “Dekat kok. Pastor keluar kompleks, melewati Pos Satpam lalu belok kiri. Di situ ada Salon dan bukan Katolik”, ujarnya.

 Selesai makan siang, sayapun langsung mencari Salon tersebut. Dan memang ada, persis yang dijelaskan Pastor Surono. Jarak dari pastoran hanya sekitar 350 meter saja. Ketika saya membuka pintu salon, seorang pria yang lemah gemulai menyongsong dan menyambut saya. “Mau potong mas?”, tanyanya dengan kenes. Sebenarnya saya tidak suka, namun sudah terlanjur masuk. Ketidak senangan saya makin bertambah saat pria kenes ini memotong rambut sambil nonton sinetron. Beberapa kali dia berhenti memotong karena terpukau pada sinetron yang ditontonnya.

 Menurut pastor Surono, di salon itu ada 2 pria pemotong rambut. “Yang satunya normal kok!”, jelasnya. Tapi saya sudah terlanjur kesal. Bulan berikutnya, saat rambut perlu dipangkas lagi, saya mencari tukang pangkas rambut agak jauh, menjauhi wilayah paroki St.Helena. Saya menuju perumahan Harkit (Harapan Kita), wilayah paroki St.Agustinus. Di Harkit ada banyak salon. Sesudah bolak-balik sampai 3 kali, saya memasuki salon Bright. Untunglah, saya tidak mengenal pemilik salon dan ibu itupun tidak mengenal saya. Aman. Sambil potong rambut, kamipun ngobrol berbasa-basi. Pemilik salon yang memangkas rambut saya namanya ibu Eri. Orangnya ramah dan santun. Pegawainya ada beberapa, umumnya wanita. Selesai potong, saya membayar, mengucap terima kasih dan pergi.

 Bulan berikutnya, saya kembali ke salon yang sama. Saya pikir, potongannya cocok, harga tidak mahal dan yang penting dia tidak mengenal saya! Ibu Eri menyambut saya dengan ramah dan langsung menggunting rambut dengan cekatan.

 Bulan yang ketiga, saya datang lagi ke salon Bright. Dari balik kaca, saya melihat ibu Eri sedang duduk santai, tidak ada klien satupun. Betapa terkejutnya saya, saat masuk, ibu Eri terlonjak dan berseru dengan amat ramah: “Silahkan….silahkan masuk Romo!!”. Saya kaget sekali. “Kok tahu saya pastor?”, kata saya dalam hati. Sesudahnya ibu Eri menjelaskan. “Minggu kemarin saya ke gereja bersama suami saya. Biasanya saya duduk di belakang. Tapi kemarin saya duduk di deretan agak depan. Waktu melihat romo, saya berkata pada suami saya: “Pa, romo itu seperti Pak Heri yang suka pangkas di tempat saya. Ternyata memang romo…!!”, ujarnya dengan nada gembira. Sejak saat itu saya tidak diperkenankan membayar lagi. Saya sempat berniat untuk pindah ke tempat lain. Namun sepertinya bu Eri membaca pikiran saya. Ketika rambut saya sudah mulai panjang, bu Eri kirim SMS: “Romo, sudah waktunya potong rambut. Saya tunggu ya..!”.

 Heri Kartono | rabu, 04 juli 2012

 

===================================

*SIDEBAR

Cerita feature ini mendampingi atau melengkapi suatu berita utama. Cerita tentang banjir besar, misalnya, bisa disajikan dengan sidebar tentang wawancara dengan suatu keluarga korban, cerita latar belakang penyebab banjir, atau tulisan menarik tentang usaha regu penolong – mungkin malah suatu kisah pertolongan yang dramatik.

Berikut contoh feature sidebar pasca bencana banjir bandang di Air Terjun Dua Warna – Sibolangit, Deli Serdang oleh media daring Viva (http://www.viva.co.id/berita/nasional/774799-kisah-di-balik-evakuasi-korban-longsor-air-terjun-dua-warna) :

 

KISAH DI BALIK EVAKUASI KORBAN LONGSOR AIR TERJUN DUA WARNA

Copyright: VIVA (www.viva.co.id)

VIVA.co.id – Tim SAR gabungan harus bekerja keras untuk mencari dan mengevakuasi korban banjir bandang dan longsor, di Air Terjun Dua Warna, Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Itu lantaran medan berat dan ekstrem menghadang mereka. Saat mengevakuasi satu jenazah perempuan, Kamis, 19 Mei 2016, misalnya.  Relawan bercerita jika jenazah perempuan itu ditemukan di Desa Derek, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Tempat itu berjarak sekitar 6 kilometer (km) dari lokasi banjir bandang dan longsor.

Tak hanya itu. Setelah lokasi ditemukan, ternyata jenazah berada di kedalaman 150 meter dari tebing di aliran sungai Lau Betimus tersebut.

“Daerahnya sulit dijangkau. Posisi kita berada di atas. Kita harus masuk ke dalam jurang ke bawah yang dalamnya 150 meter,” ujar seorang relawan evakuasi, Risman Lase, Jumat dini hari, 20 Mei 2016.

Petugas SAR, dibantu masyarakat sekitar, bekerja sama untuk turun ke dalam aliran sungai tersebut.

Usai itu, jenazah yang sudah membusuk tersebut dimasukkan ke dalam kantong mayat. Kemudian mayat ditarik menggunakan tali. “Lokasi curam tempat ditemukan mayat itu,” ujarnya.

Butuh waktu sekitar lima jam bagi tim SAR untuk mengevakuasi jenazah ini. Setelah berhasil diangkat, jenazah dibersihkan dan dibawa ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Medan untuk dilakukan identifikasi.

Dalam mengevakuasi jenazah itu, petugas SAR dibantu masyarakat sekitar. “Masyarakat ikut bersama kita melakukan evakuasi karena mereka yang mengetahui persis daerahnya. Makanya, harus bekerja keras kita evakuasi korban ini,” ujarnya.

Dengan penemuan jenazah itu, tim telah berhasil mengevakuasi 17 orang dari 21 korban tewas dalam musibah itu.

Kini, tim SAR masih melakukan pencarian terhadap empat korban lainnya, yang masih dinyatakan hilang dalam bencana itu.

===================================

* SKETSA KEPRIBADIAN/ PROFIL

Suatu sketsa biasanya pendek dan hanya mengenai suatu aspek dari kepribadian, seperti misalnya seseorang yang hobinya mengumpulkan model kapal layar antik atau seseorang yang bekerja dengan anak-anak cacat. Profil lebih panjang dari sketsa, lebih detail, dan secara psikologis lebih dalam. Profil coba menggambarkan dasar yang dalam seperti apa yang sebenarnya individu itu.

Satu contoh feature sketsa kepribadian atau profil, artikel utuh dapat dibaca dari Majalah Hidup Katolik (http://majalah.hidupkatolik.com/2016/11/03/1282/leonardus-egidius-joosten-ofmcap-misionaris-penjaga-budaya-batak/).

LEONARDUS EGIDIUS JOOSTEN OFM CAP: MISIONARIS PENJAGA BUDAYA BATAK

Copyright: (http://majalah.hidupkatolik.com/)

November 3, 2016

HIDUPKATOLIK.com – Meski berasal dari Belanda, ia amat mencintai budaya Batak. Ia mendirikan museum dan menulis buku tentang Batak. Karyanya diganjar penghargaan dalam bidang sastra.

Beberapa lembar kertas buram dan sebuah pena setia berada di dalam sakunya. Kedua benda itu selalu dia bawa bila berkunjung ke stasi-stasi. Kebiasaan sederhana ini telah dilakukan Pastor Leonardus Egidius Joosten OFMCap sejak Maret 1971, kala menjalankan misi Ordo Kapusin Provinsi Belanda membantu wilayah penggembalaan Pater Yan van Mauriks OFMCap di Paroki St Paulus Onanrunggu, Samosir, Sumatera Utara. Dengan pengusaan bahasa Indonesia yang masih sangat terbatas, Pastor Leo menjalankan misi. Padahal umat di Paroki Onanrunggu masih banyak yang belum bisa berbahasa Indonesia. Dalam komunikasi keseharian, mereka masih menggunakan bahasa ibu, Batak Toba.

 Pastor Leo segera menyadari keterbatasannya. Ia pun sadar bahwa budaya, termasuk bahasa bisa menjadi pintu masuk penyebaran Kabar Gembira. Namun menguasai bahasa Batak Toba tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi ia dilahirkan dan besar di Negeri Kincir Angin, Belanda.

 Enam bulan berjibaku di Samosir, Pastor Leo belum juga menguasai bahasa Batak Toba. Situasi itu sempat membuat ia kewalahan melayani umat yang berdatangan ke paroki. Apalagi ada umat yang sama sekali hanya tahu bahasa Batak Toba. “Saya berbahasa Indonesia, umat selalu menjawab dengan bahasa Batak Toba,” cerita Pastor Leo sembari tersenyum mengenang masa awal perutusan sebagai misionaris.

 Kesulitan menguasai bahasa Batak Toba tak membuat Pastor Leo putus asa. Ketika mengemban perutusan di Paroki St Yohanes Pembaptis Pakkat, Agustus 1971-Agustus 1983, ia semakin bersemangat memperdalam bahasa Batak Toba. Yahopar Situmorang, salah satu umatnya, berkenan menjadi pengajar bahasa bagi Pastor Leo. “Dia tak hanya mengajari saya menuliskan dan mengucapkan suku kata, tetapi juga memberitahukan kata yang sinonim dengan kata itu, misal untuk mengatakan mulut biasa digunakan kata baba, padahal kata yang lebih sopan ialah pamangan. Atau ulu yang lebih sering digunakan untuk mengatakan kepala, padahal kata yang lebih sopan adalah simanjujung,” ujar Pastor Leo bersemangat.

Museum Batak
Setelah lebih dari 12 tahun berkarya di Pakkat, Pastor Leo kembali diutus ke Samosir. Kali ini ia mengemban tugas sebagai Pastor Paroki St Mikael Pangururan. Ia pun telah menguasai bahasa Batak Toba. Kecintaan dengan Tanah Batak semakin mengental dalam hatinya.

Kala itu, Danau Toba dan Samosir mulai banyak dikunjungi wisatawan asing. Hal ini mendorong dia menulis buku guna memperkenalkan budaya Batak Toba. Di tengah pelayanan kepada umat, ia menulis dua buku tentang Samosir dalam bahasa Inggris dan Silsilah Batak Toba dalam bahasa Belanda. Namun kehadiran buku itu ternyata bertepuk sebelah tangan. “Dugaan saya meleset. Para wisatawan itu tidak terlalu berminat membaca buku,” ujarnya.

Kecintaannya kepada Batak Toba tak bisa dibendung. Ia memutar otak agar kebudayaan ini bisa lestari. Ia pun bermimpi mendirikan gereja dan museum budaya Batak Toba. Mimpi itu ia sampaikan kepada Uskup Agung Medan saat itu Mgr A. Gonti Pius Datubara OFMCap dan Provinsial Kapusin Medan Pastor Guido Situmorang OFMCap. Mimpi Pastor Leo mewujud nyata. Bangunan gereja dan museum diambil dari rumah adat Batak Toba di Lumban Sui-Sui. Kedua bangunan itu diberkati Mgr Pius Datubara pada 7 Juli 1997.

…………………..

(Hendra Maringga) | majalah HIDUP

===================================

* PROFIL ORGANISASI/ PROYEK 

Sama dengan sketsa kepribadian atau profil; hanya artikel organisasi/ proyek ini mengenai grup atau perusahaan, bukan mengenai individu. Misalnya, cerita tentang gerakan sekelompok wanita yang membentuk komite untuk menjamin perlakuan yang baik terhadap para istri yang disiksa dengan membawa kasus ini ke pengadilan, legislator, polisi, dan sebagainya.

Untuk contoh feature mengenai profil organisasi, menurut saya, dapat dirujuk pada reportase dari Renalto Setiawan (FourFourTwo.com) ini (https://www.fourfourtwo.com/id/features/psms-medan-raksasa-indonesia-yang-jatuh-dan-belum-bisa-bangkit-lagi) :

 

PSMS MEDAN:

RAKSASA INDONESIA YANG JATUH DAN BELUM BISA BANGKIT LAGI

Copyright: (https://www.fourfourtwo.com/)

PSMS Medan akhir-akhir ini mulai mendapatkan perhatian lagi berkat laga uji coba kontra salah dua klub terbesar di Indonesia saat ini, Arema FC dan Persib Bandung. melihat kembali bagaimana eks klub besar Indonesia ini pernah berjaya sebelum jatuh dan tak bisa bangkit sampai saat ini…

Pada tahun 2013 lalu, sebelas orang pemain  melawat ke Jakarta. Semangat mereka meluap-luap. Rasa optimis terus berputar-putar di dalam kepala mereka. Bukan. Bukan piala bergengsi yang menjadi keinginan mereka pada saat itu. Sebaliknya, mereka justru datang ke Jakarta untuk melawan PSMS, klubnya. Masalahnya, masa depan mereka terancam. PSMS sudah tidak membayar gaji mereka selama 10 bulan. Dan mungkin dengan berat hati, mereka ingin PSMS “kalah” pada waktu itu.

Pada masa silam, tepatnya pada pertengahan tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1980-an, kejadian seperti itu tentu saja tak pernah sekali pun terbayangkan oleh PSMS Medan. Saat itu, mereka adalah salah satu klub besar di tanah air. Prestasi yang mereka raih bahkan sering membuat mereka menjadi tajuk utama media-media di tanah air. Pemain-pemain mereka pun tak sedikit yang menjadi andalan timnas Indonesia.

Siapa yang tak tahu kehebatan Ponirin Meka saat ia berdiri di depan gawang PSMS maupun tim nasional? Siapa yang tak mengenal rap-rap, ciri khas permainan anak-anak PSMS, yang sulit dilawan itu?  Siapa yang tak ingat saat 150.000 orang penonton, rekor jumlah penonton terbanyak dalam sebuah pertandingan sepakbola amatir di Asia pada saat itu, memadati Stadion Utama Senayan pada pertandingan final Perserikatan tahun 1985 lalu?

Ironis menang saat membandingkan kejayaan PSMS Medan pada masa lampau dengan kehidupan mereka sekarang ini. Jika pada masa lampau PSMS adalah klub besar, sekarang PSMS hanyalah klub yang mempunyai nama besar. Sejak mereka berhasil menggondol gelar keenam Liga Perserikatan pada tahun 1985 lalu, PSMS hanya berhasil meraih gelar Piala Kemerdekaan, piala kelas dua, pada tahun 2015 lalu. Selebihnya, daripada memikirkan bagaimana caranya berprestasi, PSMS lebih banyak memimikirkan bagaimana caranya bertahan hidup di kancah sepakbola Indonesia. Singkat kata, sekarang ini klub kebanggaan masyarakat Sumatera Utara tersebut hanyalah klub medioker di tanah air. Tidak kurang dan tidak lebih.

 

Awal Kejayaan di Perserikatan

Hari Minggu, 10 September 1967, bersamaan dengan keputusan masyarakat Gibraltar untuk tetap memilih menjadi bagian dari Inggris, kebahagian terpancar dari wajah sebagian besar masyarakat kota Medan. Saat itu, PSMS Medan, tim kebanggaan mereka, berhasil meraih gelar Perserikatan (saat itu masih bernama Kejurnas PSSI) untuk pertama kalinya dalam sejarah. Tak tanggung-tanggung, lawan yang mereka kalahkan di partai puncak kejuaraan itu adalah , salah satu tim besar di Indonesia. Mereka berhasil menang dua gol tanpa balas di Stadion Utama Senayan (saat ini menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno).

PSMS sendiri memerlukan waktu sekitar 16 tahun untuk meraih gelar tersebut. Meski beberapa kali diunggulkan, terutama pada tahun 1953 dan 1957, ketika tim sepakbola Sumatera Utara sukses meraih medali emas dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON), PSMS Medan selalu gagal meraih juara karena angin kemenangan sepertinya belum berpihak kepada mereka.

Prestasi yang membanggakan tersebut akhirnya tiba setelah PSMS Medan justru lebih banyak mengandalkan pemain muda di dalam skuatnya. Mereka adalah jebolan tim PSMS Junior yang berhasil meraih gelar Piala  Suratin pada tahun yang sama. Sadar bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang benar, PSMS kemudian terus melakukan pembinaan secara berjenjang dan terus melakukan regenerasi di dalam skuatnya. Hasilnya ternyata mujarab. Prestasi PSMS Medan seperti tak mau berhenti mengalir.

………………. .

===================================

* BERITA FEATURE (NEWSFEATURE)

Ini adalah sebuah berita yang ditulis dengan gaya feature. Daripada ditulis secara langsung dan lugas, cerita ini disampaikan dengan menggunakan teknik feature, seperti pembukaan cerita dengan suatu ilustrasi anekdot, walaupun sebenarnya tujuan utama dari cerita itu adalah menyampaikan berita.

Untuk contoh news feature, saya menyemat liputan perihal pelaksanaan Forum Dialog dan Literasi Media di Keuskupan Agung Medan. Program kegiatan nasional ini diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI dan bekerjasama dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Artikel utuh dapat dilayari via tautan ini : (https://anantabangun.wordpress.com/2017/10/13/forum-dialog-dan-literasi-media-2017-di-kam-memahami-dan-berkarya-positif-di-ranah-media-sosial/)

FORUM DIALOG DAN LITERASI MEDIA 2017 DI KAM: “MEMAHAMI DAN BERKARYA POSITIF DI RANAH MEDIA SOSIAL”

Menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, pembukaan acara Forum Dialog dan Literasi Media 2017 di KAM

Ruang kerja Komisi Komunikasi Sosial – Keuskupan Agung Medan, pada Sabtu (7/10/2017) pagi, yang hening dan dingin berkat mesin pengatur hawa, diusik oleh ketukan nan pelan. Satu suara halus: “Shalom!” menyusul kemudian.

 Aku beranjak dari meja rapat Redaksi Menjemaat, melongok si empunya suara. “Astaga! Inikah orangnya?” Begitu lah rasa gusar dan gemas berkelindan di otakku.

 “Mmm…. mbak Dite ya?”

 “Iya, mas. Kok mukanya kaget gitu?” cetus si mahluk mungil ini. Ya, amat kontras dari foto parasnya saat memperkenalkan diri dalam grup aplikasi bincang daring, Whatsapp, dengan pipi yang tambun dan leher kokoh. Faktanya, di hadapanku dia seperti warga liliput dalam kisah negeri dongeng. Aku berani bertaruh, dia bahkan bisa menyelinap masuk ke dalam tas ransel kerjaku.

 Sejak ditambahkan sebagai salah satu penghuni panitia persiapan ‘Forum Dialog dan Literasi Media 2017 untuk Keuskupan Agung Medan’, Dite memperkenalkan diri sebagai fasilitator terlaksananya kegiatan yang digalang dari kerjasama Kementerian Kominfo RI dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Dalam pengakuannya, dia juga menambahkan jati diri berasal dari Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Jakarta.

 “Nah, kebetulan ini. Saya mau tanya kenapa dari FMKI Sumut ndak ada mengirim utusan dalam kegiatan ini, mbak Dite?” tanyaku sembari melirik jam dinding. Mewakili rasa gemas atas salah satu persoalan yang belum jua tuntas sebelum acara mulai — yakni mengenai ‘peserta’. Sementara waktu menuju pelaksanaan acara hanya tersisa tiga jam saja.

 “Iya. Dalam chat dengan Romo Alex, katanya usia yang di Medan sudah di atas 40 tahun. Melewati batas syarat dari penyelenggara, mas. Padahal di Jakarta, banyak yang culun-culun seperti saya,” katanya sembari cekikikan.

 “Wah. Di Medan, (suhu nya) panas ya. Pantesan orang-orangnya suka marah-marah,” Dite kembali berucap dengan enteng.

 Aku melirik dia dengan senewen. Kewarasan panitia pelaksana di Medan telah diuji selama persiapan acara ini, tetapi gadis alumnus Universitas Brawijaya ini terlihat sangat tenang. Aku menduga, dia lebih banyak belajar ilmu meditasi daripada politik yang menjadi jurusan kuliahnya.

 Setelah membahas beberapa pokok kebutuhan acara, kami lalu menuju Aula Hall B – Catholic Center KAM, guna menemui Ketua Komisi Kepemudaan KAM, RP. Alexander Silaen OFM Cap dan staf pegawainya, Novenita Marpaung.

 Kami telah telat 10 menit lebih. Sementara, Pater Alex dan Nove telah duduk nyaman di atas kursi Chitose di dalam aula. “Wah, gede ya ruangannya,” celetuk Dite. Pater dan Nove tampak heran. Seolah meminta penjelasan mengapa aku bawa seorang anak ‘remaja’ ke dalam ruangan dan waktu rapat sudah saatnya dimulai.

 “Pater. Kenalkan ini ibu Dite,” ujarku untuk ‘menjawab’ kerlingan matanya yang kebingungan itu. Namun, sontak dia tersurut dua langkah.

 “Ah. Yang benar saja!” jawabnya lekas. Aku cuma nyengir. Sementara Dite tanpa wajah bersalah ikutan cekikik, lalu menyalami Pater Alex dan Nove.

 “Bah. Yang kukiranya sudah …. ,” Pater Alex tak melanjutkan ucapannya. Mungkin mengingat waktu yang sangat mepet untuk persiapan acara.

 Diskusi pun segera dimulai dengan hadirin peserta bertambah satu per satu. Mulai dari Lanti Sinaga, yang mengisi peran Master of Ceremony (MC). Kemudian, Fernando Pasaribu — yang tercatat sebagai peserta — ternyata telah diminta dari KWI untuk menjadi salah satu narasumber.

Beberapa menit sebelum kegiatan dimulai, penanggungjawab Dokumentasi, Jansudin Saragih menghampiri kami. “Oh iya, bang. Aku ada usulan sepertinya teknis untuk pemberian kunci bagi peserta baiknya diberi saat mereka registrasi ulang. Ngga usah sampai jam empat sore, baru dikasih. Bagaimana menurut, abang?”

Aku melirik Dite. “Ya sudah, mas. Panitia di Medan, boleh buat teknis sendiri. Yang penting, ndak mengganggu pelaksanaan acara nanti,” katanya sembari bersidekap tangan karena menggigil diterpa pendingan ruangan.

“Baik, Shem (sapaan Jansudin). Aku mohon bantuan kam, bantu adik-adik di meja registrasi ya. Biar kami mengurusin ke persiapan dalam hall,” pintaku. Jansudin mengangguk, dan bergegas memberi komando di tempat pendaftaran.

Segalanya tampak beres, hingga Pater Alex berkata,”Nah. Sekarang kita belum mendapat konfirmasi dari Dirigen Lagu Indonesia Raya dan pemain kibor.” Sementara, Jansudin juga turut menyeletuk,”Oh iya. Di hall ini juga belum ada bendera Merah Putih.” Kami pun kembali panik. Dengan segala improvisasi, maka pada pukul 12 siang lewat sepeminum teh, lagu kebangsaan Indonesia pun berkumandang. Acara mulai mengalir. Akhirnya! Panitia persiapan seminar plus workshop menarik nafas lega.

 ***

 Dite (paling kanan) bersama Kristo Marpaung dan Rio Josia Perangin-angin (keduanya siswa SMK Bina Media), tengah menjaga nasi bungkus sebagai penganan siang bagi para peserta di hari Sabtu (7/10/2017)

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Catholic Center – Keuskupan Agung Medan ini, bermula dari ‘penyakit lupa’. Lupa yang dimaksud, pernah kutulis di artikel blog ini. Proposal Forum Dialog Publik dan Literasi Media, yang dikirim sebagai lampiran dalam surat Komsos KWI (Nomor: 47/KOMSOSKWI/IX2017), memaparkan berbagai data penelitian menunjukkan bangsa Indonesia sedang menghadapi rongrongan terhadap konsensus berbangsa dan bernegara.

Sebagai misal, penelitian sosial progress index 2015 misalnya, menempatkan Indonesia di peringkat ke 123 dari 134 negara untuk variabel toleransi dan inklusivitas. Di kawasan Asia, Indonesia ada di bawah Malaysia (81) , Thailand (99), dan Filipina (47). Dalam Fragile State Index 2015, Indonesia juga mendapat nilai buruk di variabel kekerasan antar kelompok, dimana indikator melingkupi diskriminasi, kekerasan antar etnik, kekerasan atas nama agama, kekerasan sektarian, dan kekerasan komunal. Indonesia mendapat nilai 7.3 (dari 10) yang berarti indeks kerukunan dan keberagaman semakin buruk.

 Temuan senada juga diperoleh The Wahid Institute dari 2009-2015 memperlihatkan semakin maraknya kekerasan berbasis agama atau intoleransi, dari 121 menjadi 190 peristiwa kekerasan. …………… .

===================================

* BERITA FEATURE YANG KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NEWSFEATURE)

Tulisan ini menggambarkan arah dan perkembangan suatu isu berita. Jenis tulisan ini mendasarkan riset yang lebih baik daripada berita-berita lainnya, sebab berasal dari berbagai sumber yang luas. Berita ini pun biasanya lebih analitik dan interpretatif; menggambarkan tidak hanya mengenai apa berita itu tetapi juga apa arti berita itu. Misalnya, berita pembangunan pembangkit tenaga nuklir yang dilaporkan media dalam bentuk fragmen. Hari ini ada beritanya, keesokan hari atau beberapa hari kemudian baru ada lagi, dan begitu seterusnya, ada yang pro dan ada yang kontra, sehingga sering membingungkan masyarakat. Salah satu cara mengatasi masalah ini adalah dengan menyajikan suatu laporan yang komprehensif.

Jim Muir, wartawan BBC berkebangsaan Inggris, adalah koresponden BBC di Timur Tengah, dan bertempat di Beirut, Lebanon. Tatkala pemberitaan mengenai ISIS, Jim mendapat tugas reportase mendalam tentangi kelompok ini (kisah peliputannya bisa dilayari di tautan ini: (http://www.bbcmundo.com/academy/indonesian/how-to/original-journalism/article/art20160902113143930).

Jim mengaku ini adalah reportase terberat yang pernah diembannya. Hasil reportase sebanyak 11.000 kata adalah terbanyak yang pernah dimuat media online BBC. Namun, audiens menyukai reportase tersebut, di mana 1,5 juta orang membacanya dalam sepekan.
Saya tak menemukan versi bahasa Indonesia dari liputan ini, namun ada baik membaca versi aslinya (bahasa Inggris) sebagai pembelajaran. Tulisan yang utuh dapat dilayari di tautan ini: (http://www.bbc.com/news/world-middle-east-35695648)

 

ISLAMIC STATE GROUP: THE FULL STORY

 

By Jim Muir | BBC News | 20 June 2016  | From the section Middle East

 Abu Anis only realised something unusual was happening when he heard the sound of explosions coming from the old city on the western bank of the Tigris as it runs through Mosul.

“I phoned some friends over there, and they said armed groups had taken over, some of them foreign, some Iraqis,” the computer technician said. “The gunmen told them, ‘We’ve come to get rid of the Iraqi army, and to help you.'”

The following day, the attackers crossed the river and took the other half of the city. The Iraqi army and police, who vastly outnumbered their assailants, broke and fled, officers first, many of the soldiers stripping off their uniforms as they joined a flood of panicked civilians.

Media captionVideo footage from Mosul after its capture by Isis shows militants driving through the streets, June 2014

It was 10 June 2014, and Iraq’s second biggest city, with a population of around two million, had just fallen to the militants of the group then calling itself Islamic State in Iraq and al-Sham/the Levant (Isis or Isil).

Four days earlier, black banners streaming, a few hundred of the Sunni militants had crossed the desert border in a cavalcade from their bases in eastern Syria and met little resistance as they moved towards their biggest prize.

Rich dividends were immediate. The Iraqi army, rebuilt, trained and equipped by the Americans since the US-led invasion of 2003, abandoned large quantities of armoured vehicles and advanced weaponry, eagerly seized by the militants. They also reportedly grabbed something like $500m from the Central Bank’s Mosul branch.

……….. . 

===================================

* ARTIKEL PENGALAMAN PRIBADI

Ditulis oleh seorang wartawan atau wartawan yang menulis (ghost-writer) untuk orang lain yang mengalami peristiwa yang unik, seperti melintasi benua seorang diri dengan balon udara.

Luwi Ishwara, dalam buku “Jurnalisme Dasar” menuturkan, terkadang wartawan sendiri mengatur suatu pengalaman unik untuk ditulis, seperti pengalaman wartawan Washington Post, Ben H. Bagdikian, yang pada tahun 1971 tinggal dalam penjara selama satu minggu.

Ia menyamar sebagai Benyamin Barsamian dan tidak seorang pun dalam penjara itu, termasuk petugasnya, yang tahu bahwa ia sebenarnya seorang wartawan. Ada pula seorang wartawan yang tinggal bersama gelandangan di kolong jembatan. Dengan demikian selain observasi, wartawan akan mengalami sendiri hidup sebagai narapidana atau gelandangan – participant observation.

Comments are closed.